
Audy dan Xander kini sudah ada di ruang keluarga bersama dengan Viana. Wanita paruh baya itu meminta pelayan untuk menyiapkan minuman dan makanan ringan di meja. Dia ingin mengobrol santai dengan putra dan calon menantunya.
Setelah meletakkan beberapa makanan ringan dan minuman hangat di meja, para pelayan itu kembali ke dapur. Kini saatnya Viana mengeluarkan suara dan mengatakan tujuannya memanggil Xander dan Audy ke situ.
"Mama senang mendengar kabar pertunangan kalian. Tadi malam mama hanya mendengar dari Xander. Rasanya belum puas jika belum mendengar ceritanya dari kedua belah pihak." Viana membenarkan posisi duduknya. Meletakkan bantal di atas pangkuan. Meskipun hanya ibu sambung. Akan tetapi dia ingin menjadi ibu terbaik bagi Xander.
Xander menggenggam tangan Audy. Pria itu tersenyum bahagia. "Aku dan Audy memang sudah memutuskan untuk segera bertunangan, Ma. Tapi kami memang belum membicarakan soal tanggalnya. Menurut Mama kapan waktu yang tepat untuk pesta pertunangan kami?" tanya Xander balik karena memang dia sendiri belum tahu kapan tanggal yang pas.
Viana diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kalau menurut Mama semua tanggal adalah waktu yang terbaik. Audy, apa kau memiliki saran kira-kira tanggal berapa yang bagus untuk pesta pertunangan kalian? Setelah tanggal ditentukan Mama akan dengan mudah untuk mengatur semuanya," tanya Viana. Dia memandang wajah calon menantunya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Bahkan nada bicaranya seperti seorang ibu kandung yang sedang mengobrol dengan putrinya.
Audy sebenarnya Ingin secepatnya bertunangan dengan Xander. Tanggal berapa pun itu, Audy akan menerimanya. Tetapi karena sudah ditawari seperti ini mau tidak mau wanita itu harus mengatakan kapan tanggal pertunangan yang ia inginkan.
"Bagaimana kalau pas tanggal ulang tahunku Tante? 25 Desember?" tawar Audy dengan senyuman sebelum kepalanya menunduk. Dia takut jika Viana dan Xander tidak menyetujuinya.
"Kau lahir tanggal 25 Desember? Itu berarti 20 hari lagi," sahut Viana dengan wajah bahagia.
Audy menggangguk pelan. "Tapi jika tante keberatan aku juga tidak masalah jika diganti dengan tanggal lain," sambung Audy lagi. Dia tidak mau membuat kesalahan di sana.
"Tentu saja Tante tidak keberatan. Bagaimana menurutmu Xander? Apa jangan-jangan kau sendiri tidak tahu kalau tanggal 25 Desember adalah ulang tahun Audy," ledek Viana sambil tersenyum.
"Ya, Ma. Xander tidak tahu kalau Audy lahir tanggal 25 Desember." Pria itu memandang ke arah calon istrinya. "Aku akan membuat pesta pertunangan yang sangat meriah. Bersamaan dengan pesta ulang tahunmu," ucap Xander. Pria itu berjanji di depan Audy untuk memberikan yang terbaik.
"Dengan berjanji untuk menikahiku saja rasanya sudah lebih dari cukup. Aku tidak memerlukan pesta yang meriah dan mewah. Aku hanya ingin pertunangan dan pernikahan kita nanti berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun lagi," jawab Audy.
Viana senang mendengar jawaban dari Audy. Wanita paruh baya itu rasanya semakin sayang kepada calon menantunya. "Karena tanggal sudah ditentukan, mulai besok kita sudah bisa menyiapkan semuanya. Audy, mulai besok temani Tante mempersiapkan pertunangan kalian. Biasanya acara seperti ini diadakan di rumah mempelai wanita.
Tapi karena hanya kami keluargamu, tidak akan jadi masalah jika pesta pertunangan dilaksanakan di rumah mempelai pria. Besok Xander pasti sibuk. Dia harus mengurus perusahaan. Kau tidak perlu sungkan lagi sama Tante. Anggap saja Tante ini seperti ibu kandungmu sendiri Audy."
Viana mengambil minuman hangat yang tersaji di meja. Dia meneguknya secara perlahan. Begitupun dengan Xander. Mereka menikmati hidangan yang disajikan selagi hangat.
