
"Quinn, apa yang kau lakukan? Kenapa kau melihat rekaman seperti ini? Bukankah kau sendiri yang bilang sama mommy kalau kau tidak mau mengganggu privasi orang lain? Meskipun Dimitri adalah kekasihmu, tetapi perbuatanmu ini tidak benar. Kau harus memberinya kepercayaan."
Tiffany merasa tidak tenang ketika Quinn memutuskan untuk melihat apa saja yang sudah dilakukan oleh Dimitri selama dia masuk rumah sakit. Semua tentang pertarungan. Bahkan ada beberapa kejadian yang justru membuat Quinn panik sendiri.
"Setelah ini dia kemana? Tidak ada signal dan di sini tidak ada camera cctv. Bagaimana caranya aku mengetahui apa yang dia lakukan?" batin Quinn sambil terus menonton kegiatan Dimitri.
"Cukup, Quinn!" Tiffany yang mulai kesal menutup laptop Quinn dengan paksa. Wanita paruh baya itu memandang putrinya dengan tatapan tidak suka. "Apa untungnya bagimu? Jika kau merasa bersalah, kau seharusnya minta maaf. Bukan dengan cara seperti ini." Bukan hanya menutup laptop Quinn saja. Bahkan Tiffany merebutnya dan meletakkan barang elektronik itu di atas meja. Cukup jauh dari jangkauan Quinn saat ini.
"Mom, aku hanya ingin tahu apa saja yang dia lakukan. Dia tidak mau jujur, Mom." Quinn berusaha membela diri. Bahkan wanita itu ingin turun dari tempat tidur untuk mengambil laptopnya kembali.
"Quinn, kau tidak memiliki hak apapun terhadap Dimitri. Kalian belum menikah. Dia bebas melakukan apapun tanpa harus minta izin darimu." Tiffany mencegah Quinn turun dengan cara menahan pundak putrinya.
"Mommy, tolong jangan halangi aku. Biar aku melakukan apa yang menurutku benar, Mom."
"Quinn, menurutlah!"
Pintu terbuka. Luca dan Dimitri kaget melihat perdebatan ibu dan anak itu. Dua pria itu segera berlari menghampiri.
"Tiffany, ada apa?" Luca segera menarik Tiffany. Sedangkan Dimitri berdiri di samping Quinn. Pria itu sendiri tidak tahu harus bicara apa.
"Sudahlah. Sebaiknya kita lupakan saja," ucap Tiffany memberi solusi. Quinn yang tidak mau sampai ketahuan langsung saja mengangguk setuju.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Bisakah kita bicara di luar?" ajak Luca. Tiffany hanya menurut saja ketika suaminya menarik tangannya.
"Quinn, kenapa kau duduk. Kau harus banyak berbaring." Dimitri terlihat khawatir.
"Bukankah kau seharusnya sudah pulang?" Quinn tetap menurut. Dia membaringkan tubuhnya dibantu oleh Dimitri.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan. Aku perlu bantuanmu untuk mengetahui keberadaan Tuan Nio. Dia adalah dalang dari semua ini. Apa kau mau membantuku?"
"Untuk apa bertanya? Jelas saja aku mau membantumu." Quinn melirik laptopnya. "Ambilkan laptopku. Mommy mengganggu pekerjaanku tadi."
Dimitri tidak langsung melangkah. Pria itu menatap wajah Quinn dengan saksama. "Quinn, maafkan aku. Aku salah. Tidak seharusnya aku bicara kasar seperti tadi."
"Aku yang salah." Quinn memandang ke arah Dimitri juga. "Aku tahu kau melakukan semua ini karena kau sayang padaku. Tapi, aku justru memikirkan orang lain yang jelas-jelas tidak tulus menyayangiku. Maafkan aku."
