
Kedua mata Sherin terlihat berkaca-kaca. Momen seperti ini adalah momen yang sangat dia nanti-nanti selama ini. Karena sudah lelah berharap, pada akhirnya Wanita itu membuang jauh-jauh harapan tersebut.
Sherin berputar lalu memandang Joa dengan buliran air mata yang sudah menetes. Rasanya dia masih tidak menyangka dengan apa yang ia dengar. Bahkan ada secuil kekhawatiran di hatinya. Takut jika Joa hanya sekedar bercanda saja.
"Joa, jangan menghiburku dengan kata-kata seperti ini. Aku ini seorang wanita yang memiliki perasaan yang begitu lembut. Jangan memberiku sebuah janji yang kau sendiri tidak bisa menepatinya." Sherin menghapus air mata di pipinya.
"Sherin, aku tidak sedang menghiburmu." Joa berjalan mendekati Sherin lalu memegang kedua tangan wanita itu. "Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan kalimat seperti ini kepadamu. Tetapi aku tidak pernah memiliki keberanian. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta kepada seorang wanita. Jadi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
"Jangan bohong karena aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan," ucap Sherin tanpa memandang.
"Kau bisa tanyakan langsung kepada Nona Quinn dan juga bos Dimitri. Bagaimana perjuanganku untuk memberanikan diri mengatakan kalimat seperti ini di hadapanmu," ucap Joa dengan begitu serius.
Sherin memandang wajah Joa lalu tersenyum. "Apakah kau benar-benar mencintaiku?"
Joa mengangguk setuju. "Ya. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu."
Sherin langsung memeluk Joa dengan erat. Hanya mendengar jawaban sederhana dari Joa seperti itu saja sudah membuatnya bahagia luar biasa. "Apakah ini berarti kita sudah pacaran?"
Joa tersenyum mendengarnya. "Ya, mulai sekarang kita pacaran. Ke depannya kita akan membahas soal pernikahan."
Sherin semakin bersemangat mendengarnya. Wanita itu memeluk Joa semakin erat lagi. "Aku mencintaimu Joa. Sangat-sangat mencintaimu. Berjanjilah padaku untuk tidak pernah menyakiti hatiku. Apalagi mengecewakanku. Tetaplah menjadi Joa yang seperti ini. Joa yang aku kenal. Joa yang tidak mudah jatuh cinta. Joa yang selalu melindungi wanita yang dicintainya."
Dari dalam mobil Quinn dan Dimitri tersenyum bahagia melihat pemandangan tersebut. Begitupun dengan Xander yang ternyata masih ada di lokasi parkir dan kini menonton apa yang terjadi. Ada rasa bahagia di hati Xander ketika melihat Sherin tersenyum bahagia seperti itu. Dia memang benar-benar tulus menganggap Sherin sebagai adiknya dan ingin adiknya itu bahagia.
Quinn menutup laptopnya Karena dia sudah tidak membutuhkannya lagi. Sejak tadi wanita itu melihat apa yang terjadi di dalam restoran melalui laptop. Dimitri terlihat lega sekarang karena pada akhirnya Joa dan Sherin berpacaran.
"Akhirnya rencana kita berhasil juga. Akting Xander lumayan bagus. Entah dari mana dia mempelajarinya," puji Dimitri.
"Ya, Sayang. Kau benar. Bahkan tadi aku sempat berpikir kalau Xander benar-benar menyukai Sherin karena dari cara dia menatap Sherin dan berbicara tadi terlihat sangat serius. Seolah dia yang benar-benar mencintai Sherin dan tidak mau kehilangan wanita itu."
Dimitri menggenggam tangan Quinn. "Tetapi sekarang semua sudah berakhir. Tugas kita untuk menyatukan mereka berdua telah berhasil."
Quinn menggangguk. Tiba-tiba wanita itu merasa mual bahkan mencium aroma mobil saja ia menjadi pusing. "Bau apa ini?" Quinn cepat-cepat membuka kaca mobil karena ingin udara segar segera masuk ke dalam.
