My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 116 Sekretaris Pribadi


__ADS_3

"Anda ini payah. Sangat memalukan!"


"Sebaiknya anda keluar dari ruang rapat. Ruang rapat ini tidak butuh pria seperti anda!"


"Tuan Dimitri pasti malu memiliki bawahan seperti anda!"


"Tuan, sudah waktunya. Semua orang sudah berkumpul di dalam," ucap seorang pria berpakaian rapi. Pria itu membuat Joa kaget dari lamunannya. Dia memandang ke arah pria yang baru saja bicara padanya sebelum mengangguk.


Joa berdiri tidak jauh dari ruang rapat dengan raut wajah tanpa ekspresi. "Aku akan segera masuk ke dalam," jawab Joa tanpa memandang lagi. Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya. Setelah itu memandang ke depan. Tepatnya lorong yang terhubung dengan lift. "Dimana dia?" gumam Joa di dalam hati.


Karena tidak mau membuat semua orang menunggu terlalu lama akhirnya Joa masuk ke dalam ruang rapat. Sambil berjalan pria itu mengumpat seseorang. "Seharusnya Aku tidak percaya begitu saja padanya!"


Di dalam ruang rapat, beberapa klien mengulurkan tangannya di depan Joa. Joa sendiri hanya mengangguk dan menyambut uluran tangan mereka. Masih dengan ekspresi dingin hingga membuat siapa saja yang melihatnya merasa takut.


"Langsung saja!" ketus Joa. Berbeda jauh dengan Dimitri yang selalu membuka rapat dengan kata-kata yang cukup ramah dan sopan.


"Permisi!" tiba-tiba pintu terbuka lebar. Sherin berdiri di sana dengan pakaian kantor miliknya. Kemeja berwarna maroon dengan rok hitam selutut. Wanita itu terlihat cantik ditambah dengan beberapa berkas yang kini ada di genggaman tangannya. "Maafkan saya karena saya datang terlambat." Sherin membungkukkan tubuhnya sejenak sebelum berjalan mendekati Joa.


Melihat Sherin sudah ada di sana membuat Joa kembali bernapas lega. Ternyata pria itu meminta Sherin untuk mewakili dirinya menjelaskan topik yang akan mereka bahas di ruang rapat kali ini. Sherin sendiri yang menawarkan diri tadi malam. Joa yang memang sangat membutuhkan bantuan menerima tawaran wanita itu begitu saja.


Sherin yang memang notabenenya adalah seorang pengusaha, terlihat sangat mudah menguasai ruang rapat. Wanita itu bicara dengan sopan hingga membuat semua orang yang memandangnya tertarik untuk mendengar penjelasan yang keluar dari mulutnya.


Tidak dengan Joa. Bukan mempelajari trik yang kini dilakukan oleh Sherin justru Joa lebih tertarik untuk memperhatikan wajah cantik Sherin hingga akhirnya ia tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh Sherin. Tanpa ia sadari hatinya terus memuji kecantikan Sherin hingga akhirnya pria itu benar-benar kagum kepada wanita berambut pendek tersebut.


"Apa masih ada pertanyaan?" tanya Sherin setelah Ia menjelaskan panjang lebar proyek yang akan mereka kembangkan. Wanita itu memandang ke arah Joa lalu memberinya kode agar pria itu juga memberikan respon. Joa tersadar dari lamunannya. Dia segera memandang laptop yang ada di hadapannya dengan tatapan bingung.


"Apa yang dia katakan tadi! Astaga! bukannya belajar aku malah melamun!" umpat Joa pada dirinya sendiri.


"Pria ini. Pasti dia tidak mendengarkan penjelasanku. Sebaiknya segera aku akhiri saja rapat ini agar tidak timbul masalah baru," gumam Sherin di dalam hati. "Mungkin sampai di sini saja rapat kita siang ini. Untuk pengurusan kontrak akan disusun oleh Tuan Rico. Selamat siang dan terima kasih."


Semua orang yang ada di ruang rapat bertepuk tangan untuk mengapresiasikan hasil kerja Sherin hari ini.

__ADS_1


Beberapa dari mereka justru memuji Joa karena mereka berpikir kalau Joa yang sudah berhasil membimbing Sherin hingga seprofesional ini. Mereka sama sekali tidak tahu kalau kehadiran Sherin bukan untuk bekerja. Namun sekedar membantu Joa untuk keluar dari kesulitannya.


"Tuan, selamat. Anda benar-benar hebat. Darimana anda menemukan wanita hebat seperti Nona Sherin?" tanya salah satu klien.


