
Dimitri memandang wajah cantik Quinn sejenak sebelum ke depan. "Apa kau sering ke sini?"
"Dulu. Bukankah tempat ini sangat tenang?" sahut Quinn tanpa memandang.
"Kau bilang tempat ini sangat tenang? Bukankah tadi di depan adikmu kau bilang kalau tempat ini sangat berbahaya?" Dimitri lagi-lagi menatap wajah Quinn sembari menunggu jawaban wanita itu.
Ada senyum manis di sana. Wanita itu menunduk malu sebelum berkata. "Aku hanya tidak mau tempat ini menjadi tempat favoritnya. Jika suatu saat aku membutuhkan tempat ini akan terasa tidak sempurna lagi jika adikku juga ada di sini. Aku ingin hanya akulah satu-satunya yang menjadi pemilik tempat ini."
Dimitri mengangguk. "Meskipun ini gedung kosong. Tapi bukan berarti gedung ini tidak ada pemiliknya. Memang kalau dipikir-pikir lagi lokasinya sangat keren karena dari atas sini kita bisa melihat pemandangan kota yang sangat menakjubkan. Tidak terhalang apapun lagi. Tapi bagaimana kalau pemilik gedung ini tiba-tiba berubah pikiran dan meruntuhkan gedung ini hingga rata dengan tanah. Gedung ini juga seperti dirawat. Tidak ditinggalkan begitu saja meskipun tidak sedang beroperasi."
"Gedung ini milik Daddy. Tanpa izin dariku tidak akan ada yang berani meratakan gedung ini. Sebenarnya ini adalah sebuah gedung hotel. Karena dulu ada orang yang tidak suka dengan Daddy, akhirnya ia membantai beberapa karyawan yang bekerja di hotel ini. Mommy bilang waktu itu dia sedang mengandung Malvin. Karena tidak mau kandungan Mommy celaka, Daddy membawa mommy pergi meninggalkan kota ini setelah menyantuni keluarga korban. Gedung ini ditutup secara paksa dan ditinggalkan begitu saja."
"Sebuah hotel? Tapi kenapa bangunannya terlihat seperti bangunan yang belum jadi? Jika memang gedung ini dulunya sebuah hotel, seharusnya ada banyak kamar yang ditemukan di sepanjang lorongnya." Dimitri terlihat tidak percaya.
"Yang sekarang kita tempati adalah gedung parkir. Bangunan hotelnya ada di sebelah. Tidak terlalu tinggi. Sebenarnya gedung parkirnya sengaja dibuat tinggi karena memang dulunya ada kolam renang yang bisa digunakan oleh orang-orang yang ingin berkunjung tanpa harus menginap di hotel. Tapi kau tidak perlu memikirkannya karena kejadian ini sudah lama sekali. Yang paling penting gedung ini adalah milikku. Tidak ada seorangpun yang bisa mengusiknya."
Dimitri kembali membisu. Dia sama sekali tidak kaget ketika Quinn menjelaskan identitasnya. Sejak mengantarkan Quinn pulang, Dimitri sudah mengerti kalau Quinn berasal dari keluarga terhormat dan terpandang.
"Bagaimana dengan kehidupanmu? Apa kau memiliki perusahaan? Atau jangan-jangan kau ini bandar obat terlarang lagi," sindir Quinn. Sebenarnya dia hanya ingin tahu, Dimitri yang ada di sampingnya ini benar Dimitri Huberg atau bukan.
"Kenapa kau menuduhku seperti itu? Apa terlihat jelas di wajahku kalau aku ini bandar obat terlarang?"
__ADS_1
"Hei, apa itu benar?" Quinn terlihat kaget. Hal itu membuat Dimitri tertawa melihatnya.
"Tentu saja tidak. Semua harta yang aku miliki bukan hasil merampas apa lagi dari hasil kejahatan. Aku sudah kaya sejak lahir. Ini harta warisan. Kakek moyangku cukup hebat sampai-sampai keturunannya bisa hidup mewah meskipun tanpa bekerja."
Quinn mengangguk. Sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk bertanya langsung nama lengkap Dimitri. Akan tetapi dia tidak mau sampai Dimitri berpikir yang aneh-aneh.
Hingga tiba-tiba saja ponsel Quinn berdering. Wanita itu segera mengambilnya dan mengernyitkan dahi melihat nama Sherly muncul di layar ponselnya.
"Quinn, kau kemana saja? Apa kau di culik lagi oleh Dimitri itu? Bukan hanya jam makan siang saja yang sudah habis. Tetapi sebentar lagi adalah waktu pulang dan kau tidak juga kembali. Apa kau lupa kalau ada banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan secepatnya? Quinn, jika kau tidak ke sini aku tidak mau membantumu lagi!"
Teriakan Sherly yang begitu keras membuat Quinn menjauhkan ponselnya dari telinga. "Oke, baiklah. Aku akan segera ke sana." Karena tidak mau mendengar ocehan Sherly lebih lama lagi, dia memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.
"Siapa?" tanya Dimitri penasaran.
"Quinn!" Dimitri terlihat panik. Pasalnya gedung yang mereka tempati sangat tinggi.
Dengan debaran jantung yang tidak karuan, Quinn mencoba untuk mengintip ke bawa sebelum memejamkan mata sejenak. "Cepat tarik aku."
Dimitri segera menarik Quinn. Saat Quinn naik ke atas, wajah mereka sangat dekat. Quinn menatap wajah Dimitri begitupun sebaliknya. Mereka saling memandang satu sama lain. Padahal jelas-jelas posisi duduk mereka juga belum benar.
"Bos, anda bisa celaka!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja Joa muncul dan menghancurkan semuanya. Quinn segera berdiri. Begitupun dengan Dimitri.
"Kenapa kau ada di sini?" umpat Dimitri kesal.
Quinn memandang ke arah Dimitri. "Aku harus pergi. Sampai jumpa lagi."
"Tunggu, Quinn." Dimitri memegang tangan Quinn. "Apa lain kali kita bisa bertemu lagi?"
Quinn terdiam sejenak hingga membuat Dimitri khawatir. Namun pada akhirnya wanita itu mengangguk. "Tentu."
Dimitri melepaskan tangan Quinn dengan perasaan yang sangat bahagia. Dia memandang punggung Quinn sampai wanita itu benar-benar jauh meninggalkannya.
"Bos, markas kita di serang," bisik Joa. Akan tetapi Dimitri masih dimabuk asmara. Dia sama sekali tidak mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Joa.
"Bos!" ujar Joa dengan nada meninggi.
Dimitri melirik sinis ke arah Joa. "Sepertinya sekarang kau sudah berani!"
"Markas di serang!" ujar Joa lagi.
"Apa? Kenapa tidak bilang sejak tadi!"
__ADS_1
Joa menghela napas kasar mendengarnya. Pria itu segera mengejar Dimitri yang kini melangkah cepat meninggalkan gedung.