My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 205 Jangan Pergi!


__ADS_3

Audy terdiam melihat ekspresi wajah Xander saat ini. Terlihat jelas kalau kekasihnya itu marah padanya. Sambil memegang tangan Xande, dia berusaha untuk mencairkan suasana.


"Aku tahu kau marah padaku. Mungkin semua orang akan bilang kalau aku ini wanita yang bodoh. Jika kau tak ingin bertemu dengannya, aku juga tidak akan bertemu dengannya. Maafkan aku karena sudah membuatmu kesal," ucap Audy dengan sungguh-sungguh. Dia merasa bersalah karena membuat Xander marah seperti itu.


Xander segera menarik tubuh Audy dan memeluknya dengan erat. "Aku hanya tidak ingin kau celaka. Aku ingin mulai sekarang kita membuka lembaran baru dan melupakan semua kenangan yang pernah terjadi di Roma. Kalaupun nanti ke depannya Aldo kembali bangkit dan ingin balas dendam, aku dan keluargaku siap untuk menyambut kedatangannya. Kau tidak perlu memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Siapa tahu setelah sadar nanti justru Aldo telah sadar dan berusaha untuk melupakanmu selama-lamanya," ucap Xander sambil mengusap-ngusap punggung kekasihnya.


"Ya. Mudah-mudahan saja," jawab Audy sambil tersenyum manis. "Sebenarnya aku berharap kalau Kak Leonzio bisa hadir di pesta pernikahan kita nanti. Tapi sepertinya itu sebuah mimpi yang sangat konyol. Kak Leonzio pasti sangat membenciku saat ini. Selain aku bukan adik kandungnya. Kemarin aku sudah membuat masalah besar yang membuatnya repot." Audy memejamkan matanya. Pelukan Xander terasa begitu hangat.


Xander mengernyitkan dahinya. Pria itu kembali mengingat informasi yang sempat dikatakan oleh orang kepercayaannya. "Kabar yang aku terima sampai detik ini Leonzio masih berusaha untuk mencari adik kandungnya yang dulu tertukar olehmu. Leonzio memiliki watak yang begitu keras. Dia sangat tidak cocok untuk menjadi kakakmu. Kau terlalu baik untuknya."


"Jangan memujiku seperti itu. Sebenarnya aku ini wanita yang cukup keras kepala. Tetapi sekarang aku bisa menurunkan egoku karena aku tidak mau kehilangan pria yang aku cintai," jawab Audy.


Xander melepas pelukannya lalu menatap wajah Audy. Pria itu mendaratkan kecupannya di sana. Untuk beberapa saat mereka saling bercumbu mesra. Melepaskan semua beban yang sempat memenuhi pikiran mereka.


Di sisi lain, Quinn mengusap-usap wajah Dimitri yang kini masih tertidur. Dia terus berdoa di dalam hati jika nanti anakmu seorang laki-laki anak itu akan memiliki wajah yang tampan seperti suaminya.


Tangan Dimitri tiba-tiba menangkap tangan Quinn dan menghentikannya. Pria itu membuka matanya lebar-lebar lalu tersenyum. "Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"


Quinn menggeleng sambil tersenyum. Wanita itu segera tidur di dada bidang suaminya dengan posisi kepala miring ke samping. "Waktu itu sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa Daddy tiba-tiba ada di sana?"


"Aku sendiri juga kaget ketika melihat Daddy muncul untuk membantuku. Seperti itulah orang tua. Selama ia masih bisa bernapas, maka ia akan melindungi anak-anaknya dari bahaya. Itu juga akan berlaku kepada kita nanti. Setelah kita memiliki anak kita akan mengerti," jawab Dimitri.


"Jika Mommy sampai mengetahui masalah ini, dia pasti akan marah besar kepadaku. Mommy melarangku untuk kembali bertarung karena itu sangat beresiko bagi kandunganku."


