
Dimitri dan Quinn baru saja tiba. Mengetahui kalau Joa sedang sibuk melawan musuh. Membuat musuh mereka yang lain memanfaatkan kesempatan ini. Mereka semua lupa kalau masih ada Dimitri dan istrinya yang akan muncul dan melawan mereka semua.
"Sayang, jangan jauh-jauh dariku," ucap Dimitri memperingati ketika mereka sudah turun dari mobil.
"Hmm," gumam Quinn. Wanita itu sudah tidak sabar untuk bertarung. Sudah lama dia tidak beraksi seperti ini. Quinn berhenti dan memasukkan peluru ke dalam senjata yang ia genggam. Begitupun dengan Dimitri.
Anak buah White Snake yang bertugas menjaga markas terlihat senang melihat Dimitri muncul di sana. Mereka semua segera mendekati Dimitri.
"Dimana Joa? Apa yang dia lakukan?"
"Bos Joa berhadapan dengan para Yakuza, Bos," sahut pria itu apa adanya.
"Yakuza? Apa yang terjadi? Kenapa ada masalah sebesar ini aku tidak tahu?" protes Dimitri kesal. Meskipun begitu, dia tidak mau menunggu anak buahnya menjelaskan. Pria itu segera mencari posisi untuk menyerang.
Quinn memandang Dimitri sejenak sebelum mengangkat senjata apinya. Tiba-tiba saja Dimitri bersiul hingga membuat Quinn memandang ke samping.
"Bagaimana kalau dua?" tawar Dimitri. Pria itu memamerkan sebuah senjata api. Quinn menjawab dengan anggukan.
Dimitri melempar senjata api itu ke arah Quinn. Quinn segera menangkapnya. Wanita itu memberi kedipan mata untuk menggoda suaminya. "Thanks Baby!"
Dimitri tertawa kecil melihatnya. "Awas saja kau!" ancamnya sebelum kembali menyerang. Pria itu memberi pukulan dan tendangan ke arah lawan. Satu persatu musuh yang berhadapan dengan Dimitri kalah begitu saja. Bahkan sebelum mereka sempat melawan.
Quinn dengan senjata api di tangannya memilih untuk melawan tanpa bertarung. Wanita itu mengangkat dua senjata api yang ada di genggamannya ke atas lalu menembak musuh yang ada di depan.
"Seperti main game. Sayang Malvin dan Nichole tidak ada di sini," batin Quinn. Wanita itu memutar tubuhnya dan menembak lagi. Tidak ada satu musuhpun yang luput dari pandangannya.
Quinn mengernyitkan dahi melihat musuh kembali muncul. Padahal tadinya dia pikir musuh sudah habis. Wanita itu berdiri tenang sembari menatap satu persatu musuhnya.
Dimitri sudah khawatir dengan keselamatan istrinya. Ketika ingin melangkah mendekat justru Quinn kembali menarik pelatuk senjatanya lagi.
"Apa dia berdoa sebelum menembak?" batin Dimitri. Pria itu kembali menghajar musuh di depannya.
Quinn terlihat kesal karena harus kehabisan peluru. "Aku tahu pelurunya sudah mau habis!" umpat Quinn kesal. Wanita itu melempar senjata api yang sempat dia gunakan untuk menembak sebelum menyerang dengan tangan kosong.
"Kemarilah! Kalian semua akan menyesal karena sudah bertemu denganku hari ini." Quinn memutar tubuhnya sambil mengangkat kakinya ke atas. Kali ini tendangannya berpusat pada wajah musuh.
Musuh sampai melangkah mundur ketika high heels yang dikenakan Quinn merobek wajahnya. Ketika ingin memberi perlawanan, justru Dimitri muncul dan menghajar habis pria tersebut.
__ADS_1
Quinn mengangguk sambil memajukan bibirnya sebagai bentuk kecupan yang memang sengaja untuk menggoda suaminya. Dimitri hanya memandang tanpa ekspresi sebelum kembali bertarung.
