My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 98 Sepupu Cantik


__ADS_3

Quinn membawa Sherin untuk bertemu dengan Dimitri. Tadi mereka janjian akan bertemu di dekat rak minuman. Namun setibanya di sana, Quinn tidak dapat menemukan Dimitri. Dia memandang ke segala arah tetapi tetap saja kekasihnya itu tidak memperlihatkan batang hidungnya.


"Kemana dia? Bukankah tadi dia bilang tunggu di sini," gumam Quinn di dalam hati. "Apa Robin belum berhasil menemukannya."


"Quinn, kau mau memperkenalkanku dengan siapa?" tanya Sherin penasaran.


"Sama seseorang. Nanti kau juga akan tahu," jawab Quinn yang lagi-lagi mencari keberadaan Dimitri.


"Quinn, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi kau harus berjanji untuk tidak marah padaku." Sherin merangkul lengan Quinn. Wanita itu bergelayut manja.


"Ada apa Sherin? Katakan saja." Quinn mengukir senyuman manis di depan Sherin.


"Apa benar berita itu? Kau mau menikah dengan seseorang?" Sherin menyipitkan kedua matanya.


"Ya. Dan pria itu yang ingin aku perkenalkan padamu," jawab Sherin mantap.


Sherin menghela napas panjang sebelum melepas rangkulannya. "Apa Kak Xander kurang tampan? Sampai-sampai kau lebih memilih pria lain?"


Quinn terdiam mendengar pertanyaan Sherin. Sherin adalah anak dari sepupu Viana. Saat masih kecil dulu, Viana sering membawa Sherin untuk bertemu dengan Quinn. Sejak saat itulah persahabatan mereka terjalin. Mereka sudah seperti saudara kembar. Apa-apa selalu beli dengan model dan warna yang sama.


Namun sayangnya seiring berjalannya waktu, mereka tidak lagi bertemu seperti saat masih kecil dulu. Baik Quinn maupun Sherin fokus dengan pendidikan yang mereka tempuh. Walaupun begitu, setiap kali datang berkunjung ke kota tempat Quinn tinggal. Quinn selalu menyambut Sherin dengan baik.


Sejak beberapa tahun berpisah, bisa di bilang baru sekarang mereka bertemu lagi. Sherin juga penasaran dengan wajah Xander. Yang sekarang menjadi anak sambung Tantenya sendiri.


"Quinn, kenapa kau diam saja?" tanya Sherin lagi. "Ya, memang aku akui kalau aku tidak pernah bertemu langsung dengan Kak Xander. Aku hanya melihat fotonya. Itu juga Tante Viana yang kirim. Tetapi mendengar cerita cinta Xander yang begitu menyedihkan karena cintanya kau tolak. Aku jadi tidak tega dengannya."


"Mungkin memang kami tidak berjodoh. Aku lebih dulu dipertemukan dengan Dimitri dan dibuat jatuh cinta padanya. Hingga saat aku bertemu dengan Xander, aku tidak bisa membuka hatiku lagi untuknya," jawab Quinn tanpa berani memandang Sherin secara langsung.

__ADS_1


Sherin mengambil segelas air minum yang ada di dekatnya lalu mengukir senyum cantik lagi. "Baiklah. Aku juga nggak akan memaksamu untuk menerima cinta Kak Xander. Aku hanya ingin tahu alasanmu menolaknya. Tidak lebih dari itu. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh ya." Sherin memberikan segelas air yang tadi dia teguk. Tanpa pikir panjang Quinn menerimanya dan meneguknya sampai habis.


"Oke, sekarang dimana dia? Aku ingin melihat wajah calon suamimu."


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Seharusnya dia di sini," jawab Quinn dengan wajah khawatir. Setiap kali Dimitri menghilang seperti ini, dia kembali trauma dengan kejadian buruk yang pernah dialami Dimitri.


"Aku mau ke sana. Nanti aku ke sini lagi. Sepertinya aku melihat Kak Xander di sana." Sherin segera berlari menuju ke kerumunan pria berdasi yang ada di taman. Sedangkan Quinn hanya bisa mendengus kesal melihat kelakuan Sherin.


"Sejak dulu kelakuannya tidak pernah berubah. Dia wanita yang sangat aktif!"


...***...


Dimitri memutar tubuhnya ketika Joa sudah ada di sana. Dengan tangan di dalam saku, pria itu menatap tajam ke arah Joa yang jelas-jelas mengganggu waktunya.


"Ada apa? Apa tidak bisa dibicarakan nanti saja setelah pesta ini selesai?" protesnya kesal. Meskipun begitu, dia tetap memberikan kesempatan bagi Joa untuk bicara.


