
Quinn sudah tiba di rumah. Wanita itu kini sedang membereskan beberapa barang penting yang akan dia bawa saat bulan madu nanti. Tidak jauh dari posisi Quinn berada, ada Dimitri yang sibuk dengan ponselnya. Ternyata pria itu baru saja memeriksa hasil rapat Dimitri hari ini. Dia merasa sangat puas. Tanpa diketahui oleh Dimitri kalau semua itu berkat bantuan Sherin.
Tok tok
Suara pintu kamar mengalihkan pandangan Quinn dan Dimitri. Karena memang mereka tidak melakukan sesuatu yang bersifat privasi, dengan mudahnya Quinn mengizinkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk.
Sherly mengintip di balik pintu sebelum melangsungkan kakinya ke dalam kamar. Sambil berjalan wanita itu tersenyum bahagia. Dia bahkan seperti sudah tidak sabar untuk memeluk Quinn.
"Ada apa? Kelihatannya baru saja menang undian nih," ledek Quinn.
"Aku menyayangimu," ucap Sherly. Dia memeluk Quinn dari belakang. "Kau harus bahagia. Bulan madu kalian harus menjadi sesuatu yang membahagiakan."
Quinn merasa ada yang aneh dengan sifat Sherly saat itu. Dia segera melepas tangan Sherly dan memaksanya duduk. "Apa kau ingin meminta sesuatu dariku?"
Sherly memainkan jarinya. Dari ekspresi wajah wanita itu Quinn sudah bisa menambah kalau memang ada sesuatu yang diinginkan oleh Sherly darinya.
"Katakan saja jika kau ingin sesuatu. Jika aku sanggup aku akan mengabulkannya," sambung Quinn lagi.
"Aku butuh teman untuk perjalanan ke luar negeri." Sherly mulai bicara. Wanita itu melirik ke arah Dimitri dan berusaha meninggikan nadanya. "Tapi aku ini kan seorang wanita. Rasanya sangat sulit untuk mencari pengawal yang setia. Bukankah terkadang pria juga tidak bisa dipercaya?"
"Kalau begitu cari pengawal wanita saja. Bukankah itu sangat mudah?" sahut Quinn memberi solusi.
"Aku tidak mau. Daripada seorang wanita lebih baik aku tidak memiliki pengawal," tolak Sherin hingga membuat Quinn menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Katakan saja. Tidak perlu banyak basa-basi."
"Aku ingin seorang pria yang menjadi temanku untuk. Maksudku orang yang akan melindungiku saat ke luar negeri nanti," jelas Sherin.
"Bukankah sudah ada Xander? Kenapa kau tidak mengajak Xander saja. Aku yakin dia memiliki banyak waktu luang untuk menemanimu."
"Akhir-akhir ini jadwal Kak Xander sangat padat. Aku tidak mau merepotkannya."
Quinn mendesah. "Lalu apa yang harus aku bantu?"
"Bukankah geng mafia suamimu itu memiliki banyak pengawal yang hebat. Apa namanya? White Snake ya?" Sherin mulai membuat Dimitri melirik.
Quinn juga melirik ke arah Dimitri sebelum menggangguk. "Oh iya aku hampir lupa, Aku akan mengirimkan beberapa untuk menjagamu. Bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak perlu beberapa. Satu orang saja sudah cukup," jawab Sherin sambil tersenyum lagi.
Quinn mengernyitkan dahinya. "Kau yakin satu orang saja cukup?"
"Ya. Aku sangat yakin," jawab Sherin dengan anggukan.
"Oke. Akan aku cari siapa yang cocok untuk menemanimu. Memangnya kapan mau berangkat?"
"Secepatnya. Kalau kalau bisa besok udah berangkat."
"Nanti malam kami akan berangkat. Nanti sebelum berangkat aku akan memperkenalkan pengawal yang akan menjagamu di luar negeri nanti. Bagaimana?"
Kali ini gantian Sherin yang menyipitkan kedua matanya. "Kalau aku boleh tahu siapa namanya?"
"Aku juga tidak hafal sama nama-nama anggota White Snake. Masalah ini akan aku tanyakan dengan Dimitri langsung nanti."
