My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 137 Musuh Sherin?


__ADS_3

Sherin diam saja seperti menghindari pertanyaan Joa. Dari ekspresi wajah Sherin, Joa bisa mengetahui kalau wanita itu kenal betul dengan musuh mereka kali ini.


"Sherin!" ketus Joa mulai kesal karena Sherin rusak kunjung memberi jawaban.


"Tidak!" sahut Sherin cepat. Meskipun begitu, tetap saja Joa curiga.


Pria itu mendengus kesal lalu turun dengan membawa senjata apinya. Bersamaan dengan itu, pasukan White Snake juga tiba untuk membantu Joa.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan? Ini bukan wilayah kalian. Berani sekali kalian menghalangi jalanku!" ketus Joa dengan tatapan mengintimidasi. Satu persatu musuh wajah dia perhatian dan dia ingat.


"Kami tidak memiliki urusan dengan anda. Kami memiliki urusan dengan Nona Sherin," sahut salah satu dari pria yang kini berdiri di sana.


"Sebaiknya kita tembak saja mereka! Mereka ini memang cari masalah!"


Sherin tiba-tiba keluar dengan senjata api di tangannya. Tanpa ijin dari Joa, wanita itu mencuri senjata yang ada di mobil Joa.


"Apa yang dipikirkan wanita ini! Dia benar-benar merepotkan!" ketus Joa di dalam hati. Kepalanya langsung sakit melihat tingkah laku Sherin sore itu. Pasukan White Snake saling memandang dengan pikiran mereka masing-masing. Jelas saja mereka belum mengambil tindakan apapun karena Joa belum memberi perintah.


DUARRR DUARRR


"Mati kalian semua!" teriak Sherin.


Joa dan pasukan White Snake kaget bukan main melihat apa yang dilakukan oleh Sherin. Padahal tadinya mereka berpikir kalau musuh mereka kali ini bukan ancaman yang begitu besar.


Melihat Sherin mengeluarkan tembakan, membuat musuh tidak tinggal diam saja. Mereka bersembunyi di balik mobil dan siap untuk membalas perbuatan Sherin.


"Kalian pikir aku ini lemah? Aku bisa mengalahkan kalian semua!" teriak Sherin lagi dengan sombongnya.


Joa lalu melingkarkan tangannya di leher Sherin lalu menarik mundur wanita itu. Bersamaan dengan itu, pasukan White Snake maju untuk menyerang.


"Apa yang kau lakukan?" protes Sherin.

__ADS_1


"Apa kau gila?" Joa melepas tangannya lalu meletakkan Sherin di tempat yang aman. Suara tembakan terdengar begitu memekakkan telinga. "Kenapa kau menembak mereka?"


"Karena mereka musuh," sahut Sherin dengan santainya.


"Musuh? Musuh siapa?" Joa lagi-lagi menyelidiki.


"Musuhmu. Mana mungkin wanita sepertiku memiliki musuh." Sherin membuang tatapannya untuk menghindar.


"Kau yakin?" Joa menatap Sherin dengan penuh curiga. "


"AWAS!" Sherin tiba-tiba menarik Joa ketika ada peluru yang meluncur ke arah mereka. Joa memandang ke depan sebelum menatap Sherin lagi. "Kau berhutang nyawa padaku," ujar Sherin sambil tersenyum.


Pertarungan yang terjadi semakin sengit dan tidak kunjung menemukan titik terang. Meskipun hanya 9 orang, mereka memiliki kemampuan bela diri yang hebat dan cara menembak yang jitu.


"Bos, Anda tidak ingin mangatakan sesuatu?" Pengawal Joa angkat bicara. Pria itu merasa ada yang aneh dengan cara memimpin Joa kali ini. Biasanya pria itu tidak pernah membiarkan musuh menang. Dia akan langsung turun tangan dan membereskan semuanya. Tetapi kali ini Joa seperti sedang menunggu sesuatu.


Pria itu memandang ke arah mobilnya. Melihat posisi mobil Joa berada, rasanya tidak mungkin mereka kabur dengan mobil tersebut. "Dimana posisi mobil kalian?" 


