
"Bagaimana?" Dimitri baru saja menjejakkan kakinya di salah satu tempat tersembunyi di hutan belantara.
Di sana ada beberapa anak buahnya yang sudah lebih dulu mencapai lokasi tempat musuh berada. Sebenarnya anak buah Dimitri sudah mengikuti musuh sejak meninggalkan rumah sakit.
Dimitri sudah memberikan perintah kepada Joa supaya mengurus sisa kekacauan yang ada di rumah sakit. Sedangkan Dimitri memberikan perintah kepada kaki tangannya yang lain untuk mengikuti jejak pria misterius itu.
Dan di sinilah Dimitri saat ini. Di mana Dimitri bersiap menyerang musuh yang sudah membuat Quinn terluka. Rupanya jumlah mereka tidaklah banyak. Kemungkinan mereka memiliki markas lainnya.
"Semuanya sudah siap, Tuan Dimitri. Saya sudah menyiapkan segalanya untuk anda menyerang. Sekarang tinggal menunggu perintah dari Anda selanjutnya," ucap Robin. Robin memberikan senjata api berjenis laras panjang dengan peredam suara kepada Dimitri.
Tentu saja Dimitri menerimanya. Pria itu berjalan mendekati tempat yang dapat melihat dengan jelas keadaan musuh. Di tempat itu memang banyak penjagaan seperti dugaannya. Dimitri menarik bibirnya sehingga membentuk lengkungan ketika kedua matanya menangkap kedatangan pria misterius tadi. Namun, Dimitri terkejut ketika menyadari identitas pria misterius itu.
"Logo yang ada di senjata api para penjaga itu sepertinya cukup familiar. Di mana Aku biasanya lihatnya?" Dimitri mengingat ciri-ciri yang pernah ia lihat sebelumnya.
Di sampingnya sudah ada Robin. Kaki tangan Dimitri itu memang akan selalu menempel kepadanya ketika sedang menjalankan misi bersama.
"Robin, sepertinya kita sering melihat logo yang ada di mobil itu dan juga senjata api mereka. Menurutmu kita pernah melihat ciri-ciri itu semua di mana?" Dimitri bertanya kepada Robin.
Pria yang saat ini tengah menggenggam bom untuk menghancurkan markas musuh tersebut lantas menyipitkan kedua matanya. Robin ingin melihat dengan jelas siapa musuh yang sedang mereka hadapi.
"Saya pikir kita pernah bertemu dengan mereka saat mengikuti acara serikat mafia. Jika saya tidak salah ingat, kita pernah mendapatkan penawaran dari mereka bukan? Sebuah bisnis obat terlarang dengan keuntungan yang cukup menjanjikan. Sedangkan kita tidak menjalankan bisnis tersebut. Penyelundupan senjata api ataupun bahan peledak jauh lebih mumpuni dibandingkan dengan menjual obat terlarang. Walaupun sama-sama bergerak secara ilegal." Penjelasan dari Robin membuat Dimitri tersentak.
__ADS_1
Jika di gabungkan itu artinya memang benar mereka memiliki berbagai macam obat dengan manfaat berbeda. Seperti racun yang diberikan kepada Quinn. Kedua tangan Dimitri terkepal erat. Pria itu mendadak diliputi oleh amarah.
"Hancurkan tanpa tersisa sedikitpun!" titah Dimitri.
"Apakah anda tidak ingin mencari tahu lebih lanjut tentang racun dan penawarnya?" Robin berpikir jika apa yang mereka miliki mungkin bisa mereka manfaatkan untuk ditukar dengan uang.
Namun tatapan mata dari Dimitri itu membuat Robin menciut. Pria itu meneguk ludahnya sendiri lantaran Dimitri cukup menyeramkan.
"Baiklah! Perintah diubah. Kalian hanya perlu melumpuhkan semua penjaga yang ada di sana. Sisakan satu orang tadi untukku. aku harus mengintrogasinya untuk mendapatkan penawar racun." Dimitri membatalkan perintahnya yang sebelumnya.
Kini ia memberikan perintah baru dengan tidak membunuh semua musuh di sana. Sebab Dimitri ingin mencari tahu tentang penawaran untuk Quinn.
"Bunuh semua orang yang ada di sana. Sisakan orang berjubah hitam tadi." Robin mulai berlari sambil melemparkan beberapa gas terkompresi supaya dapat membuat kacau markas musuh itu.
Benar saja dari ledakan-ledakan kecil yang dibuat oleh Robin membuat para musuh itu terkejut dengan serangan mendadak Ini. Mereka terlihat berlari kocar-kacir menyelamatkan diri dan sebagian lainnya membalas serangan yang dilancarkan oleh Robin.
Dari kejauhan Dimitri menembaki semua musuh yang terlihat serta di mana mereka hendak berupaya membunuh anak buahnya. Mata Dimitri dengan awas mengamati keadaan sekitar. Suara riuh itu terus saja terdengar begitu pula para anggota mafia saling membalas serangan.
Tak lama kemudian Dimitri mengambil drone yang sudah disiapkan sebelumnya. Pria itu pun menerbangkannya dan kemudian melihat tangkapan hasil kamera dari drone tersebut di layar monitor. Dimitri mencari sosok yang membawanya menemukan tempat tersebut.
"Akhirnya ketemu!" Dimitri memencet tombol on yang ada di remot. Di mana remot itu sebelumnya dia simpan di saku.
__ADS_1
Gas terkompresi yang ada di drone itu meledak. Bumi pun bergetar. Kemudian Dimitri berlari dan bergabung di antara kerumunan orang-orang yang bertarung. Sesekali Dimitri melompati korban yang tergeletak di atas tanah. Terkadang Dimitri juga bertarung melawan musuh yang dilewatinya.
"Argh! Si*l! Siapa yang menyerangku? Apakah Luca si*lan itu? Bagaimana bisa dia bergerak secepat ini? Sedangkan putrinya saja sedang sekarat!" gerutu pria misterius itu.
"Ho. Tuan Zero! Lama tidak berjumpa. Apakah Anda mengingat saya?" Dimitri kini berjalan dengan tenang menuju ke arah pria yang ia panggil Zero.
"Hah? Tuan Dimitri? Kau yang menyerangku? Mengapa? Bukankah kita tidak memiliki masalah apapun?" Zero berusaha untuk berdiri.
Susah payah dia berdiri sebab tangannya terluka parah. Dimitri menyeringai begitu melihat luka di tangan Zero. Mungkin tangan itu akan cacat seumur hidup.
"Siapa yang bilang kita tidak memiliki masalah?" balas Dimitri.
"Apa? Tapi, seingatku memang kita tidak memiliki masalah apapun. Hanya kerjasama yang Anda tolak. Tapi, walaupun aku sakit hati atas penolakan itu aku juga tetap tidak mengusikmu. Sekarang mengapa kau menyerangku?" Zero meringis kesakitan sambil memegangi tangannya.
"Karena kau sudah membuat calon istriku terluka! Tentu saja kau harus mati!" Dimitri mulai menyokong senjata.
"Apa? Siapa calon istrimu?" Tampak Zero terkejut. Dia bahkan sampai mengabaikan rasa sakit pada tangan kanannya.
"Quinn!"
"Hah? Ti-tidak mungkin!"
__ADS_1