Quinn langsung ke dokter setelah pulang dari Roma. Dia ingin memastikan anak di dalam kandungannya baik-baik saja. Nyatanya memang anak yang ada di dalam kandungan Quinn sangat kuat. Ketika diperiksa, dia baik-baik saja. Tumbuh dengan sehat seperti janin pada umumnya.


"Bukan hanya Mommy. Aku juga memiliki pemikiran yang sama seperti Mommy . Sayang, apakah Kau tahu kemarin aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu dan juga anak kita. Pertempuran yang akan kita hadapi bukan pertempuran biasa Karena kita seperti sedang menyerahkan nyawa di kandang musuh.


Aku merasa jauh lebih lega ketika mendengar kabar kalau kau dan Sherin sudah berhasil terbang meninggalkan Roma. Meskipun saat itu aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya lolos dari sana." Dimitri tidak mau sampai kejadian kemarin terulang lagi. Untuk kedepannya dia akan lebih berhati-hati agar tidak memiliki musuh.


Quinn menghela napas kasar. "Apa jika Daddy tidak muncul kita akan berpisah?"


Dimitri tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. "Situasi di sana memang sangat sulit. Saat kakiku tertembak aku tidak bisa memikirkan cara lain lagi selain menembak mereka dengan sisa peluru yang aku miliki."


"Lalu bagaimana caranya Daddy bisa mengalahkan Aldo? Bukankah dia sekarat karena luka tembak yang ada di sekujur tubuhnya? Dan kenapa membiarkannya untuk tetap hidup? Ke depannya dia pasti akan membuat masalah lagi. Aku hanya tidak mau ada yang merusak kebahagiaan Xander dan Audy kedepannya nanti."


Dimitri kembali mengingat kejadian kemarin saat Aldo berusaha untuk menyerang mereka. Gerakan sniper yang dipimpin oleh Luca sangat cepat. Mereka berhasil membuat Aldo terjatuh dengan cara menembak kedua kakinya. Ketika Aldo masih memaksakan diri untuk menembak sniper kembali menembak tangan pria itu hingga pistol yang ada di genggamannya terlepas.

__ADS_1


Tidak hanya itu saja, mereka juga langsung turun dan menerjang Aldo lalu menghajar pria itu habis-habisan. Jika saja Luca tidak menghentikannya, mungkin pria itu sudah mati konyol.


"Aldo itu pria yang sangat tangguh. Ambisius. Kemampuan bela dirinya juga sangat hebat. Dia juga pria yang cerdas. Beruntungnya Daddy Luca jauh lebih cerdas daripada Aldo. Jadi kami bisa memenangkan pertarungan ini," jawab Dimitri.


"Apa saat kau datang ke sana Nichole sudah babak belur? Kali ini Mommy pasti akan memarahiku karena sudah membuat Nichole celaka." Wajah Quinn terlihat sedih.


"Nichole adalah calon pemimpin mafia. Dia memang pantas dilatih dengan cara seperti itu. Luka kecil saja sudah biasa. Kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya. Secepatnya Nichole pasti sembuh. Leonzio memang bukan tandingannya. Aku sendiri juga tidak kepikiran kalau dia bakal menghalangi jalanmu dan Audy menuju bandara." Dimitri merasa kecolongan kemarin. Tadinya dia berpikir kalau Leonzio akan membantu Aldo dikediamannya. Tidak di sangka pria itu muncul di tengah jalan.


"Daddy bahkan berhasil membuat Leonzio dan pasukannya mundur." Quinn menjauh dari tubuh Dimitri dan menghela nafas kasar. "Jika saja aku tahu bahwa semudah itu mengalahkan Leonzio, pasti aku sudah menghubungi Daddy dan meminta bantuan Daddy. Jadi kita tidak perlu repot-repot seperti kemarin. Kau juga tidak harus tertembak seperti ini. Lihatlah sekarang apa yang terjadi dengan kakimu. Kau bahkan tidak bisa menggendongku lagi," sindir Quinn sembari menunjuk kaki Dimitri yang kini diperban.


