My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 206 Jawaban Jujur


__ADS_3

"Audy."


Xander yang baru saja tiba terlihat kaget ketika melihat Audy sudah berdiri di samping meja kerjanya. Pria itu cepat-cepat melangkah mendekati Audy. Wajahnya terlihat ketakutan.


"Audy, aku bisa menjelaskan semua ini," ucap Xander lagi ketika ia melihat satu foto Quinn kini ada di genggaman tangan Audy. Pria itu tidak mau sampai calon istrinya salah paham dan membuat rencana pernikahan mereka gagal.


"Seharusnya kau menceritakan semua ini sejak awal. Jika kau mencintai wanita lain, untuk apa kau katakan kalau kau mencintaiku dan ingin menikah denganku?" Kedua mata Audy terlihat berkaca-kaca. Dia cemburu dan sangat sakit hati ketika mengetahui kenyataan ini. Audy sangat kecewa. Tubuhnya terasa lemas sampai dia sendiri tidak tahu harus bagaimana sekarang.


"Kau salah paham Audy. Apa yang terjadi tidak seperti yang kau pikirkan." Xander mengambil foto Quinn yang kini ada di genggaman tangan Audy. Lalu meletakkan foto itu di meja sebelum kembali menggenggam tangan Audy dan memandang wanita itu dengan sungguh-sungguh. "Aku bisa menjelaskan semua ini. Kau harus percaya padaku. Jangan sedih seperti ini. Oke?"


Audy berusaha tetap tenang dan memberi kesempatan kepada Xander untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Wanita itu menggangguk lalu memandang wajah Xander. "Jangan menunda lagi. Cepat katakan sekarang juga. Aku ingin mendengar semuanya. Tolong katakan dengan jujur dan jangan ada satupun yang kau tutupi karena sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak mau ada sesuatu yang kau rahasiakan dariku," pinta Audy dengan penuh harap.


"Ayo, kita cerita sambil duduk." Xander mengajak Audy untuk duduk di sofa. Mereka duduk saling berhadapan. "Quinn adalah sahabatku. Kau pasti bisa melihatnya kemarin. Tidak ada hubungan spesial di antara kami."


"Kau mencintai sahabatmu sendiri?" potong Audy. "Bahkan dia sudah menikah dan akan melahirkan!" tegas Audy lagi.


"Nggak, Audy!" Xander menggeleng cepat. "Aku mencintai Quinn saat pertama kali bertemu dengannya. Kami sengaja dijodohkan. Tapi sayangnya Quinn sudah mencintai pria lain dan dia lebih memilih untuk menikah dengan pria itu. Pria yang sekarang menjadi suaminya. Dan apa kau tahu pria yang dicintai pun adalah sahabatku sendiri.


Aku sempat menyalakan takdir karena aku kalah cepat dengan sahabatku sendiri. Saat itu memang aku sangat tergila-gila padanya karena seumur hidupku itu pertama kalinya aku jatuh cinta. Tetapi lambat laun aku mulai bisa menerima semua kenyataan. Aku merelakan Quinn untuk hidup bahagia dengan Dimitri sahabatku.


Menjadikan mereka berdua sahabat terbaikku untuk selama-lamanya. Hari ini tanpa sengaja aku melihat foto-foto Quinn yang masih aku simpan di dalam ruang kerja. Selama ini aku sempat melupakannya. Karena tidak mau kau sampai salah paham jadi aku memutuskan untuk mengumpulkan semua foto Quinn yang ada di ruangan ini dan berencana untuk membuangnya. Tapi sialnya kau lebih dulu menemukannya sebelum aku berhasil membuang semuanya." Dilihat dari cara Xander memandang Audy, Audy bisa tahu kalau kekasihnya itu tidak bohong.


