My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 211 Rencana Pertunangan


__ADS_3

Audy dibuat kaget pagi itu. Ketika baru selesai mandi ia mendengar seseorang menggedor pintu kamarnya dengan sangat keras. Wanita itu segera meletakkan handuk kecil yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan tubuhnya di dalam keranjang. Dia sendiri memilih untuk segera memakai baju. Namun kali ini Audy memilih baju asal saja. Yang penting tubuh polosnya tidak terekspos.


Audy segera membuka pintu meskipun rambutnya masih basah bahkan wajahnya masih belum memakai make up. Dia mengernyitkan dahi dengan wajah bingung melihat Xander kini berdiri di hadapannya dengan wajah yang sangat panik.


"Xander, ada apa?" Audy merasa kalau ia sudah bangun sangat pagi. Bisa dibilang jadwal sarapan juga belum tiba. Tapi kenapa kini Xander sudah berdiri di hadapannya.


Melihat penampilan Audy yang belum rapi membuat Xander menghela napas. "Cepat ganti pakaianmu dan bersiaplah. Kita akan berangkat ke rumah sakit sekarang juga," ucap Xander dengan cepat.


"Ke rumah sakit? Tapi siapa yang sakit?" tanya Audy bingung.


"Quinn baru saja melahirkan anak pertamanya. Sekarang kondisinya dalam keadaan koma," jawab Xander. "cepatlah! Kita tidak memiliki banyak waktu. Aku akan menunggumu di bawah." Pria itu segera pergi meninggalkan Audy. Dia berharap agar Audy segera bersiap-siap agar mereka bisa secepatnya tiba di rumah sakit.


Audy menutup kembali pintu kamarnya. Wanita itu juga tidak mau membuat Xander menunggu terlalu lama. Dia segera mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk segera pergi ke rumah sakit.


Di lantai bawah, Xander bertemu dengan Viana dan Jeremy yang sudah siap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Mereka bingung melihat Xander hanya muncul sendirian saja.


"Di mana Audy?" tanya Viana. "Apa kau tidak mengajaknya?"


"Audy masih bersiap-siap di dalam kamar, Ma. Kenapa baru pagi ini Mama memberiku kabar? Tadi Joa bilang kalau Quinn masuk ke rumah sakit sekitar pukul 03.00 pagi. Seharusnya kita bisa berangkat saat itu juga. Tidak perlu menunggu siang seperti ini," protes Xander. Pria itu terlihat kesal dan menyalahkan ibu sambungnya.


"Xander, maafkan Mama karena tidak segera memberitahumu. Mama tahu kau pasti akan segera berangkat ke rumah sakit sedangkan Audy masih tidur di kamar. Mama hanya ingin menjaga perasaan Audy. Mama tidak mau sampai Audy salah paham lagi.


Quinn sudah memiliki suami. Dia juga memiliki orang tua. Mereka pasti menjaga Quinn dengan sebaik mungkin di rumah sakit. Kedatangan kita tidak terlalu ditunggu-tunggu," jawab Viana. Dia bermaksud untuk menjelaskan tujuannya melakukan semua ini. Berharap Xander tidak salah paham dan tidak menyalahkannya lagi.


"Tapi Quinn koma, Ma. Itu tandanya sekarang Quinn dalam keadaan kritis. Bagaimana kalau sampai aku terlambat untuk bertemu dengan Quinn?" jawab Xander yang masih tetap menyalakan Viana.


"Ya, Mama tahu kalau sekarang keadaan Quinn kritis. Xander, tapi kau harus ingat kalau pertunanganmu dengan Audy sudah sangat dekat. Satu minggu lagi kalian berdua akan bertunangan. Baru setelah itu dua minggu kemudian kalian akan menikah. Ada banyak sekali kesibukan yang jauh lebih penting yang harus lebih kau utamakan daripada kondisi Quinn saat ini.


Mama harap kau tidak terlalu memperhatikan Quinn agar tidak membuat Audy cemburu dan berpikir yang aneh-aneh. Mama tahu kalau kau menganggap dia sebagai sahabat. Tetapi kau juga harus menghargai perasaan calon istrimu. Mama tidak mau sampai pernikahanmu dengan Audy gagal." Viana langsung memalingkan wajahnya. Kali ini dia tidak mau berdebat lagi.


