
Xander segera kabur saat pegangan Gabriel tidak kuat lagi. Tidak lama setelah itu, Gabriel terjatuh di lantai dengan posisi terjungkal ke depan. Ada dua bolongan dikepalanya sebagai tempat mendaratnya dua peluru yang baru saja dia dapatkan.
Luca berdiri di sana dengan posisi yang sangat tenang. Quinn tersenyum bahagia sebelum berlari untuk memeluknya. "Daddy."
Ternyata wanita tangguh itu sudah tahu kalau ayah kandungnya ada di sana. Dia merasa sangat yakin kalau keputusan apapun yang akan dia ambil pasti akan tetap baik-baik saja dengan adanya Luca di sana.
"Kau memang putri tangguhku, Quinn! Daddy bangga padamu. Sepertinya Daddy tidak ragu lagi sekarang. Kau pantas memimpin geng mafia milik Daddy," ucap Luca dengan penuh rasa bangga. Dia memeluk erat putrinya.
"Terima kasih, Daddy. Tadi aku sempat bingung. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana."
Luca tidak tinggal diam setelah tahu Quinn pergi. Tiffany sendiri mengizinkan pria paruh baya itu untuk terbang ke Hongkong agar bisa menyelamatkan Dimitri dan melindungi putri mereka.
"Quinn, apa kau baik-baik saja?" tanya Luca. Dia memperhatikan keadaan sekitar. Sungguh pertarungan yang sangat melelahkan. Dia sendiri belum pernah mengalami pertarungan semengerikan itu.
"Aku baik-baik saja. Dad, kita harus segera membawa Dimitri ke rumah sakit," ucap Quinn dengan wajah panik.
Luca mengangguk. Mereka semua pergi meninggalkan jasad Gabriel yang tergeletak di sana. Joa kini bisa bernapas lega. Dibantu dengan Xander, pria itu membawa Dimitri menuju ke mobil.
Setibanya di rumah sakit, Dokter langsung memeriksa keadaan Dimitri. Quinn dan yang lain diminta untuk menunggu di depan IGD. Wanita tangguh itu terlihat sangat khawatir. Dia tidak bisa duduk dengan tenang. Berulang kali memandang pintu IGD karena ingin mengetahui keadaan kekasihnya.
"Quinn, kau pasti belum makan. Bibirmu sangat pucat." Luca memberikan makanan kepada Quinn. "Makanlah."
Quinn menggeleng. "Tapi aku tidak bisa makan sebelum mendapat kabar dari dokter?"
"Quinn, jika kau sakit. Kau tidak akan bisa merawat Dimitri. Sekarang cepat habiskan makananmu."
"Apa yang dikatakan Paman Luca benar. Kau harus makan Quinn. Dokter Fei baru saja menghubungiku. Dia memintaku mengingatkanmu agar tidak lupa untuk meminum obat," sahut Xander.
"Baiklah," jawab Quinn malas. Wanita itu segera membuka makanan yang diberikan Luca dan melahapnya secara perlahan. sambil mengunyah makanan tersebut, Quinn terus saja memandang ke pintu IGD. Sampai pada akhirnya seorang dokter keluar dan Quinn segera meletakkan makanannya di kursi.
"Dokter, bagaimana keadaan Dimitri?" tanya Quinn cepat. Semua orang juga menunggu jawaban dari dokter tersebut.
__ADS_1
"Kamu harus membawanya ke ruang operasi. Ada beberapa luka yang memerlukan penanganan khusus. Bukan hanya luka di luar saja. Tetapi Tuan Dimitri mengalami luka dalam yang cukup parah. Kamu juga membutuhkan dua kantung darah," ucap Dokter wanita itu.
"Berikan perawatan yang terbaik untuknya, Dok. Soal biaya biar saya yang tanggung," sahut Luca.
"Baiklah, Tuan."
dokter itu memerintahkan suster yang bersama dengannya untuk segera membawa Dimitri ke ruang operasi. Quinn memeluk Luca sambil memandang Dimitri yang tidak sadarkan diri. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Dia tidak sanggup melihat keadaan Dimitri yang sekarang.
"Cepat sembuh. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu," batin Quinn sembari memejamkan mata.
...***...
Matahari bersinar terang menerangi Hongkong. Seumur hidup Quinn tidak pernah menginjakkan kakinya di Hongkong. Apa lagi sampai menginap di rumah sakit seperti ini. Melihat matahari bersinar terang membuat Quinn tersenyum. Wanita itu terlihat jauh lebih segar sekarang. Luca merawat Quinn dengan sebaik mungkin agar putrinya tidak sampai sakit lagi.
"Quinn, Daddy mau keluar sebentar." Luca beranjak dari sofa. Pria itu memandang sekilas ke arah Dimitri yang belum sadarkan diri sebelum keluar.
Quinn masih berdiri di depan jendela sambil memperhatikan keramaian yang ada di bawah. Tidak jauh di depan rumah sakit, ada danau yang melengkapi pemandangan pagi itu. Semua terlihat jelas saat siang hari.