Dimitri akhirnya bisa bernapas dengan lega. "Tidak ada yang salah. Sebaiknya kita lupakan saja semua yang terjadi." Dimitri melangkah ke meja dan mengambil laptop Quinn. Dia membuka layarnya lalu meletakkannya di atas meja yang ada di tempat tidur.
Dimitri juga memandang ke layar laptop. Wajah pria itu berubah ketika dia tahu kalau Quinn baru saja melihat ulang rekaman cctv. "Kau menyelidikiku?"
"Aku ingin tahu apa yang terjadi selama aku ada di rumah sakit. Sebenarnya ini bukan hanya kau saja. Aku juga ingin tahu apa yang dilakukan kedua orang tuaku. Aku tidak suka ada rahasia." Quinn kembali fokus pada layar laptopnya.
"Quinn, seharusnya kau tidak melihatnya." Dimitri duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.
"Apa kau mencintainya? Jika kau mencintainya berjanjilah untuk menjaganya," ucap Dimitri. Kini ada Xander yang menjadi lawan bicaranya.
"Kau akan pergi? Secepat ini?"
"Tidak. Aku tidak akan pergi. Hanya saja, aku ragu bisa pulang dalam keadaan utuh."
"Hei, Boss! Sejak kapan kau menyerah sebelum bertarung seperti ini?"
"Entahlah. Musuhku kali ini cukup kuat. Dia memiliki organisasi yang sangat rapi. Belum melawan ketuanya aku sudah kehabisan anak buah." Wajah Dimitri terlihat sedih sekali.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" Xander menepuk pundak Dimitri.
__ADS_1
"Jaga Quinn. Jika aku tidak kembali, tetap jaga dia. Tapi, jangan nikahi dia."
"Kau sangat egois Boss!" Xander terkekeh geli. Dua pria itu kembali diam sebelum akhirnya berpelukan. "Pulanglah dalam keadaan baik-baik saja!"
Kedua mata Quinn berkaca-kaca. Dia mengatur napasnya sebelum memandang ke arah Dimitri. "Kenapa kau tidak cerita padaku? Sekarang cepat katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar masalah ini segera selesai."
Dimitri memegang tangan Quinn lalu mengusapnya dengan lembut. "Bukan hanya Tuan Zio musuhku Quinn. Setelah mereka tahu kalau aku memiliki musuh baru, musuhku yang lain juga mencari cara untuk mencelakaiku. Mereka semua mengincar nyawaku."
"Aku bisa bertarung. Daddy bisa bertarung. Semua orang bisa membantumu."
"Jangan Quinn. Aku tidak mau menyusahkan orang lain. Sekarang aku dan Daddymu akan mencari cara untuk menemui Tuan Nio. Kami akan memberinya pelajaran. Setelah itu aku akan pergi untuk menghadapi musuhku sendiri. Aku harap, selama aku pergi kau tetap bisa jaga diri."
"Aku juga ikut." Quinn mulai meneteskan air mata. "Aku bisa membantumu."
"Ini tidak semudah yang kau pikirkan." Dimitri masih belum berani memandang wajah Quinn secara langsung.
"Berapa lama?"
"Mungkin sebulan atau setahun."
"Kenapa lama sekali? Bagaimana dengan pernikahan kita?" protes Quinn tidak setuju.
"Aku akan menikahimu setelah aku berhasil menyelesaikan masalahku. Saat ini aku hanya ingin fokus untuk mencari penawar racunnya." Dimitri mengusap pipi Quinn sambil tersenyum. "Xander akan menjadi temanmu bukan?"
"Bagaimana kalau aku jatuh cinta padanya selama kau pergi?" ucap Quinn asal saja. Dia tidak mau Dimitri pergi.
"Tidak boleh. Kau hanya milikku." Dimitri memeluk Quinn dengan erat. Mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh cinta. "Rahasiakan masalah ini dari orang tuamu Quinn. Aku tidak mau mereka ikut campur dalam masalahku."
__ADS_1
Quinn mengangguk. "Aku akan membantumu. Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian."