My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 103 Rencana Pernikahan


__ADS_3

Quinn dan Tiffany terlihat sibuk memilih gaun dan sepatu yang nanti akan dikenakan saat pesta pernikahan nanti. Ibu dan anak itu duduk di sofa sambil sesekali terlihat bertukar pendapat.


Sedangkan Luca dan Dimitri memilih duduk di sofa yang sedikit menjauh dari mereka. Para wanita sangat berisik. Jadi dua pria itu memilih tempat yang jauh lebih tenang agar bisa lebih leluasa mengobrol.


WO yang akan bertanggungjawab atas suksesnya pesta pernikahan Dimitri dan Quinn juga sudah datang. Mereka membawa beberapa contoh makanan, gaun dan beberapa benda lainnya yang bisa dipilih Quinn sesuai dengan seleranya.


"Aku maunya serba putih, Mom. Tapi nanti menggunakan gaun hitam waktu malam," ucap Quinn sambil membuka lembar demi lembar katalog yang ada di pangkuannya.


Dia sudah berulang kali meminta pendapat Dimitri. Namun pria itu hanya menjawab kalau dia selalu suka dengan pilihan Quinn. Hingga akhirnya Quinn menyeret Tiffany untuk memilih.


"Sayang, gaun yang seperti ini sangat cocok untuk dikenakan ketika pernikahan nanti. Lalu yang model gini bisa untuk resepsi malamnya. Hanya tinggal menggantinya dengan kain yang warna hitam."


Tiffany menunjuk model gaun yang menurutnya sangat cocok untuk Quinn. Quinn sendiri tidak banyak komentar. Karena menurutnya pilihan Tiffany sudah sangat bagus jika dibandingkan dengan pilihan yang lainnya.


"Mom, apa warna gaun mommy saat menikah dengan Daddy dulu?" Tiba-tiba saja Quinn ingin tahu seperti apa pesta pernikahan Tiffany dan Luca waktu itu. "Modelnya seperti apa?"


"Sayang, kau tidak ingat?" tanya Tiffany bingung. Karena waktu dia menikah dengan Luca. Usia Quinn sudah hampir 7 tahun. Itu usia yang sudah bisa mengingat memori penting yang pernah terjadi.


Quinn menggeleng kepalanya. "Aku tidak mengingat semuanya. Aku hanya fokus bermain waktu itu Mom. Tidak terlalu peduli dengan pesta pernikahan Mommy. Mommy pasti tahu itu."


Tiffany mengangguk. "Gaunnya masih ada di kamar. Apa kau mau melihatnya? Mommy sengaja menyimpan gaun itu untuk kenang-kenangan. Sudah lama juga Mommy tidak melihatnya."


"Benarkah?" tanya Quinn dengan penuh antusias.


"Ya, Sayang. Apakah kau mau melihatnya sekarang?" ajak Tiffany.


"Tentu," jawab Quinn penuh semangat." Wanita itu memandang ke arah wanita yang menjadi bagian dari WO. "Mbak, kami ke kamar sebentar ya. Untuk masalah dekor kita bicarakan sebentar lagi. Anda bisa memakan makanan yang sudah disediakan."


"Baik, Nona," jawab wanita itu.


Tiffany dan Quinn segera melangkah menuju ke kamar. Dimitri memandang Quinn sejenak sebelum memandang ke arah Luca lagi. "Dad, bagaimana dengan perusahaan? Apa masih Daddy percayakan dengan Tuan Neo? Oh iya. Bagaimana reaksi Tuan Neo ketika dia tahu kalau Tuan Nio telah tewas di tangan kita? Apa dia tidak marah?" Dimitri membenarkan posisi duduknya agar bisa mengobrol dengan tenang.


"Sejak dulu Tuan Neo sendiri juga sudah lelah untuk memperingati Tuan Nio. Meskipun mereka adalah saudara kembar tetapi pada kenyataannya mereka tidak akur. Tuan Nio terlalu berambisi untuk balas dendam. sedangkan Tuan Neo tidak setuju karena dia merasa kalau keluarga kita sudah cukup baik dengannya." Dari ekspresi wajah Luca bisa dilihat jelas kalau kini dia sama sekali tidak mengkhawatirkan Tuan Neo.


"Baguslah kalau begitu. Itu berarti masalah soal Tuan Nio telah selesai. Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi," jawab Dimitri. "Dad, setelah pesta pernikahan. Kami berencana untuk pergi bulan madu. Setelah itu baru kami fokus dengan perusahaan. Mungkin kami akan berlibur selama dua minggu."


"Baiklah. Untuk sementara perusahaan akan Daddy ambil alih dulu. Oh iya apakah kau sudah memiliki sebuah rumah?" Sebenarnya Luca ragu menanyakan hal sepele seperti itu. Dia takut Dimitri tersinggung. Akan tetapi Luca tidak mau putrinya tidak memiliki tempat tinggal setelah menikah nanti.


"Aku sudah memiliki rumah. Mungkin tidak sebesar rumah Daddy ini. Tetapi cukup untuk aku dan Quinn tinggal bersama. Jika nanti Quinn tidak menyukai bentuk rumah itu, aku akan membangun rumah yang baru," jawab Dimitri tanpa rasa keberatan sedikitpun.

__ADS_1


"Tadinya Daddy ingin memberikan hadiah sebuah rumah untuk kalian berdua. Tetapi berhubung kau sudah memiliki rumah jadi Daddy akan memikirkan hadiah yang lain saja." Luca diam sejenak. Tiba-tiba pria itu menggangguk ketika sudah menemukan hadiah yang lain. "Bagaimana kalau paket bulan madu? Rencananya kalian akan bulan madu kemana? Biar semua biaya Daddy yang tanggung."


Luca tidak hentinya mencari cara untuk membahagiakan Quinn dan juga Dimitri. Dia memang sosok ayah yang baik dan pengertian.


"Dad, bukannya aku ingin menyinggung perasaan Daddy. Tetapi doa dan restu dari Daddy sudah lebih dari cukup bagi kami berdua. Jadi Daddy tidak perlu repot-repot memikirkan hadiah yang cocok untuk kami. Untuk biaya bulan madu itu adalah urusan yang sangat mudah bagiku. Daddy harus tahu kalau menantumu ini adalah pria yang kaya raya. Jadi Daddy tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang berhubungan dengan uang."


"Kau ini sombong sekali!" protes Luca dengan wajah kesal. Pria itu mengambil kopi di depannya lalu meneguknya secara perlahan. Begitupun yang dilakukan oleh Dimitri.


Dimitri hanya tertawa kecil melihat mertuanya kesal. "Dad, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku minta dari Daddy. Tapi aku rasa tidak pantas memintanya sekarang karena aku belum resmi menikah dengan Quinn. Itu berarti aku belum resmi menjadi menantu di rumah ini."


Luca menyipitkan kedua matanya. "Kali ini bercandamu sangat tidak lucu Dimitri. Cepat katakan apa yang sebenarnya kau inginkan!"


"Aku ingin geng mafia milik Daddy bersatu dengan White Snake. Aku akan membentuk sebuah geng mafia yang sangat kuat sehingga tidak ada yang berani untuk mengalahkan kita lagi," ucap Dimitri dengan begitu serius. Ia berharap kali ini Luca mengabulkan permintaannya itu.


Luca diam sejenak. Memang awalnya geng mafia itu akan diberikan kepada Quinn setelah Quinn benar-benar siap untuk memimpinnya. Namun sebuah rencana harus diganti oleh Luca ketika tiba-tiba saja Nichole menemuinya secara pribadi.


Pria berusia 17 tahun itu meminta Luca untuk mengajarinya ilmu bela diri agar ia bisa menjadi pria yang sangat kuat dan hebat. Bukan hanya itu saja, Nichole bahkan meminta agar geng mafia yang tadinya ingin diberikan kepada Quinn jatuh ke tangannya.


Memang masalah ini belum disampaikan Luca kepada Tiffany maupun kepada Quinn. Dia berpikir kalau masalah ini tidak terlalu penting dan bisa disampaikan nanti-nanti. Namun kini setelah mendengar permintaan Dimitri, membuat Luca jadi tidak enak untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Apa ada sesuatu yang Daddy dipikirkan? Aku tidak akan memaksa Daddy untuk menyerahkan geng mafia itu kepadaku. Aku hanya memberi penawaran saja. Quinn sempat cerita kalau secepatnya Dia akan memimpin geng mafia milik Daddy. Jadi setelah aku pikir-pikir, sebaiknya setelah menikah Quinn tidak lagi terjun ke dalam dunia mafia. Biarlah kemampuan bela dirinya menjadi bekal untuk melindungi dirinya sendiri jika dia tidak ada disisiku."


Tetapi setelah Daddy sadari, selama ini Daddy selalu saja memikirkan semua hal yang berhubungan dengan Quinn. Sampai-sampai Daddy melupakan dua putra Daddy yaitu Nichole dan Malvin. Sebagai anak laki-laki mereka juga memiliki hak. Maafkan Daddy karena kali ini tidak bisa mengabulkan permintaanmu, Dimitri." Wajah Luca yang sedih membuat Dimitri menjadi tidak enak.


"Daddy tidak perlu merasa tidak enak seperti itu. Aku bisa mengerti. Jika geng mafia milik Daddy jatuh ke tangan Nichole, aku juga akan mendukung keputusan ini sepenuhnya. Bahkan aku juga akan membantu Daddy untuk membimbing Nichole menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan tidak mudah dikalahkan."


Luca tersenyum mendengar jawaban Dimitri. "Terima kasih karena kau sudah mau mengerti. Daddy hanya tidak mau ada perselisihan di antara anak-anak Daddy."


Di kamar, Tiffany meletakkan gaun pernikahannya di atas tempat tidur. Bukan hanya mengambil gaun pernikahan saja. Tetapi wanita itu menunjukkan beberapa foto pernikahannya dengan Luca dulu. Quinn merasa sangat bahagia bisa menyentuh gaun yang dulu dikenakan oleh Tiffany. Bahkan wanita itu seperti tidak sabar untuk mencobanya.


"Mommy, gaun ini masih sangat bagus. Hanya diberi beberapa perubahan sedikit saja agar terlihat lebih modern. Apa aku boleh memakai gaun ini di pernikahanku nanti?" pinta Quinn dengan penuh harap. Mata wanita itu sampai berbinar karena kagu. melihat gaun pengantin yang ada di depannya.


"Kau yakin mau menggunakannya?" tanya Tiffany dengan wajah tidak percaya.


"Tentu saja. Bukankah postur tubuh kita juga sama. Jika dilihat-lihat lagi gaun ini sangat cocok di tubuhku. Tidak kebesaran tidak juga kekecilan."


"Bukan masalah itu sayang. Mommy pikir model gaun ini sudah terlalu lama hingga kau tidak akan mungkin mau mengenakannya. Tapi jika kau sudah memutuskan untuk menggunakannya, Mommy merasa sangat senang dan bangga kepadamu." Tiffany mengangkat gaun itu dan memeriksanya lagi untuk memastikan kalau gaun itu masih layak pakai.


"Mommy, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti ini ketika punya anak nanti. Aku akan menyimpan gaun pernikahanku dan menunjukkannya di depan putriku ketika dia akan menikah nanti. Jika dia mau menggunakannya. Bukankah gaun ini akan menjadi gaun pernikahan turun-temurun keluarga kita?" ucap Quinn sambil tertawa bahagia.

__ADS_1


"Kau ini ada-ada saja. Bagaimana kalau semua anakmu adalah laki-laki?" Tiffany melihat foto pernikahannya dengan bibir tersenyum. "Lihatlah Quinn. Dulu kau terlihat sangat imut sekali. Semua orang merasa gemas ketika melihatmu. Tidak sedikit para orang tua yang berharap memiliki Putri sepertimu."


Quinn juga tersenyum melihat foto itu. "Ya, Mom. Waktu berputar dengan sangat cepat. Sekarang aku sudah sebesar ini dan akan membentuk sebuah keluarga. Mommy, Terima kasih karena sudah merestui kami."


