
"Quinn, selamat. Aku sangat senang ketika Joa memberitahu-ku kabar baik ini. Mulai sekarang kau harus menjaga kesehatanmu. Aku juga akan sering-sering datang ke sini untuk menemanimu." Sherin mengusap lengan Quinn dengan wajah yang bahagia.
"Selamat, Quinn. Aku benar-benar senang. Akhirnya do'a kita selama ini dikabulkan," sambung Sherin lagi.
Wanita itu memeluk Quinn dengan penuh rasa bahagia. Beberapa hari belakangan ini dia dan Quinn memang sempat mengobrol kalau ada satu harapan mereka yang belum dikabulkan sampai detik ini. Jika Quinn menginginkan seorang anak di dalam rahimnya. Kalau saya ingin menemukan Joa mengungkapkan perasaannya.
"Ya Sherin. Hari ini doa kita bersama dikabulkan secara bersamaan. Aku juga ingin mengucapkan selamat kepadamu dan Joa. Karena akhirnya kalian pacaran juga. Semoga kalian berdua selalu harmonis dan segera melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi," jawab Quinn.
"Semua ini juga berkat bantuanmu." Lagi-lagi Sherin memeluk Quinn. Rasanya dia ingin memeluk sahabatnya itu dalam waktu yang lama.
"Tadi saat di pantai aku bertemu dengan Zack Lee. Dia bersama dengan Peiyu. Wajah wanita itu benar-benar mirip denganku. Pantas saja selama ini Zack Lee memandangku seperti dia memandang Peiyu."
"Ya. Kisah cinta mereka juga terdengar sangat rumit. Sebelum mendapatkan kebahagiaan yang kita inginkan kita harus melewati cobaan yang terasa begitu berat. Tetapi kita semua ini adalah orang pilihan. Buktinya saja kita mampu untuk melewatinya dan sekarang kita sedang memetik hasil dari kesabaran kita itu sendiri," tukas Quinn.
Sherin mengangguk. "Aku senang bisa membantu Zack Lee. Waktu itu aku sempat berpikir kenapa aku harus bertemu dengan Zack Lee. Pria menyebalkan yang membuat pikiranku menjadi tidak tenang. Tapi pada akhirnya aku tahu dan sadar kalau pertemuan kami ada tujuannya. Berkat Zack Lee aku tidak lagi dikejar pala Yakuza. Aku juga tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan Joa lagi sekarang. Karena musuh sudah berhasil diatasi."
"Sekarang dimana Joa? Aku juga ingin mengucapkan selamat kepadanya." Quinn mencari ke segala arah tetapi memang Joa tidak ikut masuk bersama Sherin.
"Dia ada di depan bersama dengan Dimitri. Wajah Dimitri terlihat berseri. Semua orang sangat bahagia mendengar kabar baik ini," tandas Sherin.
Pintu terbuka. Dimitri masuk ke dalam. Pria itu masuk bersama dengan Joa di sampingnya. "Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa masih terasa mual?" Dimitri berjalan mendekati Quinn.
Sherin yang sejak tadi duduk di atas tempat tidur segera menyingkir. Wanita itu berdiri dan berjalan menghampiri kekasihnya.
"Aku sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Vitamin yang aku minum pasti sudah bereaksi di dalam tubuh. Sehingga aku merasa seperti memiliki banyak tenaga sekarang ini." Quinn tersenyum. Dia berusaha menenangkan hati Dimitri.
"Apa kau bisa berjalan? Jika kau tidak bisa berjalan aku akan menggendongmu," tanya Dimitri hati-hati.
"Tentu saja aku bisa berjalan. Kakiku tidak memiliki masalah tapi ke mana kita akan pergi?" Quinn mengernyitkan dahinya.
"Ikut saja denganku. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Dimitri tersenyum sambil mengusap kepala Quinn.
Quinn hanya menurut saja. Wanita itu menurunkan kakinya satu persatu dibantu oleh Dimitri. Setelah itu ia berjalan sambil merangkul lengan suaminya.
"Ada apa? Dimitri mau membawa Quinn ke mana?" bisik Sherin agar Quinn tidak mendengarnya.
"Nanti kau juga tahu sendiri," jawab Joa. Mereka berjalan di belakang Quinn dan Dimitri.
"Sekarang pejamkan matamu. Karena aku ingin memberimu sebuah kejutan," pinta Dimitri.