Quinn segera memutar tubuhnya melihat Xander muncul. Sejak semalam pria itu bersama dengan Joa untuk merawat luka pada tubuh Robin. Kini pria itu kembali dengan membawa buah segar di tangannya.
"Kau darimana saja?" protes Quinn. Wanita itu menjauh dari jendela dan duduk di dekat tempat tidur Dimitri. "Apa itu ?"
"Dokter Fei memintamu untuk memakan banyak buah. Quinn, bagaimanapun juga kau ini masih pasien dokter Fei. Jadi turuti saja," sahut Xander. Pria itu mengambil satu buah apel sebelum memakannya. "Bagaimana keadaan Dimitri?"
"Dokter bilang semua sudah stabil. Kita hanya tinggal menunggu Dimitri sadar." Quinn memilih buah cery lalu memakannya satu persatu.
"Apa kau sudah merasa jauh lebih baik sekarang? Quinn, jika masih ada yang terasa sakit katakan saja. Aku akan meminta Dokter Fei ke sini untuk memeriksamu," ucap Xander dengan wajah yang khawatir.
"Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Jangan panik seperti itu." Quinn memegang tangan Dimitri lalu meletakkannya di pipi. "Bangunlah. Kenapa kau tidur lama sekali!" protes Quinn kepada Dimitri.
"Quinn, aku iri melihat kalian. Bahkan saat Dimitri tidak sadarkan diri kalian masih bisa bermesraan di depanku!" protes Xander. Pria itu memalingkan wajahnya karena malas melihat Quinn dan Dimitri.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Robin?"
"Dia juga baik-baik saja. Dengan pengobatan pasti akan segera sembuh." Xander kembali mengingat aksi nekad Quinn kemarin. "Quinn, kenapa kau segila itu? Apa jadinya kalau pria brengsek itu benar-benar menembakmu?"
"Aku mungkin akan mati. Asalkan kau dan Dimitri tetap hidup," jawab Quinn dengan santai.
"Kau gila, Quinn. Kalau Dimitri sadar, dia juga tidak akan setuju dengan keputusan yang kau ambil!" sahut Xander. Pria itu mengambil ponselnya dan mengotak-atik layar ponselnya. "Kau satu-satunya wanita paling berani yang pernah aku kenal."
"Benarkah?" Quinn tersenyum. Wanita itu bersandar dan menghela napas panjang. "Sebenarnya aku tidak seberani itu. Tapi dalam kondisi tertentu aku tidak memiliki rasa takut lagi."
Suasana ruangan kembali hening. Baik Quinn maupun Xander sama-sama memandang ke arah Dimitri dan berharap pria itu segera membuka mata.
"Quinn, apa Dimitri cinta pertamamu?" Entah kenapa tiba-tiba Xander ingin sekali menanyakan hal itu kepada Quinn.
Quinn mengernyitkan dahi mendengarnya. Wanita itu juga tidak mau menutupi apa yang pernah dia alami. "Sebenarnya aku sendiri tidak tahu seperti apa cinta itu. Aku pernah pacaran dengan beberapa pria. Tapi sayangnya hubungan kami tidak lama. Kami putus begitu saja hingga membuatku sempat memiliki pemikiran kalau semua pria di dunia ini jahat!"
"Selain Dimitri, pria hebat mana yang bisa meluluhkan hatimu Quinn?" Xander tertarik dengan obrolan mereka.
Quinn tertawa kecil sebelum melanjutkan ceritanya. "Aku tidak ingat kapan pertama kali aku pacaran. Tapi yang pasti, pria yang dekat denganku selingkuh dengan wanita yang jauh lebih baik. Sejak itu aku berpikir kalau aku ini wanita yang buruk. Jelek, kaku dan tidak berperasaan."
"Kau salah, Quinn. Kau itu wanita yang unik." Xander memasukkan ponselnya ke saku. "Andai aku pria pertama yang kau temui, mungkin semua cerita ini tidak akan seperti sekarang."
Ekspresi wajah Quinn berubah mendengarnya. Wanita itu memalingkan pandangannya ke arah lain. "Xander, apa kau sudah sarapan?" Quinn berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. Dia tidak mau Xander semakin sakit hati karena dia tidak bisa membalas cintanya.
"Sudah. Oh iya, aku harus keluar. Joa pasti sudah menungguku. Dia tidak berani masuk karena segan padamu." Xander beranjak dari kursi lalu pergi. Pria itu bahkan tidak berhenti lagi untuk memandang Quinn.
"Sepertinya memang sudah takdirku seperti ini. Aku dan Dimitri bertemu dengan cara yang unik sampai akhirnya kami saling jatuh cinta," ucap Quinn pelan. Wanita itu kaget ketika jemari Dimitri menggenggam tangannya. Quinn memandang wajah Dimitri dengan penuh harap.
Kedua mata Dimitri terbuka secara perlahan. Pria itu menatap Quinn dengan tatapan tidak terbaca. Quinn sangat terharu melihat Dimitri sudah sadar.
"Hai," sapa Quinn pelan.
__ADS_1
Dimitri tersenyum bahagia. "Quinn, will you marry me?"