
Resepsi pernikahan Quinn dan Dimitri terlihat mewah dan megah. Ada banyak tamu undangan yang datang untuk mengucapkan selamat kepada pengantin. Kali ini Quinn tidak mewajibkan tamu untuk memakai baju dengan warna yang sama.
Semua orang bebas memakai warna apapun selain warna hitam. Ya, hanya itu syarat yang diberikan Quinn. Dia mau ketika resepsi berlangsung. Hanya dia dan Dimitri yang memakai pakaian serba hitam.
"Sayang, setelah ini kita akan berdansa. Apa kau sudah siap?" bisik Dimitri di telinga Quinn. Quinn hanya menjawab dengan anggukan sambil tersenyum. Wanita itu melambaikan tangannya untuk menyapa beberapa tamu undangan yang baru datang.
"Quinn, malam ini kau cantik sekali," puji Tiffany. Wanita paruh baya itu lagi-lagi memeluk Quinn untuk beberapa saat. Dia sangat bahagia melihat putrinya menikah. Di belakang Tiffany ada Nichole yang malam itu memakai jas berwarna cokelat.
"Kak, setelah ini kita tidak akan tinggal serumah lagi." Wajah Nichole terlihat sedih. Biasanya mereka semua akan ada di meja makan dan berkumpul satu keluarga. Tetapi sebentar lagi, ada satu kursi yang kosong. Nichole belum siap untuk berpisah dari kakaknya. Meskipun terlihat cuek seolah tidak peduli. Tapi pada kenyataannya dia sangat menyayangi Quinn.
"Nichole, kau bisa mengajak Mommy ke rumah kakak nanti. Hanya tinggal naik pesawat saja. Tidak sampai satu hari juga sudah sampai," jawab Quinn. Ternyata kediaman Dimitri ada di luar kota. Meskipun jaraknya cukup jauh, tapi jika naik pesawat hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja.
"Tetap saja jauh," protes Nichole. Dia memandang ke arah Dimitri. "Kak, tolong jaga Kak Quinn. Jangan sakiti Kak Quinn."
Dimitri mengangguk. Dia memeluk adik iparnya itu. "Kau tenang saja. Kakak pasti akan menjaga kakakmu dengan baik."
Quinn mencari ke segala arah. Wajahnya terlihat khawatir. "Mom, dimana Daddy?"
"Daddy masih di kamar. Mungkin sebentar lagi Daddy dan Malvin akan muncul. Tadi mereka tidak langsung mandi. Karena Mommy dan Nichole sudah siap duluan, kami tinggal saja mereka berdua," jelas Tiffany.
"Mom, apa malam ini Tante Viana dan Paman Jeremi tidak datang?"
"Sepertinya tidak sayang. Mereka tadi siang sudah lama menemani kita. Malam ini mungkin mereka akan istirahat."
"Bagaimana dengan Xander dan Sherin? Apa mommy ada melihat mereka? Mereka tidak pulang kan?"
"Nggak sayang. Kau tenang saja," sahut Tiffany. Dia mengusap lengan putrinya. "Sudah waktunya pesta dansa. Sana kalian berdansa dengan yang lainnya."
Dimitri memberikan lengannya kepada Quinn. Sepasang pengantin itu berjalan ke tengah aula. Kedatangan mereka disambut hangat oleh para tamu undangan. Bersamaan dengan itu, alunan musik dimainkan dan tanpa menunggu lagi. Quinn dan Dimitri segera berdansa dengan gaya yang menjadi ciri khas mereka.
Xander dan Sherin baru saja tiba. Malam itu Sherin mengenakan gaun berwarna merah. Dia terlihat sangat cantik layaknya seorang bidadari. Sedangkan Xander mengenakan setelan berwarna biru. Mereka justru terlihat seperti sepasang kekasih malam itu.
__ADS_1
"Kak, apa kakak bisa berdansa?" tanya Sherin ingin tahu.
"Tentu. Ayo kita berdansa dengan Quinn dan Dimitri," jawab Xander dengan penuh percaya diri. Sherin tersenyum bahagia mendengarnya. Wanita itu mengangguk setuju sebelum akhirnya mereka ikut bergabung dengan yang lainnya.
Robin menyenggol lengan Joa ketika dia melihat Sherin sudah tiba di aula tersebut. Tatapan pria itu seperti sedang meledek. Joa yang tidak tahu apa maksud Robin hanya mendengus kesal sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Joa, lihatlah ke lantai dansa. Nona Sherin terlihat cantik sekali dengan balutan gaun merah. Apa kau tidak mau mengajaknya berdansa?" ledek Robin di telinga Joa.
