
Sherin dan Viana baru saja tiba di kediaman Luca. Kedatangan mereka disambut oleh beberapa pengawal yang berjaga di sana. Karena sebelumnya Viana tidak memberitahu Tiffany kalau dia akan datang, jadi wanita paruh baya itu tidak menyambut kedatangan mereka di depan pintu utama.
"Selamat siang, Nyonya," sapa salah satu pengawal yang memang sudah sangat kenal dengan Viana. Pengawal itu menunduk hormat sebelum mengukir senyuman ramah.
"Apakah Tiffany ada di dalam?" tanya Viana sambil berjalan menuju ke arah pintu utama.
"Nyonya dan Tuan ada di rumah. Begitupun dengan Nona Quinn," jawab pengawal itu apa adanya. Dia yang membukakan pintu utama untuk memberi jalan kepada Viana dan Sharin untuk masuk ke dalam.
Sharin tidak langsung masuk. Wanita itu berhenti dan memperhatikan pemandangan sekitar. "Semalam saat pesta berlangsung aku tidak ada lewat dari pintu ini. Aku langsung masuk dari pintu samping karena beberapa penjaga mengarahkanku untuk masuk melalui pintu itu. Tidak aku sangka di depan pintu utama ini ada pemandangan yang begitu indah. Rumah Quinn benar-benar besar ya Tante," puji Sherin. "Terakhir kali ke sini, rumah ini belum sebesar ini."
"Rumah yang sekarang kau tempati juga besar Sherin. Kau harus selalu mensyukuri apa yang kau miliki," ucap Viana memperingati. "Ayo masuk." Mereka berdua masuk ke dalam dan berjalan cepat menuju ke lokasi tempat Tiffany berada saat ini.
Tiffany dan Quinn yang tadinya asik mengobrol langsung terdiam ketika melihat kemunculan Viana dan Sherin. Mereka berdua sama-sama beranjak dari sofa untuk menyambut kedatangan tamu mereka.
"Viana, kenapa kau tidak memberitahuku kalau akan datang siang ini. Aku bisa menyiapkan makan siang untuk kita semua," protes Tiffany. Wanita itu memeluk Viana sejenak sebelum memandang ke arah Sherin. "Sherin, kau sudah dewasa sekarang. Wajahmu semakin cantik. Tapi kenapa kau memotong rambutmu?"
"Saya tidak suka dengan rambut panjang, Tante," jawab Sherin sambil tersenyum malu-malu.
"Sherin. Ayo kita ke sana. Kebetulan sekali kau datang. Aku ingin meminta pendapatmu." Quinn segera menarik Sherin agar duduk bersama dengannya.
Sebelum duduk Sherin memandang ke arah Dimitri yang kini terlihat sangat cuek dengan kondisi di sana. Melihat kehadiran Dimitri di sana membuat Sherin kembali ingat dengan Joa. Dia tidak mau bertemu dengan pria tangguh itu lagi.
"Lihatlah. Menurutmu bunga mana yang bagus? Bukankah semua terlihat indah. Dekorasinya juga terlihat begitu menawan," tanya Quinn sambil menunjuk beberapa contoh bunga yang ada di katalog.
"Aku lebih suka yang ini. Tapi Quinn, ini adalah pesta pernikahanmu. Seharusnya kau sendiri yang menentukan bunga mana yang paling cocok dengan tema pernikahanmu," protes Sherin.
Quinn melebarkan kedua matanya. "Sherin, ternyata selera kita sama. Yadi aku juga sudah bilang sama Mommy kalau aku lebih suka dengan bunga yang ini," ucap Quinn dengan wajah yang bahagia.
"Benarkah?" tanya Sherin tidak percaya.
"Mbak, aku mau bunga yang ini ya." Quinn menunjuk bunga pilihannya. "Sherin, apa hari ini kau sibuk?"
"Jika aku sibuk aku tidak akan mungkin ada di sini," jawab wanita itu sambil membuka beberapa katalog yang ada di meja.
"Sherin, malam ini kau harus tidur di sini. Aku tidak mau menerima alasan apapun lagi. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu." Quinn memandang ke arah Viana. "Tante, jika nanti tante ingin pulang, pulang saja sendiri. Malam ini Sherin akan tidur bersamaku. Kapan lagi aku bisa tidur bareng Sherin."
Viana mengukir senyum. "Semua tergantung Sherin. Tante tidak pernah melarangnya untuk tidur di manapun. Selama tempat itu aman dan nyaman Tante akan selalu mendukungnya," jawab Viana. Dia kembali mengobrol dengan Tiffany.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu," tanya Sherin dengan nada berbisik.
"Ada apa? Kenapa kedengarannya serius sekali?" Quinn mengernyitkan dahi sambil memandang ke arah Sherin dengan begitu serius.
"Pria yang bernama Joa itu apa dia ada di sini juga? Jika dia juga ada di rumah ini aku tidak mau tidur di sini. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi," sahut Sherin. Masih dengan nada yang cukup pelan agar orang lain tidak mendengarnya.