Audy kini bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dari Xander. Ada seulas senyum di wajah cantiknya. "Maafkan aku karena sempat berpikir yang aneh-aneh tentangmu. Tadi aku memang sangat cemburu melihat ada foto wanita lain di ruang kerjamu. Tapi sekarang aku sudah tidak memikirkannya lagi. Bukankah setiap orang memiliki masa lalu? Kita tidak perlu mengusik masa lalu yang pernah terjadi. Lebih baik sekarang kita memikirkan masa depan kita berdua."


Xander kini bisa bernapas lega. Dia menarik tubuh Audy lalu memeluknya. "Terima kasih karena kau telah hadir di dalam hidupku. Terima kasih karena sudah membalas cintaku."


Untuk beberapa saat Audy terhanyut di dalam pelukan Xander sampai dia lupa tujuannya datang ke ruangan itu apa. Hingga tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuat Xander dan Audy sama-sama terperanjat kaget.


"Siapa?" teriak Xander dari dalam.


"Tuan, Nyonya meminta anda untuk datang ke ruang keluarga. Bersama dengan Nona Audy," jawab pelayan wanita yang tadi mengetuk pintu.


Audy menepuk kepalanya sendiri. "Aku lupa kalau tadi Tante Viana memintaku untuk menjemputmu. Ada banyak hal penting yang ingin dikatakan oleh Tante Viana."


Xander tertawa geli mendengarnya. "Kau pasti lupa dengan tujuanmu datang ke ruangan ini setelah melihat foto di atas meja. Sekarang ayo kita pergi untuk temui mama." Xanders lebih dulu beranjak dari sofa. Dia mengulurkan tangannya dan mengajak Audy.


Audy kembali melirik foto-foto Quinn yang masih tergeletak di atas meja. "Lalu bagaimana dengan foto-foto itu?"


"Aku akan meminta pelayan untuk membersihkannya," jawab Xander dengan santai. Mereka berdua sama-sama pergi meninggalkan ruangan kerja.

__ADS_1


...***...


Sherin membuka perban yang ada pada tubuh Joa secara perlahan. Dia ingin menggantinya dengan perban yang baru. Beberapa luka terlihat sudah mulai kering. Namun tetap saja Sherin tidak membiarkan pria itu banyak bergerak. Dia ingin suaminya sering-sering berada di tempat tidur untuk istirahat.


"Apa mama dan Papa sudah mengetahui semua ini? Apa Kak Xander sudah menceritakan semua yang terjadi?" tanya Joa ingin tahu.


Sherin menggeleng sembari memasang perban yang baru. "Mama dan Papa belum tahu kalau sebenarnya kita sudah ada di sini. Mereka masih berpikir kalau kita sedang bulan madu."


Joa tertegun mendengar jawaban Sherin. Pria itu merasa bersalah karena bulan madu mereka harus berantakan. Tidak sama seperti yang diimpikan oleh Sherin waktu itu.


"Maafkan aku karena tidak bisa memberikan bulan madu yang seperti kau harapkan. Aku janji setelah keadaanku benar-benar pulih aku akan membawamu untuk berlibur. Kita akan bulan madu lagi," ucap Joa berharap istrinya kembali tersenyum manis seperti biasa.


"Tidak perlu bulan madu. Berduaan denganmu seperti ini sudah lebih dari cukup. Kau juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan White Snake. Aku juga harus kembali memeriksa perusahaan yang baru saja aku rintis. Aku tidak mau terus mengandalkan kekuatan dari perusahaan Kak Xander dan Dimitri. Lagian, bulan madu kita kemarin berantakan karena kita membantu Kak Xander. Setidaknya sekarang Kak Xander tidak sendiri lagi. Dia sudah menemukan wanita yang mencintainya dan juga dia cintai." Wajah Sherin terlihat bersemangat sekarang. Wanita itu seperti tidak sabar untuk pulang ke rumah dan mengobrol langsung dengan calon kakak iparnya. "Setelah luka ditubuhmu benar kering kita akan pulang."