Quinn mengukir senyum sebelum memejamkan kedua matanya. Momen ini adalah momen yang selalu dinanti-nanti oleh Quinn di mana ketika Dimitri memberi kejutan kepadanya. Dia sangat suka kejutan yang diberikan oleh Dimitri.
"Oke. Berhenti di sini. Tapi jangan buka matamu sebelum aku perintahkan," ucap Dimitri.
Pria itu memandang ke depan sambil tersenyum sebelum akhirnya mengatur nafasnya agar bisa kembali tenang. "Oke, Sayang. Sekarang sudah siap. Buka matamu secara perlahan."
Queen membuka matanya secara perlahan sesuai dengan perintah Dimitri. Wanita itu kaget Bukan main melihat pemandangan yang ada di depannya. Kini semua pekerja yang ada di rumah itu entah laki-laki maupun perempuan sedang memegang sebuah bunga dan berbaris membentuk setengah lingkaran. Ada sebuah tulisan besar yang mengucapkan kata-kata Selamat atas kehamilan anak pertama Quinn. Quinn sangat terharu melihatnya. Ini adalah kejutan termahal yang tidak pernah dia bayangkan.
"Sayang, ini manis sekali. Bagaimana caranya kau mengumpulkan semua orang dan dari mana kalian mendapatkan bunga sebanyak ini dalam waktu singkat?" Quinn memberondong Dimitri dengan banyak pertanyaan.
"Aku tidak meminta mereka untuk melakukan semua ini. Mereka sendiri yang berinisiatif untuk melakukannya. Saat tiba di rumah sakit aku memberi kabar pada pelayan di rumah kalau kau telah hamil. Aku meminta mereka untuk merapikan rumah agar tidak ada lagi benda-benda berbahaya yang berserakan. Saat kita tiba di rumah, aku segera membawamu ke kamar lalu aku keluar dan menemui salah seorang pelayan yang ada di rumah. Mereka berkata kalau mereka sudah menyiapkan kejutan kecil untukmu untuk anak kita," ungkap Dimitri.
__ADS_1
"Nona, selamat atas kehamilannya. Kami semua sangat menyayangi Anda. Mulai sekarang kami semua akan ikut menjaga Anda," ucap salah satu pelayan sambil tersenyum. Dia melangkah lalu memberikan bunga yang ada di tangannya kepada Quinn.
"Terima kasih. Aku senang bisa memiliki kalian semua." Quinn menerima satu persatu bunga yang diberikan oleh pekerja yang ada di rumahnya. Sampai-sampai saat itu tangannya tidak muat untuk menerima bunga tersebut. Sherin dan Joa datang ikut membantu Quinn. Mereka juga terlihat bahagia.
"Ini adalah kejutan yang disiapkan oleh para pekerja yang ada di rumah kita masih ada satu kejutan lagi. Dan ini adalah kejutan dariku," bisik Dimitri mesra.
"Ada lagi? Tapi aku sudah merasa sangat bahagia dengan kejutan ini." Quinn merasa tidak enak. Karena dia mendapat kejutan yang spesial dari semua orang.
"Ayo ikut denganku. Kali ini kau pasti akan sangat senang melihatnya," ajak Dimitri.
Quinn lagi-lagi berjalan pindah tempat mengikuti suaminya. Di belakang wanita itu ada Sherin dan Joa yang selalu setia mengikuti mereka. Setibanya di halaman samping, Quinn berhenti dan dia tidak melihat apapun di sana. Wanita itu memandang wajah suaminya dengan tatapan protes karena ia tahu kalau kini di Dimitri sedang mengerjainya.
"Sayang, di mana kejutannya?" tanya Quinn.
Dimitri menuju ke atas hingga akhirnya membuat Quinn mendongak. Wanita itu bahagia melihat tulisan I love you yang begitu besar. Ditambah lagi ada gambar bayi di samping tulisan tersebut yang menandakan sebagai ungkapan selamat atas kehamilan Quinn.
"Terima kasih, Sayang. Kau wanita yang sangat hebat." Dimitri memeluk Quinn dengan mesra. Ia lalu mengecupnya.
Sherin dan Joa memalingkan pandangan mereka karena tidak mau melihat adegan romantis itu. Sesekali mereka saling memandang dengan wajah malu-malu.
"Sepertinya kami tidak perlu lagi ada di sini. Karena itu hanya akan mengganggu kalian berdua saja," ucap Sherin pada akhirnya.
