My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 139 Pulang ke Rumah


__ADS_3

Quinn dan Dimitri baru saja tiba di rumah. Luca dan Tiffany menyambut mereka dengan penuh kebahagiaan. Bukan hanya ada sepasang suami istri itu saja di sana. Viana, Xander dan Sherin juga ada di sana untuk menyambut kepulangan pengantin baru tersebut. Sedangkan Malvin dan Nichole tidak terlihat karena mereka harus ke sekolah.


"Sayang, kau terlihat sedikit pucat. Apa Dimitri selalu memaksamu? Apa dia tidak mengizinkanmu untuk istirahat?" tanya Tiffany tanpa peduli dengan hadirnya Dimitri di sana. Yang dipikirkan wanita paruh baya itu hanya kesehatan putrinya sendiri.


Luca yang mendengar pertanyaan Tiffany segera menyenggol lengan istrinya karena malu. Pria itu juga segera angkat bicara agar masalah yang baru saja dibahas oleh Tiffany tidak semakin besar. Dia bisa mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Dimitri dan yang lainnya saat ini setelah mendengar pertanyaan dari Tiffany.


"Dimitri, bagaimana bulan madu kalian? Apa kalian tidak mau bulan madu lagi? ke gunung misalnya," tawar Luca. "Ada banyak tempat wisata yang harus kalian berdua kunjungi."


"Sayang, anak dan menantu kita baru saja tiba di rumah tetapi kau ingin mengusir mereka pergi lagi. Apakah kau tidak kasihan padaku? Aku ini merasa sangat kesepian karena harus berpisah dari putriku," protes Tiffany. "Bahkan rasa rindunya belum hilang tetapi kau sudah meminta mereka untuk liburan lagi."


"Mommy, Mommy jangan bicara seperti itu. Bukankah nantinya aku juga akan pergi dari rumah ini karena akan tinggal di rumah kami yang baru. Mommy harus tahu satu hal. Meskipun kita tidak tinggal di atap yang sama, tetapi sampai kapanpun kita akan tetap menjadi ibu dan anak. Aku akan selalu menyayangi Mommy," ucap Quinn.

__ADS_1


"Ya, sayang. Mommy tahu soal itu. Tetapi untuk beberapa hari ke depan lebih baik kalian tetap tinggal di rumah ini. Mommy masih belum siap untuk berpisah denganmu," tawar Tiffany berharap putrinya setuju. Wanita itu melirik ke arah Dimitri sejenak sebelum memandang Quinn lagi.


"Mommy, ayo kita masuk. Tidak baik jika kita bicara di depan rumah seperti ini." Quinn segera memaksa Tiffany untuk masuk ke dalam.


Viana, Xander dan Sherin hanya tersenyum saja melihat keluarga yang ada di depan mereka. Tidak mau ketinggalan, mereka bertiga juga masuk ke dalam mengikuti Luca dan Dimitri.


"Dad, sebenarnya kami akan pulang ke rumah hari ini juga," ucap Dimitri dengan nada yang sangat pelan agar Tiffany tidak mendengarnya. Dimitri tahu dibandingkan dengan ibu mertuanya Ayah mertuanya jauh lebih pengertian dan lebih memahami dirinya.


"Sssttt. Tenang saja. Nanti Daddy akan membantu kalian untuk menjelaskannya kepada Mommy. Lebih baik sekarang turuti saja apa yang diinginkan oleh Mommy. Mommy sudah memasak makanan yang begitu banyak. Jadi Daddy sarankan agar kalian segera menghabiskan makanan itu," jawab Luca dengan nada yang berbisik juga.


"Tidak ada. Robin memang bisa diandalkan dalam memimpin perusahaan. Berbeda dengan Joa," jawab Xander apa adanya.

__ADS_1


"Ada apa dengan Joa? Bukankah dia juga bisa menguasai perusahaan. Buktinya saja rapat yang pernah ia pimpin berjalan dengan sukses dan memberi keuntungan yang banyak bagi perusahaan. Asal kau tahu saja, itu adalah rapat pertama Joa. Tetapi dia sudah pintar melakukan negosiasi dengan klien," puji Dimitri dengan penuh rasa bangga. Pria itu sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya yang menguasai rapat saat itu adalah Sherin bukan Joa.


"Mungkin itu hanya satu keberuntungan saja karena kedepannya justru kualitas Joa sama sekali tidak bisa diharapkan. Dia hanya hebat di lapangan saja terutama di medan perang. Jika berurusan dengan bisnis Joa sangat-sangat lemah dan memalukan," sahut Xander. Pria itu hanya bicara sesuai dengan apa yang ia lihat.


Dimitri menahan langkah kakinya. "Xander, kenapa kau kelihatannya sangat membenci Joa. Apa karena Joa dan Sherin pernah pergi bersama?"


"Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian itu. Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat. Dimitri, bukankah kita ini adalah sahabat. Bahkan kita sudah seperti saudara kandung. Jadi tidak ada salahnya aku mengatakan yang jujur meskipun terdengar sangat menyakitkan." Xander menatap Dimitri dengan serius.


Sherin yang merasa tidak enak melihat ekspresi Dimitri dan Xander siang itu memilih untuk memaksa Xander ke meja makan. Dia juga tidak mau sampai ketahuan kalau waktu itu dialah yang sudah membantu Joa di ruang rapat.


"Kakak, sebenarnya apa sih yang kakak bicarakan? Sekarang ayo kita ke meja makan. Aku sudah sangat lapar. Mama juga sudah bergabung dengan Tante Tiffany dan yang lainnya. Hanya kita bertiga yang ketinggalan di sini," bujuk Sherin sembari menarik lengan Xander.

__ADS_1


Xander menepuk pelan pundak Dimitri. "Sifatmu masih tidak berubah meskipun kau sudah menikah. Lebih baik hilangkan sifat egoismu itu. Jika memang tidak baik untuk apa dikatakan baik. Bukannya aku membenci Joa, tetapi aku hanya ingin kau tidak lagi memaksa Joa untuk berada di perusahaan karena bukan itu keahliannya. Aku harap kau mengerti dan tidak salah paham lagi." Xander segera melangkah menuju ke meja makan ditemani oleh Sherin. Sedangkan Dimitri masih berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang dasar.


"Biasanya dia tidak pernah ikut campur dan mengatur ku seperti ini. Apa memang seburuk itu kualitas Joa di perusahaan?"


__ADS_2