
Di kediaman Luca, tepatnya di meja makan. Para pelayan baru saja selesai merapikan meja makan. Sherin dan Quinn masih ada di meja makan. Dua wanita itu mengobrol hingga tidak ingat waktu. Sedangkan Luca dan Tiffany sudah kembali ke kamar setelah selesai makan. Mereka berdua juga tidak mau mengganggu dua anak muda tersebut.
"Quinn, terus bagaimana lagi? Apa kau pernah bertemu dengan para mantanmu itu setelah dekat dengan Dimitri?" tanya Sherin penasaran. "Ternyata kau ini playgirl juga ya. Banyak sekali mantanmu!"
Quinn baru saja cerita soal hubungan percintaannya yang selama ini terus saja kandas di tengah jalan. Bukan prihatin justru Sherin tertawa seolah cerita Quinn adalah sebuah lelucon.
"Kenapa kau memanggilku sebagai playgirl? Sherin, yang benar itu selama ini aku pacaran dengan playboy. Aku selalu diselingkuhi. Kau tahu nggak, alasan mereka selingkuh apa? Ada yang bilang aku ini wanita aneh, kaku dan tidak bisa di ajak cek ini di hotel.
Bukankah itu alasan yang gila? Anehnya Aku tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Aku tidak tahu mereka menghilang ke mana. Padahal dulu saat pacaran wajah mereka selalu muncul dimana-mana."
Quinn tidak pernah tahu kalau selama ini Luca sudah ikut campur di dalam hubungan percintaannya. Bahkan sampai detik ini Quinn tidak menyadarinya. Jika menurut Quinn pria yang dekat dengan Quinn tidak pantas untuknya, Luca akan memikirkan cara agar pria itu pergi sejauh mungkin dari kehidupan Quinn.
"Tapi dari semua mantan yang tadi kau ceritakan hanya Jefri yang paling parah. Sudah wajahnya jelek, miskin, cabul, eh malah seorang pembunuh lagi. Semoga saja dia di penjara seumur hidupnya. Karena pria seperti dia tidak pantas hidup bebas. Kebebasannya hanya akan merugikan orang lain terutama kaum wanita. Jika aku bertemu dengan pria seperti Jefri, aku akan segera melemparkannya ke laut!"
Dua wanita itu tertawa bersama. Sampai-sampai suara mereka kedengaran sampai ke ruang keluarga. Quinn benar-benar bahagia bisa mengobrol dengan Sherin seperti sekarang.
"Ya kau benar. Bahkan aku sangat kaget ketika mendengar berita itu. Aku sama sekali tidak menyangka kalau pria sepolos dia bisa sejahat gitu! Dia benar-benar pria gila!" ucap Quinn sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi perjalanan cintamu cukup menyenangkan. Meskipun tidak berjalan lama tetapi kau berulang kali bergonta-ganti pacar. Jadi kau bisa mengambil beberapa pengalaman dari sana. Tidak denganku. Aku selalu tidak berhasil dalam urusan percintaan. Sekalipun Aku tidak pernah pacaran. Meskipun kini usiaku sudah 26 tahun. Entah kapan jodohku akan muncul. Aku juga ingin memiliki pacar sepertimu dan membicarakan soal pernikahan." Wajah Sherin berubah tidak bersemangat. Padahal sebelumnya wanita itu terlihat sangat ceria sekali.
"Sayangnya aku tidak memiliki banyak teman pria. Jadi aku tidak bisa menjodohkan salah satu dari mereka kepadamu." Quinn memakan es krim yang baru saja disajikan oleh salah satu pelayan yang ada di rumah itu.
Sherin memegang tangan Quinn lalu membenarkan posisi duduknya. "Quinn, bagaimana rasanya dicintai dan mencintai. Kau harus memberiku banyak pelajaran agar kedepannya aku tidak mudah tertipu oleh rayuan pria hidung belang."
__ADS_1
"Yang pasti jika pria itu benar-benar mencintai kita dia tidak akan tega melihat kita menangis. Dia tidak akan sanggup untuk menyakiti hati kita. Dan yang paling penting dia tidak akan memandang wanita lain meskipun di luar sana ada banyak sekali wanita yang lebih cantik dan lebih menarik dari kita," jawab Quinn dengan ekspresi yang menyakinkan. Semua ciri-ciri itu ada pada Dimitri. Quinn bahagia memiliki calon suami seperti Dimitri.
"Aku yakin pria seperti itu sudah tidak ada lagi di dunia ini." Sherin menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Sudah aku putuskan sepertinya aku akan fokus dengan karirku saja. Aku akan membangun sebuah perusahaan besar hingga pundi-pundi uang terus mengalir. Aku akan menjadi wanita kaya raya di usiaku yang sekarang."
Quinn tersenyum. Dia kembali memakan es krimnya. "Aku setuju dengan rencana besarmu ini. Aku juga doakan semoga kau segera menemukan pria yang benar-benar tulus mencintaimu."
"Quinn, setelah ini apa kita langsung ke kamar dan tidur? Aku belum ngantuk. Apakah kau benar-benar tidak boleh pergi keluar. Pernikahanmu 3 minggu lagi apakah kau sanggup jika dalam waktu 3 minggu itu tidak pergi kemanapun?" Sherin kembali merayu Quinn agar mau jalan-jalan keluar seperti yang biasa mereka lakukan dulu.