Quinn tertawa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sherin. "Maafkan kami. Terkadang kami lupa kalau ada banyak sekali orang di sekitar kami ketika kami sedang bermesraan."
"Kau memang selalu seperti itu dengan alasan lupa. Aku dan Joa masih memiliki urusan penting. Jadi kami pamit dulu. Mulai sekarang jaga kandunganmu baik-baik. Jangan terlalu sering naik turun tangga."
Quinn mengangguk. "Hati-hati. Segera kabari aku jika kamu membutuhkan bantuanku."
Quinn menyipitkan kedua matanya. "Ehm, baiklah."
Mereka berdua berpelukan lagi sebelum berpisah. Sherin segera pergi. Sedangkan Quinn masih sibuk menikmati kejutan demi kejutan yang sudah disiapkan suaminya.
"Kita mau kemana?" tanya Joa saat mereka berdua berjalan menuju ke mobil.
"Ke hotel," jawab Sherin dengan santainya.
Joa menahan langkah kakinya mendengar jawaban Sherin. Tatapannya seperti dipenuhi dengan curiga.
"Ke hotel?" Perjelas Joa lagi. Ia ingin memastikan kalau apa yang ia dengar tidak salah.
Sherin mengangguk cepat. "Ya ke hotel. Apa ada yang salah? Bukankah kita harus mengambil kejutan yang sudah disiapkan oleh Zack Lee? Aku sudah sangat penasaran sebenarnya apa yang akan diberikan olehnya kepada kita."
Joa langsung ingat dengan kunci hotel yang tadi diberikan Pieyu kepada mereka. Pria itu memalingkan wajahnya sambil tersenyum malu karena ia sudah sempat berpikiran negatif.
"Apakah kau berpikir yang aneh-aneh tadi? Apa kau pikir aku mengajakmu ke hotel dan ingin bersenang-senang di sana? Ingat, Jo. Sebelum kita menikah aku tidak akan mau tidur denganmu!" Bisik Sherin sebelum masuk ke dalam mobil.
Joa hanya tertawa saja mendengarnya. Pria itu juga segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil mereka menuju ke hotel yang sudah ditentukan oleh Zack Lee.
***
Setibanya di hotel, Joa dan Sherin langsung naik ke lantai atas. Sesekali mereka berdua terlihat tertawa bahagia karena sedang membahas sesuatu. Sherin benar-benar bahagia hari itu.
__ADS_1
"Aku pernah ke hotel ini bersama dengan Bos Dimitri. Di bawah ada restoran yang menyajikan makanan yang enak. Restoran itu merupakan salah satu restoran favorit Bos Dimitri," jelas Joa.
"Benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau kita makan malam di sana nanti?" tawar Sherin dengan tatapan penuh harap.
"Tapi kita belum mandi bahkan baju kita juga belum ganti. Bagaimana mungkin kita makan malam dengan pakaian seperti ini?" Joa memperlihatkan penampilannya yang sangat acak-acakan. Kaos dengan celana jeans panjang. Memang cukup rapi. Tapi Joa merasa tidak pantas jika harus dinner dengan pakaian seperti itu.
"Itu masalah yang sangat mudah. Nanti aku akan menelepon butik langgananku dan memintanya untuk mengirim baju untuk kita berdua. Kita bisa mandi di kamar hotel yang sekarang kita datangi bagaimana?" ucap Sherin memberi solusi.
Joa mengangguk setuju. "Baiklah, aku setuju."
Mereka berhenti di pintu kamar yang bernomor kan 105. Sherin segera membuka kamar itu karena sudah tidak sabar. Dia pun masuk bersama dengan Joa.
Joa kembali mengunci pintu setelah mereka tiba di dalam. Pria itu berjalan di belakang Sherin dan memperhatikan kamar itu dengan penuh waspada.
"Di mana Zack Lee meletakkannya? Kamar ini sangat luas. Kenapa dia tidak memberitahu kita tadi?" protes Sherin ketika dia tidak menemukan hadiah apapun di sana.
Joa memandang sebuah kotak besar yang ada di atas tempat tidur. Pria itu menahan langkah kakinya. "Mungkin kotak itu hadiahnya," ucap Joa sambil menunjuk kotak berukuran besar tersebut.
