
Quinn merasa seperti sedang tidur di kamarnya. Wanita itu membuka mata secara perlahan. Ada senyum manis di bibirnya. Dia bahkan masih belum sadar akan kondisinya saat ini. Wanita itu memandang Dimitri dengan tatapan yang bingung.
"Sayang, kau sudah bangun? Terima kasih karena kau sudah mau membuka matamu lagi," ucap Dimitri dengan kedua mata berkaca-kaca. Dia segera mencium pucuk kepala Quinn dengan perasaan yang sangat-sangat bahagia.
"Sayang, kenapa kau menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?" Quinn meraba perutnya yang sudah rata. Ekspresi wajah wanita itu langsung berubah panik. "Di mana anakku?"
"Tenang Sayang. Anak kita baik-baik saja," jawab Dimitri dengan nada yang sangat lembut. Pria itu mengusap pipi Quinn dengan penuh cinta. "Terima kasih sayang. Terima kasih karena kau sudah mau berjuang untuk tetap hidup dan berada di sisiku. Terima kasih." Dimitri sampai tidak tahu mau bicara apa lagi.
"Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sekarang terjadi." Quinn baru menyadari kalau kini dia tidak berada di dalam kamar tidurnya. "Ada di mana ini? Kenapa aku bisa ada di sini?"
"Fei, kenapa Quinn linglung seperti itu? Apa itu reaksi normal karena dia baru saja bangun dari koma?" tanya Xander penasaran. Karena memang sikap Quinn sangat jauh berbeda dari biasanya.
Kini semua orang sudah berkumpul di dalam ruangan tempat Quinn dirawat. Hanya saja mereka tidak berani dekat-dekat dengan Quinn. Mereka memberikan ruang kepada Dimitri untuk bicara dengan istrinya. Jika nanti waktunya sudah tepat mereka akan mendekat.
"Ya, itu reaksi normal. Kalian tidak perlu mengkhawatirkannya. Tidak lama lagi juga Quinn akan mengingat semua yang telah terjadi," jawab Dokter Fei dengan begitu santai. Pria itu bahkan tidak mau segera memeriksa keadaan Quinn karena ingin memberi kesempatan kepada Dimitri dan Quinn bersama.
"Akhirnya Quinn sadar juga. Semua orang menjadi sangat bahagia. Syukurlah," batin Audy dengan senyum bahagia.
Joa memandang ke arah Sherin. Dia membisikkan sesuatu di telinga istrinya dan memberi amplop cokelat. Setelah mendengar bisikan dari Joa, Sherin segera mendekati Audy.
"Kak, ayo kita keluar. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan." Sherin memandang ke arah Xander dan mengajak pria itu untuk keluar juga. Yang tersisa di ruangan itu hanya dokter Fei bersama dengan Dimitri dan juga Quinn.
Setibanya di depan ruangan Audy terlihat bingung karena saat itu ekspresi Sherin terlihat sangat mencurigakan. "Sherin, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Debaran jantung Audy menjadi tidak karuan.
"Kak, ada hal penting yang sejak kemarin ingin kami sampaikan kepada Kak Audy. Tapi kami merasa waktunya tidak tepat karena Quinn koma. Tapi sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan informasi penting ini kepada Kak Audy," ucap Sherin sembari mengeluarkan berkas dari amplop berwarna coklat. "Kakak bisa baca laporan ini. Itu merupakan hasil tes DNA antara kakak Audy dan juga Leonzio."
"Tes DNA? Tapi untuk apa kalian melakukan tes DNA? Kenapa aku tidak mengetahuinya?" Audy segera membaca hasil tes DNA itu dengan seksama. Betapa kagetnya Audy ketika hasil tes DNA itu menunjukkan kalau dia dan Leonzio adalah saudara kandung.
"Ini tidak mungkin," sangkal Audy dengan wajah yang tidak percaya.
"Ya, awalnya kami juga tidak percaya begitu saja hingga akhirnya kami melakukan penyelidikan ulang. Seperti yang Kak Audy lihat, hasil tes DNA itu tidak mungkin bohong." Sherin kembali memperjelas hasil tes DNA tersebut.
"Tapi aku juga sudah melakukan tes DNA saat di Roma. Aku lihat hasil tes DNA itu menunjukkan kalau aku dan Kak Leonzio bukan saudara kandung." Audy kembali menceritakan situasi saat di Roma. "Semua bukti menunjukkan dengan jelas kalau aku telah di tukar dengan adik kandung Kak Leonzio."
