My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 73 Ternyata Kekasihku


__ADS_3

Quinn membuka matanya secara perlahan. Melihat Dimitri ada di hadapannya, membuat Quinn langsung mengukir senyuman manis. Sayangnya wanita itu masih berpikir kalau sekarang dia sedang bermimpi.


"I Love You," bisik Dimitri hingga membuat pipi Quinn memerah.


"Meskipun ini di dalam mimpi, tetapi aku cukup bahagia," ucap Quinn masih dengan tatapan tidak percaya. Mendengar jawaban Quinn membuat Dimitri mengernyitkan dahi.


"Sayang, aku benar-benar ada di sini. Di sisimu," perjelas Dimitri lagi. Berharap Quinn percaya dengannya.


"Kau di sini?" Kali ini wajah Quinn mulai serius. Dia memperhatikan sekeliling ruangan. Tidak ada kedua orang tuanya di sana hingga membuat Quinn meras ada yang aneh.


"Mommy dan Daddy kita pulang ke rumah. Mereka memintaku untuk menjagamu." Dimitri yang nakal mulai memainkan sedikit rambut kekasihnya sebelum menghirup aromanya.


"Tidak mungkin. Daddy tidak akan mempercayaimu begitu saja. Dia tidak mungkin-"


"Aku ini menantu idaman. Tidak ada yang bisa menolakku Quinn," ucap Dimitri dengan penuh kesombongan hingga membuat Quinn geram dan mencubit perut Dimitri hingga pria itu kesakitan.

__ADS_1


"Ampun Quinn." Dimitri berusaha melepas cubitan Quinn. "Mereka pasti akan segera kembali. Bukan bermesraan kau justru menyiksaku!"


Quinn menghela napas kasar. Dia berusaha untuk duduk namun Dimitri menahannya. "Tetap pada posisi ini sampai sarapan tiba!" perintah Dimitri.


"Aku bosan," rengek Quinn. Wanita itu melirik laptopnya yang masih tergeletak di atas meja. "Aku ingin memegang laptopku."


"Untuk bekerja?"


Quinn menggeleng kepalanya. "Untuk membantu seseorang. Mungkin saja," jawabnya ragu.


"Aku bantu ya," tawar Dimitri. Pria itu beranjak dari kursi lalu mengambil laptop Quinn dan memberikannya.


"Belum. Kita akan sarapan sama-sama." Dimitri sengaja memalingkan pandangannya agar tidak mengetahui password yang dimasukkan oleh Quinn. Setelah Quinn membuka email, justru Dimitri tertantang untuk meliriknya. Dia ingin tahu seperti apa pekerjaan Quinn selama ini. Dan siapa yang ingin di tolong oleh Quinn.


"Seseorang dalam bahaya. Ini menyangkut hubungan seseorang. Pengantin wanita akan pergi selamanya jika anda tidak membantu kami. Tolonglah. Siapapun anda. Entah itu anda pria atau wanita. Tolong kami. Berapapun biayanya akan kamu bayar," ucap Dimitri sembari membaca email di layar laptop Quinn. Pria itu kan menatap wajah kekasihnya. "Siapa dia?"

__ADS_1


Quinn mengangkat kedua bahunya. "Biasanya aku suka sekali menolong orang tanpa di bayar. Asalkan dia memberi alasan yang jelas. Aku tidak mau membantu orang hanya untuk memperebutkan kekuasaan atau mencelakai orang yang tidak bersalah." Quinn mengetik beberapa kalimat.


"Apa seperti ini pekerjaanmu selama ini? Lalu, jasa apa yang kau berikan Quinn?" Dimitri semakin penasaran hingga ia semakin ingin tahu kehidupan Quinn selama ini.


"Apa saja bisa aku lakukan." Quinn menutup layar laptopnya lalu memandang wajah Dimitri. "Kau kemana saja kemarin? kenapa menghilang? Apa terjadi sesuatu?"


Dimitri tersenyum berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Aku membereskan beberapa masalah."


"Lalu, apa masalahnya sudah selesai?"


Dimitri menggeleng. "Sedikit lagi." Pria itu mengambil tangan Quinn lalu mengecupnya. "Quinn, jangan pernah tinggalkan aku. Kau harus semangat untuk sembuh. Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu."


"Ya. Aku percaya padamu." Quinn melirik laptopnya lalu membuka layarnya lagi untuk membaca pesan yang masuk. "White Snake?"


Dimitri langsung melepas tangan Quinn mendengar kalimat itu. "Apa kau bilang? White Snake?"

__ADS_1


Quinn menatap wajah Dimitri. "Bukankah itu milikmu?"


"Lalu, apa yang terjadi?" Dimitri membenarkan posisi duduknya lalu membaca pesan yang baru saja masuk. Detik itu juga dia baru sadar kalau orang yang mengirim email itu adalah Joa. Dan malaikat komputer yang dicari Joa adalah Quinn. "Quinn, apa kau malaikat komputer itu?"


__ADS_2