"Dia pasti akan benar-benar menghukumku nanti malam. Sebaiknya sekarang aku tidak bercanda lagi," batin Quinn.
"Siapa kalian? Siapa yang sudah mengirim kalian?"
Dimitri menyisakan satu musuh untuk mengetahui sebenarnya siapa yang sudah mengirim mereka semua. Sayangnya pria tersebut memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada harus berkata yang sebenarnya terjadi.
"Itu prinsip mereka. Lebih baik mati atau keluarga mereka dalam bahaya. Mereka tidak akan mau mengatakan siapa ketua mereka," ujar Quinn dari kejauhan.
Dimitri segera melempar jasad musuhnya ke tanah sebelum berjalan menghampiri istrinya. "Mereka semua musuh Joa. Tapi sampai detik ini kami belum berhasil mengetahui dalang dari semua kekacauan ini."
"Pasti sangat sulit untuk mencarinya." Quinn ingin segera pergi meninggalkan markas White Snake, tetapi tiba-tiba Dimitri memegang tangannya. Wanita itu menahan langkah kakinya lalu memandang suaminya dengan alis saling bertaut. "Ada apa, Bos?"
Dimitri menarik Quinn lalu mencium wanita itu tanpa peduli dengan keberadaan anak buahnya sendiri di sana. Quinn menggenggam tangannya karena malu. Meskipun begitu, dia tetap membalas kecupan mesra suaminya.
"Hei, berhentilah bermesraan! Di sini ada banyak orang yang melihatnya!" teriak Sherin.
Quinn segera mendorong Dimitri. Wajah wanita itu memerah karena malu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Sherin dan Joa sudah tiba. Berbeda dengan Dimitri yang tetap terlihat tenang. Tatapan pria itu tertuju pada Joa yang kini dipenuhi dengan luka.
"Yakuza?" tanya Dimitri.
"Sebenarnya mereka mengincarku," ucap Sherin. Wanita itu tidak mau Joa disalahkan oleh Dimitri.
"Sejak kapan kau memiliki musuh?" tanya Quinn bingung. Rasanya sulit untuk percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Sherin.
"Ceritanya panjang," jawab Sherin tidak bersemangat.
"Aku memiliki waktu yang banyak untuk mendengarkannya." Quinn menatap Sherin dengan serius. Dia hanya tidak mau sampai Sherin celaka. Sebisa mungkin Quinn akan membantu Sherin keluar dari masalah ini.
"Aku yang salah. Tapi mereka pasti tidak mau menerima maafku. Mereka mau aku membayar kesalahanku dengan satu-satunya nyawa yang aku miliki," jelas Sherin. Meskipun tidak diceritakan secara detail, tetapi kini Quinn tahu masalah seperti apa yang dihadapi Sherin.
"Mereka mencarimu hingga ke kota ini?" tanya Quinn lagi untuk memastikan.
"Sudah lama kejadiannya. Sepertinya mereka juga tidak sengaja menemukanku di kota ini." Sherin menghela napas panjang. Wajahnya terlihat sangat kelelahan akibat pertarungannya tadi.
"Sherin, ayo ke rumah. Kau butuh istirahat dan makan. Aku juga ingin mendengar cerita lengkapnya," ajak Quinn. Wanita itu langsung menggandeng Sherin dan membawanya ke mobil tanpa peduli Sherin setuju atau tidak.
__ADS_1
Sherin memandang ke arah Joa. Wanita itu seperti tidak mau berpisah dari pria tangguh tersebut. Namun untuk menolak ajakan Quinn, rasanya dia tidak tega.
Dimitri bisa mengetahui apa yang dipikirkan oleh Sherin dan Joa dari cara mereka memandang. Hal itu membuatnya tersenyum tipis. Baru ini Dimitri melihat ekspresi Joa yang seperti itu. Sungguh menggemaskan. Joa seperti berat hati berpisah dari Sherin namun dia tidak mau mengakuinya.