"Seseorang sengaja merencanakannya. Kami sendiri juga tidak tahu siapa dalang dari semua. Tapi kami sudah berhasil menangkap wanita yang telah menyebarkan informasi palsu tersebut. Kak Audy bisa menemuinya dan bertanya langsung sebenarnya apa tujuan dia melakukan semua ini." Sherin memegang tangan Audy. "Sepertinya Kak Audy dan Kak Xander harus kembali ke Roma untuk menemui Leonzio dan memberitahu informasi yang sebenarnya. Dia harus tahu kalau Kak Audy adalah adik kandungnya agar dia berhenti mencari seseorang yang sebenarnya tidak ada di dunia ini."
__ADS_1
Audy diam sejenak. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana saat ini. Wajahnya terlihat bingung.
"Tapi Kak Leonzio tidak mungkin percaya padaku. Dia pasti berpikir kalau kita semua sengaja merekayasa informasi ini. Dia pria yang sangat keras kepala. Jika memang benar aku dan Kak Leonzio adalah saudara kandung, biarlah aku saja yang mengetahuinya. Setidaknya aku bisa bernapas lega karena aku adalah adik kandung dari pria yang selama ini aku panggil kakak."
Audy sengaja mengambil keputusan seperti itu karena ia tidak mau memunculkan masalah baru. Audy hanya ingin pernikahannya berjalan dengan tenang. Dia tidak tahu seperti apa reaksi Leonzio ketika nanti mereka menemuinya.
"Baiklah jika memang itu keputusan Kak Audy, Kami juga tidak bisa memaksa. Kak Audy juga harus tahu satu hal kalau Aldo sudah mengetahui semua ini namun ia merahasiakannya," ujar Sherin lagi.
"Aldo sudah mengetahuinya?" Audy sangat kaget mendengarnya. Namun dalam sekejap ekspresi wanita itu tampak berubah. "Tapi sekarang Aldo sudah tewas. Itu memang hukuman yang pantas ia terima."
Dokter Fei keluar dari ruangan Quinn. Pria itu berhenti di antara mereka. "Kalian ini sebenarnya ingin menemui Quinn atau tidak? Kenapa kalian tidak masuk ke dalam? Ayo sekarang temui Quinn dan ajak dia bicara agar dia tidak lupa sama kalian semua," ujar Dokter Fei kesal.
"Lalu Anda mau ke mana, Dok?" tanya Audy penasaran.
"Saya ingin mengambil bos kecil dan menunjukkannya di depan Quinn. Kasihan sekali bos kecil kami karena sampai detik ini dia belum memiliki nama," jawab Dokter Fei sebelum pergi menuju ke lorong yang akan menghubungkannya ke ruangan bayi.
"Aku akan menemani Dokter Fei mengambil bos kecil," ucap Joa. Pria itu lalu berjalan mengikuti dokter Fei dari belakang.
...***...
Quinn memejamkan mata ketika Dimitri mengusap rambutnya dengan lembut. Wanita itu rasanya ingin tidur lagi namun ia sudah tidak mengantuk. Jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. Suasana di ruangan itu terasa sangat tenang.
"Quinn, akhirnya kau bangun juga. Kau membuatku khawatir!" protes Sherin wanita itu segera memeluk Quinn dengan erat.
Sedangkan Dimitri melangkah mundur dan memberikan ruang kepada yang lainnya untuk mengobrol dengan Quinn. Kini pria itu sudah tidak sedih lagi. Ada senyuman manis yang terus melekat di bibirnya.
"Aku juga tidak menyangka bisa sampai koma seperti ini. Awalnya aku tidak percaya ketika Dimitri bilang kalau aku sudah koma selama 1 minggu setelah operasi. Tapi setelah dokter Fei menjelaskan aku baru bisa percaya," jawab Quinn. "Oh iya bukan Kah tadi Dimitri juga bilang kalau hari ini adalah pesta pertunangan Xander dan juga Audy? Maafkan aku karena tidak bisa datang ke pesta pertunangan kalian." Quinn merasa sangat bersalah.
Audy memandang ke arah Xander sejenak sebelum memberanikan diri untuk mendekati Quinn. "Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu Quinn. Pesta pertunangan kami berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Dua minggu lagi kami berdua akan menikah. Kau harus sudah benar-benar pulih saat itu. Kau harus hadir di acara pernikahan kami," ucap Audy sambil tersenyum ramah.
"Tentu saja aku pasti akan hadir. Besok juga aku sudah sehat dan pasti sudah diperbolehkan untuk pulang," ucap Quinn dengan penuh keyakinan.
"Dokter Fei bilang kau harus berada di rumah sakit ini selama beberapa hari. Jika kondisimu sudah benar-benar pulih kau baru diperbolehkan untuk pulang," sahut Dimitri. Jika sudah berhubungan dengan kesehatan Quinn pria itu tidak mau ada tawar-menawar lagi.