Sherin mengikuti arah yang ditunjuk oleh Joa. Melihat ada sebuah kotak yang berukuran besar di atas tempat tidur wanita itu segera berlari menghampirinya. "Ya. Tidak salah lagi. Pasti ini adalah kejutan yang sudah disiapkan oleh Zack Lee untuk kita. Aku akan memeriksa isi di dalamnya."
Joa memilih untuk berjalan menuju ke jendela dan menikmati udara segar di sana. Sedangkan Sherin dengan penuh antusias naik ke atas tempat tidur dan membuka kotak tersebut. Wanita itu tidak bisa berkata-kata lagi ketika melihat isi di dalamnya.
"Joa, kemarilah. Apa aku tadi tidak salah lihat?" teriak Sherin hingga membuat Joa kembali memutar tubuhnya dan berjalan mendekati tempat tidur. Pria itu memandang ke dalam kotak. Dia segera mengambil benda tersebut dan memamerkannya.
"Bukankah ini mahkota yang ada di acara pelelangan?" tanya Joa.
"Itu berarti Zack Lee telah memberi kita hadiah curian. Dia benar-benar sangat menghina kita. Tadinya aku pikir kita bisa berdamai dengannya dan menjadi teman. Tapi, lihatlah kelakuannya sekarang sungguh sangat memalukan!" protes Sherin dengan wajah kesal.
"Tidak, Sherin. Zack Lee mengalami kerugian yang sangat banyak ketika dia bermusuhan dengan channelly. Bahkan mungkin jika dihitung kembali kerugiannya lebih besar dari harga mahkota ini. Zack Lee mengambil mahkota ini dari channel ini karena dia merasa kalau benda ini dibeli dengan uangnya. Itu berarti dia tidak memberi kita barang curian," jelas Joa agar Sherin tidak lagi salah paham terhadap Zack Lee.
"Ada suratnya. Aku akan membaca isi suratnya." Sherin segera membuka surat itu.
"Sherin, Joa. Kalian tidak perlu salah paham. Mahkota ini memang aku rebut dari Chen Li. Tetapi yang sebenarnya terjadi Chen Li membeli mahkota ini dengan uangku. Aku hadiahkan mahkota ini untuk kalian. Mahkota ini cocok menjadi milik kalian karena kalian adalah pahlawan di dalam hidupku. Jika kalian tidak suka, kalian bisa menjualnya lagi. Kalian tidak perlu takut karena harganya akan jauh lebih tinggi. Tanya saja pada Joa. Dia pasti tahu bagaimana cara menjual mahkota ini agar harganya jauh lebih tinggi daripada harga aslinya."
Setelah membaca surat yang dituliskan oleh Zack Lee. Wanita itu memandang ke arah kekasihnya. "Bagaimana cara menjual mahkota ini agar harganya jauh lebih tinggi?"
"Kau benar-benar memiliki pemikiran untuk menjual mahkota ini?" tanya Joa tidak percaya.
"Untuk apa juga mahkota ini aku gunakan? Aku ini bukan seorang Ratu. Lebih baik dijual dan dijadikan uang. Uangnya bisa digunakan untuk investasi di perusahaan. Jika berhasil aku bisa mendapatkan uang yang lebih banyak lagi," jawab Sherin dengan wajah polosnya.
Joa tertawa geli mendengar jawaban kekasihnya itu. "Kau memang cocok jika menjadi wanita pebisnis. Biar aku yang membeli mahkota ini jika kau memang ingin menjualnya."
"Apakah kau memiliki uang yang begitu banyak? Joa, apakah kau sanggup untuk membeli mahkota ini jika aku menjualnya dengan harga 20 miliar dolar?" Sherin menatap Joa dengan begitu serius.
"Ya tentu saja aku sanggup," jawab Joa dengan santainya.
Sherin hampir mau pingsan mendengar jawaban kekasihnya itu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sebenarnya Joa adalah seorang milyader. Penampilannya selama ini tidak memperlihatkan kalau sebenarnya dia memiliki begitu banyak uang.
"Apa kau jadi menjual mahkota ini? Aku akan segera mentransfer uangnya," desak Joa.
Sherin menggeleng. "Tidak, Sayang. Aku hanya ingin bilang cepat jadikan aku istrimu. Karena aku sudah tidak sabar untuk menikmati uangmu yang banyak itu."
__ADS_1
Joa tersenyum mendengarnya. Pria itu lalu memandang lagi mahkota yang ada di atas tempat tidur. "Kita harus merahasiakan keberadaan mahkota ini. Banyak orang yang mengincarnya."