"Urus mereka!" perintah Joa.


Tanpa mau mengajak, Joa memegang erat tangan Sherin. Menyeret wanita itu dan membawanya agar pergi meninggalkan lokasi pertarungan.


"Hei, Joa. Mau ke mana? Lepaskan. Sakit!" Sherin berusaha berontak. Tapi Joa tidak peduli. Ia terus saja berjalan menuju mobil. Sedangkan pengawal Joa tetap waspada menguasai keadaan. Ia tidak akan membiarkan satu peluru pun mengenai tubuh Joa.


"Sekarang kita harus pergi!" ucap Joa sambil berjalan.


"Bagaimana dengan mereka? Aku masih mau menembak. Ini permainan yang selalu aku tunggu-tunggu!" protes Sherin.


Joa berhenti. "Main-main? Dia menganggap hal seperti ini sebuah permainan?" gumam Joa di dalam hati. "Apa kau ingin celaka? Kau akan kalah jika berhadapan dengan mereka."


DUARRR

__ADS_1


Tembakan demi tembakan dilayangkan Joa dan bawahannya kepada siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Mobil hitam terparkir di lokasi yang tidak jauh dari mobil-mobil musuh. Joa membuka pintu mobil dan memaksa Sherin masuk ke dalam.


"Masuk!" perintah Joa.


Sherin terlihat berat hati untuk pergi. Karena geram, Joa mendorong Sherin agar segera masuk ke dalam. Pria itu tidak mau berlama-lama di sana. Dia yakin pasukan White Snake juga bisa membereskannya.


Pengawal Joa yang sudah ada di jok kemudi hanya diam saja melihat Sherin dan Joa. Ia memandang Joa dari kaca di depannya. Mereka berdua mengambil beberapa senjata api yang memang sudah ada di dalam mobil. Bahkan ratusan peluru juga tersusun rapi di dalam sana.


"Bagaimana kalau mereka mengikuti kita?"


"Apa kau bisa diam?" Joa semakin geram.


"Tapi kita tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja," sahut Sherin tidak mau kalah. "Bagaimana kalau-"


Cup. Joa mencium bibir Sherin karena geram. Hal itu ternyata berhasil membuat wanita cerewet itu terdiam. Pengawal Joa yang ada di depan hanya tersenyum kecil melihatnya. Dia segera melajukan mobil meninggalkan lokasi pertarungan.


Sherin menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Pengawal Joa yang ada di depan lagi-lagi tersenyum. Belum pernah ia melihat Joa sekesal itu. Apa lagi sampai mencium seorang wanita.


"Apa dia baru saja menciumku? Berani sekali dia," omel Sherin di dalam hati.


"Menunduk!" teriak Joa. Sherin masih bengong. Joa berteriak namun Sherin masih larut dengan pikirannya sendiri. Saat menyadari Sherin tidak kunjung menunduk, Joa segera mengangkat tangannya untuk menundukkan kepala Sherin secara paksa.


"Joa, kau kasar sekali!" ketus Sherin sebelum menghempaskan tangan Joa yang sudah menyentuh kepalanya.


DUARR DUARR


Joa mengeluarkan senjata apinya dari jendela. Ia mengincar ban mobil yang kini mengikutinya di belakang. Satu tembakan saja berhasil mengenai ban mobil musuh hingga akhirnya pecah. Mobil itu oleng dan menghadang mobil yang lain. Joa merasa puas ketika dalam hitungan detik saja musuhnya berhasil dikalahkan.


Sherin melirik wajah Joa sebelum menunduk. Melihat Joa ketika beraksi seperti itu membuatnya terkesima. Namun dia masih kesal karena Joa menciumnya tanpa permisi.


"Bos, mereka pasukan Yakuza," ujar supir di depan.

__ADS_1


"Yakuza? Kenapa mereka ke sini? Kita tidak memiliki masalah dengan Yakuza!" ujar Joa bingung. Pria itu langsung menatap ke arah Sherin. "Kali ini aku ingin kau jujur. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi Nona Sherin yang terhormat!"


__ADS_2