
Dimitri baru saja tiba di markas White Snake. Entah sudah berapa lama dia tidak berada di tempat itu. Sebelumnya, markas White Snake menjadi tempat favorit Dimitri. Sejak markas itu di serang dan tidak lagi direnovasi, membuat gedung itu terlihat menyeramkan.
Bukan karena terkendala di biaya. Tetapi Dimitri sendiri yang meminta tempat itu dikosongkan dan White Snake mencari markas baru yang tidak mudah diketahui musuh. Sayangnya sampai detik ini mereka tidak berhasil menemukan tempat rahasia itu. Hingga pada akhirnya, masih di gedung itulah mereka menyimpan senjata dan segala keperluan tempur mereka.
"Anda ke sini, Bos? Ada apa?" Joa muncul di belakang Dimitri. Padahal tadinya dia berpikir kalau hanya sendirian di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau menjaga Sherly?"
Joa tidak langsung menjawab. Dia mengambilkan minuman lalu menuangnya ke dalam gelas sebelum memberikannya kepada Dimitri. "Anda pasti lagi banyak pikiran saat ini Bos. Nona Quinn baik-baik saja. Mengingat, dia adalah anak bos mafia. Tidak mungkin penjagaan di rumah sakit kosong.
Soal Sherly, masih bisa di atasi. Saya pastikan tidak ada satupun dari musuh yang mengetahui keberadaannya. Tanpa izin dari saya tidak seorangpun bisa masuk ke dalam. Meskipun mereka hanya sekedar ingin memberikan setetes air untuk wanita itu!"
__ADS_1
"Kau memang selalu bisa diandalkan," puji Dimitri sebelum meneguk sedikit demi sedikit minuman yang ada di genggaman tangannya.
"Lalu, apa yang anda pikirkan?" tanya Joa penasaran.
"Nio." Dimitri membanting gelasnya di meja. "Joa, aku melupakan satu hal. Aku sempat menempelkan alat pelacak di pakaian Zero. Menurutmu benda itu berguna tidak?"
"Pakaian Zero? Kenapa anda tidak mengatakan informasi ini kepada saya, Tuan?" Joa sendiri terlihat bingung.
"Ada, Bos. Seseorang pernah menjulukinya sebagai malaikat komputer." Joa memberi sebuah harapan bagi Dimitri hingga membuat pria itu kembali bersemangat.
"Benarkah? Lalu, dimana dia sekarang?"
__ADS_1
"Sayangnya tidak sembarang orang bisa berkomunikasi langsung dengannya Bos. Saya akan mencari informasi tentangnya dan memberi tahu anda sesegera mungkin."
Joa membuka layar laptopnya lalu melakukan tugasnya dengan cepat. Sedangkan Dimitri menunggu sambil memandang langit malam yang terlihat cerah. Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Tapi pria itu belum juga bisa istirahat. Masalah ini ingin dia selesaikan sesegera mungkin.
"Bos, kita berhasil mendapatkan email-nya. Sekarang kita hanya tinggal menunggu balasan darinya."
Dimitri melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Kabari aku secepatnya. Aku ingin ke rumah sakit melihat Quinn. Aku juga ingin memberi tahu informasi ini kepada Tuan Luca agar dia bisa lebih waspada terhadap kembaran Neo ini."
"Mau saya antar, Bos?" tawar Joa. Tetapi Dimitri hanya membalas dengan anggukan saja. Joa mengantarkan Dimitri sampai pria itu masuk dan melajukan mobilnya. Setelah itu, Joa kembali memeriksa email yang baru saja dia kirim ke sosok misterius yang mungkin bisa membantu masalah mereka. Kedua mata Joa melebar melihat balasan di layar email-nya.
"Kenapa aku harus membantu kalian?"
__ADS_1
Joa menggeleng kepala tidak percaya. "Ternyata malaikat komputer ini sombong juga!" umpat Joa di dalam hati.