My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 65 Pertanyaan Sulit


__ADS_3

Malam itu terasa dingin. Ruangan tempat Quinn di rawat sangat hening. Tidak ada suara apapun selain detak jarum jam di dinding. Untuk beberapa saat, Luca dan Quinn saling memandang dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga tidak lama kemudian, Quinn mulai bersuara lagi.


"Dad, apa yang Daddy pikirkan? Kenapa sejak tadi Daddy hanya diam saja? Ayolah. Ceritakan semuanya padaku. Sekarang hanya kita berdua di sini."


Quinn terus mendesak Luca agar menceritakan yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi Luca tetap pada pendiriannya. Dia ingin merahasiakan masalah ini dari Quinn agar putrinya itu tidak sedih. Apa lagi masalah ini menyangkut pria yang dicintainya.


"Kenapa Mommy lama sekali?" Luca mengalihkan pembicaraan. "Daddy sudah lapar."


Ternyata Tiffany pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti Quinn dan beberapa barang yang mereka perlukan selama Quinn di rawat. Sedangkan Xander telah berpamitan untuk pulang ke rumah. Secepatnya pria itu akan kembali bersama dengan kedua orang tuanya.


"Dimana Dimitri? Apa Daddy mengusirnya?" Kali ini sorot mata Quinn terlihat mengintimidasi Luca. Seperti seorang ibu yang sedang memaksa anaknya untuk jujur.

__ADS_1


Luca mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menjatuhkan tubuhnya pada Sandara kursi. "Apa yang bisa Daddy sembunyikan darimu? Kenapa kau tidak percaya sama Daddy. Pikirkan kesehatanmu. Masalah lain biar menjadi urusan Daddy."


"Dad, aku juga ingin tahu. Aku tidak bisa tenang jika Daddy tidak juga mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


"Sayang, kau tahu kalau selama ini Joni mengawasimu? Apa kau sengaja mempersulitnya saat ingin menjagamu?"


"Dad, maafkan aku. Paman Joni sudah seperti ayah angkat bagiku. Aku menemuinya dan memintanya untuk tidak lagi mengawasiku. Sejak saat itu dia tidak lagi mengikutiku. Tolong jangan hukum Paman Joni. Ini semua atas permintaan Quinn." Quinn memegang tangan ayah kandungnya itu. Wajahnya terlihat sangat menyesal hingga akhirnya Luca menjadi tidak tega.


"Sherly?" tebak Quinn. "Apa maksud Daddy? Apa Sherly berkhianat?"


Akhir-akhir ini Quinn memang merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Namun dia tidak menyangka kalau semua itu disebabkan oleh Sherly.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa langsung menebak ke wanita itu? Quinn! Jika kau sudah curiga sejak awal, kenapa kau masih berteman dengannya!" Luca mulai emosi. Dia tidak menyangka kalau putrinya yang genius itu bisa sebodoh ini.


"Dad, tadi Mommy terus membahas soal kopi. Hanya Sherly yang sering membuatkanku kopi. Aku tahu kalau tubuhku sekarang tidak baik-baik saja. Maafkan aku, Dad." Quinn memalingkan wajahnya.


Luca segera beranjak lalu memeluk Quinn. Tidak lupa dia kecup pucuk kepala putrinya itu sebagai wujud rasa sayangnya.


"Kau pasti sembuh. Daddy rela menukarkan satu-satunya nyawa yang Daddy punya asalkan kau bisa sembuh. Kau pasti sembuh sayang." Luca memejamkan matanya untuk menekan air mata yang ingin menetes. Dia tidak mau terlihat lemah di depan putrinya yang sedang sakit.


"Apa sakitku parah, Dad? Apa aku tidak disembuhkan lagi? Apa aku akan mati?"


"Quinn? No no no!" Luca memegang kedua pipi Quinn lalu menatapnya dengan serius. "Kau pasti sembuh. Masa depanmu masih panjang. Seperti apa yang Daddy katakan tadi. Kau pasti sembuh. Apapun caranya akan Daddy lakukan!"

__ADS_1


__ADS_2