"Aku merasa kehangatan di rumah ini. Keberadaanku di sini sangat dihargai. Semua orang memerlukan pendapatku. Aku bahagia. Keputusanku sejak awal untuk menikah dengan Xander memang tidak pernah salah," batin Audy sambil tersenyum. Dia juga memakan cookies yang disajikan.
"Audy, meskipun nanti Xander akan sangat sibuk. Kau tidak perlu merasa sendiri. Ada Tante yang 24 jam pasti ada di rumah."
"Ya, Tante." Audy mengangguk setuju. Dia memandang ke arah Xander ketika pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku. Melihat ada nama Sherin di layar ponselnya membuat Xander segera beranjak agar obrolannya dengan Sherin tidak di dengar oleh Viana.
Viana berpikir kalau Xander berbicara dengan rekan bisnisnya. Wanita itu mengajak Audy untuk mengobrol. "Audy, menurutmu pesta pertunangannya diadakan di rumah ini atau di hotel?"
"Sebaiknya di hotel saja Tante agar rumah ini tetap rapi," jawab Audy.
"Kau benar juga. Tapi nanti pesta pernikahannya di sini ya?" tanya Viana penuh harap.
Audy mengangguk sambil tersenyum. "Jika Tante lebih suka pesta pertunangannya diadakan di rumah ini, aku juga tidak keberatan. Dimanapun acaranya aku tetap mensyukurinya."
"Jangan begitu Audy, Tante juga ingin membuatmu merasa puas. Kau yang akan bertunangan. Sudah sepantasnya pesta pertunangan nanti sesuai dengan keinginanmu." Viana memandang ke arah Xander yang kini sudah kembali.
"Ma, aku dan Audy harus pergi."
"Kemana? Kenapa mendadak sekali?" Viana beranjak dari sofa. Tiba-tiba ia kembali ingat dengan Sherin yang sempat mengalami masalah besar sebelum pesta pertunangannya. Wanita paruh baya itu menjadi gelisah. Dia tidak pernah tahu kalau saat itu Sherin celaka karena menolong Audy. "Sebaiknya kalian di rumah saja. Mama tidak mau terjadi sesuatu kepada kalian berdua."
"Ma, kami akan pulang dengan selamat. Mama jangan khawatir." Xander memandang ke arah Audy. "Ayo," ajaknya.
__ADS_1
Audy mengangguk. Dia beranjak dari sofa. "Tante, kami pergi sebentar ya."
Viana mengangguk. Dia memeluk Audy dengan penuh kasih sayang. "Hati-hati ya. Jika sudah tidak ada yang penting lagi, kalian harus segera pulang."
"Ya, Tante."
Audy segera berjalan mengikuti Xander. Wanita itu sendiri sudah sangat penasaran. Dia ingin tahu sebenarnya kemana mereka ingin pergi.
Setibanya di dalam mobil, Xander segera melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang. Pria itu masih fokus dengan laju mobilnya tanpa mau memberi tahu Audy kemana mereka pergi.
"Ehhhem." Audy berdehem pelan. Hal itu membuat Xander tersenyum.
"Batuk, Nona?" ledeknya mesra.
Audy tersenyum manis. "Kita mau kemana Tuan?" tanya Audy.
"Ke suatu tempat. Kita akan bertemu dengan seseorang," jawab Xander. Dia kembali fokus dengan laju mobilnya.
"Seseorang? Siapa?" tanya Audy penasaran.
Xander tersenyum tanpa mau menjelaskan. "Nanti kau juga tahu." Audy kembali diam. Dia juga tidak mau memaksa Xander.
...***...
Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, Xander dan Audy kini telah tiba dikediaman Joa dan Sherin. Meskipun itu bukan rumah baru, akan tetapi terlihat seperti bangunan baru. Setelah membayar rumah itu, Joa minta rumah itu segera direnovasi. Dengan uang yang ia miliki, rumah itu berharap direnovasi sesuai dengan selera Sherin.
Rumah itu dikeluarkan dengan pagar beton yang tinggi. Di sekitar gerbang sudah ada pasukan White Snake yang berjaga. Joa memberi penjagaan yang begitu ketat di rumah barunya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam.
Audy mulai gelisah melihat ada banyak pria bersenjata di sana. Wanita itu takut jika kini Xander mengajaknya untuk melakukan sebuah misi yang berbahaya. Audy takut jika mereka mendapatkan masalah baru.
