
Aldo tersenyum puas mendengar informasi yang baru saja disampaikan oleh bawahannya. Saat ini keadaan benar-benar mendukung untuknya melakukan penyerangan. Tidak lama lagi Audy dan Xander akan bertunangan dan menikah. Aldo ingin membawa Audy kabur sebelum pernikahan itu berlangsung.
"Itu berarti saat ini Dimitri sedang sibuk mengurus istrinya yang koma. Joa pasti lebih fokus untuk menjaga keselamatan Dimitri karena dia tidak mungkin meninggalkan bosnya itu dalam keadaan seperti sekarang. Ini benar-benar kesempatan yang bagus untuk kita mengambil kembali Audy," ucap Aldo dengan senyuman licik di bibirnya. "Keberuntungan sepertinya masih berpihak kepada kita."
"Anda benar, Bos. Bahkan sampai sekarang mereka masih belum sadar kalau kita sudah ada di kota ini," jawab pria di depan Aldo.
Wajah Aldo kembali serius. "Bagaimana dengan Leonzio? Apa dia tahu kalau sekarang kita ada di sini?"
"Setahu Leonzio, anda dibawa ke Amerika untuk pengobatan. Dia tidak akan menyangka kalau sekarang kita ada di kota ini untuk menculik Nona Audy." Pria itu tersenyum licik. Dia sama jahatnya dengan Aldo yang rela melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Bagus! Rahasiakan semua ini dari Leonzio. Aku tidak mau ada satu orang pun yang menggagalkan rencanaku. Apa orang bayaran kita sudah berhasil untuk menjadi pelayan di rumah yang sekarang ditempati oleh Audy?" tanya Aldo lagi.
"Penjagaan di sana memang tidak terlalu ketat tetapi pemilik rumah sangat selektif ketika memilih karyawan baru di kediamannya. Sampai saat ini kita belum berhasil memasukkan orang kita ke dalam rumah itu. Tapi saya akan memikirkan cara lain untuk bisa memasukkan orang kepercayaan kita agar bisa berada di dekat Nona Audy, Bos. Anda tenang saja." Pria tangguh itu berusaha menyakinkan Aldo
"Aku tidak mau mendengar kata gagal. Lakukan semua ini dengan sebaik mungkin. Jangan sampai ada celah sedikitpun hingga membuat mereka sadar akan kehadiran kita!" ucap Aldo.
"Baik, Bos. Saya pergi dulu." Setelah menunduk hormat, pria itu segera meninggalkan Aldo sendirian di dalam apartemennya. Sudah satu minggu ini Aldo tinggal di dalam apartemen tersebut. Dia rela muncul di kota itu sebagai seorang kakek-kakek bahkan menggunakan identitas palsu agar pasukan White Snake tidak menyadarinya.
Meskipun tidak memiliki banyak anggota tetapi Aldo merasa yakin kalau kali ini ia pasti akan berhasil untuk membawa Audy pergi. "Audy, secepatnya kita akan bertemu dan bersama lagi. Kali ini kau harus benar-benar menepati janjimu."
Di sisi lain, Audy dan Xander sudah dalam perjalanan menuju ke butik. Hari ini adalah jadwal Audy untuk mencoba gaun yang nanti akan ia kenakan saat pesta pertunangan. Selama perjalanan menuju butik Xander tidak ada mengeluarkan satu kata pun. Pria itu terlihat tidak ceria seperti biasanya
Audy sendiri tahu kalau saat ini Xanders sedang memikirkan keadaan Quinn. Meskipun dia tahu kalau Xander sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap Quinn. Tetapi entah kenapa melihat Xander seperti itu membuatnya cemburu. Dia merasa diabaikan saat ini. Audy merasa kalau detik ini Xander lebih memikirkan keadaan Quinn daripada perencana pertunangan mereka.
"Tadi mama bilang kalau nanti habis makan siang kau ada rapat. Apakah itu benar?" tanya Audy hati-hati.
"Ya, tapi aku sudah membatalkannya. Mama tidak bisa mengantarkanmu ke butik. Aku juga tidak mau kau pergi ke butik sendirian," jawab Xander tanpa memandang.
Audy menggangguk pelan. Lagi-lagi dia ingin mengeluarkan kata. "Jika kau sibuk aku bisa pergi sendiri."
"Kau orang baru di kota ini. Aku tidak mau sampai kau tersesat atau terjadi sesuatu padamu. Rapat itu sama sekali tidak penting. Yang lebih penting saat ini adalah rencana pertunangan kita." Xander menambah laju mobilnya karena ia ingin lebih cepat tiba di butik.
"Aku tidak tega melihat keadaan Quinn yang sekarang." Audy memberanikan diri untuk membahas tentang Quinn saat itu. "Apalagi melihat suaminya yang begitu terpukul."
"Aku juga masih tidak percaya melihat Quinn seperti tadi. Semua seperti mimpi. Bahkan memang aku berharap semua ini hanya mimpi buruk saja yang akan hilang ketika kita terbangun." Xander kali ini memandang wajah Audy sejenak sebelum fokus dengan laju mobilnya lagi. "Apakah kau marah ketika aku sedang memikirkan tentang Quinn?"
__ADS_1
Audy menggeleng kepalanya pelan. "Untuk apa aku marah? Kalian berdua sudah memiliki pasangan masing-masing dan mencintai pasangan kalian bukan? Kau memikirkan Quinn karena tidak menyangka kalau Quinn bisa seperti ini. Aku bisa mengerti." Audy mengusap lembut lengan Xander.
Audy memandang ke samping. Dia melihat mobil hitam yang kini berselisih dengannya. Awalnya wanita itu tidak memperhatikan mobil tersebut dengan jelas. Namun tidak lama kemudian pengemudi mobil itu membuka kaca mobilnya. Dia seperti melakukannya dengan sengaja. Audy memandang ke arah pengemudi mobil tersebut. Dia terbelalak kaget melihat Aldo yang sedang mengemudikan mobil hitam tersebut.
"Aldo?" celetuk Audy.
Xander juga syok ketika mendengar Audy meneriakkan nama Aldo. Pria itu cepat-cepat memandang ke samping. Namun ia tidak melihat ada Aldo di sana. Mobil hitam yang tadinya dikemudikan oleh Aldo meluncur dengan sangat cepat hingga membuat Xander tidak bisa mengetahui keberadaannya.
"Aldo? Di mana Aldo? Aku tidak melihatnya?" tanya Xander bingung.
"Mobil hitam itu. Cepat kejar! Aku yakin di mobil itu ada Aldo," teriak Audy sambil menunjuk mobil hitam yang tadi ia lihat.
Xander yang sudah sangat penasaran segera menambah laju mobilnya dan mengejar mobil hitam yang tadi ditunjuk oleh Audy. Mereka tidak peduli ketika jalanan begitu ramai. Xander bahkan mengabaikan keselamatannya. Ia tetap fokus dengan laju mobil hitam yang kini ada di depannya.
"Audy, kau yakin jika di dalam mobil itu ada Aldo?" tanya Xander lagi untuk kembali memastikan.
"Ya, aku yakin sekali di dalam mobil itu ada Aldo. Buktinya saja Ia seperti sedang menghindari kita. Bukankah itu berarti Aldo takut untuk bertemu dengan kita?" jawab Audy dengan penuh keyakinan.
Xander semakin yakin dengan apa yang dikatakan oleh Audy. Pria itu terus mengejar mobil hitam tersebut hingga pada akhirnya Xander berhasil menyalip mobil itu dan memberhentikannya secepat mungkin.
Xander dan Audy segera turun dari mobil. Kali ini Xander tidak pernah lagi meninggalkan senjata api. Di manapun ia berada ia selalu membawa senjata api untuk melindungi dirinya sendiri.
"Siapa kau? Kenapa kau menghalangi mobilku?" teriak pria di dalam mobil.
Xander kaget bukan main karena kini pria yang ia anggap sebagai Aldo ternyata bukan Aldo. "Maafkan aku," ucap Xander sebelum memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan mobil hitam tersebut.
Mengetahui kalau bukan Aldo yang ada di dalam mobil tersebut membuat Xander menjadi salah paham terhadap Audy. Dia berpikir kalau sampai detik ini Audy masih terus saja memikirkan Aldo.
"Masuklah. Aldo tidak ada di sini," perintah Xander. Pria itu membukakan pintu mobil dan meminta Audy untuk segera masuk. Tanpa banyak bicara lagi Audy segera masuk ke dalam meskipun di dalam hatinya masih tidak tenang.
Xander memandang ke arah mobil hitam itu lagi sebelum masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
"Aku yakin orang yang aku lihat itu tadi adalah Aldo," ucap Audy dengan penuh keyakinan.
"Tapi tadi kita sama-sama lihat sendiri kalau orang itu bukan Aldo. Kau pasti sedang berhalusinasi saja," ucap Xander yang saat itu tidak lagi percaya dengan apa yang dikatakan oleh Audy.
__ADS_1
"Aldo itu adalah pria yang sangat licik. Bukankah dia belum mati? Aku yakin sekarang ia sedang merencanakan sebuah rencana besar untuk membawaku pergi. Tolong percaya padaku," ucap Audy ketakutan. Dia juga tidak mau Xander marah seperti itu.
"Ya, aku tahu Aldo adalah pria yang sangat licik. Kau tenang saja aku pasti akan melindungimu. Aldo tidak akan bisa membawamu pergi jauh dariku," jawab Xander. "Pasukan White Snake akan menjaga kita dengan sebaik mungkin. Aku harap kau tidak perlu khawatir berlebihan seperti ini."
Audy mengangguk. Wanita itu memandang ke depan. "Tapi aku sangat yakin kalau pria tadi adalah Aldo. Pasti Aldo sudah menyiapkan sebuah rencana saat ini. Mulai sekarang aku harus lebih waspada lagi," batin Audy.
Joa dan Sherin masih ada di rumah sakit. Mereka tidak tega meninggalkan Dimitri dalam keadaan seperti sekarang. Mereka terus saja berada di sisi pria tangguh itu. Dokter Fei juga sesekali muncul untuk menemani Dimitri. Namun karena ia seorang dokter Ia juga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pasiennya.
"Apa kau sudah mengajak Dimitri untuk sarapan? Aku yakin dia belum sarapan sampai detik ini," tanya Sherin kepada Joa.
"Bahkan air minum yang aku berikan tidak diterimanya. Dia tidak mau mengucapkan satu kata pun saat ini. Selama bekerja dengan bos Dimitri Ini pertama kalinya aku melihat Bos Dimitri terpuruk hingga separah ini. Biasanya ia masih mau berbicara. Nona Quinn benar-benar sangat berarti di dalam hidup Bos Dimitri," jawab Joa apa adanya.
"Bagaimana denganku? Apakah Kau juga sangat mencintaiku? Apakah Kau juga seperti Dimitri jika aku mengalami hal yang sama seperti Quinn?" tanya Sherin dengan wajah yang sangat serius.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Hanya membayangkannya saja sudah membuatku sangat takut. Bahkan tadi aku sempat berpikir agar kau tidak perlu hamil dan melahirkan. Kita adopsi anak saja dari panti asuhan Aku tidak mau sampai kau mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Nona Quinn," jawab Joa mantap. Meskipun dia sendiri tahu itu bukan solusi yang tepat.
"Kenapa kau sampai bicara seperti itu? Setiap wanita hamil memang memiliki resiko yang besar. Tapi kami sebagai seorang wanita merasa sangat bangga jika kami berhasil melahirkan anak kami dalam keadaan selamat dan bisa memberi gelar ayah kepada suami kami," jawab Sherin. Sebenarnya ia marah mendengar Joa bicara seperti itu.
"Nanti ketika kau dinyatakan hamil aku akan menjagamu dengan sebaik mungkin. Aku tidak ingin melakukan kesalahan sedikitpun. Aku telah belajar banyak dari bos Dimitri," ucap Joa lagi sebelum memandang ke arah Dimitri.
Sherin mendengus kesal. Wanita itu beranjak dari kursi karena ingin melihat keadaan Tiffany. Dia juga ingin bertemu dengan Viana karena memang sampai detik ini wanita paruh baya itu belum juga pulang.
"Mau ke mana?" tanya Joa bingung.
"Aku ingin menemui Mama. Sebaiknya kau menghindar dulu dari Mama. Aku tidak mau Mama sampai curiga," jawab Sherin sambil berjalan pergi.
Joa hanya diam saja. Pria itu kembali memandang ke arah Dimitri. Karena merasa tidak tega akhirnya Joa beranjak dari kursi yang ia duduki lalu berjalan mendekati Dimitri. Kali ini ia ingin mencoba sekali lagi untuk memberikan sebuah botol air mineral kepada atasannya itu.
"Bos, kira-kira apa yang akan terjadi pada Nona Quinn jika pada saat ini andalah yang berada di ruang ICU dan dalam keadaan koma?"
Pertanyaan Joa berhasil membuat Dimitri mengangkat kepalanya dan memandang pria itu. Setidaknya kini Joa sudah mendapat sedikit respon dari Dimitri.
"Maafkan saya karena harus mengatakan kalimat menyakitkan seperti ini. Tetapi menyiksa diri anda sendiri merupakan sebuah kesalahan. Nona Quinn akan semakin sedih jika tahu keadaan Anda yang sekarang. Anda harus semangat untuk tetap hidup. Di dalam ruangan Itu Nona Quinn masih bernapas. Dia masih dinyatakan hidup.
Itu berarti kesempatan Nona Quinn untuk bisa bersama lagi dengan Anda masih sangat besar. Saya harap anda tidak menyiksa diri Anda lagi seperti ini." Joa segera meletakkan sebotol air mineral yang ia bawa di samping Dimitri. Berharap pria itu segera mengambilnya dan meneguknya. Setelah itu Joa kembali ke kursi yang tadi ia duduki.
__ADS_1
Dimitri masih diam saja setelah mendengar ocehan yang keluar dari mulut Joa. Namun tidak lama kemudian pria itu melirik sebotol air mineral yang kini ada di sampingnya. Dia mengambil botol mineral itu lalu meneguknya secara perlahan. Dari kejauhan Joa tersenyum bahagia melihatnya.
"Aku tahu saat ini tidak ada obat apapun yang bisa membuat anda kembali tersenyum. Tetapi saya tidak akan menyerah untuk memotivasi Anda agar lebih semangat lagi untuk menjalani hidup ini Bos, batin Joa penuh keyakinan.