Quinn menyipitkan kedua matanya. "Kenapa kau benci kali dengan Joa? Sherin, sebaiknya kau jangan terlalu membenci seseorang nanti kau bisa jatuh cinta padanya." Quinn kembali ingat dengan dirinya sendiri. Waktu itu dia juga sangat membenci Dimitri. Tetapi sekarang dia justru akan menikah dengan pria yang dibencinya itu.
"Itu tidak akan mungkin pernah terjadi!" jawab Sherin dengan penuh keyakinan. Sherin meletakkan katalog yang tadi sempat ia genggam. "Ini sangat membosankan. Apa bisa kita melakukan sesuatu yang menyenangkan?"
"Apa?" Quinn juga meletakkan katalog yang dia pegang.
"Menembak misalnya. Quinn, Ayo kita latihan menembak. Kemampuan menembakku sangat payah. Aku butuh banyak belajar darimu," ajak Sherin dengan sedikit paksaan.
__ADS_1
"Sebenarnya aku juga tidak terlalu jago dalam menembak. Tetapi jika kau ingin menembak, ayo kita ke halaman belakang."
Quinn beranjak dari sofa. Begitupun dengan Sherin. Dimitri langsung memandang ke arah Quinn ketika melihat kekasihnya itu beranjak dari tempat duduknya dan ingin pergi dari sana.
"Kau mau ke mana?" tanya Dimitri.
"Aku dan Sherin akan pergi ke halaman belakang. Kami ingin latihan menembak. Apakah kau mau ikut?" tawar Quinn.
"Kenapa harus mengajak Dimitri juga? Jika kalian berduaan lalu aku dengan siapa nanti?" protes Sherin tidak setuju.
Quinn langsung tertawa mendengarnya. "Maaf maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Sayang, sebaiknya kau di sini saja temani Daddy mengobrol. Aku dan Sherin ingin membicarakan banyak hal. Ini urusan wanita." Quinn mengedipkan sebelah matanya sebagai kode agar Dimitri tidak protes lagi dan memaksakan diri untuk ikut dengan mereka. Pria tangguh itu hanya menjawab dengan anggukan saja. Meskipun dia tidak rela ditinggal tetapi mau tidak mau ia harus tetap berada di sana bersama dengan Luca.
Quinn dan Sherin pun segera pergi menuju ke halaman belakang. Beberapa pengawal yang tadinya berjaga di sana mengikuti Quinn dan Sherin untuk menjaga dua wanita itu dari bahaya.
"Ada beberapa hal yang harus Daddy bereskan. Apa kau tidak marah jika Daddy tinggal sendirian di sini?" tanya Luca. Pria paruh baya itu beranjak dari sofa yang sejak tadi ia duduki. Dia juga merasa sangat lelah karena sejak tadi hanya duduk di situ saja tanpa melakukan hal lain lagi.
"Baiklah, Dad. Aku juga ingin menghubungi Joa."
Dimitri segera mengambil ponselnya lalu pergi menuju ke pintu utama. Pria itu menekan nomor Joa untuk meminta Joa segera datang ke sana.
...***...
DUARRR DUARRR
"Good job!" puji Quinn. "Sherin, itu awal yang sangat bagus. Berlatihlah lebih sering lagi maka kau pasti bisa menembak tepat sasaran."
"Quinn perlihatkan kemampuanmu. Jangan pintarnya memuji orang lain saja!" Sherin segera memberikan senjata api yang tadi ia gunakan untuk menembak apel yang ada di depan. Wanita itu lalu melipat kedua tangannya dan memandang ke depan. Ia ingin melihat bagaimana cara Quinn menembak buah apel yang sudah disediakan di sana.
"Kau payah! Tadinya aku pikir kau bisa menjadi guruku ternyata ilmuku lebih hebat darimu," ucap Sherin menyombongkan diri.
Quinn memajukan bibirnya lalu memasukkan peluru ke dalam pistol itu lagi. Ternyata ia ingin mencoba untuk yang kedua kalinya dan bertekad untuk tidak gagal lagi.
"Quinn, menyerahlah. Jangan memaksakan dirimu seperti itu!" ledek Sherin sambil tertawa.
DUARRR
Apel yang sudah disusun rapi di atas meja terpental jauh. Hal itu membuat Sherin langsung terdiam. Berbeda dengan Quinn yang langsung lompat kegirangan.
"Yeee! Sherin, kau kalah. Lihatlah sekarang siapa yang paling hebat di antara kita." Kini gantian Quinn yang menyombongkan diri.
"Hmmm, baiklah. Kau yang paling hebat!" ketus Sherin. Wanita itu merebut pistol yang ada di genggaman tangan Quinn lalu membidik apel lainnya. Kali ini dia bertekad untuk menembak tepat sasaran agar tidak diledek oleh Quinn lagi.
"Sayang."
