
Joa dan Leonzio terus saja bertarung meskipun orang-orang di sekitar mereka sudah terlihat kelelahan. Dua pria tangguh itu memiliki kemampuan yang sama hebatnya. Mereka juga memiliki watak yang keras. Tidak ada yang mau mengalah!
Sherin dan Xander saat itu berdiri tidak jauh dari Joa dan Leonzio. Mereka mulai berpikir keras agar bisa menemukan cara untuk mengalahkan anak buah Leonzio. Saat ini jumlah anggota White Snake sudah semakin sedikit.
"Jika keadaan terus begini, kita bisa kalah." Sherin memandang ke arah Xander. "Kak, kita harus meminta bantuan Zack Lee. Di sini kita tidak memiliki saudara. Hanya Zack Lee yang kita kenal," pinta Sherin. Dia sudah tidak memiliki pilihan lain lagi.
"Bukannya Kakak tidak mau memanggil Zack Lee. Tetapi Zack Lee ke sini untuk bersembunyi. Semakin banyak orang yang tahu keberadaannya, itu akan membuat Zack Lee tidak nyaman. Lebih baik kali ini kita selesaikan sendiri." Xander maju ke depan untuk menghadapi musuh. Sedangkan Sherin masih berdiri di tempatnya sembari memandang Joa dengan wajah sedih.
"Joa, apa yang bisa aku lakukan agar kau menang?" Sherin tiba-tiba mengepal kuat gaun yang ia kenakan. Entah apa yang sudah memenuhi pikirannya saat ini. Wanita itu tiba-tiba melangkah menuju ke tempat Joa dan Leonzio bertarung. Dia berniat untuk membantu Joa melawan Leonzio.
Joa mengernyitkan dahi melihat Sherin mendekatinya. Hal itu membuat Joa tidak fokus hingga akhirnya Leonzio memiliki kesempatan untuk menendang perut Joa dengan begitu keras.
"JOA!" teriak Sherin kaget. Dia memandang Leonzio dan berlari kencang. Wanita itu ingin berhadapan langsung dengan big boss Cosa Nostra tersebut.
Xander kaget bukan main melihat keputusan Sherin. Pria itu ingin menyelamatkan adiknya dari bahaya. Begitupun dengan Joa yang kini memaksa tubuhnya untuk bangkit agar bisa melindungi calon istrinya.
__ADS_1
Bug.
Satu pukulan didaratkan Sherin di wajah Leonzio. Hal itu membuat Leonzio segera memegang wajahnya lalu tersenyum sinis.
"Kau mau melawanku? Aku harap kau tidak menyesal!" ancam Leonzio. Pria itu menyerang Sherin dengan tatapan yang begitu mengerikan.
Sherin segera berjongkok dan memutar tubuhnya. Kakinya sengaja menjegal Leonzio agar pria itu jatuh. Ternyata trik sederhana yang dilakukan Sherin berhasil. Leonzio kini terjerembab ke depan karena tersandung kali Sherin.
Sherin segera berdiri. Di saat itu dia naik ke atas tubuh Leonzio dan menghajarnya. Tapi sayangnya tenaga Sherin tidak cukup kuat melawan Leonzio.
Leonzio ingin menendang tubuh Joa. Tetapi Sherin lebih dulu menahan kakinya.
"Kalian curang!" teriak Leonzio kesal.
"Kami hanya ingin berdamai. Kenapa anda tidak mau memberiku kesempatan?" tanya Joa. Dia kini menahan tubuh dan tangan Leonzio agar tidak bisa bergerak lagi. Sedangkan Sherin sekuat tenaga menahan kaki Leonzio.
__ADS_1
"Pulangkan Audy maka semua masalah ini akan berakhir! Kenapa kalian keras kepala!" ujar Leonzio. Ternyata dia masih belum mau berdamai dengan Joa.
"Baiklah jika memang itu yang anda inginkan. Kami akan membawa wanita itu sekarang juga?" sahut Sherin. Ternyata dia mulai kesal karena nama Audy terus saja menjadi topik utama hari ini.
Joa memandang Sherin dengan tatapan tidak setuju. Akan tetapi, memang hanya ini satu-satunya solusi agar mereka semua bisa pulang dengan selamat. Untuk melanjutkan pertarungan itu sudah tidak mungkin. Joa telah kehabisan banyak tenaga sedangkan pasukan Leonzio terus saja bermunculan.
Joa segera melepas Leonzio. Begitupun dengan Sherin. Leonzio menghela napas panjang sebelum berdiri. Pria itu masih sempat-sempatnya merapikan penampilannya sendiri setelah bertarung.
"Cepat bawa Audy ke sini!" ujar Leonzio kembali memperingati. "Tapi ingat, aku butuh jaminan. Wanita disampingmu ini boleh juga!"
Joa segera menggenggam tangan Sherin. "Kami dua akan tetap di sini."
Xander mengernyitkan dahi. Dia sudah tahu apa tugasnya kali ini. Pria itu segera masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Sherin memejamkan matanya sejenak sebelum memandang mobil yang dikemudikan Xander. "Kak, pernikahanku dan Joa hanya tinggal hitungan hari saja. Aku harap kakak tidak marah dengan keputusanku ini," batin Sherin.
__ADS_1