"Tadinya aku ingin melanggar aturan ini. Tetapi aku sendiri juga tidak bisa menjamin kalau di luar sana akan aman. Sherin, maafkan aku karena aku tidak bisa menemanimu untuk jalan-jalan keluar rumah. Tapi jika kau memang bosan di rumah dan ingin keluar aku bisa meminta Robin untuk menemanimu," tawar Quinn. Tentu saja dia tidak bisa memaksa Sherin untuk tidur secepat ini.
"Aku tidak mau pergi dengannya. Aku hanya ingin pergi denganmu. Robin itu pria yang sangat membosankan," jawab Sherin kesal.
"Kau mengatakan kalau semua pria yang kau temui itu membosankan. Termasuk Joa. Sebenarnya pria seperti apa yang menarik di matamu?" protes Quinn. "Kau juga harus bersikap lembut di depan pria agar segera menemukan jodohmu."
Sherin kembali diam. Wanita itu tersenyum manis setelahnya. Tiba-tiba saja ia kembali memikirkan Joa. Apa yang dilakukan pria itu tadi siang berhasil membuat Sherin mabuk kepayang. Bahkan membuatnya merindukan Joa saat ini.
"Kau ini benar-benar menyebalkan. Ayo kita ke kamar dan kita lanjutkan cerita kita di sana. Tapi ingat kau jangan cepat-cepat tidur," protes Sherin dengan wajah malas.
Quinn tertawa geli melihat ekspresi Sherin yang sekarang. "Ya ya."
Sherin dan Quinn sama-sama melangkah menuju ke kamar. Robin yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua hanya bisa tersenyum sambil mengawasi mereka dari kejauhan.
Dimitri meminta Robin untuk berada di rumah itu agar bisa menjaga Quinn selama dia pergi bersama Joa. Apa saja yang dilakukan oleh Quinn pasti akan disampaikan Robin. Termasuk malam ini ketika Quinn dan Sherin sedang berbincang-bincang di meja makan.
__ADS_1
"Bisa-bisanya dia bilang aku ini pria yang membosankan. Tapi kenapa tadi Nona Quinn membahas soal Joa. Apa tadi siang ketika Joa datang ke sini dia sempat bertemu dengan Nona Sherin? Bukankah terakhir kali bertemu mereka seperti tidak akur."
Robin membayangkan bagaimana Sherin dan Joa berdebat waktu itu. Pria itu merasa tidak yakin jika Sherin dan Joa bisa berdamai. Keduanya sama-sama keras kepala dan memiliki sifat tidak mau mengalah.
"Tapi ada baiknya juga jika aku berusaha untuk menjodohkan Nona Sherin dengan Joa. Kalau dipikir-pikir lagi mereka itu pasangan yang serasi. Joa juga pernah cerita kalau dia sangat menyukai wanita berambut pendek. Bukankah Nona Sherin berambut pendek?" ujar Robin semakin bersemangat. Pria itu mengukir senyuman. "Ya, tidak salah lagi. Aku harus membuat Nona Sherin dan Joa berjodoh! Mereka sangat cocok sekali."
Di dalam kamar, Sherin dan Quinn sama-sama lompat ke atas tempat tidur. Meskipun belum mengantuk tetapi mereka lebih memilih untuk bersantai di atas tempat tidur daripada di sofa.
"Pasti sebentar lagi tidur nih!" sindir Sherin.
"Nggak. Percayalah padaku. Aku hanya butuh tempat untuk meluruskan pinggang. Kau tahu sendiri apa saja yang aku lakukan seharian ini. Semua itu terasa sangat melelahkan," sangkal Quinn. Dia mengotak-atik ponselnya untuk melihat pesan yang masuk. Bibirnya tersenyum manis melihat ada pesan singkat dari Dimitri di sana.
"Quinn, kenapa sekarang kau tidak lagi membahas soal sahabatmu itu. Siapa namanya? Sherly ya?"
Quinn mematung mendengar Sherin menyebutkan nama Sherly. Sebuah nama yang ingin dibuang jauh-jauh dari ingatan Quinn. Sebuah kenangan yang ingin dikubur dalam-dalam agar tidak terngiang lagi diingatan.
Ekspresi wajah Quinn yang berubah membuat Sherin bingung. Wanita itu duduk dengan kaki terlipat lalu memperhatikan ekspresi Quinn lebih serius lagi. "Apa aku baru saja melakukan kesalahan? Kenapa wajah Quinn sedih seperti itu?" batin Sherin di dalam hati.
"Quinn, maafkan aku." Sherin menarik tangan Quinn.
Quinn tersenyum mendengarnya. "Lupakan saja soal Sherly. Anggap saja dia tidak pernah ada di kehidupanku."
Jawaban Quinn membuat Sherin paham kalau telah terjadi sesuatu antara Quinn dan Sherly. Namun Sherly tidak mau memaksa Quinn untuk menjelaskannya. Wanita itu memeluk Quinn lalu mengusap dadanya.
__ADS_1
"Semoga kita berdua bisa selalu bersama seperti ini."
Quinn mengukir senyum. Wanita itu memejamkan mata berusaha menekan kesedihan yang kini akan menimbulkan air mata.