
Quinn dan yang lainnya sudah tiba di mansion. Kedatangan mereka sudah disambut hangat oleh pekerja yang ada di mansion mewah tersebut. Untuk sementara waktu Quinn dan Dimitri tinggal di mansion milik Dimitri yang ada di kota yang sama dengan Luca dan Tiffany.
Ternyata dua orang tua itu tidak rela anaknya pergi jauh-jauh. Sampai-sampai mereka tidak sanggup untuk berpisah. Di tambah lagi rumah yang akan menjadi tempat tinggal Dimitri dan Quinn saat ini masih direnovasi.
"Quinn, mansion ini bagus sekali. Apa sekarang kau tinggal di sini?" tanya Sherin. Dia memperhatikan halaman depan mansion mewah tersebut. Dia tidak bisa berkedip karena terlalu mengangumi mansion milik Dimitri itu.
"Ya. Untuk sementara," jawab Quinn. "Mommy dan Daddy belum mengizinkan kami menetap di rumah kami yang seharusnya."
"Quinn, apa lagi yang kurang? Rumah ini cukup besar dan mewah. Apa kau tidak menyukainya? Kalian juga tidak perlu jauh-jauh dari Tante Tiffany dan Paman Luca. Mereka sudah tua. Nanti kalau mereka sakit, kau bisa secepatnya tiba di rumah." Sherin berusaha menasehati Quinn agar mengurungkan niatnya untuk menetap di luar negeri.
"Sherin, kau benar. Sepertinya aku harus memikirkannya lagi. Nanti aku akan bicarakan hal ini dengan Dimitri. Sekarang ayo kita masuk. Kau pasti lapar," ajak Quinn. Dia menyeret Sherin masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Dimitri dan Joa yang masih berdiri tidak jauh dari mobil.
"Sekarang jelaskan semuanya. Sepertinya ada banyak sekali hal yang sudah aku lewatkan." Dimitri memasukkan tangannya ke dalam saku lalu memandang ke arah Taman sambil menunggu jawaban yang keluar dari mulut Joa.
Joa membenarkan posisinya agar bisa menatap jelas wajah Dimitri. "Seperti apa yang dikatakan oleh Sherin tadi bos."
"Sherin?" tanya Dimitri untuk kembali memastikan kalau Joa tidak salah sebut. Karena seingat Dimitri selama ini Joa memanggil Sherin dengan panggilan Nona.
Joa diam sejenak lalu menunduk malu. "Dia yang memaksa saya untuk memanggil nama seperti itu Bos," ucap Joa agar Dimitri tidak salah paham.
"Yah. Wanita memang selalu seperti itu. Sekarang cepat lanjutkan."
"Sherin pernah melakukan sebuah kesalahan saat dia sedang berlibur di Jepang. Saat itu dia baru saja belajar menembak. Dia membeli senjata api pada seseorang yang sangat ia kenal. Saat ingin mencoba senjata api tersebut, tanpa sengaja ia menembak orang yang sangat berarti di dalam organisasi Yakuza. Saat itu Sherin sama sekali tidak menyangka kalau orang yang ia tembak tewas di tempat dan merupakan orang yang sangat penting. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Jepang dan bersembunyi di kota ini," jelas Joa apa adanya.
__ADS_1
"Jadi dia datang ke kota ini dan menetap di sini bukan karena memang dia merindukan Quinn?" tanya Dimitri sambil memandang Joa dengan begitu serius.
"Alasan utamanya karena dia ingin bersembunyi Bos. Tetapi ketika melihat ketulusan dari Nona Quinn dan Nyonya Viana, pada akhirnya Sherin memantapkan diri untuk menetap di kota ini."
"Rasanya cukup masuk akal jika para Yakuza itu mengejar Sherin dan mengincar nyawanya. Mereka itu organisasi yang sangat kejam. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Lalu kira-kira rencana apa yang sudah kau siapkan untuk mengalahkan mereka?" Dimitri berjalan santai mendekati kolam ikan.
"Saya berencana untuk menyerang mereka di Jepang Bos," jawab Joa.
Dimitri langsung berhenti dan memandang wajah Joa dengan tatapan tidak percaya. "Kau ingin masuk ke dalam kandang singa?"
"Sebenarnya saya tidak sendirian Bos. Rencana saya ini melibatkan anda dan juga Nona Quinn. Saya juga akan mengajak Nichole dan geng mafianya. Jika kita hanya berdiam diri di tempat ini dan menunggu mereka datang maka masalah ini tidak akan pernah berakhir. Saya tidak mau musuh saya mengetahui masalah ini dan memutuskan untuk bekerja sama dengan para Yakuza. Jika mereka sampai bergabung kekuatan mereka akan semakin kuat dan saya tidak mau hal itu terjadi."
