
Quinn, tidak bisa berhenti ketawa meskipun kini di dalam kamar itu hanya ada mereka berdua. Wanita itu terus saja terpingkal saat membayangkan ekspresi wajah suaminya tadi. Rasanya ia ingin mengulang adegan itu dan menontonnya layaknya film komedi.
Berbeda jauh dengan ekspresi Dimitri saat ini. Sambil mengancing satu persatu kemeja putih yang kini ia kenakan, pria itu terlihat kesal. Bukan hanya gagal bermesraan saja. Tetapi pria itu merasa malu karena begitu ceroboh hingga kelakuannya bisa ditonton oleh orang lain.
"Sayang, apakah kau marah padaku?" tanya Quinn. Wanita itu segera beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Dimitri. Dia merapikan kerah kemeja putih suaminya sebelum mengecup pipi pria itu dengan mesra.
"Kenapa kau tidak bilang kalau ada orang lain di kamar kita?" Lagi-lagi pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Dimitri. Padahal sudah berulang kali juga Quinn menjelaskannya.
"Bukankah aku sudah bilang kalau tadi aku ingin memberitahumu. Tetapi kau mala mencium bibirku. Bagaimana caranya aku bicara coba?" Quinn tersenyum lagi. Lalu mengusap pipi Dimitri. "Waktu kita masih banyak. Tidak harus terburu-buru seperti ini. Aku mau mandi."
Dimitri mengangguk. Dia membiarkan istrinya pergi ke kamar mandi. "Dasar wanita. Melihat suaminya kesal dia justru tertawa."
Dimitri mengambil ponselnya yang tergeletak lalu memeriksa laporan yang masuk hari ini. Meskipun tidak ada di perusahaan tetapi pria itu tetap bisa mengetahui perkembangan di perusahaannya. Jika ada waktu luang seperti ini Dimitri segera menyempatkan kesempatan itu untuk mengetahui kabar perusahaannya.
Di sana ada banyak sekali pesan dari Robin yang sudah sejak tadi malam masuk. Dengan santainya Dimitri membaca satu persatu dari pesan tersebut. Ada satu pesan yang membuatnya terlihat sangat serius. Bahkan pria itu sampai membacanya dua kali karena tidak percaya.
__ADS_1
"Bos, Joa pergi bersama Nona Sherin selama dua minggu. Aku merasa dia bukan Joa."
Dimitri meletakkan kembali ponselnya ke meja. Tiba-tiba dia ingat dengan ekspresi Sherin ketika meminta izin untuk membawa Joa pergi. Jika diingat kembali ekspresi wanita itu terlihat sangat percaya diri. Padahal jelas-jelas dipikiran Dimitri kalau Sherin pasti akan gagal untuk membujuk Joa.
"Kenapa tiba-tiba Joa luluh seperti ini? Apa trik yang digunakan Sherin hingga dia berhasil membujuk Joa? Kalau diingat lagi, sepertinya mereka bermusuhan. Ya, sejak awal bertemu saja mereka sudah bertengkar. Lalu, apa yang sudah membuat mereka bisa seakrab ini? Apa Xander tahu soal ini?"
...***...
"Bersama Joa? Kau yakin?" Nada bicara Xander meninggi.
"Bagaimana cara dia meminta izin? Kenapa kau bisa tidak tahu kalau Sherin pergi bersama dengan Joa?" protes Dimitri. Bukan karena dia tidak setuju jika Joa dekat dengan Sherin seperti ini.
Namun rasanya aneh saja jika sampai Joa mau menuruti permintaan seorang wanita. Dimitri tahu sendiri bagaimana watak Joa selama bekerja dengannya.
"Kenapa kau menanyakan hal itu padaku? Bagaimana dengan Joa? Apa dia sama sekali tidak memberitahumu masalah ini? Apa dia tidak meminta izin sebelum pergi. Bukankah seharusnya dia mengurus perusahaan bersama dengan Robin selama kau dan Quinn bulan madu?"
__ADS_1
"Joa memang sempat meneleponku dan bilang kalau dia akan pergi ke luar negeri. Namun aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan pergi bersama dengan Sherin. Tadinya aku pikir dia pergi untuk kepentingan White Snake."
Xander diam sejenak sebelum bicara lagi. "Dimitri, apa Joamu itu bisa dipercaya?"
"Hei, apa maksudmu?" Dimitri terlihat protes. "Joa selama ini tidak pernah dekat dengan perempuan. Yang aku takutkan justru adikmu itu yang sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjainya."
"Tidak. Sherin tidak seperti itu. Sekarang beritahu aku ke mana mereka pergi."
"Kalau aku tahu kemana mereka pergi. Aku tidak akan mungkin menghubungimu. Nomor Joa juga tidak bisa dihubungi begitupun dengan Sherin. Tadi aku sempat meminta bantuan dari Quinn untuk menghubungi Sherin. Tetapi nomor HP Sherin tidak aktif."
"Benarkah? Nanti akan aku coba lagi. Aku masih ada rapat nanti akan aku telepon lagi. Tetapi lebih baik kau tidak perlu sering-sering memegang telepon selama bulan madumu. Fokus saja dengan kebahagiaan kalian. Urusan Joa dan Sherin biar menjadi tanggung jawabku. Kau tidak perlu khawatir."
"Hmm, baiklah. Kabari aku jika terjadi sesuatu yang buruk."
Panggilan telepon segera terputus. Xander memandang ke depan dengan tatapan bingung. Kini pria itu juga kehilangan jejak Sherin. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk mengetahui keberadaan Sherin dan Joa saat ini.
__ADS_1
"Semoga saja Joa bisa menjaga Sherin."