"Xander, tempat apa ini?" tanya Audy sembari memegang tangan Xander karena takut.
"Ini rumah Sherin," jawab Xander. Pria itu memberhentikan laju mobilnya. Beberapa pria berbadan tegap membukakan pintu untuk Xander dan juga Audy.
Audy segera turun dari mobil dan berlari menuju ke posisi Xander berdiri. Wanita itu merangkul lengan kekasihnya dengan sangat erat. Dia tidak mau jauh-jauh dari calon suaminya itu.
Pintu utama terbuka lebar. Sherin dan joa tersenyum lebar menyambut kedatangan Xander dan Audy. Melihat Sherin muncul membuat Audy segera melepas rangkulannya. Dia merasa segan.
"Kakak, akhirnya Kakak sampai juga," ujar Sherin. Wanita itu segera memeluk Xander karena memang sejak kemarin ia sangat merindukannya. "Bagaimana kabar Mama? Apa Mama baik-baik saja? Aku bahkan tidak berani untuk video call karena tidak mau mama mengetahui keadaan Joa saat ini." Sherin memandang Xander untuk menagih jawaban.
"Mama baik-baik saja. Mama juga bilang kalau sangat merindukanmu. Apa luka Joa parah?" Xander memandang ke arah adik iparnya. Karena tertutup perban, dia tidak bisa melihat jelas bagaimana kondisi luka Joa saat ini.
"Lukanya sudah mulai mengering tetapi kata dokter Joa belum diperbolehkan untuk melakukan banyak aktivitas." Sherin memandang ke arah Audy yang kini berdiri dengan wajah canggung. "Kak Audu, ayo kita masuk ke dalam," ajak Sherin sambil tersenyum ramah. Meskipun sempat membenci Audy, tetapi kini wanita itu akan segera menjadi kakak iparnya. Sherin berusaha keras untuk bersikap ramah agar bisa dekat dan akrab dengan Audy.
"Ayo," jawab Audy sambil tersenyum manis.
Dua wanita itu masuk lebih dulu ke dalam rumah. Sedangkan Joa dan juga Xander masih berdiri di depan pintu. Seperti ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.
"Joa, kau yakin dengan informasi itu?" tanya Xander dengan ekspresi wajah yang sangat serius. "Aku memang belum memberitahu informasi ini kepada Audy. Aku ingin mendengar langsung darimu sebelum memberitahu Audy."
"Mereka telah berhasil melakukan penyelidikan. Bahkan mengumpulkan semua bukti. Tes DNA yang pernah dilakukan oleh Leonzio dan Audy sempat disabotase oleh seseorang. Sebenarnya aku juga tidak ingin menyampaikan informasi ini sekarang juga kepada Audy.
__ADS_1
Kita harus melakukan tes DNA sekali lagi untuk memastikan kalau Audy dan Leonzioemang benar saudara kandung. Anak buahku sudah berhasil mendapatkan sampel dari Leonzio. Sekarang kita hanya perlu mengambil sampel DNA dari Audy sebelum membawanya ke rumah sakit. Dokter Fei akan membantu kita dalam hal ini," jelas Joa apa adanya.
"Kali ini aku setuju. Apa Sherin sudah mengetahui rencana ini? Seharusnya dia tidak menceritakan masalah ini kepada Audy sebelum masuk tes DNA-nya keluar."
"Tenang saja, Kak. Sherin tidak akan cerita apapun kepada Audy. Dia sendiri yang memberi saran ini. Sekarang ayo kita masuk ke dalam sebelum mereka berdua mencurigai kita." Joa memutar tubuhnya lalu melangkah masuk ke dalam. Pria itu bahkan belum bisa melangkah dengan benar.
"Butuh bantuan?" tawar Xander.
Joa mendengus kesal mendengarnya. "Aku bisa jalan sendiri! Terima kasih karena kakak ipar sangat perhatian padaku," sahut Joa. Dia tidak mau terlihat seperti pria yang lemah. Apa lagi di depan kakak iparnya seperti itu.
"Adik ipar, ayo Kakak bantu. Jangan keras kepala," ledek Xander lagi. Pria itu segera meletakkan tangan Joa di atas pundaknya sebelum mereka sama-sama melangkah masuk ke dalam.
Sherin dan Audy sudah menunggu di ruang tamu. Dua wanita itu seperti sedang membahas sesuatu yang lucu. Kini mereka sama-sama tertawa.