Joa menunduk lagi. Ternyata pria itu bingung melihat Sherly yang sakit. Dia tidak berani membawa wanita itu ke rumah sakit. Tidak juga tega melihatnya menderita. Lebih baik Sherly segera tewas. Ya, Joa justru ingin wanita itu segera mati saja agar tidak lagi menderita seperti sekarang. Apa lagi setelah semua orang tahu kalau Sherly melakukan semua itu karena dipaksa seseorang dan demi melindungi nyawanya sendiri.


"Jangan biarkan dia mati. Panggilkan Fei. Suruh dia memeriksa keadaan wanita itu!" Dimitri melirik jam di pergelangan tangannya. "Apa ada lagi?"


"Kenapa anda tidak membiarkannya mati saja bos? Bukankah dia sudah tidak berguna lagi. Nona Quinn juga sudah tidak membahas tentang wanita itu. Kematiannya mungkin tidak akan jadi masalah lagi bagi Nona Quinn."


Tiba-tiba saja Joa tertarik untuk mengetahui alasan Dimitri. Kenapa tiba-tiba pria itu berubah pikiran. Padahal sejak awal pria itu sangat dendam melihat Sherly bahkan ingin cepat-cepat menghabisi nyawa wanita itu.


"Aku memang tidak akan pernah memaafkannya tetapi aku ingin Quinn sendiri yang menghabisi nyawa wanita itu."


Joa menggeleng tidak percaya. "Bukankah itu adalah hal yang sangat mustahil Bos? Nona Quinn tidak akan tega untuk membunuh sahabatnya sendiri. Hubungan mereka sangat dekat selama ini. Bahkan mereka sudah seperti saudara kandung."

__ADS_1


"Kau salah Joa. Quinn sudah sangat dendam dengan wanita itu sejak nyawaku dalam bahaya. Kau lihat saja nanti. Kau akan tahu bagaimana Quinn yang sebenarnya jika sedang marah!"


Di sisi lain, Sherin baru saja tiba ditengah kerumunan para pria. Wanita itu berdiri di hadapan Xander hingga membuat pria itu bingung. Xander sama sekali tidak tahu tentang Sherin. Viana belum menceritakan apapun tentang Sherin kepadanya. Kini Xander memandang Sherin tidak lebih dari wanita gila.


"Maaf, anda siapa?" tanya Xander bingung.


"Kak, ini aku." Sherin berdehem pelan sebelum mengulurkan tangannya di depan Xander untuk berkenalan. "Perkenalkan. Namaku Sherin. Aku keponakan Tante Viana."


"Mama?" celetuk Xander semakin bingung. "Sejak kapan? Mama tidak pernah cerita tentang-"


"Sherin Kak. Ya, memang Tante Viana tidak pernah memperkenalkanku di depan Kak Xander. Tetapi Tante Viana sering sekali memperkenalkan Kak Xander kepadaku," ucap Sherin dengan penuh percaya diri. Tidak peduli ketika rekan bisnis Xander memandang ke arahnya.


"Lalu, kenapa kau bisa ada di sini?" Xander semakin penasaran.


"Quinn yang mengundangku. Dia bilang-"


"Quinn? Kau kenal dengan Quinn?" potong Xander cepat.


Sherin mengangguk pelan dengan wajah bingung. "Kenapa wajah Kak Xander seperti itu?"


"Selama ini aku memang tidak terlalu peduli dengan kehidupan Mama. Sherin, aku senang bertemu denganmu. Lalu, kau datang ke sini dengan siapa?"


"Taksi. Kata Tante Viana, aku akan pulang bersama Kak Xander." Kali ini Sherin memperlihatkan wajah yang sangat imut. Berbeda jauh ketika dia bertemu dengan Robin tadi.


"Oh baiklah. Aku akan memanggilmu jika sudah mau pulang. Sekarang aku harus kembali ke sana. Ada urusan bisnis yang harus kami bahas." Tanpa menunggu persetujuan dari Sherin, Xander segera pergi meninggalkan wanita itu begitu saja. Hal itu membuat Sherin melipat kedua tangannya dengan wajah kesal.


"Dia tidak seramah yang aku bayangkan!" umpatnya geram sebelum berbalik untuk mencari Quinn. Sherin kembali berhenti melihat sosok yang begitu mencurigakan di sana. Bersamaan dengan itu, pesta dansa di mulai. Semua orang yang membawa pasangan segera maju ke lokasi dansa untuk menikmati alunan musik.

__ADS_1


"Siapa dia? Aneh. Kenapa dia sangat mencurigakan!" Sherin memandang ke belakang lagi untuk melihat Xander. Tetapi nyatanya pria itu masih asyik mengobrol. Sherin mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Xander tentang sosok mencurigakan yang baru saja dia lihat. Wanita itu memutuskan untuk menyelidikinya sendiri. "Kita lihat sebenarnya apa yang ingin dia lakukan di rumah Quinn! Berani sekali dia masuk ke kandang singa."


__ADS_2