Xander kembali diam karena memang apa yang dikatakan Viana semua benar. "Ya, Mama benar. Seharusnya aku tidak seperti ini. Aku tidak perlu terlalu berlebihan mengkhawatirkan Quinn. Aku juga tidak mau sampai Audy salah paham," jawab Xander pada akhirnya.


Xander memandang ke arah Audy yang baru saja turun dari tangga. Mereka tidak mau membahas soal Quinn lagi di depan Audy. Pria itu segera menyambut kedatangan Audy dan segera menggenggam tangannya.


"Ayo kita pergi sekarang," ajak Xander. Viana dan Jeremy juga segera pergi menuju ke mobil.


...***...


Di rumah sakit, Sherin berusaha menenangkan Tiffany yang kini terus saja menangis dengan sedih. Sebenarnya wanita itu juga takut kehilangan Quinn. Akan tetapi dia juga harus kuat. Dia berjuang keras untuk membuat Tiffany kembali tenang. Dia tidak mau sampai Tiffany jatuh sakit.


"Tante sudah ya. Jangan menangis lagi. Dokter pasti berjuang untuk menyelamatkan Quinn. Aku yakin Quinn itu wanita yang kuat. Dia pasti bisa melalui semua ini," ucap Sherin dengan nada yang lembut.


"Semua terjadi begitu cepat. Tante benar-benar tidak siap menghadapi kenyataan ini. Bahkan melihat anak pertama mereka saja Tante belum sanggup. Tante tidak tega," jawab Tiffany dengan suara yang mulai serak karena terlalu banyak menangis.


"Tante harus kuat demi cucu tante. Sekarang siapa lagi yang akan memeluknya dan merawatnya selain Tante?" Sherin memandang ke arah Luca dan dokter Fei yang juga ada di sana. Sedangkan Joa lebih memilih untuk menemani Dimitri yang sampai detik ini masih berdiri di depan ruang ICU untuk menunggu kabar baik dari dokter tentang istrinya.

__ADS_1


"Dokter di mana bayi Quinn? Apa kami boleh melihatnya?" tanya Sherin. Dia ingin sekali menggendong bayi sahabatnya itu dan menciumnya.


"Boleh. Ayo akan aku tunjukkan di mana bayi Quinn berada. Bayinya belum boleh dibawa keluar dari ruangan bayi. Bisa dibilang dia lahir prematur karena tidak lahir sesuai dengan usianya meskipun berat badannya dinyatakan normal," ucap Dokter Fei singkat.


Sherin mengangguk. Wanita itu kembali memandang Tiffany. Dia ingin mengajak wanita paruh baya itu untuk bersama-sama melihat bayi yang baru saja dilahirkan oleh Quinn. "Tante ayo. Kita akan sama-sama melihat bayi Quinn."


Tiffany mengangguk pelan. Luca segera berjalan mendekati Tiffany dan membantu wanita itu berdiri. Dia tahu betapa lemahnya istrinya saat ini.


"Kau yakin ingin menemuinya?" tanya Luca sekali lagi. Karena ia tidak mau Tiffany menangis di depan cucunya.


"Ya, Aku ingin melihat cucuku," jawab Tiffany penuh keyakinan. Mereka semua segera mengikuti Dokter Fei dari belakang menuju ke ruangan bayi.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba di ruangan bayi tersebut. Karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruangan yang menjadi tempat Tiffany istirahat.


Dokter Fei segera meminta perawat wanita untuk menunjukkan bayi yang baru saja dilahirkan oleh Quinn pagi tadi.


Sherin tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat bayi tampan yang kini ada di hadapannya. Wanita itu sebenarnya ingin sekali menggendongnya namun Dokter Fei masih melarangnya.


"Meskipun lahir dalam keadaan prematur tetapi bayi ini dalam keadaan sehat. Lihatlah dia bahkan tidur sambil tersenyum. Dia pasti bahagia sekali karena sudah dilahirkan ke dunia ini," ucap Dokter Fei sembari menunjukkan wajah bayi mungil itu di depan Sherin dan juga Tiffany.


"Berapa lama bayi ini berada ruangan ini, Dok? Kapan dia boleh pulang? Bukankah Anda bilang kondisinya dalam keadaan sehat?" tanya Sherin ingin tahu.