"Kak, Kakak benar-benar asyik. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk hadir di pesta pertunangan Kakak dan Kak Xander nanti. Ini akan jadi pesta yang paling berkesan. Semua orang akan kaget setelah mendapat undangan pernikahan dari Kak Xander. Semua wanita yang sempat tertarik kepada Kak Xander akan patah hati," ucap Sherin sambil tertawa.
"Apa banyak wanita yang menyukai Xander?" tanya Audy ingin tahu.
Sherin mengangguk cepat. "Banyak sekali. Bahkan tidak terhitung jumlahnya. Kak Audy bisa lihat sendiri kalau Kak Xander itu tampan, kaya raya. Dia juga pembisnis yang handal. Jika diajak bertarung dia juga bisa bertarung. Tapi Kak Xander hanya bisa menang ketika melawan para preman saja," jawab Sherin sambil tertawa geli. "Dia akan kalah jika berhadapan dengan Bos Mafia," sambung Sherin lagi.
"Semoga setelah menikah nanti kami tidak pernah lagi bertemu dengan orang-orang yang membawa senjata. Aku sangat takut. Melihat Xander disiksa seperti kemarin membuatku sangat menderita." Wajah Audy tiba-tiba berubah sedih. Sherin segera menggenggam tangan kakak iparnya tersebut.
"Tapi semua sudah berlalu. Sekarang Kak Audy dan Kak Xander sudah bersatu kembali. Tidak akan ada orang yang berani untuk memisahkan kalian berdua," ucap Sherin dengan penuh keyakinan.
"Sherin, terima kasih karena sudah membantu Xander. Sebenarnya aku juga ingin bertemu dengan Quinn dan mengucapkan terima kasih. Akan tetapi aku tidak tahu di mana tempat tinggalnya."
"Aku bisa mengantar Kakak ke rumah Quinn. Tapi tidak untuk saat ini karena kondisi Joa masih belum pulih total. Aku tidak mau ketika aku pergi dari rumah dia justru pergi ke markas dan melakukan misi-misi yang berbahaya lagi. Nanti setelah kondisi Joa benar-benar pulih aku akan menjemput Kakak di rumah dan kita akan sama-sama pergi ke rumah Quinn. Aku juga sangat merindukannya," ujar Sherin.
"Kau sepertinya sangat dekat dengan Quinn. Apa kalian saudara?" Audy kembali menyelidiki.
"Kami bersahabat sejak kecil. Setiap kali aku merindukan kedua orang tuaku, Quinn yang selalu hadir untuk menghiburku."
"Merindukan kedua orang tuamu? Bukankah Tante Viana masih hidup?" tanya Audy bingung.
"Aku bukan anak kandung Tante Viana. Tante Viana mengangkatku menjadi anak karena memang sejak kecil Tante Viana yang sudah merawatku. Aku dan kak Xander tidak memiliki hubungan darah. Meskipun begitu Aku sangat menyayangi Kak Xander layaknya Kakak kandungku sendiri."
Audy diam sejenak sebelum tersenyum lagi. "Aku tahu apa yang kau rasakan. Tidak memiliki orang tua memang sangat tidak enak. Tapi kau beruntung karena memiliki sahabat. Berbeda denganku. Dulu aku tidak memiliki teman yang bisa diajak untuk berbagi."
"Kenapa kita membahas masalah seperti ini. Aku tidak mau melanjutkannya lagi, nanti aku bisa menangis." Sherin menghapus air mata yang tiba-tiba saja menetes. Audy segera memeluk wanita itu.
"Mulai sekarang kita akan menjadi kakak adik. Aku harap kedepannya kita bisa akrab dan lebih kompak lagi," ucap Audy penuh harap.
Sherin hanya tersenyum saja. Dia memandang Joa dan Xander yang sudah berdiri di sana. Dua pria itu hanya diam saja. Mereka tidak mau mengganggu Sherin dan Audy.
"Wanita cepat sekali akrab. Andai laki-laki juga bisa seperti itu," ucap Xander pelan.
Joa mengernyitkan dahinya. "Kak Xander ingin akrab dengan siapa?"
"Jika memang terbukti kalau Audy dan Leonzio adalah adik kakak. Bukankah itu berarti dia adalah kakak iparku. Aku harus menghormatinya. Tetapi aku tidak yakin dia mau menerimaku," jawab Xander tanpa memandang.
Joa tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti."
__ADS_1