
"Akhirnya selesai juga." Quinn menjatuhkan kepalanya di atas meja sebelum memejamkan mata. Untuk sejenak wanita itu ingin tidur. Dia merasa sangat lelah karena hari ini harus lembur untuk menyelesaikan tugasnya yang menumpuk.
"Kopi panas untuk sahabatku tersayang." Sherly muncul dengan dua kopi di tangannya. Wanita itu meletakkannya di atas meja.
"Aku mau tidur," ucap Quinn masih dengan mata terpejam.
"Quinn, kau sudah menyelesaikan semuanya. Setelah minum kopi ayo kita pulang. Kau bisa tidur di rumah," ucap Sherly sebelum menyeruput kopi buatannya sendiri.
"Tapi aku sudah tidak sanggup berjalan. Daddy benar-benar kejam. Bisa-bisanya dia menyuruhku bekerja sampai selarut ini," protes Quinn tanpa sadar.
"Menyuruh bagaimana maksudmu, Quinn?"
Quinn segera membuka matanya dan duduk. wanita itu menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya aku sempat tertidur hingga mengigau menjadi orang kaya," ucap Quinn berharap Sherly percaya dengan apa yang ia katakan.
"Ya, itu biasa terjadi jika kita merasa kelelahan. Aku juga sering berpikir seperti itu. Andai saja Aku adalah anak yang memiliki perusahaan ini, aku akan pecat orang-orang yang kerjanya tidak bagus terutama orang-orang yang suka gosip ketika jam kerja berlangsung. Sayangnya semua itu hanya impianku saja. Karena mau reinkarnasi 10 kali juga aku pasti tidak akan mungkin ditakdirkan untuk menjadi putri konglomerat."
"Terkadang apa yang kita pikirkan belum tentu seindah itu juga." Quinn mengambil kopi buatan Sherly lalu menyeruputnya secara perlahan. "Jadi putri konglomerat tidak selamanya hidup enak. Mereka justru merasa kesulitan karena harus menanggung beban yang begitu berat. Yang pertama mereka harus menjaga nama baik keluarga. Tidak boleh sembarangan keluar rumah karena pasti penculik akan mengincar mereka. Ditambah lagi pergaulan mereka sangat terbatas karena jika mereka salah memilih teman justru mereka sendiri akan terjebak."
"Kau salah Quinn. Itu hanya pikiranmu saja karena memang selama ini pikiranmu tidak pernah bagus terhadap orang lain. Jadi Putri konglomerat itu sangat enak. Bisa tidur di kamar yang mewah, punya mobil bagus yang banyak, jika pengen liburan juga tinggal bilang aja nggak perlu mikir nabung lagi. Mau beli apa-apa tinggal ambil nggak kayak kita harus bekerja keras untuk membeli sesuatu yang kita inginkan." Sherly terlihat melamun sambil memandang ke jendela.
"Memangnya kamu benar-benar pengen jadi anak orang kaya?" Wajah Quinn mulai serius.
Sherly tertawa mendengar pertanyaan Quinn. "Lalu jika aku jawab iya memangnya kamu bisa merubah takdirku menjadi anak orang kaya?" Dia ketawa lagi.
"Setelah menjadi anak orang kaya. Hal apa yang paling ingin kamu lakukan?"
"Entahlah. Sepertinya tidur di kamar bagus seharian tanpa memikirkan pekerjaan dan uang yang pas-pasan akan terasa mengasyikkan. Jika lapar pembantu akan datang dan menyajikan makanan dengan aneka menu," jawab Sherly cepat.
__ADS_1
"Cuma itu aja?" tanya Quinn untuk kembali memastikan.
"Itu juga tidak akan mungkin pernah terkabul Quinn. Sudah deh. Malam-malam malah cerita yang nggak masuk akal. Sekarang ayo kita pulang. Aku juga udah ngantuk nih pengen cepet tidur aja." Sherly beranjak dari kursi.
Quinn memajukan bibirnya lalu beranjak dari kursi juga. Dua wanita itu segera meninggalkan ruangan yang menjadi tempat bekerja mereka selama ini.
"Sekarang aku tahu kado ulang tahun Apa yang bisa aku berikan kepada Sherly di ulang tahunnya nanti. Tadinya aku benar-benar pusing kira-kira Sherly pengennya apa. Tapi sekarang aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan di ulang tahun Sherly nanti," batin Quinn sambil tersenyum.
...***...
Setelah mengantarkan Sherly pulang ke rumahnya, Quinn cepat-cepat melajukan mobilnya menuju ke rumah. Wanita itu merasa tubuhnya seperti remuk. Dia sangat merindukan tempat tidur favoritnya. Sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, wanita itu kembali mengingat apa yang dikatakan Sherly di kantor tadi.
"Bisa-bisanya dia cuma pengen tidur di kamar mewah."
Quinn segera memarkirkan mobilnya di garasi ketika sudah tiba di rumah. Seorang pengawal yang berjaga di sana membukakan pintu untuk Quinn. Quinn menahan langkah kakinya melihat mobil yang tidak ia kenali juga terparkir di sana.