"Sayang, sebagai orang tua Mommy ingin yang terbaik untukmu. Tetapi jika hal yang menurut Mommy adalah yang terbaik tetapi tidak cocok di hatimu, Mommy tidak akan mungkin bisa memaksakannya. Mommy hanya bisa mendoakan semoga kau bahagia bersama dengan Dimitri."


"Terima kasih Mom. Quinn sayang sekali sama Mommy." Quinn segera mendekati Tiffany.


Ibu dan anak itu saling berpelukan. Karena suasana menjadi haru pada akhirnya keduanya sama-sama menangis. Namun air mata itu adalah air mata bahagia. Mereka berdua sama-sama tertawa setelah menghapus air mata di pipi masing-masing.


"Sekarang cepat gunakan gaunnya dan tunjukkan di depan Daddy dan juga Dimitri. Mommy yakin mereka berdua pasti terkejut melihatmu memakai gaun ini."


"Baiklah, Mom. Sekarang bantu aku untuk memakainya."


...***...


Luca tiba-tiba saja mematung sambil memandang ke arah samping. Dimitri yang belum menyadari kehadiran Quinn masih fokus dengan ceritanya sendiri. Namun tidak lama kemudian dia mulai tersadar. Pria itu memiringkan tubuhnya ke samping mengikuti arah Luca memandang.


"Quinn?" ucap Dimitri dengan kaget. Pria itu beranjak dari sofa. Dia berjalan perlahan mendekati posisi Quinn saat ini berdiri.


Gaun pengantin milik Tiffany yang kini dikenakan oleh Quinn memang sangat pas di tubuhnya. Sampai-sampai Luca sendiri kembali mengingat memori ketika mereka menikah dulu. Meskipun di mata Luca Tiffany akan selalu menjadi wanita tercantik di hatinya. Akan tetapi melihat Quinn yang seperti sekarang membuatnya menyadari kalau ada sosok anak perempuan yang kini menyaingi kecantikan ibunya.


"Bagaimana? Apakah Quinn cocok menggunakan gaun ini? Apakah kau masih ingat kapan aku memakai gaun ini?" tanya Tiffany sambil tersenyum.


"Tentu saja aku ingat dan akan selalu mengingatnya. Karena hari pernikahan kita adalah hari paling bersejarah dalam hidupku. Aku tidak akan mungkin melupakannya begitu saja." Luca marangkul pinggang Tiffany sebelum mengecupnya dengan mesra. "Terima kasih karena sudah mau menjadi istriku."


"Quinn, kau terlihat sangat cantik. Dari mana kau mendapatkan gaun ini? Bukankah seharusnya kita memesan gaunnya dulu baru gaunnya datang?" Dimitri masih belum tahu dari mana asal mula gaun itu berasal.


"Ini gaun pernikahan yang dikenakan oleh Mommy waktu Mommy menikah dengan Daddy. Bagaimana? Apakah pantas jika aku memakai gaun ini? Memang modelnya model lama, tetapi bahannya sangat bagus dan kuat kok. Hanya ditambah beberapa berlian di bagian sini pasti terlihat sangat mewah."


"Hanya seperti ini saja sudah sangat cantik. Gaunnya melekat indah di tubuhmu. Kau terlihat sangat cantik Quinn. Rasanya aku semakin tidak sabar untuk menanti hari pernikahan kita." Dimitri mengusap pipi Quinn. Jika saja Luca dan Tiffany tidak ada di sana, mungkin pria itu sudah mendaratkan bibirnya di bibir Quinn.


"Baiklah kalau begitu ketika menikah nanti aku akan menggunakan gaun ini."


Quinn dan Dimitri memandang ke arah Tiffany dan Luca yang kini justru berpeluk mesra. Sepasang kekasih itu saling melempar senyum sebelum akhirnya meledek.


"Mommy, nanti lagi dong bermesraannya. Sekarang fokus ke persiapan pernikahan Quinn dan Dimitri."


Tiffany tertawa geli. "Baik sayang. Maafkan Mommy."

__ADS_1


Dimitri memasukkan tangannya ke dalam saku. Dia melirik ke arah Luca sekilas sebelum tertawa. "Inilah keluarga baruku. Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua," batin Dimitri di dalam hati.


__ADS_2