
Dimitri dan Luca sudah tiba di bandara. Berkat bantuan dari Quinn kini mereka tahu dimana Tuan Neo berada. Dalam sekejap pria itu pergi ke negara yang jauh dari tempat tinggal mereka. Tapi jarak tidak pernah jadi halangan bagi Luca dan Dimitri. Meskipun mereka harus berjauhan dari wanita yang mereka cintai.
Dua pria tangguh itu melangkah menuju ke pesawat yang sudah menunggu mereka sejak tadi. Joa dan Joni juga sudah menanti. Sejak Luca dan Dimitri memutuskan untuk bekerja sama. Sejak itulah mereka berdua berteman baik.
"Bos, semua sudah siap. Pesawat akan berangkat lima menit lagi," ucap Joa sembari menuang minuman ke dalam gelas kosong yang ada di meja.
"Bos, ini senjata yang anda pesan." Joni membuka sebuah kotak lalu memperlihatkan senjata api di dalamnya. Warna hitam mengkilap dengan beberapa peluru emas yang sudah disiapkan.
"Cukup menarik." Luca menutup kembali kotak berisi senjata tersebut tanpa mau memegang senjata yang ada di dalamnya. lalu dia memandang ke arah Dimitri yang kini duduk di hadapannya. "Ini untukmu."
"Untuk saya?" Dimitri kaget ketika Luca memberikan senjata api tersebut padanya. Selama ini pria itu sudah terbiasa dengan senjata api favoritnya.
Dia tidak pernah mengganti senjata favoritnya itu dengan senjata yang lebih bagus maupun yang lebih mahal. Baginya senjata yang selama ini ia gunakan cukup membawa keberuntungan. Tetapi kali ini posisinya sangat sulit. Dia tidak mungkin menolak pemberian calon mertuanya itu. Dimitri tidak mau sampai Luca salah paham dan menilai dirinya sebagai pria sombong.
Joa yang mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Dimitri saat ini hanya melirik sejenak sebelum mengalihkan pandangannya. Meskipun begitu dia juga sangat mengagumi senjata yang tadi ditunjukkan oleh Joni.
Bukan hanya tidak mengeluarkan suara tetapi senjata itu memiliki kemampuan untuk melumpuhkan lawan hanya dengan satu peluru saja. Hasil tembakannya juga jarang meleset.
"Terima kasih, Daddy." Dimitri tersenyum sebelum menerima hadiah kecil dari calon mertuanya itu. Dengan wajah tidak sabar Ia membuka kotak tersebut dan memegang senjata yang ada di dalamnya. "Sepertinya senjata lamaku harus pensiun," ucap Dimitri hingga membuat Luca tertawa mendengarnya.
"Setiap ketua mafia memiliki satu senjata favorit. Dan aku yakin kau pasti memilikinya. Karena jika kita nyaman menggunakan satu senjata kita tidak akan pernah memiliki niat untuk menggantinya dengan senjata lain. Lalu apa yang membuatmu tetap menerima senjata pemberianku ini?" tanya Luca ingin tahu.
Dimitri meneguk minumannya sebelum memandang ke arah Luca lagi. "Segala sesuatu yang sudah menjadi benda favorit kita memang akan sulit untuk digantikan. Tetapi mencoba hal baru juga tidak buruk. Untuk pertama kalinya seorang pria yang saya panggil sebagai Daddy memberikan saya sebuah hadiah yang sangat berarti. Saya tidak mungkin mampu untuk menolaknya. Karena saya tidak tahu ke depannya saya bisa diperlakukan seperti ini lagi atau tidak."
Jawaban yang diucapkan oleh Dimitri berhasil membuat Luca tertegun. Tiba-tiba saja pria paruh baya itu tertarik untuk mengetahui keberadaan keluarga Dimitri saat ini. Bagaimanapun juga cepat atau lambat Dimitri akan menjadi menantunya. Tentu saja dia harus tahu seperti apa keluarga pria tangguh itu.
__ADS_1
"Jika kau tidak keberatan, aku ingin mendengar sedikit cerita tentang keluargamu. Tetapi jika kau merasa tidak nyaman, Kau tidak perlu mengatakannya. Kita masih memiliki banyak waktu untuk membahas hal seperti ini." Luca juga meneguk minuman yang ada di depannya secara perlahan. Menikmati rasa pahit dan manis yang ada di dalamnya.
"Kedua orang tua saya sudah lama pergi meninggalkan dunia. Mereka meninggalkan harta yang cukup berlimpah. Mungkin tadinya mereka berpikir kalau putra semata wayang mereka ini akan bahagia dengan harta itu. Tetapi justru harta itu membuat putra mereka dalam bahaya," jawab Dimitri. Pria itu membenarkan posisi duduknya untuk melanjutkan cerita panjangnya.
