My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 110 Bukan Jawaban


__ADS_3

Joa mematung mendengar pertanyaan Sherin. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau Sherin akan melontarkan pertanyaan seperti itu kepadanya.


"Kenapa kau diam saja? Bukankah sejak tadi Kau menjawab dengan sangat cepat. Lalu kenapa sekarang harus berpikir dulu?" Sherin semakin menjadi. Wanita itu menatap kedua mata Joa dan memajukan wajahnya lebih dekat lagi. "Apakah kau tidak tertarik padaku? Atau jangan-jangan ...."


Joa memegang kedua lengan Sherin lalu mendorong wanita itu hingga mundur. Dia tidak mau Sherin dekat-dekat dengan wajahnya seperti tadi. "Kita harus segera kembali ke lokasi pesta. Bos Dimitri akan marah kepada saya jika saya menghilang terlalu lama." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Joa. Bukan jawaban yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Sherin.


Pria itu segera masuk ke dalam mobil tanpa mau berdebat dengan Sherin lagi. Sherin tersenyum melihat tingkah laku Joa yang berbeda. Pria itu seperti salah tingkah tadi dan Sherin bisa mengetahuinya dari cara pria itu memandangnya.


"Sepertinya kecantikanku ini sudah membuat dua sahabat jatuh cinta padaku. Oke, baiklah. Karena aku tidak bisa memilih. Nggak mungkin juga memiliki keduanya. Jadi aku pilih saja salah satu dari mereka. Sepertinya Joa tidak buruk," ucap Sherin dengan penuh percaya diri. Padahal memang sejak awal dia sama sekali tidak tertarik dengan Robin dan lebih sering memikirkan Joa.


Wanita itu sampai terperanjat kaget ketika Joa menekan klakson mobil. Bukan hanya menekan klakson mobil saja, tetapi pria itu ingin meninggalkan Sherin di sana meskipun ia menumpang di mobil wanita tersebut.


"Dasar pria gila! Sepertinya berpacaran dengan pria seperti dia bisa-bisa yang tadinya memiliki penyakit darah rendah akan berubah menjadi darah tinggi!" umpat Sherin sambil berlari dan masuk ke dalam mobil.


Joa mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Dia ingin cepat-cepat ada di lokasi pesta dan menjauh dari Sherin. Baginya kehadiran Sherin hanya membuatnya menjadi seperti bukan dirinya sendiri. Joa memang merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya setiap kali ada di dekat Sherin. Namun pria itu tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


"Kau ini tidak gentlemen sekali. Hanya menjawab pertanyaan seperti itu saja harus mengulur waktu. Jika kau tertarik padaku katakan saja. Kau tidak perlu menutupinya. Pake acara bilang kalau Robin yang tertarik padaku lagi." Ternyata Sherin tidak juga berhenti. Wanita itu terus saja meledek Joa meskipun kini mereka sudah ada di dalam mobil.


Joa yang semakin kesal menambah laju mobilnya lebih cepat lagi. Pria itu sama sekali tidak peduli kalau di jalanan sudah dipenuhi oleh kendaraan lainnya. Sherin yang tidak biasa naik di dalam mobil balap mulai terlihat pucat. Wanita itu berpegangan sambil terus saja berteriak agar Joa segera menurunkan laju mobilnya.


"Joa, apakah kau ingin membunuhku? Aku hanya menanyakan kalimat sepele seperti itu tapi kau menghukumku dengan cara seperti ini. Kau ini benar-benar pria yang kejam! Kau pria gila!" Entah apa saja kalimat yang keluar dari mulut Sherin. Yang pasti semua berisi umpatan untuk Joa.


Bukannya taku justru Joa semakin bermain-main di jalanan yang ramai itu hingga membuat Sherin benar-benar mual. Bahkan teriakan suara Sherin di dalam mobil sama sekali tidak meluluhkan hati Joa.


"Pria gila ini. Lihat saja, aku akan menghukummu! Aku pastikan kau akan segera memberhentikan mobil ini!" ancam Sherin dengan wajah marah.


Sherin memejamkan matanya sejenak sebelum mendekati Joa. Tiba-tiba saja wanita itu mencium pipi Joa. Benar saja, kali ini rencana Sherin berhasil. Joa segera memberhentikan mobil itu. Bahkan mereka hampir saja celaka karena joa menarik rem tangan saat mobil dalam kecepatan tinggi dan memainkan kopling di tengah aspal. Sampai akhirnya mobil itu harus driving di tengah aspal yang ramai.


Sherin dan Joa saling memandang satu sama lain saat mobil yang mereka tumpangi berputar di tengah aspal. Kepulan asap yang berasal dari ban yang menggesek jalan menghalangi penglihatan kendaraan lainnya.