"Semua tergantung dokter yang menanganinya. Tapi jika dilihat dari keadaan bayi ini, secepatnya dia pasti diizinkan pulang," jawab Dokter Fei sambil tersenyum.


"Lalu kapan Quinn diizinkan pulang?" tanya Tiffany hingga membuat semua orang di sana kaget. "Quinn harus pulang bersama dengan anaknya. Dia pasti sangat bahagia ketika mengetahui kalau anaknya laki-laki. Dia sangat menginginkan anak laki-laki."


Dokter Fei mengangguk sebelum meletakkan bayi itu lagi. Sedangkan Sherin segera merangkul Tiffany dan membawanya keluar meninggalkan ruangan bayi tersebut.


Luca yang sejak tadi menunggu di depan segera menyambut istrinya. Dia merangkul Tiffany agar wanita itu tidak terjatuh. "Kau belum sarapan. Ayo kita sarapan dulu. Aku tidak mau kau sampai jatuh sakit," bujuk Luca agar istrinya itu mau makan.


"Aku tidak butuh makan. Aku hanya ingin putriku tersenyum ceria seperti biasanya," jawab Tiffany. Dia sama sekali tidak berselera untuk makan.


"Tante, Tante tidak boleh bicara seperti itu. Semua orang yang ada di sini juga sangat mengkhawatirkan Quinn. Akan tetapi kita semua harus tetap menjaga kesehatan agar tidak sampai jatuh sakit. Quinn juga pasti akan memarahi kita jika kita semua jatuh sakit karena memikirkannya," ucap Sherin yang saat itu berusaha untuk membujuk Tiffany juga.


"Ayo," ajak Luca sekali lagi. Meskipun istrinya belum menjawab setuju pria itu sudah membawanya pergi menuju ke ruangan tempatnya istirahat. Karena memang makanan sudah dikirimkan ke dalam ruangan itu.


Sherin berputar dan melihat Xander dan juga yang lainnya baru saja tiba di rumah sakit. Wanita itu segera menyambut kedatangan mereka.


"Mama." Sherin segera memeluk Viana. Ia tidak menyangka kalau mereka akan dipertemukan dengan cara seperti ini.


"Sherin, kapan kau pulang? Kenapa sekarang kau sudah ada di sini? Bukankah seharusnya kau masih bulan madu bersama dengan Joa?" tanya Via a dengan tatapan curiga.


Karena terlalu panik memikirkan keadaan Quinn sampai-sampai Sherin tidak memikirkan resiko ketika ia harus bertemu dengan Viana seperti ini. Dia bahkan belum mempersiapkan alasan yang tepat untuk membuat Viana percaya.


"Aku yang meminta Sherin pulang, Ma," ucap Xander. "Mereka sudah terlalu lama bulan madu."

__ADS_1


"Iya, Ma. Apa yang dikatakan Kak Xander benar. Baru saja aku tiba di bandara aku sudah mendapat kabar kalau Quinn masuk rumah sakit jadi aku cepat-cepat ke sini," jawab Sherin dengan ekspresi wajah yang sangat tenang. Hingga akhirnya membuat Viana percaya.


"Sekarang bagaimana keadaan Quinn? Apa ia sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar?"


"Sherin juga belum tahu bagaimana keadaan Quinn saat ini. Sherin belum sempat bertemu dengan Quinn. Tadi saat tiba di rumah sakit Sherin langsung ke ruangan tempat Tante Tiffany dirawat. Tante Tiffany langsung jatuh sakit setelah mendapat kabar kalau Quinn koma," jawab Sherin.


"Tiffany jatuh sakit? Sekarang di mana Tiffany berada. Aku ingin menemuinya," ujar Viana. Sekarang justru ia lebih mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.


"Di sana ma. Ruangan sebelah kanan." Sherin menunjuk ruangan tempat Tiffany istirahat. Tanpa menunggu lagi Viana dan Jeremy segera menuju ke ruangan tersebut.


Setelah Viana dan Jeremy masuk ke dalam ruangan itu, Sherin kembali menghela napas lega karena akhirnya ia bisa menemukan alasan yang tepat. "Hampir saja Mama curiga. Mama tidak boleh bertemu dengan Joa. Jika mama sampai bertemu dengan Joa, mama akan bertanya kenapa keadaan Joa bisa seperti sekarang," ucap Sherin sambil memandang Xander.


