
"Selamat pagi, Mom!" Quinn mencium pipi Tiffany. Hal yang sudah biasa dilakukan oleh Tiffany. Dia melirik dua adiknya sebelum duduk.
"Hari ini Mommy ingin pergi ke tempat Tante Viana. Bisakah kau ikut pergi bersama Mommy ke sana? Kau sudah lama sekali tidak bertemu dengan Tante Viana. Setidaknya ikutlah dengan Mommy setelah pulang bekerja. Jangan pulang larut malam. Pastikan kau pulang pukul 4 sore." Tiffany meminta Quinn supaya ikut dengannya. "Jangan cari alasan lagi, Quinn."
Tiffany ingin melihat Quinn dekat dengan putra sambung Viana. Sebagai seorang ibu tentu Tiffany ingin putrinya menjalani kehidupan yang baik. Untuk itulah Tiffany ingin membawa Quinn pergi bertemu dengan seseorang yang akan menjalani kehidupanbersamanya di masa mendatang.
"Apakah ini karena Mommy ingin aku berkenalan dengan putra sambung tante Viana? Quinn sudah jelaskan, Mom. Quinn tidak tertarik dengan hal seperti ini. Bisakah kita jangan membahasnya?" Quinn mendadak kesal karena Tiffany masih berusaha untuk menjodohkannya dengan orang yang belum kenal sama sekali. "Pekerjaanku di perusahaan juga belum selesai. Daddy akan marah jika aku tidak menyelesaikannya tepat waktu. Itu berarti Malam ini aku harus lembur lagi."
"Bukan seperti itu, Nak! Tante Viana pasti rindu padamu! Kau jangan berpikiran buruk pada mommy. Ayolah. Setidaknya kau harus menemani mommy ini bertemu dan bersenang-senang bersama Tante Viana. Ayolah, Quinn." Tiffany memohon pada putrinya supaya bersedia menuruti keinginannya. "Masalah Daddy biar menjadi urusan Mommy. Mommy akan meminta Daddy untuk menghilangkan semua tugas yang pernah ia berikan kepadamu agar kau tidak perlu lembur lagi. Kesehatanmu lebih utama dari yang lain."
Tiffany melihat Quinn berpikir sejenak. Wanita itu sangat yakin apabila putrinya pasti akan mengabulkan permintaannya itu. Karena Tiffany tahu kalau Quinn sangat menyayanginya.
"Baiklah. Quinn akan lihat jadwal dulu. Jika tidak ada pekerjaan urgent, maka Quinn akan menyusul Mommy di rumah Tante Viana. Jangan lupa Mommy kirim alamat lengkap Tante Viana yang baru." Pada akhirnya Quinn benar-benar menyetujui permintaan Tiffany.
Tentu saja Tiffany bersorak riang dalam hati. Sebab putri tercintanya itu walaupun sangat keras kepala dia pasti akan mengabulkan apapun keinginannya. Tanpa sadar, Tiffany tersenyum tipis.
"Terima kasih, Quinn! Mommy sangat senang. Ternyata putri Mommy ini masih pengertian sama seperti sebelumnya. Mommy senang sekali." Tiffany langsung memeluk putrinya. "Mommy selalu mendoakan agar kau beruntung dalam hal apapun."
"Andai mommy tahu kalau aku tidak pernah beruntung dalam hal percintaan. Tapi lebih baik mommy tidak tahu agar mommy tidak sedih," batin Quinn sambil memandang sarapan yang tersaji dihadapannya.
"Quinn, makan yang banyak," ucap Tiffany dengan senyuman manis dibibirnya.
"Tadi Mommy terlihat sedih sekali. Tapi mengapa sekarang seperti tidak pernah bersedih ya?" sindir Quinn.
Menyadari putrinya terang-terangan menyindir, membuat Tiffany tersenyum malu. Meski begitu Tiffany dengan lembut memegang tangan Quinn. "Kau ini benar-benar putri Mommy yang menggemaskan Quinn."
__ADS_1
"Daddy pergi ke mana, Mom?" tanya Quinn.
"Ada pekerjaan yang membuat daddy tidak bisa berada di sini. Pekerjaannya belakangan ini sepertinya banyak. Mommy tidak berani mengusik daddy-mu. Jadi jangan membahas pekerjaan di meja makan. Ayo sarapan." Jawaban dari Tiffany membuat Quinn berpikir sejenak.
