My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 41 Hadiah


__ADS_3

"Apa ini?"


Quinn mengernyitkan dahi ketika Dimitri menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam di hadapannya. Seperti kotak perhiasan, tetapi ini ukurannya lebih besar.


"Buka saja. Nanti kau akan tahu apa isi didalamnya." Dimitri sudah tidak sabar melihat ekspresi Quinn ketika melihat isi di dalam kotak tersebut.


"Baiklah." Quinn segera membuka kotak tersebut. Betapa kagetnya dia ketika melihat berlian di dalamnya. "Apa ini?"


"Berlian," jawab Dimitri dengan santai.


"Maksudku, untuk apa?" Quinn menutup kotak itu dan mendorongnya ke hadapan Dimitri. "Aku tidak bisa menerima hadiah mahal seperti ini."


"Kalau begitu pulangkan saja ke pulau." Dimitri terlihat sangat tenang siang itu. Dia meneguk minuman dingin pesanannya sambil menikmati wajah cantik Quinn yang tidak pernah membosankan.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Berlian ini hadiah yang diberikan oleh penduduk pulau. Mereka menyuruhku untuk memberikan separuhnya kepadamu."


Quinn tertawa mendengarnya. Jelas saja dia tidak percaya karena dari apa yang dilihat oleh Quinn, penduduk pulau itu orang-orang yang kesulitan dalam hal ekonomi.


"Kau bercanda? Jangan membodohiku!"


"Sebenarnya aku juga memiliki pemikiran yang sama sepertimu Quinn. Tetapi memang mereka memiliki harta karun. Mereka sengaja menyimpan informasi ini dari semua orang." Dimitri berusaha memberi tahu Quinn apa yang dia tahu.


"Apa itu uang menyebabkan para perompak menyerang pulau? Mereka tahu kalau di pulau itu ada harta yang begitu berharga." Quinn juga meneguk minuman dingin miliknya.


"Lalu kau? Apa yang kau ambil dari pulau itu?" Tatapan Quinn yang penuh selidik membuat Dimitri tidak berani berbohong.


"Ada bahan pembuat senjata di pulau itu yang disembunyikan oleh seseorang. Dia memberi tahu rahasia ini padaku. Selama ini aku ke pulau untuk mengumpulkan semua bahan yang ada di pulau itu," jawab Dimitri apa adanya.


"Sudah ku duga. Kau pasti mengambil keuntungan."

__ADS_1


"Tapi kau salah paham, Quinn. Aku tidak pernah tahu kalau pulau itu di huni oleh penduduk desa. Apa kau tahu bagaimana keadaan mereka saat aku pertama kali tiba di pulau? Mereka semua terlihat sangat menyedihkan. Mereka kelaparan dan seperti orang-orang yang tertinggal. Aku membantu mereka hingga akhirnya mereka bisa dibilang hidup." Dimitri berusaha membela diri. Dia tidak mau sampai Quinn memandangnya sebagai pria jahat yang tidak berguna.


"Kali ini aku percaya dengan semua yang dia katakan. Warga desa itu sangat tulus menyambut kedatangannya. Pasti Dimitri memang berjasa besar bagi mereka sampai-sampai mereka sesayang itu kepadanya," batin Quinn sambil melamun.


"Quinn ... Apa kau mau menerima berlian ini? Sisanya ada di mobil." Dimitri kembali mengingatkan.


"Simpan saja. Aku juga tidak tahu harus disimpan dimana," tolak Quinn.


Dimitri hanya diam saja. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing sambil menikmati pemandangan indah di balik jendela yang ada di dekat tempat duduk mereka. Sampai-sampai Quinn lupa waktu kalau jam istirahat telah berakhir dan sudah waktunya kembali bekerja.


Dimitri melirik jam di pergelangan tangannya. Pria itu mendengus kesal setelahnya. "Quinn, aku harus pergi. Maafkan aku."


Quinn terlihat kecewa. Dia ingin mengobrol dengan Dimitri lebih lama lagi. Namun sebisa mungkin Quinn menguatkan hatinya agar tidak mudah jatuh cinta.


"Baiklah. Aku juga harus kembali bekerja." Quinn melirik jam di pergelangan tangannya sebelum akhirnya kedua matanya melebar. "****!"

__ADS_1


__ADS_2