Joa mengambil tangan Sherin dan mengusapnya. "Terima kasih, sayang. Aku janji padamu akan merencanakan bulan madu kedua. Kali ini aku berani jamin tidak akan ada yang mengganggu kita lagi."


Sherin meletakkan perlengkapan medis yang tadi ia gunakan untuk mengganti perban Joa sebelum berhambur ke dalam pelukan pria itu. "Sebenarnya aku rindu dan ingin bertemu mama. Tapi rasanya kita tidak mungkin muncul dalam keadaan seperti ini. Mama pasti curiga jika melihat ada banyak luka di tubuhmu. Aku tidak mau mama khawatir."


"Aku akan hubungi Dokter Fei dan memintanya untuk mencari obat yang bisa menyembuhkan luka ini dengan secepat dan membuat semua luka ini tidak terlihat lagi," jawab Joa sambil mengusap rambut Sherin.


"Sayang, apa kau tidak merindukanku?" rengek Sherin tiba-tiba hingga membuat Joa terlihat bingung. Karena jelas-jelas mereka selalu bersama. Tidak pernah berpisah lagi. Tapi kini justru istrinya menanyakan kali seperti itu.


Sherin tertawa terpaksa mendengarnya. "Kau ini. Aku tidak membahas tentang itu." Sherin kembali memeluk Joa. "Waktu berpisah kemarin. Saat aku lebih dulu tiba di rumah sedangkan kau masih ada di Roma. Apa kau tidak merindukanku?"


Joa kembali mengingat perpisahan mereka yang hampir 15 jam itu. Rasanya dia ingin tertawa geli karena istrinya kini membahas sesuatu yang sudah lewat. Tapi Joa berusaha memahami sifat wanita dan tidak menyalahkannya sama sekali.


"Aku bahkan tidak selera makan dan minum. Tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku terus memikirkanmu. Tetapi aku tidak terlalu khawatir karena aku tahu kau sudah ada di tempat yang aman," jawab Joa dengan mesra. "Aku tidak mau berpisah denganmu lagi. Perlu kemarin sungguh menyiksa."


Sherin tersenyum lebar mendengarnya. Jawaban Joa bahkan jauh lebih manis daripada kata-kata romantis. "Benarkah? Apa kau tidak berbohong padaku? Pasti selama diperjalanan kalian minum-minum dan membahas masalah pertarungan sebelumnya," tebak Sherin asal saja.


Joa kembali terdiam. Memang semua yang dikatakan Sherin itu benar. Joa sama sekali tidak terlihat galau. Begitupun dengan Dimitri. Mereka justru meminum alkohol selama perjalanan pulang. Membahas kemenangan yang mereka peroleh. Hingga tidak ada lagi kesempatan untuk memikirkan wanita yang mereka cintai.


"Tuh kan, kau bohong. Aku tahu pasti kau tidak memikirkanku. Berbeda dengan aku dan Quinn. Selama perjalanan menuju pulang Kami terus memikirkan suami kami. Kami terus saja berdoa agar suami kami baik-baik saja," protes Sherin kesal.


"Aku tidak bohong. Aku benar-benar memikirkanmu. Bahkan tidur saja tidak nyenyak," jawab Joa dengan ekspresi yang sangat meyakinkan agar Sherin percaya.


"Lalu jika kau terbukti bohong, hukuman apa yang pantas aku berikan padamu?" tentang Sherin dengan wajah yang serius.


Joa hanya bisa terdiam karena dia tahu jika Sherin sampai meminta bantuan Quinn, maka apa yang terjadi di pesawat akan diketahui oleh Sherin. Pada akhirnya pria itu memilih untuk pasrah dan mengatakan yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Kami bahkan tidak sempat tidur karena terlalu lama bercerita hingga tidak terasa pesawat sudah mendarat dan kami sudah tiba di bandara. Tapi sayang, kau harus tahu satu hal. Meskipun aku terlihat ceria di depan orang lain tetapi hati kecilku terus memikirkanmu. Aku sangat merindukanmu." Joa berusaha keras membujuk istrinya agar tidak marah. Terlihat jelas kalau dia sangat-sangat mencintai Sherin.