Quinn sedikit bertanya mengapa Luca tidak ikut bergabung di sini. Quinn curiga jika Luca sedang memiliki masalah. Namun, Quinn juga tidak bisa bergerak bebas karena dirinya saat ini memegang kendali penuh atas perusahaan di tempatnya bekerja.
Sarapan di meja makan itu mendadak hening. Tidak ada yang berbicara maupun berdebat seperti biasanya saat Luca ada di sana. Sampai akhirnya Quinn menyelesaikan sarapannya dan berniat untuk berangkat bekerja.
"Kak, hati-hati di jalan," ucap Malvin. Ternyata dia sengaja menyapa kakaknya agar kakaknya tidak membongkar masalah kemarin di depan Tiffany.
"Hmm, baiklah. Kau juga harus hati-hati. Jangan sering main di gedung kosong," sindir Quinn dengan bola mata yang berputar.
"Gedung kosong?" Nichole terlihat bingung.
"Ayo kita sekolah. Kak Quinn memang suka gitu," sahut Malvin agar Nichole tidak terus mengorek masalah yang ada. Mereka berdua pun segera pergi meninggalkan meja makan. Begitupun dengan Quinn yang sudah bersiap.
"Jangan lupa janjimu sama Mommy, Quinn!" Tiffany berteriak saat Quinn baru saja masuk ke dalam mobilnya.
Teriakan Tiffany membuat Quinn memutar bola mata kesal. Tidak ada hal yang lebih menjengkelkan saat Tiffany merajuk dan merengek supaya penghuni di Mansion ini mengabulkan semua keinginannya.
"Sebenarnya, daddy ada masalah apa? Tidak biasanya daddy sampai melupakan sarapan. Aku tahu orang seperti apa daddy. Jadi, ini sangat membuatku heran kalau daddy sampai melewatkan pagi harinya bermesraan dengan mommy." Quinn menggumam seorang diri.
Quinn takut apabila Luca memiliki masalah. Hanya saja, mengapa Luca tidak mengatakan apapun? Tampak Quinn menarik nafas panjang. Dia akan mencari tahu nanti.
Quinn turun dari mobilnya ketika dia sudah sampai di area parkiran perusahaan. Wanita itu penuh percaya diri memasuki lobby perusahaan.
__ADS_1
"Ah! Quinn! Ya ampun, kemarilah!" Sherly berseru lantang.
Membuat Quinn berjingkat kaget. Wanita itu tersenyum kaku saat Sherly berani berteriak keras di depan umum seperti saat ini. Quinn berjalan sembari menghentakkan kakinya ke lantai.
"Apa yang kau lakukan, Sherly? Kau membuatku malu! Bukankah kau bisa memanggil namaku saja? Kalau mataku ini melihatmu, aku juga pasti akan datang ke sini!" kesal Quinn.
"Aih! Jangan marah, Quinn. Lihat ini! Aku punya sesuatu untukmu!" Sherly memamerkan sebuah buket bunga. Namun, Quinn tidak terlihat tertarik sama sekali.
"Kok tidak ada reaksi apapun? Hei! Ini bunga mahal! Astaga! Seseorang mengirimkan buket bunga untukmu, Quinn!" Sherly berseru lagi.
"Cukup! Astaga! Jangan membuatku malu, Sherly. Memang dari siapa?" Pada akhirnya Quinn pasrah. Dia berpura-pura tertarik pada si pengirim bunga.
Sherly memainkan kedua alisnya bergerak naik turun. "Aku tidak tahu jika siapa orangnya. Tapi lihat dulu pesan yang dia taruh di sini!"
Mata Quinn bergerak mengikuti jari telunjuk Sherly. Quinn syok. Kata-kata yang ada di kartu nama itu malah membuat Quinn bergidik ngeri.
"Nona Quinn, tunggu pertemuan kita."
"Bukankah itu romantis?" ucap Sherly.
"Tidak! Ini terlihat biasa saja!" Quinn membuang buket bunga itu ke tong sampah.
Membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main. Dua resepsionis yang tadinya ikut bersemangat menantikan reaksi Quinn pun ikut syok.
"Apa yang kau lakukan?" jerit Sherly.
__ADS_1
"Jangan percaya pada orang yang belum tentu dekat denganmu, Sherly. Sudah, aku harus bekerja! Pekerjaanku banyak!" Quinn pun pergi meninggalkan lobby perusahaan. Tanpa sadar, jika ada seorang laki-laki tampan tengah mengamati gerak-geriknya.
"Hmm? Di luar dugaan."