Saat mobil yang ditumpangi Sherin dan Joa berhasil berhenti sempurna, Sherin dan Joa masih saling memandang dengan pikiran mereka masing-masing.


"Aneh. Tadi aku niatnya hanya iseng saja. Aku niatnya hanya memberi pelajaran kepada pria ini. Tapi kenapa perasaanku jadi seperti ini. Bahagia? Apa aku bahagia hanya karena aku baru saja menciumnya?" batin Sherin dengan wajah bingung.


"ANDA GILA NONA!"


Berbeda dengan Sherin yang kasmaran. Justru kini Joa habis-habisan mengumpat Sherin.


"Maaf," ucap Sherin. Dia kembali duduk dengan benar lalu memandang ke depan. "Cepat jalan. Bukankah kau bilang kita akan terlambat?"

__ADS_1


"Sepertinya aku harus memberi perhitungan kepada wanita seperti ini. Lihat saja nanti!" umpat Joa di dalam hati sebelum akhirnya melajukan mobil itu menuju ke lokasi pesta.


...***...


Tidak lama setelahnya, Sherin dan Joa sudah tiba di lokasi pesta. Sherin turun duluan dan masuk ke dalam. Sedangkan Joa masih bertahan di dalam mobil. Setelah Sherin benar-benar menghilang dari pandangannya, pria itu baru turun dari mobil dan segera masuk ke dalam. Dia juga harus memberikan kunci mobil itu kepada Sherin nanti.


"Sherin, kau kemana saja?"


Baru juga tiba tapi Sherin sudah mendapat omelan dari Quinn. Wanita itu hanya bisa tersenyum terpaksa untuk menutupi apa yang sekarang dia rasakan. "Aku harus membereskan beberapa masalah," dusta Sherin. Wanita itu tidak berani memandang wajahku secara langsung karena ia takut jika Quinn tahu kalau sekarang dia sedang berbohong.


"Sherin, apakah kau baik-baik saja? Kenapa penampilanmu berantakan seperti ini?" tanya Tiffany khawatir.


"Sherin, sebenarnya kau ini habis dari mana sih. Kenapa kau menghilang begitu saja dan kembali dalam keadaan seperti ini?" sahut Quinn lagi.


"Aku tidak enak badan," dusta Sherin. Dia duduk di kursi yang tidak jauh dari posisi Quinn berdiri.


Dimitri dan Robin memandang ke depan ketika melihat Joa muncul di sana. Tiba-tiba saja dua pria itu memiliki pemikiran yang sama karena Sherin dan Joa hilang di waktu yang bersamaan dan kembali di waktu yang sama pula.


"Sherin, apa kau baik-baik saja?" tanya Xander khawatir.


Sudah 3 minggu mereka tinggal di dalam satu rumah. Jelas saja kini Xander sudah memperlihatkan sikap layaknya seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Dia sangat khawatir ketika mengetahui Sherin hilang.


"Hei, kenapa? Kenapa menangis?" Xander segera memeluk Sherin dan mengusap punggungnya agar kembali tenang.


Dimitri melirik ke arah Joa yang sudah berdiri tidak jauh dari posisinya berada. Tatapan pria itu seperti ingin membunuh Joa. Dia tahu kalau keadaan Sherin yang sekarang pasti berhubungan dengan anak buah kesayangannya tersebut.


"Xander, cepat bawa Sherin ke kamar. Sepertinya dia butuh istirahat," minta Quinn kepada Xander.


Xander mengangguk setuju. Pria itu segera menggendong Sherin dan membawanya menuju ke salah satu kamar hotel agar bisa istirahat.


"Sayang, Aku ingin bicara dengan Joa. Aku tinggal sebentar," pamit Dimitri.


Quinn mengangguk tanpa rasa curiga sedikitpun. Wanita itu kembali berbincang dengan Tiffany dan kedua adiknya yang masih ada di sana. Sedangkan Dimitri segera menjauh diikuti oleh Robin dan Joa di belakang.


Setelah menemukan tempat yang pas untuk mengobrol, Dimitri berhenti lalu memutar tubuhnya dan menatap tajam ke arah Joa.


"Apakah kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?"


Joa mengatur nafasnya. Jelas saja tidak ada satu hal pun yang bisa ia tutupi dari Dimitri. "Saya pergi bersama dengan Nona Sherin, Bos."

__ADS_1


"Joa, kenapa kau bisa pergi bersama dengan Nona Sherin?" tanya Robin penasaran. Namun pria itu tidak berani melontarkan pertanyaan lainnya ketika melihat tatapan Dimitri yang tidak bersahabat lagi. Kini giliran Joa yang bertugas untuk menjelaskan semuanya.


