
Xander masih tidak menyangka kalau kini dia ada di dalam pesawat yang terbang menuju ke Roma. Belum ada satu bulan ia mengantarkan Audy untuk pulang. Bahkan Xander sempat berpikir kalau seumur hidupnya dia tidak akan menginjakkan kaki di Roma lagi agar tidak pernah bertemu dengan Audy.
"Ini pasti sebuah lelucon. Kenapa aku bisa ada di pesawat? Kenapa juga aku terbang ke Roma? Setelah bertemu dengannya aku pasti hanya akan menjadi bahan guyonan semua orang. Mereka pasti akan memandangku sebagai pria yang tidak berprinsip!" batin Xander yang lagi-lagi ragu dengan keputusan yang ia ambil.
Pengawal setia Xander yang kini duduk di samping Xander hanya bisa geleng-geleng kepala saja. ?Memang sejak bertemu dengan Audy, Xander terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Terkadang pria itu terlihat lebih ceria dan bersemangat. Namun terkadang juga pria itu terlihat seperti mayat hidup yang tidak memiliki tujuan.
"Tuan, apa Anda ingin minum? Saya akan pesankan minuman dingin agar anda bisa lebih tenang." Meskipun di luar sana langit sangat gelap, tetapi justru Xander terlihat kepanasan di dalam pesawat. Pria itu sangat gelisah sampai-sampai tidak bisa duduk dengan tenang.
"Tidak!" tolak Xander.
"Anda harus istirahat, Tuan." Pria itu terus saja membujuk Xander agar tidak terus terjaga seperti sekarang.
__ADS_1
"Diamlah!" ketus Xander. Meskipun terlihat tidak suka. Tetapi kini dia mulai memejamkan mata dan mencari posisi tidur yang nyaman. Pengawal setianya kini bisa bernapas lega dan ikut istirahat.
...***...
Keesokan paginya, Dimitri yang baru saja selesai sarapan mengangkat telepon dari Joa. Memang sejak tadi malam ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Beruntung pagi ini Joa sudah menelepon. Sayangnya Joa justru memberi kabar yang membuat Dimitri kaget.
"Xander ke Roma? Apa ada masalah?" tanya Dimitri khawatir. Pria itu melirik Quinn sebelum mengecilkan suaranya. "Kau tidak mengawasinya?" Joa memberi tahunya kalau Xander tidak kelihatan karena berangkat ke Roma.
"Sejak dulu memang Xander merupakan pria yang sangat misterius. Sulit untuk menebak jalan pikirannya. Aku harap dia baik-baik saja dan pulang secepatnya." Dimitri diam sejenak sebelum bicara lagi. "Joa, kapan kalian berangkat bulan madu? Ada beberapa masalah yang tidak bisa aku selesaikan sendiri. Maafkan aku karena harus memberimu pekerjaan di momen seperti ini. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan Quinn. Kondisinya akhir-akhir ini terlihat sangat lemah. Dia membutuhkan perhatian lebih dariku."
Joa memandang Sherin yang sedang menyisir rambut pendeknya. Pria itu sendiri juga bingung harus jawab apa. Tetapi sebelum bergabung dengan White Snake, Joa sudah bersumpah kalau seumur hidupnya akan lebih mengutamakan urusan geng mereka daripada hal lain. Joa tidak pernah menyangka kalau sumpah itu justru menjadi bumerang sendiri bagi dirinya.
__ADS_1
"Baik, Bos. Saya akan ke sana untuk menemui anda," ucap Joa pada akhirnya. Mau bagaimanapun juga, Joa tetap bawahan Dimitri meskipun kini sudah menikah dengan Sherin.
"Terima kasih, Joa. Aku harap Sherin mau mengerti." Dimitri segera memutuskan panggilan teleponnya. Begitupun dengan Joa yang segera meletakkan ponselnya di meja.
"Apa kata Dimitri?" Sherin beranjak dari kursi. "Jangan bilang dia memberimu pekerjaan," sambung Sherin lagi.
"Sebentar saja. Aku akan segera pulang." Joa menarik Sherin lalu mengusap pipinya. "Apa boleh?"
Sherin menyingkirkan tangan Joa dari wajahnya. "Memangnya kalau aku bilang jangan kau tidak jadi Pergi?"
Joa mengernyitkan dahinya sebelum memeluk Sherin. Hanya itu yang bisa dia lakukan agar istrinya tidak marah. "Bagaimana kalau kau ikut?"
__ADS_1
Sherin tersenyum bahagia mendengarnya. "Oke, sayang. Aku setuju."