My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 124 Usaha Bersama


__ADS_3

Quinn dan Nichole sama-sama menghela napas kasar. Setelah hampir satu jam melakukan penyelidikan dengan cctv. Hasilnya tetap saja nihil. Mereka tidak menemukan keberadaan Joa dan juga Sherin. Hal ini semakin membuat khawatir semua orang.


"Kenapa? Kenapa wajah kalian seperti ini?" tanya Dimitri. Tadinya dia sudah merasa tenang dan mempercayakan semuanya kepada Quinn. Tidak di sangka istrinya itu kesulitan menjalani misi mereka kali ini.


Wajar saja Quinn tidak berhasil mengetahui keberadaan Sherin dan Joa. Kapal itu tidak banyak menggunakan CCTV. Lokasi tempat sekoci tidak ada satu cctv pun. Di tambah lagi kini mereka terdampar di sebuah pulau yang sangat terpencil.


"Mereka terlihat di sebuah kapal. Sedang makan malam. Setelah menghilang. Kosong. Tidak ada jejak sedikitpun. Meskipun aku sudah melacak semua CCTV di kapal, tetap saja keberadaan mereka tidak bisa ditemukan. Sebenarnya mereka berdua ini sembunyi dimana?" Quinn memijat kepalanya. Ternyata dia merasa pusing memikirkan kebenaran Joa dan Sherin kali ini.


"Kapal? Beri tahu aku apa nama kapalnya. Aku akan mengirimkan White Snake ke sana," ujar Dimitri penuh semangat.


"Biar saya yang memimpin White Snake, Bos," sahut Robin cepat. Pria itu memandang ke arah Quinn dengan tatapan penuh harap. "Nona, tolong beri tahu saya dimana kapal itu berada."


"Hari ini dia berlabuh di pelabuhan yang ada di Amerika. Tapi, bagaimana kalau memang Joa dan Sherin sengaja bersembunyi dari kita? Karena hanya Sherin satu-satunya orang yang mengetahui cara untuk menghindari pengawasanku," jelas Quinn dengan serius.

__ADS_1


"Apa bisa seperti itu?" Dimitri terlihat tidak bersemangat.


"Ya. Dulu dia pernah bertanya. Apa aku memiliki kelemahan. Aku sempat katakan padanya kalau aku tidak bisa melacak sebuah lokasi yang tidak ada jaringan jika di lokasi tersebut tidak ada ponsel."


"Kira-kira tempat seperti itu dimana? Seluruh dunia ini sudah dipenuhi dengan jaringan telepon. Kecuali tempat yang terpencil." Dimitri mulai menerkah kira-kira dimana anak buahnya itu bersembunyi.


"Hutan mungkin," sahut Robin memberi masukan.


"Pulau!" ujar Nichole. "Aku yakin sebuah pulau kak."


"Ya. Masuk akal juga. Sebuah pulau terpencil tidak akan ada jaringan. Mungkin saja terjadi sesuatu yang berbahaya hingga mereka berdua memutuskan untuk lompat ke laut dan terdampar di sebuah pulau," jelas Quinn. Wanita itu melirik ke arah Dimitri. "Seseorang masih bisa selamat jika mengalami kejadian itu."


"Sayang, maafkan aku soal itu," ucap Dimitri. Dia merangkul lengan Quinn sebelum memandang ke arah Nichole. "Kirimkan lokasi pulau yang ada di sekitar lautan tempat kapal itu berlabuh. Kita akan memeriksa satu persatu pulau yang ada di sana. Meskipun jumlah pulau di sana ada ratusan!"

__ADS_1


Perintah yang baru saja dilayangkan oleh Dimitri memang cukup gila. Tetapi mereka tidak memiliki pilihan lain. Hanya itu satu-satunya rencana yang bisa mereka lakukan sekarang.


"Baik, Bos." Robin beranjak dari sofa. "Malam ini juga saya akan berangkat."


Nichole juga beranjak dari sofa. "Aku ikut," ucap Nichole menawarkan diri.


"Sebaiknya jangan. Daddy dan Mommy akan marah," tolak Quinn.


"Tidak, Kak. Kapan lagi aku terjun langsung ke lapangan? Sebentar lagi aku akan menjadi seorang pemimpin. Sudah waktunya aku berada di lapangan."


Melihat ekspresi wajah Nichole yang sangat bersungguh-sungguh membuat Quinn tidak tega. "Baiklah, tapi jangan pernah matikan ponselmu."


"Oke, kak," ucap Nichole dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2