"Lihatlah dia tiba-tiba saja berubah menjadi pria yang sangat cerewet. Sherin, apakah kau tahu apa yang dilakukan Dimitri selama satu minggu ini ketika aku koma. Apa dia bersenang-senang dan berpesta karena tidak ada lagi yang memarahinya," ucap Quinn sambil tertawa. Sebenarnya Ia hanya bercanda saja mengatakan kalimat sekejam itu.
__ADS_1
"Dimitri adalah pria yang sangat mencintaimu Quinn. Dia tidak mau makan, tidak mau minum dan tidak juga mau tidur selama kau koma. Kami terus memaksanya agar Ia tetap menjaga kesehatannya," jawab Sherin dengan ekspresi wajah yang serius.
Quinn menjadi sedih mendengar cerita Sherin. "Kenapa kau harus menyiksa dirimu seperti itu?" tanya Quinn kepada Dimitri.
"Karena aku tidak mau kehilangan dirimu. Aku tidak mau hidup jika kau tidak ada lagi di dunia ini," jawab Dimitri dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.
"Quinn, apakah kau sudah menyiapkan nama untuk anakmu? Dia bayi laki-laki yang sangat tampan dan menggemaskan. Jika diberi kesempatan aku juga mau memiliki anak setampan itu," ucap Sherin memecah suasana haru di sana.
"Oh iya aku sampai lupa. Di mana putraku? Kenapa dokter Fei tidak juga muncul?" protes Quinn.
Pintu ruangan kembali terbuka. Dokter Fei mendorong box bayi masuk ke dalam. Di sampingnya ada Joa yang mengawasi dengan begitu ketat.
"Bos kecil telah tiba," ujar Dokter Fei dengan penuh kegirangan.
"Apa dia anak kita?" tanya Quinn untuk kembali memastikan.
Dimitri hanya mengangguk saja. Pria itu memandang ke arah bayi mungil yang kini sudah bangun. Bayi mungil yang belum diberi nama itu tersenyum manis ketika melihat wajah Dimitri.
"Bahkan dia tahu kalau kau adalah Ayah kandungnya," ucap dokter Fei. Pria itu mengangkat bayi mungil tersebut dan memberikannya kepada Quinn.
Dengan hati-hati Quinn menerima bayi tersebut ke dalam gendongannya. Dia segera menciumnya dengan mata berkaca-kaca. "Dia putraku. Terima kasih sayang karena kau sudah lahir dengan selamat."
Sherin dan Audy segera menjauh. Mereka ingin memberikan ruang kepada Dimitri untuk duduk di dekat Quinn dan anak mereka.
"Siapa namanya?" tanya Quinn sambil memandang ke arah Dimitri. Dia berpikir kalau suaminya sudah menyiapkan nama yang bagus untuk putra mereka.
"Aku belum menyiapkan nama untuknya. Bahkan ini kedua kalinya aku memandangnya," jawab Dimitri apa adanya.
"Setelah anak kita berusia 7 hari kau baru dua kali melihatnya? Apakah kau menyalahkannya atas semua yang terjadi? Dimitri, dia ini hanya anak bayi yang tidak tahu apa-apa. Dia juga tidak mau dilahirkan ke dunia ini. Kitalah yang menginginkannya untuk hadir." Quinn terlihat marah.
"Quinn sebenarnya Dimitri tidak sejahat itu. Dia hanya tidak sanggup saja memandang putra kalian. Dimitri tidak membenci anak ini. Namun setiap kali memandangnya Dimitri selalu menangis. Dia terus mengingat keadaanmu," ucap dokter Fei yang kini memilih untuk membela Dimitri.
"Apa yang dikatakan dokter Fei benar. Kau tidak sepantasnya menyalakan Dimitri. Semua orang dalam posisi yang sangat sulit ketika kau dalam keadaan koma. Begitupun dengan Tante Tiffany yang pada akhirnya jatuh sakit. Quinn, sekarang kau ini sudah menjadi seorang ibu. Jadi bersikaplah lebih dewasa," protes Sherin. Hanya wanita itu yang berani memarahi Quinn hingga seperti itu.
"Maafkan aku." Quinn memandang Dimitri. "Aku bangga memiliki suami sepertimu sayang."
__ADS_1
Dimitri tersenyum. Dia mencium pucuk kepala Quinnagi dengan mesra. "Jadi siapa nama anak kita?"
Quinn diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Hingga tidak lama kemudian wanita itu tersenyum ceria. "Romeo. Namanya Romeo ...."