"Mobil siapa ini? Apa teman Mommy dan Daddy? Bukankah ini sudah sangat malam. Kenapa tamunya belum pulang juga," batin Quinn sambil berjalan menuju ke pintu.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Seharusnya kau menginap saja malam ini. Aku sangat khawatir jika kau menyetir sendirian."
"Tiffany, aku sudah terbiasa menyetir mobil malam-malam seperti ini. Sampai bertemu lagi. Tetap jaga kesehatanmu dan jangan suka marah-marah agar tidak cepat tua."
Quinn berdiri sambil memperhatikan dua wanita paruh baya yang terlihat akrab tersebut. Wanita itu tidak mau mengganggu momen mereka. Hingga saat salah satu dari mereka menghilang di balik pintu Quinn baru memberanikan diri untuk mendekati ibu kandungnya sendiri.
"Apa itu tante Viana, Mom?" Quinn menyandarkan tubuhnya di dinding dengan tangan terlipat.
"Quinn, kenapa kau baru pulang? Kau ke mana saja?"
__ADS_1
"Apa Daddy tidak memberitahu Mommy kalau aku bekerja sampai selarut ini di perusahaan? Pasti Mommy tahu sendiri Daddy tidak akan mungkin tinggal diam jika aku pulang larut malam kecuali aku pulang malam karena mendapat tugas dari Daddy." Wajah Quinn terlihat kesal.
"Tapi setidaknya kau bisa memberi kabar kepada Mommy. Mommy masih malas bicara dengan Daddy."
"Mommy jangan seperti itu. Aku tidak mau Mommy dan Daddy bertengkar hanya karena Mommy membelaku." Quinn memegang tangan ibunya.
Tiffany diam sejenak. Dia juga tidak suka dengan keadaan seperti ini. Akan tetapi dia tidak bisa diam saja jika Luca terus menerus membatasi putrinya yang kini sudah beranjak dewasa.
"Quinn, ada yang ingin Mommy bicarakan. Ayolah duduk dulu sebentar." Tiffany segera mengajak putrinya untuk duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari posisi mereka berada.
"Ada apa sih, Mom? Kenapa Mommy terlihat mencurigakan sekali."
"Kenapa kau bicara seperti itu? Mommy hanya ingin memberimu kabar baik saja." Tiffany tersenyum penuh arti hingga membuat Quinn tahu kalau ada sesuatu di sana.
"Oke, sekarang ceritakan padaku apa kabar baiknya."
"Tante Viana menikah dengan duda kaya," ucap Tiffany penuh semangat.
Quinn mengernyitkan dahi mendengarnya. "Terus apa hubungannya denganku? Kenapa Mommy bilang itu kabar baik? Mau Tante Viana menikah dengan brondong ataupun duda kaya itu sama sekali tidak ada hubungannya sama aku dan sama sekali tidak menguntungkan bagiku Mommy." Quinn menghela napas kasar.
"Duda kaya ini memiliki anak laki-laki yang sangat tampan. Apakah kau tidak tertarik untuk menikah dengannya?" sahut Tiffany.
"Mommy minum obat apa sih! Ngomongnya aneh gitu." Quinn memalingkan wajahnya.
"Sayang, Tante Viana juga setuju. Jika kalian sampai berjodoh, Mommy dan Tante bisa Viana jadi keluarga. Kami akan menjadi besan yang akur. Tolonglah buka hatimu untuk putra Tante Viana. Siapa tahu kalian berjodoh. Awal-awalnya kalian bisa berteman lebih dulu sambil mendekatkan diri." Tiffany mengambil sesuatu di atas meja. "Ini fotonya. Bukankah dia pria yang sangat tampan?'
Quinn menerima foto itu lalu memandang wajah seorang pria yang ada di dalamnya. Memang tampan bahkan lebih tampan dari Dimitri. Tapi tetap saja Quinn tidak tertarik. "Mommy, aku capek. Apa aku boleh pergi ke kamar? Aku ingin mandi dan tidur. Masalah ini kita bicarakan lain kali saja ya."
__ADS_1
Tiffany hanya bisa menghela napas. Wanita itu juga tidak bisa memaksa putrinya untuk dekat dan akrab dengan pria pilihannya. "Baiklah. Kalau begitu kita bicarakan lain waktu saja. Sekarang sana pergi mandi dan istirahat."
Quinn mendaratkan kecupan di pipi Tiffany sebelum pergi ke kamarnya. Sedangkan Tiffany masih berada di sofa sambil memandang foto pria yang menjadi anak tiri Viana saat ini. "Usia Quinn yang sekarang sudah sepatutnya ia dekat dengan seorang pria. Aku harus membantu putriku untuk menemukan jodohnya. Aku tidak mau putriku menjadi perawan tua," batin Tiffany penuh dengan semangat. Wanita itu tidak pernah tahu kalau sebenarnya putrinya itu sering menjalin hubungan dengan seorang pria namun berakhir sakit hati. Hanya Luca yang mengetahui semua itu dan Luca tidak pernah memberi tahu Tiffany.