
Setelah tiba di Perugia, Zack Lee dan Peiyu membawa Sherin ke rumah idaman mereka. Tadinya mereka tidak mau rumah itu diketahui oleh orang lain. Namun karena situasinya sudah seperti ini, mau tidak mau mereka mengajak Sherin untuk menginap. Sherin juga terlihat sangat kelelahan. Dia butuh istirahat. Zack Lee nantinya akan menghubungi Joa dan memberi tahu apa yang sudah terjadi.
Sebuah rumah sederhana yang dibangun di tepi pantai memang impian Peiyu sejak dulu. Kini dia berhasil memiliki rumah impiannya. Meskipun dipinggiran pantai, tetapi lokasinya tidak jauh dari keramaian. Jika ingin ke kota, Peiyu tidak butuh waktu lama.
"Bagaimana? Apa kau suka dengan pilihanku? Aku tidak suka rumah yang luas. Itu hanya akan merepotkanku jika ingin memanggilmu," tanya Zack Lee kepada Peiyu. Dengan mesranya, pria itu memeluk Peiyu dari belakang.
"Hemm, tidak buruk. Dimana toko rotinya?" tagih Peiyu. Wanita itu sudah tidak sabar untuk membuat dan menjual roti.
"Nanti akan aku tunjukkan. Bisakah sekarang kita masuk dan bawa tamu kita ke dalam?" Zack Lee melirik ke arah Sherin sejenak sebelum fokus dengan tubuh kekasihnya lagi.
"Sherin, ayo masuk. Aku akan masakkan sesuatu untukmu," ujar Peiyu. Wanita itu melepas pelukan Zack Lee lalu menarik tangan Sherin agar masuk ke dalam. Sherin sendiri hanya menurut saja. Dia juga tidak mau pulang sendirian karena masih trauma.
"Ini rumah baru kami. Aku belum pernah melihatnya sebelumya." Peiyu memperhatikan prabot sederhana yang ada di sana. Wanita itu lalu berjalan menuju ke dapur. "Aku akan kembali. Kau bisa duduk di sana!" teriak Peiyu.
__ADS_1
Sherin memperhatikan rumah sederhana itu dengan saksama. Padahal dia tahu kalau Zack Lee memiliki banyak uang. Bukan hanya rumah mewah. Bahkan membeli pulau pribadi juga sangat mudah baginya. Tapi entah kenapa kini justru mereka memutuskan untuk hidup sederhana dan meninggalkan kekayaan yang mereka miliki.
"Kenapa? Apa rumah ini jelek?" tanya Zack Lee. Pria itu duduk di dekat Sherin karena memang hanya ada dua kursi kayu di sana.
"Tadinya aku pikir kalian akan tinggal di rumah yang mewah. Menikah lalu memulai hidup yang baru," jawab Sherin.
Zack Lee mengangguk. "Kami akan tinggal di sini."
"Tidak menikah?" tanya Sherin lagi. Wanita itu terlihat sangat penasaran.
"Tapi dia seorang wanita. Bagaimana kalau dia hamil?"
"Itu bagus. Dengan begitu dia tidak akan pergi jauh dariku karena anak di dalam kandungannya adalah milikku!" Zack Lee membanting botol yang ada di genggamannya. "Kamarnya ada di sana. Kau bisa istirahat sambil menunggu kabar dari Joa." Pria itu lalu beranjak dan pergi. Sedangkan Sherin tidak langsung pergi ke kamar. Wanita itu berjalan ke kulkas untuk mencari minuman dingin.
__ADS_1
"Sherin, kau mau makan apa?" tanya Peiyu. Wanita itu tersenyum di depan pintu dapur. "Apa kau sudah lapar?"
"Peiyu, bisa kita bicara?" Wajah Sherin berubah serius. Peiyu yang saat itu sedang memegang sayuran terlihat bingung. Ia meletakkan bahan masakan yang ia bawa di atas meja dapur.
"Ada apa?"
Sherin tersenyum. Dia berjalan mendekati Peiyu. Mengusap tangan wanita itu lembut. "Apa kau tidak mau menikah dengan Zack Lee?"
Peiyu mematung mendengarnya. Seperti ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Wanita itu menunduk hingga membuat Sherin semakin bingung dan ingin tahu.
"Tapi kenapa? Kalian saling mencintai." Sherin kembali menyakinkan Peiyu.
"Meskipun Zack Lee sudah menerimaku. Tapi, aku belum siap untuk ...." Peiyu memandang Sherin dengan mata berkaca-kaca sebelum akhirnya memeluk wanita itu. "Malam itu. Bagaimana Chen Li memperlakukanku masih terngiang jelas di ingatanku. Aku tidak bisa melupakannya meskipun aku sudah berusaha sekuat mungkin."
__ADS_1
Sherin mematung. Wanita itu lalu memeluk Peiyu dengan sangat erat. Kini dia tahu kesedihan seperti apa yang sedang disembunyikan Peiyu.
Dari balik pintu, Zack Lee menguping pembicaraan Peiyu dan Sherin. Pria itu tidak bisa berbuat banyak selain diam di tempatnya berada. "Peiyu, andai kau tahu kalau aku sudah menerima semua kekuranganmu. Aku tidak akan pernah mengungkitnya lagi," batin Zack Lee.