Joa memandang ke arah Sherin sejenak sebelum memandang pria itu lagi. "Dia datang sendiri!"


Sherin menepuk kepalanya. "Tuan, senang bekerja sama dengan anda. Tuan Joa lagi tidak enak badan. Sepertinya sekarang waktunya minum obat. Kami permisi dulu."


Pria asing itu hanya diam mematung melihat kepergian Sherin dan Joa. "Ternyata Tuan Joa juga bisa bercanda juga."


Pria asing itu tertawa sendirian. Dia berpikir kalau jawaban Joa adalah sebuah lelucon yang sengaja diciptakan oleh Joa. Setelah mereka berdua menghilang, pria itu juga segera pergi.


"Siapa yang sakit?" tanya Joa kesal. Dia melepas tangan Sherin yang terus saja menariknya ketika mereka sudah tiba di ruangan pribadi Joa.


"Kau?" sahut Sherin kesal. Dia melipat kedua tangannya lalu menatap sinis ke arah Joa.


"Aku tidak sakit!" sahut Joa serius.


"Karena kau hari ini sudah membantuku, aku tidak akan menyalahkanmu!" ucap Joa sebelum melangkah menuju ke meja kerjanya.


"Lalu, apa bayaranku?" Sherin juga ikut berjalan di belakang Joa.


"Sepertinya yang aku katakan tadi malam. Kau boleh meminta apapun dariku," jawab Joa dengan santai. Pria itu duduk di kursi besar miliknya lalu memandang Sherin yang juga duduk di depannya.


"Apa saja?" Tatapan Sherin yang mencurigakan membuat Joa menyesal sudah mengatakan kalimat seperti itu.


"Tapi jika diluar akal sehat aku tidak akan mengabulkannya," timpal Joa lagi agar Sherin tidak meminta yang aneh-aneh.


"Tenang saja. Permintaanku masih yang wajar-wajar aja." Sherin beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu lebih tertarik duduk di atas meja. Tepat di depan Joa. Kakinya di lipat lalu wanita itu menatap Joa dengan senyuman manis.


"Cepat katakan!" ketus Joa. Dia memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kau harus mau kencan denganku!"


Joa kembali memandang Sherin. "Apa kau bilang? Kencan?"


***


Quinn memejamkan mata sejenak. Kini dia sudah ada di kamar mandi. Tepatnya di depan cermin karena ingin cuci muka. Dimitri sendiri masih tertidur pulas di atas tempat tidur. Pria itu terlalu lelah sampai-sampai tidak sadar kalau istri sudah turun dari tempat tidur.


"Bagaimana ini?" gumam Quinn lagi. Dia membuka mata perlahan sebelum akhirnya membulatkannya lebar-lebar. "Sayang. Sejak kapan kau ada di sana?"


Dimitri memeluk Quinn dari belakang sebelum mencium leher wanita itu. Dia menurunkan jubah mandi yang dikenakan Quinn sebelum tersenyum.


"Kau ini nakal sekali. Sekarang bagaimana? Semua orang akan tahu. Kenapa harus meninggalkan jejak di sini?" protes Quinn sambil menunjuk leher jenjangnya yang terdapat jejak kepemilikan Dimitri di sana.


"Itu bagus," jawab Dimitri santai.


"Bagus?" Quinn terlihat kesal.


"Ya. Jadi semua orang tahu." Dimitri mendekati telinga Quinn. "Malam pertama kita sukses!"


"Dimitri!" Quinn mencubit perut Dimitri. Namun dalam sekejap dia kembali meralat kata-katanya. "Sayang, kau nakal sekali."


"Padahal aku mau tambah lagi," ucap pria tangguh itu sambil menaiki turunkan alisnya.


Quinn memalingkan wajahnya yang berubah merah. "Kita harus segera pulang ke rumah Mommy dan Daddy. Kita harus membicarakan rencana bulan madu kita."


"Baiklah." Dimitri melangkah ke shower. Pria itu menarik Kean shower sebelum membasahi sekujur tubuhnya.


Quinn yang tidak tega segera mendekati Dimitri. Entah kenapa setelah menolak permintaan suaminya, ada rasa aneh di dadanya.


Quinn memegang dada Dimitri yang basah. Pria itu segera membuka matanya. Ada seulas senyum di sana sebelum akhirnya Dimitri menarik istri untuk mandi bersamanya.

__ADS_1


"Kita harus cobain kamar mandi ini sebelum pulang."


__ADS_2