Dimitri mengangguk setuju. "Ide yang bagus. Kita memang tidak bisa diam di tempat dan menunggu musuh datang. Ada masanya kita yang melangkah maju untuk memberi pelajaran kepada orang yang berniat untuk mencelakai kita dan keluarga kita. Kau susun saja bagaimana rencana yang pas untuk melakukan penyerangan di Jepang nanti. Aku dan Quinn pasti akan selalu membantu kalian."
...***...
Di sebuah dermaga, tampak Zack Lee sedang menodongkan pistol pada seorang wanita yang menatapnya dengan sedih. Zack Lee sepertinya tidak tega untuk menarik pelatuk itu. Di belakangnya ada banyak gangster-gangster lain beserta anak buahnya Zack Lee. Salah satu di antaranya Aigu. Mereka semua berkumpul di dermaga untuk menyaksikan eksekusi mati yang akan di lakukan sendiri oleh Zack Lee.
Di pinggir dermaga, Peiyu berdiri dengan air mata yang terus saja menetes. Wanita itu menggenggam gaun yang ia kenakan. Malam itu dia sengaja memilih gaun berwarna putih. Dia ingin pergi dengan penampilan yang sangat cantik. Rambutnya yang panjang bergoyang terkena angin laut yang kencang.
Penampilan Peiyu malam itu memang berbeda dengan penampilannya sehari-hari. Dia terlihat seperti seorang wanita yang feminim dan manis. Biasanya Peiyu terlihat lebih sangar dan dingin.
"Kenapa kau menangis? Semua bukti jelas menunjukkan kalau kaulah pelakunya. Zack Lee, sebagai seorang pemimpin, kau harus memberi kami keadilan," ujar salah satu mafia yang ada di sana.
__ADS_1
Ternyata kesalahan yang dilakukan oleh Peiyu tidak hanya merugikan Zack Lee seorang. Seluruh keluarga besar Zack Lee merasa dirugikan. Mereka semua menatap Peiyu dengan penuh kebencian. Tidak ada satu orangpun yang iba terhadap nasip Peiyu malam itu selain Zack Lee.
"Bos, sudah waktunya," ucap Aigu memperingati.
Zack Lee menatap Peiyu dengan tatapan tidak terbaca. Dia tidak pernah menyangka kalau malam ini akan berdiri di dermaga untuk menghabisi nyawa kekasihnya. Wanita yang tidak lama lagi akan ia nikahi.
"Aku mencintaimu, Lee. Sangat mencintaimu." Peiyu masih sempat-sempatnya mengungkapkan perasaannya terhadap Zack Lee. Meskipun kini jelas-jelas nyawanya akan direnggut paksa oleh sang kekasih.
"Ini untuk terakhir kalinya aku bertanya, Peiyu. Apa kau yang melakukan semua ini? Apa kau yang sudah menghianati kami? Mengkhianati aku?"
Pertanyaan terakhir Zack Lee akan menjadi penentu nasip Peiyu malam itu. Meskipun semua bukti sudah dilihat dan jelas-jelas di sana memang Peiyulah yang berkhianat.
Namun tetap saja Zack Lee masih menyimpan harapan agar Peiyu mengatakan kalau dia di fitnah. Semua ini direncanakan oleh seseorang. Dia hanya dijebak. Ataupun di ancam oleh seseorang. Hanya itu yang ingin di dengar oleh Zack Lee.
Peiyu mengukir senyum terpaksa. "Ya. Aku yang sudah menjual berlian itu. Aku yang sudah membongkar rahasia geng mafia kita ke musuh. Aku yang sudah melakukan semua itu."
Jawaban Peiyu membuat luka yang semakin dalam di hati Zack Lee. Pria itu memejamkan mata sejenak sebelum menarik pelatuk senjata apinya. Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi di sana. Peiyu memang pantas mati. Seorang pengkhianat tidak bisa dibiarkan berkeliaran di antara mereka.
DUARRR DUARRRR
Dua peluru mendarat di dada Peiyu. Wanita itu masih sempat-sempatnya menunduk dan melihat darah mengalir deras mengotori gaun putih yang ia kenakan. Wanita itu memandang ke depan dan tersebut sebelum akhirnya tubuh Peiyu terhuyung ke belakang dan masuk ke dalam lautan.
Semua orang merasa puas melihat pemandangan tersebut. Setelah Peiyu masuk ke dalam laut, mereka semua pergi meninggalkan dermaga. Hanya Zack Lee yang tersisa di sana. Pria itu jatuh dan berlutut. Senjata api yang tadi ia gunakan untuk menembak Peiyu ia campakkan begitu saja. Kepalanya mendongak ke atas.
__ADS_1
"PEIYU!"