My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 85 Pahlawan


__ADS_3

Xander dan anak buah Luca baru saja tiba di lokasi yang tidak jauh dari rumah tempat Tiffany di sekap. Setibanya di sana, Xander segera meminta arahan dari Quinn yang kini mengawasi mereka dari dalam mobil bersama dengan Dokter Fei dan Nichole.


"Aku harus ke mana?" tanya Xander.


"Maju ke depan. Di sebelah kiri ada dua musuh berjaga. Kau tidak perlu menembaknya. Tusuk saja dengan belatih karena mereka tidak menggunakan senjata apapun," sahut Quinn.


"Baiklah." Xander segera melangkah sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Quinn. Pria itu segera memukul dan menusuk lawannya dengan belatih yang dia bawa. Cukup mudah karena Xander dibantu oleh anak buah Luca yang cukup terlatih.


"Awas di depan ada lima orang yang berjalan menuju ke posisimu, Xander," teriak Quinn.


Xander mengeluarkan senjata apinya. Kali ini mereka tidak bisa muncul secara diam-diam lagi. Pertarungan singkat terjadi di sana. Xander pada akhirnya bisa bernapas lega karena mereka berhasil masuk ke dalam rumah.


"Apa masih ada yang tersisa?"


"Hanya ada dua orang lagi di dalam kamar. Tempat Mommy di sekap," jawab Quinn.


Pintu kamar terbuka lebar. Dua tangan kanan Joa berdiri di sana. Mereka menggunakan senjata api. Karena Xander tahu dan cukup kenal dengan mereka berdua. Pria itu tidak langsung membunuhnya.


"Seharusnya kalian tahu resikonya sebelum mengambil keputusan seperti ini. Kenapa kalian setega ini? Apa kebaikan Dimitri selama ini hanya kalian anggap sesuatu yang membosankan?" ujar Xander.


"Tuan, anda tidak tahu apa yang terjadi. Sebaiknya anda mundur saja. Kami tidak akan melepaskan Nyonya Tiffany," sahut salah satu pengawal.


"Anda tahu bagaimana kemampuan kami. Jika anda tidak mau celaka, sebaiknya mundur saja," ucap satunya lagi.


"Meskipun harus mati, aku akan tetap maju!" sahut Xander mantap. "Oke, jika ini pilihan kalian. Jangan pernah menyesal!"

__ADS_1


Xander dan pengawal Luca maju untuk menyerang. Kali ini mereka semua dibuat kesulitan saat mengalahkan dua petarung milik Joa tersebut. Mereka benar-benar terlatih dan bisa dengan mudah menghindari pukulan lawannya.


Bersamaan dengan itu, Dokter Fei muncul untuk menyelamatkan Tiffany. Dia masuk melalui jendela atas arahan Quinn. Meskipun tidak berpengalaman, nyatanya pria itu mampu menjalani misi berbahaya ini.


"Nyonya, bangunlah."


Tiffany yang saat itu seperti orang pingsan hampir saja berteriak melihat Dokter Fei. Namun dengan cepat Dokter Fei membungkam mulut.


"Ayo kita pergi. Tapi anda jangan mengeluarkan suara. Apa anda mengerti?" tanya Dokter Fei yang dijawab dengan anggukan oleh Tiffany. Mereka berdua pergi melalui jendela. Tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Dua pengawal yang menculik Tiffany sama sekali tidak sadar akan hal itu. Hingga saat Xander memberikan informasi bahwa Tiffany sudah bersama dengannya, barulah Xander berhenti dan bersikap kalah.


"Aku menyerah!" ujarnya dengan napas tersengal. Pengawal Luca terlihat tidak terima dengan keputusan Xander.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Xander. Pria itu segera pergi tanpa mau bicara lagi. Pengawal Luca hanya menurut saja meskipun mereka tidak terima.


"Tuan, kenapa anda menyerah?" protes salah satu pengawal.


"Berlarilah dan segera pergi dari sini sebelum mereka menyadarinya!" teriak Xander. Pengawal milik Luca ikut berlari menuju ke mobil mereka. Bersamaan dengan itu, mobil yang ditumpangi Quinn juga melaju kencang meninggalkan hutan. Xander dan yang lainnya mengikuti dari belakang.


...***...


Luca memperhatikan cara kerja Dimitri dengan begitu serius. Mereka sudah berada di suatu tempat yang lumayan jauh dari kediaman Tuan Nio. Meskipun begitu, untuk pergi ke rumah sakit yang ada di kota mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam. Dimitri tidak mau sampai Joa tewas karena kehilangan darah.


"Akhirnya aku berhasil," ucap Dimitri penuh rasa bangga. Dia memandang ke arah Joa yang masih belum sadarkan diri. "Sepertinya kau harus istirahat Joa."

__ADS_1


"Lalu, setelah ini apa rencanamu? Kita menunggu Nio sialan itu mati karena racun lalu baru pergi?" tanya Luca ingin tahu.


Dimitri melihat ke layar ponsel yang sudah terhubung dengan alat yang diletakkan pada tubuh Tuan Nio. Di sana terlihat jelas kalau pria itu masih belum sadarkan diri.


"Aku berharap dia segera membuat penawarnya agar kita bisa membawa penawar itu untuk Quinn," jawab Dimitri.


"Apa semudah itu?" tanya Luca tidak percaya.


"Tidak ada salahnya mencoba," jawab Dimitri dengan santai. Dia mengernyitkan dahi melihat Tuan Nio sadar dan bangkit. "Dia sudah sadar."


Luca yang penasaran mendekati Dimitri. Pria itu juga penasaran sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh Nio setelah ini.


"Dia pergi ke bawah. Apa dia menyimpan penawarnya di sana?" tanya Dimitri penasaran.


"Lalu, jika dia memang benar mengambil penawarnya. Bagaimana kalau dia menggunakan semuanya? Posisi kita sangat jauh. Kita tidak bisa merebut penawar itu secepat kilat," protes Luca kesal. Menurutnya, rencana calon menantunya itu sangat tidak tertata rapi.


"Daddy yakin semua orang kita sudah ada di sini?" Dimitri tersenyum. Di terlihat semakin bahagia melihat Tuan Nio mengeluarkan sebuah botol yang mereka duga itu adalah penawar racunnya. "Oke, sekarang saatnya!"


Ekspresi wajah Dimitri terlihat panik ketika orang suruhannya tidak kunjung muncul untuk merebut penawar itu. Bahkan di saat Tuan Nio membuka botol penawarnya dan siap untuk meneguknya.


"Kemana dia!" umpat Dimitri kesal.


"Kau yakin masih ada orang di sana?" Luca juga mulai tidak tenang. Rasanya dia ingin segera ke sana untuk merebut penawarnya.


"Seharusnya-" Dimitri terlihat khawatir ketika layar ponsel itu tidak menunjukkan gambar apapun lagi. Jaringan hilang dan dia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Tuan Nio di sana. "SIAL!"

__ADS_1


__ADS_2