Joa ingin marah awalnya. Namun pria itu justru terdiam melihat Sherin tersenyum dan tertawa bahagia ketika berdansa. Secara otomatis Joa juga ikut tersenyum. Pria itu bahagia melihat Sherin bahagia.
"Tuh kan ada yang sedang jatuh cinta nih," ledek Robin semakin menjadi. "Joa, sebaiknya mulai sekarang kau harus bersikap baik di depan Tuan Xander agar bisa mendapatkan restunya."
"Robin, jika kau bicara lagi. Aku akan membuatmu menyesal!" ancam Joa.
"Galak sekali." Robin menarik tangan Joa dan membawanya ke lokasi dansa. Joa awalnya menolak keras ajakan pria itu. Namun dia juga tidak mau ribut di acara penting Dimitri. Pria itu tidak mau membuat masalah lagi.
"Tuan, saya ingin meminta izin agar Nona Sherin berdansa dengan Joa. Apa boleh?" tawar Robin. Keberanian pria itu memang sungguh di luar batas.
"Silahkan," jawab Xander dengan santai. Ia meninggalkan Sherin sendirian di sana. Bersamaan dengan itu, Sherin berdiri sambil memandang Joa dengan bingung. Secara perlahan Robin pergi meninggalkan lokasi dansa. Dia tidak mau mengganggu Sherin dan juga Joa.
"Apa kau bisa berdansa?" tanya Sherin kurang yakin.
Joa tidak mau pergi begitu saja. Itu hanya akan membuatnya terlihat seperti seorang pengecut. "Tentu saja. Apa kau mau mencobanya?"
Joa menarik pinggang Sherin agar merapat dengan tubuhnya. Setelah itu dia menatap kedua mata Sherin dengan begitu intens. Sherin juga mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Joa. Wanita itu merasa sangat bahagia. Meskipun kini debaran jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Apa ini tandanya kita sudah berdamai?" tanya Sherin dengan nada baik-baik.
"Mungkin," jawab Joa singkat. Pria itu mengerakkan dan membimbing Sherin untuk berdansa dengan indah.
"Baguslah," jawab Sherin. Wanita itu kembali menatap wajah Joa. "Sebenarnya dia ini tampan juga. Tapi memang kadang-kadang sifatnya ngeselin. Kalau dia bicara baik-baik seperti ini justru membuatnya terlihat seperti pria berpendidikan," gumam Sherin di dalam hati.
__ADS_1
"Joa, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu." Sherin memandang ke arah Xander yang tidak lagi terlihat. "Apa kita bisa pergi meninggalkan tempat ini? Aku ingin mencari tempat yang lebih tenang."
Joa sebenarnya ragu untuk menyetujui ajakan Sherin. Namun rasanya dia tidak mau bermusuhan lagi dengan wanita itu. Hingga pada akhirnya Joa menuruti permintaan Sherin untuk meninggalkan lokasi resepsi berlangsung.
Quinn dan Dimitri memandang ke arah Joa dan Sherin yang kini pergi menuju ke pintu keluar. Sepasang pengantin itu menyimpan curiga. Mereka saling memandang dengan alis saling bertaut.
"Sayang, bukankah Joa dan Sherin tidak pernah akur? Lalu sekarang merek mau pergi kemana?"
"Ini hari bahagia kita. Berhentilah memikirkan orang lain!" Rasanya Dimitri lelah mengurus masalah yang terjadi pada Joa. Sejak siang pria itu saja yang terus membuat masalah.
"Tapi, bagaimana kalau mereka keluar hanya untuk bertarung? Aku tidak mau sampai Sherin celaka." Wajah Quinn terlihat panik hingga membuat Dimitri menjadi tidak tega. "Aku akan meminta Robin untuk mengikuti mereka. Bagaimana?"
Quinn mengangguk setuju. "Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu terhadap Sherin."
Dimitri memberi kode kepada Robin agar mendekatinya. Dengan cepat Robin berjalan mendekati posisi Dimitri berada.
"Ada yang bisa saya bantu, Bos?"
"Ikuti kemana Joa dan Sherin pergi. Pastikan mereka tidak berkelahi!" perintah Dimitri kepada Robin.
Sebenarnya Robin ingin memberi tahu Dimitri kalau Sherin dan Joa tidak akan mungkin bertengkar. Namun dia juga tidak mau membiarkan Quinn terus menerus tidak tenang.
"Baik, Bos." Robin menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan lokasi pesta.
Dimitri mengusap pipi Quinn lalu tersenyum. "Sekarang bagaimana? Apa kau senang?"
Quinn mengangguk. "Terima kasih."
"Apapun akan aku lakukan agar kau selalu bahagia. Aku mencintaimu Quinn."
"Aku juga mencintaimu."
__ADS_1