"Sebenarnya tadi Nona Sherin telah menguping pembicaraan saya dengan Robin. Saya membawanya pergi hanya untuk memberinya pelajaran agar dia tidak lagi lancang!" sahut Joa apa adanya. Sebisa mungkin dia ingin memberi tahu Dimitri apa yang sebenarnya terjadi.


"Apakah kau lupa kalau Sherin itu adalah sepupunya Xander. Quinn juga sudah menganggap Sherin seperti saudaranya sendiri. Kenapa masalah sepele seperti ini saja tidak bisa membuatmu untuk memaafkannya. Kenapa kau harus menghukumnya?" protes Dimitri tidak suka.


"Maafkan saya, Bos. Saya mengaku salah," ucap Joa. Pria itu lebih memilih untuk menunduk dan mengakui semua kesalahannya daripada harus membela diri di depan Dimitri.


"Kau harus segera meminta maaf padanya. Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi. Apa kau mengerti?"


"Baik, Boss."


"Joa, ini bukan karena aku kejam padamu. Tetapi kau lihat sendiri tadi kan bagaimana khawatirnya Xander ketika melihat Sherin menangis. Aku hanya tidak mau berselisih paham dengan Xander lagi. Apa lagi karena masalah sepele seperti ini." Dimitri berharap Joa mengerti.


"Ya, Bos. Saya paham. Maafkan kekhilafan saya ini. Saya pasti akan memperbaiki semuanya," ucap Joa dengan sungguh-sungguh.


"Bagus! Saya tidak mau masalah ini berbuntut panjang. Jadi cepatlah selesaikan. Bila perlu sebelum malam tiba masalah ini sudah mendapatkan solusinya!" Dimitri segera pergi meninggalkan Joa dan Robin di sana. Pria itu juga tidak bisa pergi terlalu lama karena Quinn pasti akan curiga.


Setelah Dimitri menjauh dari mereka Robin cepat-cepat menatap Joa dan menagih penjelasan yang lebih detail lagi. "Joa, apakah kau gila? Kenapa kau memiliki pemikiran untuk memberi perhitungan kepada Nona Sherin?"


"Itu Karena dia sudah menguping pembicaraan kita tadi," jawab Joa santai.


Robin melebarkan kedua matanya. "Jadi orang yang menguping obrolan kita itu adalah Nona Sherin?"


"Ya. Awalnya dia tidak mau mengakuinya. Tetapi bukti sudah jelas hingga akhirnya tanpa sengaja ia keceplosan."


Robin mengangguk. Ia mulai bisa membayangkan apa yang terjadi tadi. "Lalu hukuman apa yang kau berikan padanya sampai-sampai dia menangis seperti itu?"


"Aku sama sekali tidak membuatnya menangis dan aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia menangis. Robin, kau harus percaya padaku kalau aku tidak ada niat untuk membuatnya menangis. Aku hanya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Apa mungkin wanita tangguh seperti dia ketakutan dan akhirnya menangis?"


"Joa, meskipun Nona Sherin terlihat hebat tapi kita tidak tahu hal-hal apa saja yang dia takuti. Bagaimana kalau dia takut ketika berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi? Ada juga orang yang jago berkelahi tetapi dia tidak bisa berenang di lautan.


Jadi kau tidak bisa menyamakan kemampuan semua orang dengan dirimu sendiri. Sepertinya solusi yang dikatakan oleh Bos Dimitri sudah benar. Kau harus segera menemui Nona Sherin dan meminta maaf padanya agar masalah ini tidak berbuntut panjang. Soal kata-kata maafnya kau pikirkan saja sendiri aku juga tidak tahu."


"Kau ini benar-benar sahabat yang tidak bisa diandalkan. Aku seperti ini juga karena memikirkanmu. Aku tidak mau sampai rahasia besarmu itu diketahui oleh orang lain," ketus Joa kesal.


"Ya. Aku tahu. Tetapi masalahnya ini menyangkut Nona Sherin. Orang yang sangat dekat dengan keluarga Bos kita. Masa gitu aja kau tidak bisa membedakannya!"


Robin juga pergi meninggalkan Joa sendirian di sana hingga akhirnya wajah Joa terlihat sangat kesal. Ketika melihat Xander sudah bergabung dengan Dimitri dan yang lainnya Joa kepikiran untuk menemui Sherin.

__ADS_1


"Sepertinya ini kesempatan yang bagus untuk menemui Nona manja itu," gumam Joa di dalam hati.


__ADS_2