My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 176 Cosa Nostra


__ADS_3

Sherin masih asyik memandang keluar sembari menikmati keindahan kota Roma pada sore hari. Mereka akan terbang malam ini. Sebelum ke bandara, Xander meminta Joa untuk membawa mereka makan. Karena memang sejak kemarin mereka terus saja mengabaikan perut mereka yang sudah sangat keroncongan.


"Sherin, sekarang cepat ceritakan kepada kami. Kenapa kau bisa sampai bertemu Mr. Zeno?" Xander yang memang sudah tidak sabar untuk mengetahui kronologi sebenarnya terus saja mendesak adik angkatnya itu. "Apa kau mengikuti kami ke markas White Snake?"


Sherin kembali ingat dengan sosok wanita yang pernah berbincang dengan Joa. Hatinya kembali cemburu. Dadanya terasa begitu sesak. Namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas rasa cemburunya. Dia dan Joa baru saja berpisah dan sekarang seharusnya mereka tetap bersama demi pernikahan mereka nanti.


"Sherin, kenapa kau diam saja?" tanya Joa. Pria itu melirik Sherin melaluinya spion sebelum kembali fokus dengan laju mobilnya.


"Aku mengikuti Kak Xander dan Joa. Aku ingin tahu sebenarnya urusan penting apa yang ingin kalian selesaikan. Tapi di jalan aku bertemu dengan pria tua itu. Awalnya aku kasihan dan berniat untuk menolongnya. Tetapi dia justru menjebakku. Dia sudah memasang bom di tubuh yang membuatku tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintahnya," jelas Sherin meskipun tidak semua dia ceritakan.


"Lalu, bagaimana kau bisa bertemu dengan Zack Lee?" tanya Joa lagi.


"Kami jumpa di bandara. Aku memberi kode kepada mereka kalau aku dalam bahaya. Mereka sepasang kekasih yang sangat kompak." Sherin kembali tersenyum membayangkan aksi Peiyu dan Zack Lee di pesawat tadi.


"Lalu Mr. Zeno memang benar-benar sudah tewas?" Kali ini Xander yang ingin memastikan penjelasan Zack Lee benar.


Sherin mengangguk. "Seharusnya dia tidak mungkin selamat. Dia lompat dari pesawat dengan bom yang aktif. Dia pria yang berbahaya bukan? Aku menyesal sudah bertemu dengannya."


"Sherin, lain kali kau tidak perlu nekad seperti ini lagi. Jika kau tidak mengizinkan Joa pergi, kau tidak perlu mengizinkannya. Daripada kau harus mengikutinya secara diam-diam seperti ini. Joa pria yang selalu bertemu dengan orang-orang berbahaya. Jika Joa tidak tahu kau mengikutinya, bagaimana cara dia melindungimu?" protes Xander. Dia berharap adiknya itu lebih dewasa karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Joa.

__ADS_1


"Maaf," ucap Sherin sambil menunduk. Wajah wanita itu tidak seceria sebelumnya.


Tiba-tiba Joa mengerem mobilnya ketika melihat beberapa mobil berbaris menghalangi jalan. Sherin yang hampir terbentur segera di tarik Xander.


"Ada apa Joa?" tanya Xander. Dia juga segera memandang ke depan untuk melihat masalah yang terjadi.


"Siapa mereka?" tanya Sherin bingung.


"Akan aku atasi. Kak, tolong telepon White Snake. Kirimkan lokasi kita sekarang," pinta Joa sembari memberikan ponselnya kepada Xander. Pria itu lalu segera turun dari mobil.


"Joa!" teriak Sherin. Dia ingin turun namun Xander menghalanginya.


"Jangan. Kita tetap di sini sampai ada perintah dari Joa," ucap Xander.


"Kita di sini juga tidak tinggal diam, Sherin. Kita cari bantuan." Xander mengatur emosinya agar tidak marah sama Sherin. "Oke, sekarang pegang ini. Tapi kau harus tetap di sini. Jangan lakukan tindakan apapun sebelum ada perintah. Apa kau mengerti?"


Sherin melirik senjata api di tangannya sebelum memandang ke arah Joa yang sudah berdiri di depan mobil.


Joa memperhatikan satu persatu orang bersenjata yang ada di hadapannya. Ada senyum kecil di sudut bibirnya ketika dia tahu kalau gerombolan yang sudah menghalangi jalannya adalah Cosa Nostra.

__ADS_1


"Leonzio?" Joa masih bersikap sangat tenang. Dia tetap waspada dan memperhatikan senjata yang dibawa musuhnya. "Ada apa? Kenapa kalian menghalangi jalan kami?"


"Senang bertemu dengan anda Joa! White Snake memang sangat terkenal. Aku berdiri di sini bukan untuk menghalangi jalan kalian. Aku hanya ingin memberi penawaran." Pria bertubuh tinggi yang bernama Leonzio itu berjalan mendekati Joa. Dia terlihat sangat mengerikan dengan tato di sekujur tubuh. Otot-ototnya yang kekar membuktikan kalau dia seorang petarung.


"Audy? Apa ini berhubungan dengannya?" tanya Joa lagi.


"Serahkan dia kepada kami maka kami tidak akan pernah mengusik ketenangan kalian lagi," sahut Leonzio.


"Lalu, apa yang akan kalian lakukan jika aku menolak tawarannya?" tantang Joa dengan sangat berani.


Leonzio menatap tajam ke arah Joa. "Kau tidak akan pernah pulang Joa!"


Joa tertawa kecil mendengarnya seolah ada yang lucu di sana. Jelas saja hal itu membuat Leonzio emosi. Dia segera mengangkat senjata apinya ingin menembak pria tangguh itu.


"Aku bisa saja menghabisi nyawamu. Tapi bukan itu keinginanku. Pulangkan adikku maka masalah kita selesai!" Leonzio masih berusaha mengajak Joa bernegosiasi.


"Apa untungnya aku menyerahkan Audy kepada anda? Apa anda sadar, sebagai seorang kakak anda itu sangat tidak manusiawi. Anda menjual adik anda sendiri kepada orang lain," sahut Joa. Pria itu segera mengeluarkan senjata apinya dan siap menembak Leonzio. "Bagaimana kalau kita adu. Peluru mana yang lebih cepat mencabut nyawa?"


Leonzio berusaha tetap santai. "Masalah ini dia sendiri yang menciptakannya. Dia juga yang harus bertanggung jawab. Jika kau tidak tahu apa-apa, sebaiknya tidak perlu ikut campur. Atau kau tertarik dengannya? Nikahi saja dia maka semua masalah akan selesai!" tawar Leonzio.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan Leonzio ada benarnya juga. Aku hanya mendengar cerita dari sebelah pihak. Tidak tahu cerita yang sebenarnya terjadi seperti apa. Aku juga baru ini saja bertemu dengan Audy. Sekarang kau harus bagaimana? Masalah ini berhubungan dengan Kak Xander," batin Joa.


"Bagaimana? Bukankah anda mati-matian melindunginya? Kalau begitu jangan setengah-setengah. Nikahi dia dan lindungi dia dari orang yang mengincar nyawanya. Dengan begitu, tanggung jawabku sebagai seorang kakak selesai!" tegas Leonzio lagi.


__ADS_2