"Sayang, ada apa? Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau Joa melihat kita?" Dimitri cepat-cepat menutup jendela mobil.
"Sayang, kepalaku pusing sekali. Perutku juga tiba-tiba terasa mual."
"Apa kau sakit?" Dimitri segera memeriksa suhu tubuh Quinn. Namun wanita itu baik-baik saja. Dia tidak demam. "Kita pulang ya. Aku akan telepon Dokter Fei untuk memeriksamu."
Quinn merasa semakin lemas. Bahkan ia tidak bisa lagi memandang wajah Dimitri dengan jelas. Bibir wanita itu berubah menjadi pucat dan itu membuat Dimitri semakin khawatir.
"Sayang, Apa kau masih bisa mendengar suaraku? Jangan seperti ini. Jangan membuatku takut."
Quinn tidak sadarkan diri. Dimitri yang panik segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Pria itu ingin istrinya ditangani oleh tim medis."
Joa mengernyitkan dahi ketika melihat mobil Dimitri lewat di hadapannya. Detik itu pria itu baru saja sadar kalau sejak tadi apa yang ia lakukan bersama dengan Sherin ditonton langsung oleh Dimitri. Meskipun begitu dia sama sekali tidak marah.
__ADS_1
"Ayo kita jalan-jalan. Kita harus merayakan hari jadian kita. Ini adalah hari paling bahagia yang pernah aku rasakan seumur hidupku," ajak Sherin sambil merangkul lengan kekar Joa. Kini wanita itu tidak perlu segan-segan lagi jika ingin bergelayut manja di lengan kekasihnya itu.
"Ke mana? Apakah kau tahu di mana tempat yang bagus?" tanya Joa.
"Aku tidak tahu tetapi kita akan mencarinya bersama-sama." Sepasang kekasih yang baru saja jadian itu segera masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan restoran. Melihat tidak ada lagi yang harus ia saksikan Xander juga segera melajukan mobilnya dan kembali ke perusahaan.
...***...
Dimitri mengusap tangan Quinn sambil tersenyum bahagia. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia ini kepada Quinn. Sesekali Dimitri mengusap perut rata Quinn karena di sana sudah ada buah cinta mereka.
Pintu terbuka lebar. Tiffany dan Luca baru saja tiba. Melihat Quinn masih belum sadarkan diri membuat Tiffany sedih. Namun Ia juga bahagia karena tidak lama lagi wanita itu akan menggendong cucu.
"Apa kata dokter? Kenapa Quinn masih belum sadar juga?" tanya Luca dengan wajah yang sangat khawatir.
"Dokter bilang kalau Quinn hanya butuh istirahat. Dia terlalu banyak pikiran," jawab Dimitri takut-takut. Dia tidak mau sampai kedua mertuanya itu berpikiran yang buruk tentangnya karena sudah gagal menjaga Quinn hingga sampai pingsan seperti ini.
"Ini hal yang biasa terjadi jika seorang wanita hamil. Kau tidak perlu khawatir seperti itu," ucap Tiffany memberi pengertian. Dari wajah sedih Dimitri wanita itu sudah bisa menilai bagaimana kekhawatiran Dimitri saat ini.
"Terima kasih, Mom," sahut Dimitri sambil tersenyum lega.
Quinn membuka matanya secara perlahan. Wanita itu kaget ketika melihat ibu kandungnya ada di sana. Dia memiringkan kepalanya ke samping dan melihat Luca dan juga Dimitri secara bergantian.
"Ada apa? Kenapa semuanya berkumpul seperti ini?Apa Aku sakit?" tanya Quinn dengan wajah yang sedih.
"Tidak sayang. Kau tidak sakit." Tiffany mengukir senyuman bahagia. Namun ia tidak mau mengatakan kabar gembira ini kepada Quinn. Tiffany ingin Dimitri langsung lah yang memberitahu Quinn.
