
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Kau yakin?" Luca masih tidak percaya kalau Tuan Neo bisa mengkhianatinya.
"Aku mengetahui informasi ini dari Sherly. Tuan, anda tahu bagaimana kehidupan Tuan Neo selama ini? Apa benar dia memiliki saudara kembar?"
Tuan Luca membisu. Seperti ada rahasia besar yang masih dia sembunyikan. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku lalu menghela napas berat. "Aku pikir Neo sudah memaafkanku atas kejadian waktu itu. Tidak aku sangka dia justru merencanakan pembalasan dengan cara mencelakai Quinn seperti ini. Aku adalah ayah yang buruk."
"Tuan, tidak ada ayah yang buruk. Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya." Dimitri berusaha untuk menenangkan Luca agar tidak terus menerus menyalahkan diri seperti itu.
"Kejadiannya sudah cukup lama. Bahkan aku sendiri tidak sengaja melakukannya. Waktu itu Quinn masih berusia 15 tahun."
10 tahun yang lalu.
"Daddy, kita mau kemana?" Quinn terlihat bahagia ketika Luca mengajaknya untuk masuk ke mobil.
"Daddy akan membawamu ke tempat yang paling indah. Daddy yakin kau pasti sangat menyukainya nanti." Luca melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia juga tidak mau sampai celaka dan melukai putrinya. Hingga tidak lama kemudian, mobil mereka berhenti di sebuah taman yang sudah dipenuhi dengan dekorasi pesta.
"Daddy, siapa yang ulang tahun?" Quinn mengernyitkan dahinya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ayah kandungnya akan membawanya ke sebuah pesta siang itu.
"Putri teman Daddy. Nanti kau akan bertemu dengannya dan berkenalan dengannya. Kalian bisa menjadi teman. Ayo kita turun."
Luca turun lebih dulu. Diikuti Quinn setelahnya. Luca memberi Quinn sebuah kado. "Berikan kado ini kepada teman barumu Quinn. Dia pasti senang menerimanya."
"Baiklah." Quinn berjalan menghampiri seorang remaja yang usianya sama dengannya. Mereka berdua berkenalan dan terlihat sangat akrab. Sedangkan Luca memilih untuk berdiri di posisinya sambil mengamati putrinya dari kejauhan.
__ADS_1
"Tuan Luca, saya sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya anda datang ke pesta ini." Tuan Neo muncul bersama dengan seorang wanita di sampingnya.
"Tuan Neo, maaf karena saya datang terlambat. Sepertinya acaranya sudah selesai."
"Ya, Tuan. Acaranya memang sudah selesai. Tapi anda tidak perlu khawatir. Kami bisa memulai acaranya lagi," jawab Tuan Neo dengan senyum ceria diwajahnya.
"Anda tidak perlu melakukan hal seperti itu." Luca memandang ke arah Quinn lagi. Sampai detik itu belum ada tanda-tanda yang mencurigakan. Hingga tidak lama kemudian, peristiwa yang tidak disangka-sangka terjadi.
DUARRR
Suara tembakan itu terdengar dengan begitu jelas. Luca dan juga Tuan Neo sama-sama memandang ke arah dua remaja yang kini sedang bercakap-cakap. Mereka berdua juga terlihat kaget.
"Quinn, kemari!" teriak Luca. Begitupun dengan Tuan Neo yang segera berlari menemui remaja yang tadi bersama dengan Quinn.
Pasukan mafia milik Luca juga sudah muncul dan membantunya melawan musuh. Sayang, korban sudah berjatuhan. Termasuk seorang remaja yang tadi sempat ditemui Quinn. Tuan Neo terlihat sedih sambil memangku gadis manis itu.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit. Maafkan saya,Tuan Neo." Luca sangat merasa bersalah. Dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan Quinn pulang ke rumah hingga Quinn tidak pernah tahu apa yang terjadi di sana.
"Aku telah gagal menjaganya. Aku memang bodoh!" Tuan Neo menyalahkan dirinya sendiri. Pria itu terlihat sangat menyesal. Dia menangis dan memeluk remaja putri itu dengan begitu erat. Sampai-sampai baju yang ia kenakan dipenuhi dengan darah segar.
"Aku akan menebus kesalahanku, Tuan Neo." Luca hanya bisa menundukkan kepalanya. Pria itu sendiri juga tidak tahu harus bagaimana sekarang.
"Aku ditugaskan oleh ayah kandungnya untuk menjaganya. Saat ini ayah kandungnya ada di penjara. Apa yang harus aku katakan nanti?"
__ADS_1
"Apapun yang dia inginkan akan aku berikan. Apapun. Aku pasti akan menebus kesalahanku, Tuan Neo."
***
Dimitri sekarang mengerti seperti apa dendam yang terjadi diantara Tuan Nio dan Luca. Dulu putri Tuan Nio tewas ketika musuh Luca muncul dan menyerangnya. Itulah yang menyebabkan Tuan Nio mengincar Quinn. Dia ingin Luca juga merasakan sakitnya kehilangan anak.
"Aku akan temui Tuan Neo. Aku akan tanyakan langsung padanya sebenarnya siapa ayah kandung anak itu. Apa benar dia adalah kembaran Tuan Neo. Karena dari yang aku tahu selama ini, Tuan Neo tidak memiliki saudara kembar." Luca menepuk pundak Dimitri. "Sebaiknya sekarang kau pulang saja dan istirahat. Selanjutnya biar aku yang mengurus masalah ini. Kau tidak perlu terlibat didalamnya. Kau hanya perlu menjaga Quinn selama aku menyelesaikan masalahku."
"Tidak, Tuan. Jangan seperti itu. Siap Quinn bisa di jaga Xander. Ilmu bela dirinya cukup baik. Saya akan membantu anda melawan orang yang sudah mencelakai Quinn. Kita juga tidak bisa bertindak gegabah. Kita harus bisa mendapatkan obat penawarnya sebelum menghabisi pria bernama Nio ini," ucap Dimitri memberi solusi.
"Kau benar. Obat penawar itu satu-satunya harapan untuk menyembuhkan Quinn."
"Tuan, sebaiknya kita bekerja sama dengan Quinn. Quinn harus tahu masalah yang sekarang terjadi. Dengan begitu dia bisa membantu kita dengan keahlian yang dia miliki. Saya tahu ini akan menambah beban pikiran Quinn. Tetapi ini yang terbaik."
Dimitri sebenarnya tidak mau melibatkan Quinn lagi. Namun malaikat komputer itu adalah Quinn. Saat ini dia membutuhkan bantuan malaikat komputer untuk mendapatkan jejak Tuan Nio.
"Baiklah. Aku akan bicarakan masalah ini dengan Quinn. Dia pasti bisa membantu kita. Quinn yang terbaik. Dia bisa tahu apa yang terjadi di dunia ini. Jika hanya mencari posisi seseorang saja, orang tugas yang mudah baginya," ucap Luca dengan penuh semangat.
"Ayo Tuan, kita masuk." Dimitri mengajak Luca masuk ke dalam untuk menemui Quinn. Namun anehnya Luca masih berdiri di sana dan memandang Dimitri dengan begitu serius hingga membuat Dimitri bingung. "Tuan, apa saya melakukan kesalahan?"
"Sepertinya kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan Tuan lagi. Kau bisa memanggilku Daddy. Bukankah kita akan menjadi ayah dan anak?"
Dimitri tertegun mendengarnya. "Daddy?"
__ADS_1