"Ada banyak sekali orang bermuka dua yang mengincar harta kedua orang tuaku. Berulang kali mereka meracuniku dan berharap aku mati detik itu juga. Tetapi sayangnya takdir berkata lain. Aku tetap hidup hingga usiaku menginjak 17 tahun. Saat itu aku mulai berpikir untuk melawan semua orang yang mengincar nyawaku.
Seorang pria paruh baya yang cukup hebat dalam bela diri mengajariku banyak hal saat itu. Sayangnya dia harus tewas di tangan musuh setahun setelah menjadi guruku. Karena sudah banyak orang yang tahu kalau aku adalah muridnya mereka juga pada akhirnya mengincar nyawaku.
Mulai saat itu aku sudah memiliki keberanian untuk melawan para musuh. Hingga akhirnya aku memiliki beberapa orang kepercayaan dan kami membentuk White Snake. Untuk menutupi bisnis gelapku aku tetap terjun di dalam dunia perusahaan dan dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses.
Saya harap setelah mendengar cerita ini Daddy tidak berubah pikiran untuk menjadikan saya menantu Daddy," ledek Dimitri yang diiringi tawa kecil setelahnya.
Luca tertawa mendengarnya. Pria itu geleng-geleng kepala karena merasa kagum melihat perjuangan hidup Dimitri selama ini.
"Perusahaan selalu menjadi benteng untuk menutupi bisnis di belakangnya. Aku juga melakukan hal yang sama denganmu. Mungkin sejak awal kita sudah ditakdirkan untuk menjadi ayah dan anak."
Quinn dan Tiffany menghela napas panjang mendengar obrolan Dimitri dan Luca. Dua wanita itu bersandar sebelum bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
"Ternyata pria bisa bergosip juga," ucap Tiffany.
"Aku sangat kaget ketika mendengar Dimitri memanggil Daddy dengan panggilan Daddy. Apa dia juga akan memanggil mommy dengan sebutan mommy?" tanya Quinn.
"Jangan berandai-andai. Belum tentu kalian berjodoh," sangkal Tiffany.
"Mommy kenapa bicara seperti itu?" Quinn menjadi tidak tenang mendengar perkataan ibu kandungnya sendiri. "Sebaiknya Mommy jangan bicara jika hanya mengucapkan kata-kata yang mengerikan. Dimitri dan Daddy pergi untuk mencari penawar racunku. Lalu Mommy bilang kami tidak berjodoh. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap Dimitri? Aku tidak mau kehilangan Dimitri mom. Apa Mommy tidak mengerti juga bagaimana perasaanku saat ini."
__ADS_1
"Sayang, maafkan mommy jika mommy salah bicara. Mommy hanya bicara asal saja tadi. Tidak ada niat lain. Meskipun kau dan Dimitri belum menikah, Mommy selalu mendoakan agar Dimitri baik-baik saja," jawab Tiffany membela diri.
"Jadi sekarang mau dilanjut atau dihentikan? Daddy pasti akan marah besar jika tahu kalau kita mengintip mereka dengan cara seperti ini."
"Bukankah ini idemu?" ujar Tiffany hingga membuat Quinn melirik sadis.
"Mommy, ini memang ideku tapi mommy yang menyetujuinya. Itu berarti kita berdua terlibat."
"Ya sudah matikan saja. Kita tidak perlu melihat kegiatan mereka lebih jauh lagi karena itu hanya akan membuat kita khawatir. Lebih baik sekarang kita doakan saja."
"Mom, kapan aku bisa pulang? Aku merindukan kamarku," rengek Quinn.
"Sebentar lagi. Dokter Fei belum memberimu izin untuk pulang," sahut Tiffany sambil melamun memikirkan suaminya.
"Tapi kenapa aku jarang melihat Dokter Fei? Bukankah seharusnya dia sering-sering mengunjungiku untuk melihat keadaanku."
"Sebaiknya Kau tidak perlu memikirkan hal lain untuk saat ini. Cepat tidur agar obat yang kau minum itu segera bereaksi."
"Baik, Mom." Quinn mulai memejamkan matanya. Meskipun begitu, pikirannya masih dipenuhi dengan nama Dimitri. Entah rencana apa yang bisa dia lakukan untuk membantu kekasihnya itu.
"Mom, apa mommy setuju jika aku dan Dimitri menikah?"
"Jika itu yang terbaik, mommy hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian," ucap Tiffany sambil mengusap rambut putrinya.
"Terima kasih, Mom," ucap Quinn sambil tersenyum. "Aku sayang mommy."
__ADS_1
"Mommy juga sangat menyayangimu Quinn."