Quinn dan Sheri sama-sama memandang ke belakang ketika mendengar suara Dimitri tidak jauh dari posisi mereka berada. Berbeda dengan Quinn yang kini tersenyum melihat kekasihnya muncul. Sherin berubah menjadi tidak bersemangat ketika melihat Joa berdiri di samping Dimitri.
"Ada apa?" tanya Quinn sambil berjalan mendekati Dimitri.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu," jawab pria tangguh itu.
Quinn memandang ke arah Sherin. "Sebentar ya. Aku pasti akan segera kembali."
__ADS_1
Sherin memutar tubuhnya tanpa menjawab perkataan Quinn. Wanita itu kembali membidik apel yang ada di depan dan mengeluarkan sebuah tembakan.
Lagi-lagi hasilnya sama. Tembakan Sherin meleset. Wanita itu terlihat kesal. Ditambah lagi kini ada Joa di sana yang menonton langsung kegagalannya.
"Dari cara memegang senjatanya saja sudah salah. Bagaimana menembaknya mau benar," ucap Joa.
"Siapa yang mengizinkanmu bicara? Lebih baik diam saja karena kau sama sekali tidak dibutuhkan di sini!" ketus Sherin. Wanita itu kembali membidik apel yang tadi gagal ia tembak. Saat ingin menarik pelatuk senjata apinya, tiba-tiba Joa memegang tangan Sherin. Dia mengarahkan wanita itu cara membidik yang benar.
Tidak lama setelahnya Joa meminta Sherin untuk segera menembak. "Sekarang!" perintahnya.
DUARRRR
kali ini tembakan Sherin tepat sasaran. Apel yang tadi dia bidik kini terpental jauh sama seperti yang dilakukan oleh Quinn yadi. Sherin memandang wajah Joa yang kini sangat dekat dengannya. Wanita itu sebenarnya ingin marah tetapi kini Joa sudah berjasa padanya.
"Terima kasih," ucap Sherin.
Joa segera melepas tangan Sherin dan merapikan jasnya. Pria itu sendiri tidak sadar kenapa tiba-tiba ia mau membantu Sherin seperti tadi. "Sekarang coba lakukan sendiri seperti yang tadi aku ajarkan. Jangan sampai salah lagi karena itu akan terlihat sangat memalukan."
Sherin kembali kesal ketika mendengar perkataan Joa. Wanita itu kembali membidik lalu menembak. Karena lagi-lagi tembakan Sherin tepat sasaran, wanita itu bersorak kegirangan sambil melompat.
"Yeee! Aku berhasil. Quinn, lihatlah. Sekarang aku sudah menjadi penembak yang handal!" teriak Sherin.
Joa memandang tingkah laku Sherin yang begitu konyol. Namun entah kenapa tiba-tiba saja pria itu tersenyum melihatnya.
"Kelihatannya ada yang sudah berdamai nih," ledek Quinn yang saat itu muncul bersama dengan Dimitri.
"Apaan sih. Siapa juga yang bermusuhan," sahut Sherin. Wanita itu menatap ke arah Joa sekilas sebelum tersenyum lagi.
"Kalau pemandangannya seperti ini kan, enak dilihat." Quinn memandang ke arah Joa. "Joa tolong jaga Dimitri. Jika ia melakukan sesuatu yang ceroboh segera hubungi aku."
"Baik Nona," jawab Joa sambil menunduk hormat.
"Apa sekarang kau mengambil pengawal setiaku sayang? Lihatlah dia lebih patuh dengan perkataanmu daripada perintahku," bisik Dimitri di telinga Quinn.
"Nanti setelah kita menikah semua orang yang selama ini patuh denganmu akan lebih patuh denganku. Jadi persiapkan dirimu dari sekarang!" jawab Quinn.
"Baiklah, Nona cantik. Aku pergi dulu." Dimitri mendaratkan kecupan cinta dipucuk kepala Quinn. "Nanti aku akan segera menghubungimu jika sudah sampai."
Quinn hanya mengangguk sebelum melambaikan tangannya. Meskipun sedih karena harus berjauhan dengan Dimitri. Tetapi wanita itu juga harus memberikan kebebasan kepada Dimitri.
"Mereka mau pergi ke mana?" tanya Sherin ketika Dimitri dan Joa sudah jauh.
"Ke luar kota ada urusan bisnis." Quinn memandang ke arah Sherin lalu tepuk tangan. "Selamat Sherin kau sekarang sudah menjadi penembak handal. Apa itu berkat bantuan Joa?"
"Tentu saja tidak. Aku ini memang sangat berbakat. Tadi pria itu hanya mencari kesempatan dalam kesempitan. Sebenarnya dia tidak berniat untuk mengajariku menembak dia hanya ingin dekat-dekat denganku saja," ucap Sherin dengan penuh percaya diri.
"benarkah?" tanya Quinn tidak percaya.
"Ayolah. Jangan bahas soal itu lagi. Sekarang ayo kita tembak lagi apel yang tersisa!"
"Baiklah!" jawab Quinn.
__ADS_1