"Joa, ikut denganku." Dimitri melempar kunci mobilnya. "Kau yang bawa mobil."
Joa segera menangkap kunci mobil tersebut. "Baik, Bos!"
Quinn dan Sherin masuk ke bangku belakang. Sedangkan Joa dan Dimitri di depan. Beberapa anggota White Snake juga ikut di belakang. Mereka juga pasti akan selalu menjaga Dimitri dan Joa setelah kejadian tidak terduga hari ini.
...***...
Zack Lee berdiri di depan makam Aigu dengan ekspresi tidak terbaca. Beberapa orang terdekat Aigu juga ada di sana untuk mengantarkan Aigu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Mereka semua merasa kehilangan atas kepergian Aigu.
"Bos, Aigu orang yang sangat hebat. Kami semua pasti merasa kehilangan setelah kepergiannya!" ujar salah satu bawahan Zack Lee yang berdiri di sampingnya. "Kami masih tidak menyangka kalau dia bisa tewas dengan cara yang begitu sepele. Bahkan biasanya pertarungan yang lebih hebat juga sudah pernah dia lalui dan dia masih tetap bisa berkumpul di antara kita."
"Sudah berapa lama kalian kenal dengan Aigu?" tanya Zack Lee. Dia tahu kalau orang-orang yang baru saja bicara dengannya adalah orang yang dibawa oleh Aigu.
"Sudah cukup lama Bos. Jika Aigu tidak membawa kami mungkin selamanya kita tidak akan pernah bertemu dan Kami tidak akan pernah merasakan bekerja di bawah pimpinan anda," jawab pria itu apa adanya.
"Meskipun hanya beberapa tahun saja aku kenal dengan Aigu, tetapi aku cukup percaya kalau dia adalah orang yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya. Aku sendiri juga tidak tahu apakah masih bisa bertemu dengan pria sehebat Aigu lagi."
"Bos, langit semakin gelap. Sebaiknya anda segera kembali ke apartemen. Saya akan memanggilkan dokter untuk memeriksa kondisi anda."
Zack Lee hanya mengangguk sebelum berjalan menuju ke mobil. Beberapa pria bersenjata sudah menunggunya di sana. Mereka membukakan pintu lalu membiarkan Zack Lee masuk ke dalam. Setelah dipastikan kondisi aman mobil tersebut melaju dengan kencang meninggalkan lokasi pemakaman.
Zack Lee mengambil kunci yang sempat diberikan oleh Aigu. Entah kenapa rasa penasarannya semakin besar karena apa yang diucapkan oleh Aigu berhubungan dengan Peiyu. Dia ingin tahu sebenarnya rahasia apa yang sudah disembunyikan oleh Aigu selama ini.
"Kita ke bandara!" perintah Zack Lee sekarang juga.
"Ke bandara bos? Anda ingin pergi ke mana? Bukankah kita tidak ada jadwal apapun hari ini?" tanya pria di depan dengan wajah bingung.
"ke Jepang," jawab Zack Lee.
Pria itu kaget mendengar jawaban Zack Lee. "Jepang? Tapi para Yakuza sedang mengincar nyawa Anda. Kenapa Anda ingin datang untuk menemui mereka?"
"Aku bukan ingin menemui para Yakuza. Aku ingin pergi ke markas kita yang sudah lama kita tinggal. Aku ingin berkunjung ke kamar Aigu. Ada sesuatu yang ingin aku cari di sana."
__ADS_1
Sopir yang ada di depan tidak bisa protes lagi. Dia segera melajukan mobilnya menuju ke arah bandara. Beberapa mobil yang ada di belakang mobil tersebut juga terlihat bingung ketika arah mobil mereka tidak menuju ke apartemen. Meskipun begitu mereka semua hanya bisa menurut saja.
Zack Lee memandang keluar sembari memikirkan apa yang sempat dikatakan oleh Aigu sebelum memejamkan mata. "Jika memang benar Peiyu tidak berkhianat, apa yang akan terjadi pada hidupku nanti?"