Sherin tertawa geli melihat ekspresi Joa yang seperti orang ketakutan. Wanita itu telah berhasil mengerjai suaminya sendiri.


"Aku hanya bercanda. Aku mencintaimu," ucap Sherin tersenyum.


Joa pada akhirnya bisa kembali bernapas lega. Namun kali ini dia sudah tidak tahan lagi. Melihat Sherin tertawa ceria seperti itu membuatnya bergairah. Hingga pada akhirnya Joa mencium bibir Sherin. Membuat wanita itu mematung dan tidak bisa berkata-kata lagi.


Sherin awalnya ingin menolak karena dia tahu kondisi suaminya masih sakit. Namun wanita itu juga tidak tega untuk menolak keinginan suaminya. Selama beberapa hari ini memang Joa tidak ada menyentuhnya lagi.


Joa meminta Sherin naik di atas pangkuannya tanpa mau melepas ciuman mereka. Secara perlahan dia mulai menurunkan resleting gaun yang dikenakan oleh Sherin. Sherin sendiri juga terlihat pasrah. Ciuman mereka semakin panas. Tidak peduli sekarang masih sore.


Deringan ponsel mengganggu momen romantis itu. Joa seperti sedang mengumpat ketika ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdering dengan keras. Sedangkan Sherin cepat-cepat menjauh dari tubuh Joa dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Joa segera mengangkat panggilan telepon itu ketika melihat panggilan telepon dari anak buahnya. "Ada apa?" tanya Joa singkat.


"Saya sudah berhasil mendapatkan informasi lengkap tentang Nona Audy, Bos. Semua bukti-bukti ini akan saya kirimkan ke rumah anda," jawab pasukan White Snake di dalam telepon.


"Kenapa kau harus meneleponku! Apa tidak bisa langsung datang saja!" protes Joa kesal.


"Maafkan saya bos karena sudah mengganggu Anda," ucap pasukan White Snake.


"Apa kau mendapatkan informasi yang Bagus? Bagaimana hubungan antara Audy dan Leonzio? Apa mereka memang saudara tiri?"


"Sebenarnya Nona Audy dan Leonzio saudara kandung, Bos. Seseorang sengaja memanipulasi keadaan. Membuat cerita bohong dan membawa bukti-bukti palsu. Tapi kami sudah menangkapnya. Sekarang dia ada di markas. Satu hal penting lagi, Bos. Aldo sudah mengetahui semua ini. Sepertinya dia sengaja merahasiakan informasi penting ini agar Nona Audy dan Leonzio tidak mengetahuinya. Tetapi saya sendiri tidak tahu tujuan Aldo apa," jelas pria itu dengan begitu rinci.


"Cepat temui aku sekarang. Aku akan meminta Kak Xander dan Audy ke sini untuk menyampaikan informasi penting ini," perintah Joa. Dia segera memutuskan panggilan teleponnya.


"Ada apa? Kenapa Kak Xander harus ke sini?" tanya Sherin penasaran.


"Sebenarnya Audy dan Leonzio saudara kandung. Audy harus mengetahui semua ini," jawab Joa.


"Lalu, bagaimana dengan Leonzio? Dia tidak akan percaya dengan perkataan kita."


Joa mengangguk. Dia tahu kalau Leonzio tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang dia katakan. "Aku sudah mengumpulkan semua bukti-buktinya. Kali ini dia pasti akan percaya padaku."


Sherin kembali diam. Wanita itu ingin pergi meninggalkan kamar. Resleting gaunnya juga sudah terpasang lagi.


"Mau kemana?" tanya Joa. Pria itu menggenggam tangan Sherin dengan erat. "Kita belum selesai," ucap Joa lagi sebelum menarik Sherin dan melanjutkan cumbuannya.

__ADS_1


__ADS_2