Sherin lagi-lagi mencari ide. "Bukankah ada dua pengawal setia Dimitri yang selama ini sangat bisa dipercaya? Kenapa tidak salah satunya saja?"
"Apa maksudmu Robin dan Joa?"
"Ya."
"Bagaimana kalau perusahaan baik-baik saja saat mereka pergi?"
"Kenapa kau bisa yakin seperti itu?"
"Karena aku seorang pemimpin perusahaan, jadi aku tahu." Sherin membenarkan posisi duduknya. Dia melirik ke arah Dimitri sebelum memandang Quinn lagi.
Mendengar jawaban Sherin membuat Quinn mengerti apa yang sebenarnya diinginkan wanita itu. "Sherin, bilang saja sejujurnya kalau sebenarnya sejak awal kau menginginkan Joa untuk menemanimu!" ujar Quinn sambil menatap Sherin dengan serius.
"Nah, itu tahu." Sherin tersenyum lebar. "Boleh ya?"
Quinn memandang ke arah Dimitri sebelum memandang ke arah Sherin lagi. "Mereka bukan bawahanku jadi aku tidak bisa mengambil keputusan. Aku akan bicarakan masalah ini dengan Dimitri."
"Ehhhem." Dimitri berdehem kuat. Pria itu beranjak dari sofa yang ia duduki. Jelas saja Dimitri mendengar semua obrolan Quinn dan Sherin. "Anda mau pergi berapa lama, Nona?"
"Tidak lama. Paling juga hanya beberapa hari saja."
__ADS_1
"Anda ingin Joa yang menemani anda?" tanya Dimitri untuk kembali memastikan.
"kalau diizinkan, Saya merasa sangat senang sekali."
"Bukannya saya tidak mau mengijinkan Joa pergi untuk menemani anda, tetapi Joa itu pria yang sangat sulit ditebak. Begini saja jika anda berhasil untuk membujuk Joa agar mau menemani anda, saya akan mengizinkan dia pergi untuk menjaga anda. Masalah perusahaan akan dikendalikan oleh Robin."
Sherin tersenyum puas mendengar jawaban dari Dimitri. "Sepertinya Joa belum cerita apapun dengan Dimitri," batin Sherin.
"Bagaimana? Apakah kau setuju dengan tawaran Dimitri?"
"Tentu saja." Sherin berdiri dan memandang langsung ke arah Dimitri. "Terima kasih karena sudah mengizinkan Joa untuk pergi menjaga saya. Saya yakin saya pasti berhasil untuk membujuknya."
"Semoga berhasil," ucap Quinn.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Quinn, selamat beres-beres dan selamat bersenang-senang." Sherin segera pergi meninggalkan kamar tersebut. Setelah pintu kembali ditutup Dimitri memandang ke arah Quinn.
"Aku tidak yakin dia berhasil untuk membujuk Joa. Joa itu pria yang sangat sulit ditebak jalan pikirannya."
"Aku juga ragu," jawab Quinn.
"Tapi jika dia berhasil untuk membujuk Joa pergi agar mau menemaninya. Itu berarti Dia adalah wanita pertama yang berhasil mengendalikan Joa!"
"Benarkah?" tanya Quinn dengan wajah tidak percaya.
"Ya. Selama ini Joa sangat menjaga jarak dengan yang namanya wanita."
"Bagaimana denganmu? Apa kau menghapus jarak dengan para wanita?"
Dimitri mengernyitkan dahinya. Dia duduk di samping Quinn. "Jika wanita itu tidak bisa mendekati Joa, bagaimana mungkin mereka berhasil mendekatiku? Karena sebelum berurusan denganku mereka harus melewati Joa lebih dahulu."
"Apa benar seperti itu?" tanya Quinn tanpa memandang.
"Sayang, kau tidak percaya padaku?" Wajah Dimitri terlihat panik.
Quinn langsung terbahak-bahak melihat ekspresi sedih suaminya. "Aku hanya bercanda. Aku percaya padamu, sayang."
"Ini tidak lucu. Apa kau mau aku hukum?"
__ADS_1
"NO!"