"Sekarang Joa ada di mana?" tanya Xander.


"Ada di depan ruang ICU bersama dengan Dimitri." Sherin memandang Audy yang sejak tadi diam saja. "Kak, Kakak baik-baik saja?"


Audy mengangkat kepalanya lalu tersenyum. "Aku baik-baik saja. Ayo sebaiknya kita tidak perlu mengulur waktu lagi. Kita harus segera melihat keadaan Quinn," ajak Audy.


Sherin dan Xander langsung setuju. Mereka bertiga sama-sama menuju ke ruangan ICU tempat Quinn dirawat.


Di depan ruangan ICU Dimitri duduk di sebuah kursi sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Pria itu tidak mau diajak bicara oleh siapapun. Bahkan ketika Joa menanyakan beberapa hal pria itu memilih untuk diam dan bersikap seolah-olah Joa tidak ada di sana.


Joa sangat sedih melihat keadaan Dimitri saat ini. Namun Joa tidak bisa menyalahkan Dimitri juga. Joa sendiri juga tidak akan sanggup jika sekarang Ia ada di posisi Dimitri.


Joa memutar tubuhnya ketika melihat suara sepatu mendekat. Dia melihat istrinya dan juga kakak iparnya muncul di sana. Pria itu segera berjalan mendekat.


Xander mengabaikan Joa begitu saja. Dia langsung mendekati Dimitri untuk berbicara dengan pria itu secara langsung. "Dimitri, Kau harus kuat. Kau tidak boleh selemah ini!" ujar Xander sambil menepuk pundak Dimitri.


Namun respon yang diberikan Dimitri masih sama. Pria itu hanya diam memandang pintu ruang ICU tanpa mempedulikan kehadiran Xander di sana.


"Apa kita boleh masuk untuk melihat keadaan Quinn?" tanya Xander kepada Dokter Fei yang baru saja muncul.


"Ada sebuah ruangan yang akan menghubungkan kalian untuk bisa melihat keadaan Quinn. Namun ruangan itu dibatasi dengan kaca. Saat ini Quinn harus berada di ruangan yang benar-benar steril. Tidak ada satu orang pun yang boleh mendekatinya selain tim medis," jawab dokter Fei. Dia kembali melirik ke arah Dimitri sebelum mendengus kesal. "Mau sampai kapan kau seperti ini. Ayo ikut dengan kami untuk melihat Quinn secara langsung."


Lagi-lagi dokter Fei mengajak Dimitri dengan cara memaksanya. Karena memang sejak tadi Dimitri belum diperbolehkan untuk melihat keadaan Quinn. Dokter Fei tidak mau pria itu melakukan tindakan ceroboh dan membuat kondisi Quinn semakin parah.


Joa dan Xander berjalan di belakang dokter Fei dan juga Dimitri sedangkan Sherin dan Audy berada di belakang Xander.


Setibanya di ruangan yang telah dikatakan oleh dokter Fei, mereka semua hanya bisa menangis melihat begitu banyaknya alat medis yang kini tertancap di tubuh Quinn. Mereka tidak tega melihat Quinn seperti itu. Wanita yang selama ini selalu tersenyum ceria kini harus terbaring koma setelah ia melahirkan anak pertamanya.


Dimitri berdiri seperti patung ketika ia melihat istrinya terbaring koma. Pria itu masih belum mau mengeluarkan satu kata pun.


"Kondisi Quinn sangat stabil. Aku yakin sebentar lagi dia pasti akan sadar. Kita semua tidak perlu menyiksa diri dengan cara meratapi keadaan Quinn yang sekarang. Quinn hanya butuh doa bukan air mata!" ujar dokter Fei kepada semua orang yang ada di hadapannya.


Mereka semua memilih untuk menunduk dan mendoakan Quinn. Sedangkan Dimitri masih mengangkat kepalanya dan memandang istrinya tanpa berkedip.

__ADS_1


"Jika kau berani pergi untuk meninggalkanku, satu detik kemudian aku akan menyusulmu!" gumam Dimitri di dalam hati.


__ADS_2