"Ya, kepalaku terasa berat sekali. Apa aku sakit? Kenapa aku harus dibawa ke rumah sakit?"
Dimitri menggeleng sambil tersenyum bahagia. "Aku punya kabar baik untukmu ... Untuk kita."
"Kabar baik apa?" tanya Quinn dengan nada yang sangat lemah.
"Dokter bilang kau hamil. Kita akan segera memiliki anak." Dimitri memegang perut Quinn. "Sebentar lagi akan ada yang memanggilmu dengan sebutan mami dan memanggilku dengan sebutan Daddy."
Wajah Quinn langsung berseri mendengar kabar baik yang baru saja dikatakan oleh Dimitri. "Benarkah? Apa kau tidak sedang bercanda?"
"Tidak sayang. Aku tidak bercanda." Dimitri mengambil hasil USG lalu memberikannya kepada Quinn. "Lihatlah di sini. Ini adalah anak kita. Dokter bilang ukurannya masih seperti kacang. Sangat kecil tetapi ia tumbuh dengan sehat."
Quinn tersenyum bahagia dengan kedua mata berkaca-kaca. Wanita itu sangat bahagia menerima kabar baik ini. "Anakku?"
"Sayang Selamat ya. Mommy dan Daddy sangat senang mendengar kabar gembira ini. Mulai sekarang kau harus menjaga kesehatanmu. Makan makanan yang bergizi. kau juga tidak boleh terlalu banyak pikiran karena itu akan mempengaruhi kesehatan bayimu. Mommy akan sering-sering mengunjungimu untuk merawatmu sayang."
"Terima kasih Mommy. Aku sangat sangat bahagia mendengar kabar baik ini."
"Dimitri, mulai sekarang kau harus lebih banyak menghabiskan waktumu bersama dengan Quinn. Urusan perusahaan bisa kau serahkan kepada Robin anak buahmu itu. Dan sebaiknya jangan lagi mencari masalah agar musuhmu tidak bertambah. Perketat penjagaan di rumah. Pastikan semua orang yang ada di mansion mu itu bisa dipercaya. Daddy tidak mau ada seorang penghianat di lingkungan kalian," ucap Luca memperingati.
"Baik Dad. Tapi sejauh ini saya bisa pastikan kalau orang-orang yang bekerja dengan saya bisa dipercaya. Tidak ada penghianat di sana. Penjagaan juga sudah diperketat. Soal perusahaan memang akan saya serahkan kepada Robin. Mulai sekarang saya akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Quinn dan calon anak kami."
__ADS_1
"Ya. Ini anak pertama kalian. Kalian harus menjaganya dengan baik. Mommy senang sekali mendengarnya. Rasanya Mommy ingin menangis. Mommy kembali ingat ketika pertama kali Mommy tahu kalau kau ada di dalam perut Mommy."
Luca memandang ke arah Tiffany dengan tatapan tidak terbaca. Saat itu Luca tidak ada di sisi Tiffany karena memang dia tidak tahu kalau telah ada benihnya di dalam rahim Tiffany.
"Lalu kapan aku bisa pulang? Aku tidak mau lama-lama di rumah sakit ini. Aku ingin tidur di kamarku," pinta Quinn sembari memandang wajah suaminya.
"Dokter mengizinkanmu pulang setelah 1 botol infus ini habis. Tetapi ingat, di rumah nanti kau juga harus rutin meminum vitamin," ucap Dimitri memperingati.
Quinn mengangguk sambil tersenyum. "Aku akan melakukan apapun asal anakku sehat," ucap wanita itu sambil mengusap perutnya.
Di sisi lain, Sherin dan Joa baru saja tiba di sebuah pantai. Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bermain di pinggiran pantai. Sherin tersenyum bahagia saat Joa menggandeng tangannya dengan mesra. Wanita itu merasa seperti seorang Ratu yang diberi perlakuan istimewa oleh sang raja.
"Sherin?"
