
"Mommy ...." Quinn tersenyum bahagia ketika melihat Tiffany membuka kedua matanya. "Mommy sudah bangun? Apa yang mommy rasakan sekarang?"
"Sayang, mommy takut." Tiffany segera memeluk Quinn. Wanita itu masih trauma dengan kejadian yang baru saja dia alami. "Mereka memaksa Mommy." Masih terbayang jelas ketika anak buah Joa menarik Tiffany dengan kasar dan mengikatnya dengan begitu kuat.
"Mom, semua sudah berlalu. Sekarang Mommy sudah ada di rumah. Tidak akan ada yang bisa mencelakai Mommy lagi." Quinn mengusap punggung ibunya. "Mommy tenang ya."
"Mom, kami juga di sini. Kami akan jaga Mommy," ucap Malvin. Di sambut dengan Nichole.
"Ya, Mom. Kami bertiga akan jaga Mommy."
Tiffany melepas pelukannya. Dia sudah sangat merindukan suaminya. Meskipun belum lama berpisah, tetapi entah kenapa dia sangat mengkhawatirkan suaminya sekarang. "Apa Daddy belum pulang? Bagaimana kabar Daddy?"
"Daddy sudah dalam perjalanan pulang, Mom. Mereka berhasil mengalahkan Tuan Nio." Quinn menjelaskan apa yang terjadi di sana. Meskipun hanya cerita singkat tetapi berhasil membuat Tiffany kembali tenang.
Tiffany diam sejenak sambil berusaha melupakan kejadian buruk yang baru saja dia alami. Hingga akhirnya wanita paruh baya itu mulai ingat dengan kesehatan putrinya sendiri.
"Sayang, kenapa kau duduk? Bukankah Dokter Fei bilang kau tidak boleh banyak bergerak?" Tiffany kini kembali mengkhawatirkan keadaan Quinn. "Kau harus berbaring. Cepat tidur sini di samping Mommy."
"Aku kuat, Mom. Aku baik-baik saja." Quinn berusaha memperlihatkan wajah baik-baik saja di depan ibu kandungnya meskipun sebenarnya dia saat ini merasa sangat kesakitan. "Aku akan tidur di kamarku jika memang sudah lelah."
"Quinn, kau yakin? Istirahatlah." Tiffany tetap tidak percaya. "Nichole, antar kakakmu ke kamar."
"Baik, Mom." Nichole memandang ke arah Quinn. "Ayo kak."
Quinn mengangguk. "Mom, Quinn ke kamar dulu ya. Mommy istirahat yang cukup. Malvin ada di sini untuk temani Mommy."
"Ya, sayang." Nichole dan Quinn pergi meninggalkan kamar Tiffany. Di depan kamar, Quinn memegang dadanya yang terasa sakit.
"Kak, apa kakak baik-baik saja?" tanya Nichole khawatir. "Aku telepon Dokter Fei ya."
"Jangan tahu Mommy. Mommy akan khawatir." Quinn berusaha tetap kuat.
__ADS_1
"Kak, sini aku gendong." Nichole segera mengangkat tubuh Quinn. "Kita ke kamar ya. Setelah itu aku akan telepon Dokter Fei?"
Quinn mengangguk setuju sambil tersenyum menatap wajah Nichole. "Kau sudah besar ya."
"Kak, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memujiku," jawab Nichole malu-malu. Pria itu melangkah menuju ke kamar Quinn dengan hati-hati.
"Dulu kau suka sekali menangis. Kau cemburu padaku," sambung Quinn lagi.
"Benarkah?" tanya Nichole tidak percaya. "Aku ini anak laki-laki. Kenapa aku harus cemburu pada kakak perempuanku?"
"Karena Daddy sangat menyayangi kakak," jawab Quinn apa adanya.
"Tapi sekarang aku tahu apa maksud Daddy. Dia mau aku menjadi pria yang kuat agar bisa melindungi kakak dan Mommy." Nichole meletakkan Quinn secara perlahan di atas tempat tidur. Setelah itu dia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dokter Fei.
"Nichole, apa Daddy pulang bersama Dimitri?" Quinn tidak tahu informasi jelasnya karena tadi Luca menelepon Nichole.
"Tentu saja. Mereka pergi bersama dan harus pulang bersama," sahut Nichole cepat. "Halo, dok. Bisa ke rumah. Kak Quinn sakit lagi."
"Baik, Dok." Nichole segera memutuskan panggilan teleponnya bersama Dokter Fei. Dia mengambil obat dan segelas air putih. "Kak, minumlah."
"Apa kau akan menangis jika kakak sampai mati?"
"Kak, bicara apa sih! Cepat minum obatnya dan jangan pernah bicara seperti itu lagi!" protes Nichole tidak suka.
Quinn menerima obat yang diberikan oleh Nichole lalu segera meminumnya. "Tolong jaga Mommy dan Daddy. Malvin juga."
Nichole membanting gelas kosong yang tadi dia genggam. "Kakak bicara apa?" teriaknya marah.
"Kakak ...." Quinn menunduk sedih.
"Kakak pasti sembuh. Daddy bilang dia sudah berhasil menemukan penawarnya."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Quinn dengan wajah bahagia. "Apa kau tidak berbohong?"
"Daddy memintaku untuk merahasiakan semua ini karena penawar yang mereka bawa harus diperiksa dulu di laboratorium. Tapi, tidak ada salahnya kan kita berharap?" Nichole merasa bersalah karena tadi Luca memintanya untuk merahasiakan ini dari Quinn. Pria paruh baya itu tidak mau sampai putrinya kecewa jika penawar itu tidak cocok untuk Quinn.
"Nichole, kakak mau tidur." Quinn memejamkan matanya. Hal itu membuat Nichole semakin sedih.
"Kak, cepat sembuh. Aku akan menuruti semua permintaan kakak jika kakak sembuh."
"Pegang omonganmu Nichole," ledek Quinn sambil memejamkan mata. Nichole hanya tersenyum saja dengan mata berkaca-kaca.
...***...
Luca memang pulang dalam keadaan menang karena berhasil mengalahkan Tuan Nio. Akan tetapi pria itu tidak kembali dalam keadaan tenang. Sekarang dia sangat mengkhawatirkan keadaan Dimitri. Meskipun pria itu bilang ingin menjaga Joa sampai sembuh. Tapi entah kenapa Luca merasa kalau Dimitri sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tuan, ini vitaminnya." Joni muncul dengan beberapa bulir vitamin dan segelas air putih. "Anda harus segera meminumnya.
"Kau tahu apa yang terjadi? Kenapa Dimitri menolak untuk pulang bersama kita?" Luca segera meminum vitamin itu.
"Soal itu ... Saya tidak tahu, Tuan."
"Kau yakin?" tanya Luca tidak percaya. Kini justru ekspresi Joni terlihat seperti dia tahu akan sesuatu namun tidak mau mengatakannya. "Aku ingin tahu. Apapun itu."
"Tuan, orang yang menculik Nyonya Tiffany adalah tangan kanan Joa," ucap Joni hati-hati.
"Joa? Joa orang kepercayaan Dimitri?" tanya Luca dengan nada tinggi.
Joni mengangguk. "Saya ingin memberi tahu anda sejak kemarin. Tetapi keadaannya tidak memungkinkan. Ditambah lagi Joa celaka karena melindungi anda dan juga Tuan Dimitri. Saya pikir ada kesalahan di sana. Bisa saja kan anak buah Joa berkhianat dan dia memfitnah Joa?"
"Kau benar. Dunia gelap penuh dengan misteri. Siapapun bisa menjebak dan dijebak. Tetapi bukankah lebih baik Dimitri mengetahui semua ini? Dengan begitu dia bisa lebih waspada?"
"Saran saya kali ini anda jangan ikut campur lagi, Tuan. Kita fokus saja dengan kesehatan Nona Quinn," ucap Joni sebelum mengambil gelas kosong yang ada di meja. Pria itu pergi meninggalkan Luca sendiri.
__ADS_1
Luca menghela napas kasar memikirkan masalah yang tidak ada habisnya. Kepala pria itu terasa pusing. "Kenapa Quinn tidak berpacaran dengan CEO aja agar masalah hidupnya tidak serumit ini."