My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 48 Datang Lagi


__ADS_3

Quinn menghela napas panjang. Ia malas sekali untuk beranjak dari ranjangnya. Seolah wanita itu tidak bersemangat sama sekali. Padahal dia sudah membuka mata sejak pagi buta. Matanya mengerjap berulang kali. Semalam dia tidak habis pikir dengan kenyataan bahwa Dimitri dan Xander adalah sahabat.


"Kenyataan ini sangat pahit sekali," gumam Quinn. "Apa dunia sesempit itu?"


Seseorang mengetuk pintu. Membuat Quinn mengangkat kepalanya. Sebelum akhirnya terdengar suara Tiffany. Sudah berulang kali Tiffany mengetuk pintu kamarnya. Tapi, Quinn masih belum mau membukakan pintu. Setelah 5 menit berlalu, barulah Quinn turun dari ranjangnya. Karena Tiffany belum pergi dari sana.


"Kau harus bangun, Quinn," kata Tiffany.


"Yeah, Mom. Aku sudah bangun. Terima kasih. Maaf." Quinn tampak tak bersemangat. Membuat Tiffany merasa sedih.


"Mommy bisa pergi sekarang? Quinn sudah bangun. Terima kasih sudah membangunkan Quinn. Quinn mandi dulu. Sepertinya, Quinn terlambat bangun hari ini." Quinn langsung menutup pintu kamarnya. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada daun pintu. Rasanya hari ini sangat malas sekali. Entah ada lem apa di telapak kakinya hingga dia tidak bisa melangkah seperti biasa.


"Dia sepertinya masih sedih. Tapi, Luca memang tidak menyukai laki-laki itu. Tidak boleh! Xander harus berusaha lebih keras lagi. Aku akan menyuruh Viana supaya Xander menjemput Quinn dari kantor." Tiffany pun pergi meninggalkan kamar Quinn. Wanita itu tidak ingin Quinn bersedih lagi.


Sebuah rumah mewah, di kamar yang luas tampak Viana membantu suaminya mengenakan dasi. Laki-laki yang berusia 15 tahun lebih tua dari Viana itu tersenyum melihat istrinya.


"Kau tidak meminta apapun ketika aku pergi," ucapnya pada Viana.


...***...


"Aku meminta sesuatu kok! Aku kan minta supaya kau cepat pulang. Jangan terlalu memforsir tenagamu. Setidaknya ingat umurmu sudah berapa. Sudah ada Xander yang membantumu mengurus perusahaan. Apalagi yang harus kau khawatirkan, Jeremy?" omel Viana.


Jeremy tersenyum. Ia mencubit pipi istrinya yang belakangan menggendut. Padahal dulu ketika Jeremy tak sengaja bertemu Viana, tubuh wanita itu sangat kurus.


Mungkin karena Viana bekerja terlalu keras membantu ekonomi keluarganya. Bahkan adik-adiknya pun kini bisa menyelesaikan kuliahnya. Sedangkan Viana, hanya menyelesaikan pendidikan SMA.


"Sakit! Sudah kubilang jangan mencubit sembarangan! Belakangan ini kau sering mencubit pipiku. Ah tuh kan! Merah! Padahal aku tidak menggunakan blush on!" kesal Viana.


"Apalagi yang harus aku khawatirkan? Istriku ini suka sekali mengomel. Kau tahu Xander tidak bisa diharapkan. Perusahaan belakangan ini mengalami peningkatan. Jadi, aku harus membantunya. Hmm. Sedangkan dia saja masih jomlo sampai sekarang." Jeremy mengingat masa-masa berkabung kepergian istri pertamanya.


Xander sangat terpukul sejak saat itu. Untuk mengalihkan semua kesedihannya, Xander bekerja keras. Sampai akhirnya bisa mendirikan sebuah perusahaan. Walaupun perusahaan itu tidak sebesar perusahaannya.


"Jangan khawatir. Dia menyukai anak sahabatku." Viana tersenyum lebar. Memamerkan giginya yang rapi. Namun, apa yang dinantikan oleh Viana memang mustahil. Matanya berputar kesal dan senyumannya menghilang.

__ADS_1


"Oh ya ampun, benarkah? Begitu? Siapa namanya gadis itu? Bagaimana reaksi Xander? Kau yakin? Setidaknya berpura-puralah terkejut!" Viana berkacak pinggang. Suami dan anak sambungnya itu benar-benar membuatnya hampir kehabisan napas setiap harinya.


"Kupikir itu mustahil," sahut Jeremy.


Viana mengusap wajahnya. Tubuhnya yang tadi bersemangat pun menjadi lunglai nyaris tidak bertulang. Wanita itu memilih pergi dari kamarnya. Toh suaminya juga akan menyusulnya. Karena ini sudah waktunya untuk sarapan. Begitu sampai di ruang makan, terlihat Xander sudah duduk di sana dengan laptop. Sepertinya dia juga sedang bekerja. Tangan Viana menepuk pundak Xander. Membuat Xander berjingkat kaget.


"Mami!" jerit Xander.


"Peraturan di meja makan. Ingat?" Viana mungkin saja tersenyum.


Tapi, bagi Xander itu terlihat menakutkan. Akhirnya Xander menyimpan pekerjaannya dan mematikan laptop. Tak lama kemudian, Viana duduk di tempatnya. Jeremy pun sudah datang bergabung.


"Papi sudah pulang?" tanya Xander.


"Sudah." Jeremy menjawab singkat. Matanya melirik tajam pada Xander yang mulai mengambil sarapannya. Ekspresi putra semata wayangnya ia perhatikan dengan seksama.


"Berhentilah mengawasi putramu dan segera sarapan." Viana menyodorkan piring untuk Jeremy.


"Bisakah kita sarapan selayaknya manusia? Jangan seperti itu. Di sini bukan cuma ada kalian berdua. Ada aku yang tidak mengerti apa maksud kalian," tegur Viana.


"Wanita ini. Untung dia unik dan memang berbeda dari yang lain. Kalau dia sama saja dengan yang lain, aku sudah pasti akan berusaha menendangnya. Tapi, berkat dia aku bisa mengenal Quinn," ucap Xander dalam hati.


"Xander, tidak adakah yang ingin kau katakan pada papi, Nak?" Akhirnya Jeremy berbicara.


"Papi sepertinya sehat-sehat saja," balas Xander.


"Bukan itu. Kau punya mata. Jadi aku yakin kau bisa melihatku. Yang lainnya bagaimana?" Jeremy yang memasang wajah datar membuat Viana membuka mulutnya dan tak bisa berkata-kata. Wanita itu kesal bukan main dengan sikap suaminya yang sangat datar.


Brak!


"Hentikan omong kosong itu." Viana memijat pelipisnya. "Xander, bagaimana dengan Quinn? Apakah kalian menjadi dekat semalam?"


"Oh." Jeremy menikmati sarapannya. Kepalanya mengangguk sekali dan dia tidak lagi tertarik dengan yang lain.

__ADS_1


"Hmm. Mami, apakah dia sering berkencan dengan laki-laki?" tanya Xander.


Bruuufttt! Jeremy menyemburkan minumannya. Tepat di wajah Xander. Membuat Xander memasang wajah jijik.


"Yaks! Papi!" teriak Xander.


"Kau benar tertarik dengan putri sahabat Mami?" Viana bersemangat.


"Uuh! Menurut Mami? Ah, ini menjijikkan! Papi tidak ingin meminta maaf?" gerutu Xander.


Jeremy menoleh ke arah Viana yang sedang bingung. Wanita itu terlihat mengernyitkan dahinya. Seolah mempertanyakan ekspresi suaminya yang aneh.


"Ayo, kita pergi ke rumah sahabatmu itu untuk melamar anak gadisnya. Supaya Xander bisa cepat menikah," ucap Jeremy.


Viana kehabisan kata-katanya. Tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan wajah Xander yang memerah. Merasa kepergok, Xander berpamitan akan membersihkan wajahnya. Kini di ruang makan itu hanya tersisa Viana dan Jeremy saja.


"Kau membuatnya terkejut, Sayang," kata Viana.


"Maaf. Aku hanya senang karena Xander akhirnya bersedia membuka hatinya. Di umurnya yang saat ini aku dulu sudah menikah. Tapi, putraku itu malah terlalu santai dan terus fokus pada pekerjaannya." Jeremy kini menatap istrinya.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Viana.


"Benar. Ini semua berkatmu. Aku tidak sabar untuk segera menggelar pesta tunangan putraku. Bagaimana menurutmu?" jawab Jeremy.


"Tidak ada. Semua keputusan ada di tangan Xander. Aku senang karena dia cukup penasaran dengan Quinn. Ah, dulu dia menempel padaku. Sekarang karena sudah terlalu lama bersama ayah kandungnya dia menjadi sedikit kasar. Quinn-ku yang malang," oceh Viana.


"Jadi, Mami dan Papi menyetujui hubungan kami?" Xander telah kembali. Laki-laki itu duduk kembali di kursinya.


"Kupikir kalian belum bersama," sahut Viana.


"Mami, bujuk sahabat Mami. Setidaknya, keluarga kita makan malam bersama keluarga sahabat Mami kan?" usul Xander.


"Hmm. Boleh juga."

__ADS_1


__ADS_2