Sherin dan Joa sama-sama memandang ke arah samping ketika seorang wanita memanggil mereka. Mereka berdua melihat Peiyu yang berdiri di sana dengan pakaian pantai. Wanita itu tersenyum bahagia melihat Joa dan Sherin juga ada di sana.
"Peiyu?" tanya Sherin ragu-ragu karena memang sebelumnya mereka belum pernah bertatap muka secara langsung seperti ini. Yang Sherin tahu hanya wajahnya mirip dengan Peiyu.
"Ya, dia Peiyu. Kekasihku," ucap Zack Lee. Pria itu tiba-tiba muncul lalu memeluk Peiyu dari belakang.
"Joa, Terima kasih karena sudah menyadarkanku. Semalam aku sempat mencarimu tetapi aku tidak berhasil menemukanmu. Aku ingin mengucapkan terima kasih." Peiyu mengeluarkan sebuah kunci kamar hotel lalu memberikannya kepada Joa. "Kami sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk kalian. Tetapi kami tidak bisa membawanya. Kalian bisa mengambilnya sendiri di hotel. Di situ sudah tertulis nama hotel dan nomor kamarnya."
Sherin segera menerima kunci hotel tersebut. Dia memandang ke arah Joa untuk meminta persetujuan. "Tapi kami membantu kalian tanpa mengharap imbalan apapun. Kalian tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Sherin dengan senyuman.
"Siapa yang bilang kalau Kami merasa repot? Justru Kami merasa sangat berterima kasih kepada kalian berdua karena sudah menyatukan kami seperti ini. Hadiah kecil itu sama sekali tidak ada nilainya bagiku jika dibandingkan dengan Peiyu," ucap Zack Lee. Pria itu tidak mau jika Sherin dan Joa menolak hadiah yang ia berikan.
"Baiklah jika kalian memaksa kami akan mengambil hadiah ini nanti. Karena sekarang kami juga ingin bersenang-senang di pantai," jawab Sherin pada akhirnya.
Peiyu mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. "Senang bertemu denganmu, Sherin. Semoga kedepannya kita bisa berteman dengan baik."
Sherin memandang tangan Peiyu sejenak sebelum menyambut uluran tangan wanita itu. "Ya. Aku bahkan berharap kita bukan hanya sekedar teman tetapi menjadi saudara." Peiyu mengangguk sambil tersenyum. Dua wanita itu terlihat bahagia.
Joa segera mengambil ponselnya dari dalam saku ketika seseorang menghubunginya. Pria itu sedikit menjauh dari Sherin. Ekspresi wajahnya yang langsung berubah membuat Sherin menjadi khawatir. Wanita itu segera menghampiri Joa ketika Joa telah selesai menelepon.
"Ada apa? Apa Ada hal buruk yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti ini?" tanya Sherin dengan penuh kekhawatiran.
"Nona Quinn...."
"Quinn? Ada apa dengan Quinn?" Sherin mengguncang lengan Joa karena sangat penasaran. "Cepat katakan padaku apa yang terjadi pada Quinn?"
"Nona Quinn ... Nona Quinn hamil."
Kedua mata Sherin langsung bersinar bahagia. "Benarkah? Quinn hamil." Wanita itu segera menggandeng lengan Joa dan menariknya dengan paksa. "Sekarang ayo kita temui mereka. Aku ingin mengucapkan selamat kepada Quinn."
"Bukankah kita ingin bersenang-senang di pantai?" tanya Joa.
"Nanti saja. Kita masih memiliki banyak waktu. Sekarang yang terpenting adalah menemui Quinn. Aku sudah tidak sabar untuk mengucapkan selamat padanya." Joa tidak bisa protes lagi.
__ADS_1
Kini pria itu mengikuti kekasihnya kembali ke mobil. Sambil melangkah pria itu memandang ke arah Zack Lee. Dia melempar senyum sebagai tanda kalau sudah tidak ada lagi permusuhan di antara mereka.