My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 151 Tuduhan Sherin


__ADS_3

Sherin segera berhenti ketika melihat Zack Lee berada di depan pintu. Bukan hanya wanita itu saja. Joa juga terlihat kaget karena akhirnya bertemu lagi dengan Zack Lee di tempat ini. Berbeda dengan Quinn dan Dimitri yang tengah asyik mengobrol sampai-sampai mereka berdua tidak sadar kalau Sherin, Joa dan pasukan mafia yang lain ikut berhenti. Termasuk Nichole.


"Kak, ada apa?" tanya Nichole penasaran karena memang posisi dia ada di belakang Sherin dan Joa.


"Nichole, kau jalan duluan saja. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Joa," ucap Sherin.


"Baiklah." Nichole mengangguk. Dia membawa beberapa orang kepercayaannya untuk kembali berjalan mengikuti Quinn dan Dimitri yang sudah jauh di depan sana. Mereka semua berbelok ke kiri karena memang lokasi kamar mereka ada di sana.


"Apa kau mengikutiku lagi?" ketus Sherin. Wajahnya yang sangar membuat Zack Lee mendengus kesal. Dia juga malas bertemu dengan Sherin jika ujung-ujungnya ribut seperti ini.


"Kenapa kau selalu menuduhku? Bagaimana kalau aku tanya balik. Kenapa kau mengikutiku sampai ke sini? Apa kau mulai tertarik denganku?" Zack Lee melipat kedua tangannya dan menatap Sherin dengan penuh arti.


"Kami ke sini karena ingin berhadapan langsung dengan Chen Li. Kali ini kita memiliki musuh yang sama," sahut Joa. Pria itu tidak mau Sherin dan Zack Lee berbincang terlalu lama. Dia segera menggenggam tangan Sherin dan menariknya paksa agar segera pergi dari sana.


"Kenapa kau menarikku pergi? Aku yakin dia ke sini karena mengikuti kita!" ujar Sherin dengan penuh percaya diri.


"Berhentilah bicara omong kosong. Apa kau lupa dengan apa yang dikatakan Nona Quinn semalam? Dia bilang kalau Zack Lee dan Chen Li bermusuhan. Bisa jadi dia ada di sini karena ingin menyerang dan mengalahkan Chen Li. Jadi jangan terlalu percaya diri. Karena itu hanya bisa membuat dirimu sendiri menjadi terlihat menyedihkan!" Joa segera melepas tangan Sherin dan meninggalkan wanita itu sendirian.


"Joa, Apa kau bilang? Aku terlihat menyedihkan?" teriak Sherin tidak terima. Wanita itu segera berlari mengejar Joa untuk memberi pelajaran. "Kau benar-benar menyebalkan!" ketus Sherin lagi.


Joa tidak peduli dengan ocehan Sherin. Pria itu terus saja berjalan dan masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi tempat mereka berkumpul.


Zack Lee memandang anak buahnya yang masih berdiri di hadapannya. "Sekarang di mana Chen Li? Apa dia sudah ada di gedung ini?" Pria itu sangat penasaran.


"Sudah, Bos. Satu lantai dibawa kita," jawab pengawal tersebut.


Zack Lee mengangguk. Dia kembali masuk ke dalam kamar tanpa mau memberi perintah yang lain lagi. Bahkan soal Peiyu juga telah ia lupakan.


Di dalam kamar, Quinn dan Dimitri memandang Joa dan Sherin dengan tatapan penuh arti. Hanya mereka berdua yang sejak tadi di tunggu. Jelas saja itu menimbulkan kecurigaan yang besar.


"Sherin, apa yang sedang kau bicarakan dengan Joa? Apa kau lupa kalau musuh sudah ada di gedung yang sama dengan kita. Mereka bisa saja melihatmu dan menyerangmu tanpa rencana. Seharusnya kau segera masuk ke dalam ruangan ini agar tidak ada musuh yang melihatmu," protes Quinn.


"Tadi aku bertemu dengan Zack Lee," sahut Sherin. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Quinn. "Kenapa aku harus sering-sering bertemu dengannya?"


"Dia juga ada di sini? Apa dia tahu kalau kau juga ada di sini?" tanya Quinn penasaran.


"Jelas aja dia tahu kalau aku ada di sini. Tadi aku sempat memarahinya. Quinn, setiap kali melihat wajahnya kenapa bawaannya aku emosi saja? Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Tapi entah kenapa setiap kali bertemu dengannya bawaannya aku ingin marah." Sherin justru jadi curhat tanpa peduli dengan keberadaan Joa di sana.


Quinn memandang ke arah Joa sejenak sebelum menatap Sherin lagi. "Jangan terlalu benci pada seseorang nanti kau bisa jatuh cinta padanya."


"Quinn, apa yang kau katakan? Apa itu pengalaman pribadimu?" ketus Sherin tidak suka.


Quinn mengangguk. "Tapi jangan minta aku untuk menceritakan semuanya sekarang. Lebih baik saat ini kita fokus pada misi kita saja."

__ADS_1


Joa berdiri di samping Dimitri dengan tatapan yang tidak terbaca. Dia tidak lagi memandang ke arah Sherin. Meskipun begitu, Dimitri tahu kalau Joa kini sedang memikirkan Sherin.


"Ikut denganku," perintah Dimitri. Pria itu segera beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah balkon. Joa juga mengikutinya dari belakang.


Quinn memandang punggung suaminya sejenak sebelum menatap ke arah Sherin lagi. "Sherin, aku ini bener-bener bingung denganmu. Sebenarnya hubunganmu dengan Joa seperti apa? Apa kalian saling suka? Apa kalian sudah pacaran?" Wajah Quinn menjadi serius. Dia ingin Sherin jujur padanya.


"Hubunganku dan Joa terlalu rumit. Kami tidak memiliki status apapun. Kau lihat sendiri bagaimana Joa. Aku tidak bisa melihat cinta di matanya," jawab Sherin dengan wajah yang tidak bersemangat.


"Ya, aku tahu kalau Joa memang pria yang sangat sulit untuk ditebak. Tapi Sherin, alangkah baiknya kau menjaga perasaan Joa meskipun diantara kalian tidak ada hubungan apapun," ucap Quinn menasehati.


"Menjaga perasaannya? Apa Aku baru saja menyinggung perasaannya? Quinn, kau sendiri yang memulai semua ini. Kau yang bilang jangan sampai aku terlalu benci kepada Zack Lee nanti aku bisa jatuh cinta padanya. Kenapa kau sekarang jadi menyalahkanku seperti ini?" protes Sherin tidak terima.


"Ya itu karena kau terus saja membahas soal Zack Lee. Sherin, bisa tidak kau bersikap seolah-olah kau dan Zack Lee tidak saling kenal. Jika kau tidak tertarik dengan Zack Lee. Bahkan sampai tidak tertarik untuk berteman dengannya. Jangan pernah sekali-kali menyapa dia terutama ketika kau berada di dekat Joa. Anggap saja Zack Lee itu seperti orang lain yang tidak kau kenal. Tidak perlu menyapanya karena dia tidak penting bagi hidupmu. Apa kau mengerti?"


Sherin mengangguk. "Tapi aku tidak bisa. Maksudku amarah itu muncul begitu saja."


"Kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu? Belum tentu Zack Lee tertarik denganmu Sherin. Jangan menambah musuh lagi," ucap Quinn dengan penuh kesabaran.


"Dia menginginkanku. Quinn, apakah kau tahu kalau wajahku ini mirip dengan kekasihnya yang sudah tewas. Bahkan dia sempat berpikir kalau aku adalah kekasihnya. Itu yang membuatku benci padanya."


Quinn terdiam sejenak dengan wajah bingung. "Tapi kau sendiri yang bilang kalau dia yang sudah membebaskanmu dari pulau terpencil itu."


"Ya itu karena wajahku mirip dengan kekasihnya. Kalau tidak juga mungkin saat itu aku dan Joa sudah habis dihajar olehnya."


Kali ini Sherin tidak bisa menjawab cepat lagi. Wanita itu menahan kalimatnya. Wajahnya menunduk bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Sherin, dari caramu memandang Joa aku tahu kalau sebenarnya kau sudah jatuh cinta padanya. Tapi kau takut untuk mengakui semua perasaan ini."


"Aku bukan takut untuk mengakui perasaanku. Aku hanya takut kecewa. Quinn, kau tahu sendiri kalau seumur hidupku aku belum pernah dekat dengan pria manapun. Bahkan aku sempat berpikir mungkin aku akan sendiri sampai tua nanti.


Setelah aku bertemu dengan Joa, ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatiku. Tetapi kau lihat sendiri bagaimana cara Joa memandangku. Aku tidak yakin jika dia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku tidak sanggup untuk ditolak. Aku tidak siap sakit hati Quinn. Biarlah hubungan kami seperti ini." Dari wajah Sherin terlihat jelas kalau wanita mengharapkan Joa. Akan tetapi dia tidak mau memulai semuanya duluan.


"Sherin, maafkan aku karena tidak bisa membantumu kali ini." Quinn memeluk Sherin sambil mengusap lengannya. "Aku berharap agar kau segera menemukan pria yang benar-benar mencintaimu."


Sherin mengukir senyum. "Terima kasih Quinn."


Di balkon, Joa menutup pintu yang akan menghubungkan mereka ke balkon agar orang yang ada di dalam kamar tidak mendengar obrolan mereka. Dari balkon itu mereka bisa melihat pemandangan kota London yang sangat menakjubkan.


"Bos, apa ada hal penting yang ingin anda katakan kepada saya?" tanya Joa ketika Dimitri tidak juga mengeluarkan kata.


"Ya." Dimitri memutar tubuhnya. "Apa yang kau pikirkan ketika Sherin ada di depanmu?"


Joa mengernyitkan dahi. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kini Dimitri mengajaknya untuk menjauh karena hanya ingin membahas soal Sherin. "Dia wanita yang ceria tetapi cukup menyebalkan," jawab Joa apa adanya.

__ADS_1


"Kau menyukainya?" tanya Dimitri lagi.


Joa memandang Dimitri tanpa ekspresi. Pria itu jauh lebih dingin jika dibandingkan dengan Dimitri. "Tidak!"


"Yakin?" tanya Dimitri sekali lagi.


"Saya tidak tahu dengan perasaan saya sendiri, Bos."


"Aku yakin, sebenarnya kau menyukai Sherin. Hanya saja kau sulit untuk mengakuinya." Dimitri merasa yakin dengan ucapannya.


Joa semakin bingung. "Tapi untuk apa kita membahas soal Sherin di sini Bos? Bukankah seharusnya kita fokus saja kepada misi kita?"


"Karena itu mempengaruhi keberhasilan misi kita kali ini," jawab Dimitri.


"Kenapa bisa seperti itu, Bos?" tanyanya sembari mengernyitkan dahi.


"Joa, jika kau menyukai seorang wanita sebaiknya perjuangkan dia sampai kau berhasil untuk mendapatkannya. Jika pada akhirnya kau gagal setidaknya kau sudah pernah berjuang untuk mendapatkannya. Jangan diam di tempat seperti ini." Dimitri memutar tubuhnya hingga posisinya membelakangi Joa. "Beberapa hari yang lalu aku sempat bertemu dengan Xander. Dia sempat bercerita padaku, kalau dia akan dijodohkan dengan seorang wanita lagi. Dan kau tahu, siapa wanita itu?"


Joa langsung tertegun mendengarnya. "Sherin, Bos?" tebak Joa.


"Ya."


Wajah Joa semakin serius. "Tapi bukankah Tuan Xander dan Sherin itu adalah kakak adik? Kenapa tiba-tiba mereka dijodohkan? Lalu, apa Tuan Xander setuju?"


Dimitri mengukir senyum kecil. Sebenarnya ini hanya trik kecil yang sengaja dia gunakan untuk membuat Joa segera memperjuangkan Sherin. "Bahkan aku belum menyampaikan hal ini kepada Quinn. Joa, mereka memang berstatus sebagai kakak adik. Tetapi kau harus ingat kalau mereka tidak memiliki hubungan darah. Itu berarti tidak ada masalah jika mereka berdua menikah.


Tante Viana tidak mau kehilangan Sherin. Meskipun sudah menganggap Sherin seperti anaknya sendiri, tetapi dia masih belum puas. Tante Viana ingin Sherin benar-benar resmi menjadi bagian dari keluarganya. Itu kenapa dia dan Tuan Jeremy memiliki pemikiran untuk menjodohkan Sherin dengan Xander. Toh sampai sekarang Xander juga belum berhasil menemukan pujaan hatinya."


"Lalu bagaimana dengan Tuan Xander sendiri? Apa dia setuju jika harus menikah dengan Sherin?" Wajah Joa semakin panik.


"Xander setuju. Jika Sherin juga setuju maka dalam waktu dekat mereka berdua akan menikah."


Bagaikan disambar petir di siang bolong. Kini perasaan Joa sangat tidak karuan. Pria itu sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mau jika Sherin menikah dengan Xander. Meskipun sulit untuk mengakuinya tetapi sebenarnya Joa sudah tergila-gila dengan Sherin.


"Itu kenapa tadi aku bilang jika kau benar-benar mencintai Sherin, sebaiknya perjuangkan dia dari sekarang. Aku seperti ini karena sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Joa, Aku sangat senang ketika tahu kalau kau sudah dekat dengan Sherin selama beberapa waktu belakangan ini. Aku senang bisa melihat kalian sedekat ini. Tapi yang membuatku bingung kenapa semakin ke sini hubungan kalian itu terlihat semakin aneh. Sama sekali tidak ada kemajuan."


Joa berdehem pelan. Ada sebuah pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Dimitri. Namun rasanya dia malu untuk mengucapkannya. "Bos!" Joa kembali diam. Dia benar-benar bingung.


"Ada apa? Cepat katakan." Dimitri tersenyum. Namun dia segera mengembalikan ekspresi wajahnya agar Joa tidak curiga.


"Tolong ajari saya cara untuk meluluhkan hati seorang wanita!" ucap Joa pada akhirnya. Dimitri mengukir senyum bahagia karena sudah berhasil mempengaruhi Joa.


"Akhirnya."

__ADS_1


__ADS_2