Dimitri tertawa mendengar pernyataan yang baru saja diucapkan oleh istrinya. "Aku masih bisa menggendong mu. Mau diantar ke mana nona?" tanya Dimitri mesra.


Quinn tertawa geli mendengar pertanyaan suaminya sebelum berhambur ke dalam pelukan pria itu. "Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi."


"Ya. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu. Selamanya kita akan selalu bersama," jawab Dimitri dengan sungguh. Pria itu mengecup pucuk kepala istrinya dengan mesra.


Dimitri memandang ke arah jendela. "Kemarin kita sudah berjuang keras untuk membantu Xander mendapatkan wanita yang ia cintai. Sekarang aku tidak merasa berhutang budi lagi kepadanya karena sudah merebutmu darinya."


"Sejak dulu kau tidak pernah merebutku dari Xander. Hanya kebetulan saja kalian berdua sama-sama mencintaiku dan aku lebih memilihmu," jawab Quinn. Dia tidak mau Dimitri merasa bersalah seperti itu.


Dimitri hanya bisa tersenyum saja mendengar jawaban Quinn. "Sayang, ambilkan aku sarapan. Perutku terasa lapar." Pria itu mengalihkan pembicaraan.


Dimitri melirik ke arah meja sebelum tertawa. "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Sekarang ayo kita turun untuk sarapan."


...***...


Audy menuruni anak tangga secara perlahan. Dia memperhatikan kediaman Xander yang sangat jauh berbeda dari mansion milik Leonzio. Bisa dibilang bangunan mewah itu hanya setengahnya dari Mansion milik Leonzio. Akan tetapi entah kenapa Audy merasa nyaman berada di sana. Rasanya berbeda jauh ketika dia berada di mansion Leonzio dulu.


Audy melihat Viana yang sedang sibuk merangkai bunga. Wanita paruh baya itu berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Ada beberapa pelayan wanita yang sedang membantunya. Karena tidak memiliki kegiatan apapun hari ini, Audy memutuskan untuk menghampiri Viana dan membantu wanita itu. Dia juga harus mendekatkan diri dengan calon mertuanya.


"Tante, apa yang sedang Tante lakukan?" tanya Audy dengan begitu hati-hati. Dia berjalan dan berdiri di dekat Viana sembari memperhatikan bunga-bunga yang siap untuk dirangkai.


"Tante ingin mengganti bunga ini dengan bunga yang baru. Sudah lama Tante tidak memperhatikan bunga-bunga yang ada di rumah ini. Kemarin-kemarin Tante terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan Sherin. Adiknya Xander," ucap Viana menjelaskan.


Audy mengangguk pelan. Wanita itu juga tidak mau diam saja sambil menonton. Dia mengambil beberapa tangkai bunga lalu membantu Viana untuk merangkainya.


"Sekarang di mana Sherin? Apa dia tidak tinggal di rumah ini setelah menikah?" Audy ingin tahu lebih banyak tentang keluarga Xander. Terutama adik wanita yang bernama Sherin itu.

__ADS_1


Mereka memang sempat bertemu. Akan tetapi belum pernah mengobrol. Sherin terlihat lebih menutup dirinya dan tidak mau banyak bicara. Begitupun dengan Audy yang merasa segan. Momen untuk mereka mengobrol juga tidak pernah ada.


"Sherin sedang bulan madu dengan suaminya. Tante juga tidak tahu kapan mereka akan pulang," jawab Viana sambil tersenyum.


Bahkan wanita paruh baya itu tidak tahu kalau sebenarnya Sherin dan Joa sekarang sudah tidak bulan madu lagi. Mereka sudah tinggal di rumah baru yang sudah dibeli oleh joa yang letaknya juga ada di kota yang sama dengan Viana.


Audy tidak mau mengatakan kalau kemarin ia bertemu dengan Sherin. Wanita itu kembali memandang rangkaian bunga di depan. "Tante suka bunga mawar ya?" tanya Audy karena semua bunga yang ada di meja itu merupakan bunga mawar merah.


"Sebenarnya Tante menyukai semua jenis bunga. Namun kali ini Tante ingin rumah ini dipenuhi dengan mawar merah." Viana melangkah mundur beberapa langkah untuk melihat hasil dari rangkaiannya sendiri. Ada senyum puas di bibirnya. "Sepertinya Tante harus memotret bunga ini untuk dijadikan kenang-kenangan."


"Tante sangat berbakat. Rangkaian bunga ini sangat bagus seperti dirangkai oleh profesional," puji Audy.


"Kau ini bisa saja. Audy, apa Tante bisa minta tolong?"


Audy menggangguk. "Tentu saja aku akan membantu Tante."


"Ini tidak akan sulit dan memberatkanmu. Tante yakin sekarang Xander ada di ruang kerjanya. Tolong panggilkan Xander karena Tante ingin bicara dengan kalian berdua. Ini menyangkut soal rencana pertunangan kalian. Tadi malam Xander sudah membahas kalau secepatnya kalian akan bertunangan. Tante ingin mempersiapkan semuanya secepat mungkin."


Audy tersenyum bahagia mendengarnya. "Di mana ruang kerja Xander Tante? Aku akan memanggilnya."


Viana menunjuk sebuah lorong. "Masuk dari sana. Kau akan menemukan pintu coklat besar. Hanya ada satu pintu di sana jadi kau tidak akan mungkin tersesat. Masuk saja ke dalam tanpa harus mengetuk pintunya. Biasanya Xander juga ada di kamar mandi hingga membuatnya tidak dengar kalau ada yang sedang mengetuk pintu ruang kerjanya. Dia tidak akan memarahimu jika kau masuk tanpa izin." Viana kembali fokus dengan rangkaian bunganya. Ada beberapa yang ia tarik dan ia rangkai ulang.


"Baiklah, Tante. Aku ke sana dulu." Audy segera melangkah menuju ke lorong yang ditunjuk oleh Viana. Sambil melangkah wanita itu kembali memperhatikan perabot rumah yang ada di rumah itu. Hingga tidak lama kemudian Audy sudah tiba di depan pintu berwarna coklat yang merupakan pintu masuk ke ruang kerja Xander.


Audy mengetuk pintu itu tiga kali. "Xander, ini aku. Apa aku boleh masuk?" Meskipun tadi Viana sempat bilang untuk tidak perlu mengetuk pintu. Akan tetapi Audy tetap melakukannya. Saat beberapa detik tidak ada respon dari dalam, akhirnya Audy memutuskan untuk masuk saja ke dalam.


Audy menggenggam handle pintu dan mendorong pintu itu secara perlahan. Kepalanya mengintip untuk melihat keadaan di dalam. Namun dia hanya melihat ruangan yang kosong. Xander tidak ada di dalam ruangan tersebut.


Audy kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke tengah ruangan. Wanita itu melihat pintu kamar mandi lalu ia berjalan untuk memeriksa keberadaan Xander di dalam sana. Akan tetapi Xander juga tidak ada di dalam kamar mandi.


"Sepertinya Xander tidak ada di ruangan ini. Sebaiknya aku keluar saja," batin Audy.


Tanpa sengaja Audy melihat beberapa lembar foto yang tergeletak di atas meja. Wanita itu mengernyitkan dahi dan tertarik untuk melihat foto itu lebih dekat lagi. Foto-foto itu menyebar memenuhi meja kerja Xander. Audy mengambil satu foto dan memperhatikan wajah seseorang yang ada di dalamnya.


"Wanita ini? Bukankah dia wanita yang dipanggil Xander dengan nama Quinn? Kenapa fotonya ada banyak sekali di sini? Kenapa Xander menyimpan foto Quinn?"


Audy mengambil sebuah buku kecil yang juga ada di atas meja lalu membukanya. Wanita itu melebarkan kedua matanya karena kaget. Di sana ada banyak sekali informasi tentang Quinn. Hal itu membuat Audy sangat cemburu.

__ADS_1


"Xander mencintai Quinn?"


__ADS_2