
Nyonya Viana dan suaminya Tuan Jeremi, baru saja tiba di rumah sakit. Mereka berdua juga sangat mengkhawatirkan keadaan Quinn. Terlebih lagi Nyonya Viana sudah menganggap Quinn seperti putrinya sendiri.
"Mama."
Nyonya Viana dan Tuan Jeremi menahan langkah kakinya mendengar seseorang memanggil mereka. Xander berdiri di dekat pintu lift lalu berjalan mendekati mereka berdua. Pria itu baru saja turun dari lantai atas.
"Xander, kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah seharusnya kau ada di depan ruangan tempat Quinn dirawat." Nyonya Viana memeluk putranya sejenak untuk melepas rindu sebelum menanti jawaban dari pria tersebut.
"Quinn masih belum sadar, Ma. Xander mau pergi menemui seseorang," jawabnya. Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya. "Ma, Xander gak punya banyak waktu. Ini penting."
"Tunggu, Xander. Sepenting apa masalah yang sekarang kau hadapi sampai-sampai kau tidak memiliki waktu lagi untuk bicara dengan Papa dan Mama," ucap Tuan Jeremi. Pria itu tidak suka jika Xander pergi meninggalkan mereka yang baru saja tiba.
"Pa, Xander harus segera menolong Dimitri. Xander yakin sekarang dia dalam bahaya," jawab Xander apa adanya.
"Siapa kau bilang. Dimitri?" tanya Viana untuk kembali memastikan.
"Iya Ma. Dimitri sahabat Xander. Apa Mama lupa?" Xander mengambil ponselnya dari dalam saku. Ia membaca pesan singkat yang masuk sebelum memandang ke arah Nyonya Viana dan Tuan Jeremi lagi.
"Pria yang menjadi sainganmu untuk mendapatkan Quinn?" sahut Tuan Jeremi melengkapi tebakan istrinya.
Xander mengernyitkan dahinya. "Pa, jangan bicara seperti itu. Quinn dan Dimitri memang cocok menjadi sepasang kekasih."
"Lalu sekarang Dimitri ada di mana? Bukankah setahu Mama dia itu adalah ketua mafia. Lalu apa yang bisa kau lakukan untuk menolong pria berbahaya seperti itu? Xander, Jangan buat mama dan papa khawatir. Lebih baik sekarang kau tetap berada di rumah sakit untuk menemani Quinn sampai dia sadar kembali," pinta Nyonya Viana. Wanita paruh baya itu tidak mau Putra sambungnya terlibat dalam masalah yang terjadi di dunia mafia.
"Xander dan Dimitri sudah berteman sejak lama. Saat Xander ada masalah, Dimitri selalu maju untuk menolong. Begitupun sebaliknya. Sudah beberapa hari ini Dimitri menghilang tanpa kabar. Kami sangat mengkhawatirkannya. Xander membayar seseorang untuk mencari keberadaan Dimitri."
Meskipun apa yang dikatakan Nyonya Viana benar kalau Dimitri adalah saingannya mendapatkan Quinn. Tetapi kini justru Xander tidak kepikiran akan hal itu lagi. Dia hanya ingin Dimitri kembali dalam keadaan selamat.
Nyonya Viana melipat kedua tangannya. "Saran Mama sebaiknya Kau tidak perlu repot-repot untuk mencari keberadaan Dimitri itu. Jika dia sampai celaka, itu karena kesalahannya sendiri. Kenapa dia mau terjun ke dalam dunia mafia. Mama tidak mau kau ikut-ikutan di dalam masalah pria itu. Lagian kalau sampai terjadi sesuatu padanya, bukankah itu akan menguntungkanmu juga?"
Ekspresi wajah Xander berubah. "Apa maksud Mama?"
__ADS_1
"Kau tidak lagi memiliki saingan untuk mendapatkan hati Quinn. Dengan begitu kau bisa dengan mudah untuk menjadi suami Quinn," timpal Nyonya Viana lagi hingga membuat Xander semakin emosi. Tidak sepantasnya wanita paruh baya itu mengatakan kalimat seperti itu di saat keadaan seperti sekarang.
"Ma, selama ini Xander cukup menghormati Mama sebagai ibu sambung Xander. Tapi detik ini Xander tidak mau menuruti apa yang mama katakan. Dan Xander harap mama tidak bicara seperti itu lagi. Karena jika sampai Mama mengatakan kalimat sekejam itu di depan Xander sekali lagi, maka selamanya Xander tidak mau menganggap Mama sebagai Mama Xander!" Ancaman Xander berhasil membuat wajah Nyonya Viana pucat.
"Xander, apa yang kau katakan!" teriak Tuan Jeremy marah. "Apa yang dikatakan oleh mamamu itu benar. Kenapa kau justru menyalahkannya?"
"Xander lebih memilih hubungan persahabatan Xander dengan Dimitri daripada perasaan cinta Xander terhadap Quinn. Mama harus tahu satu hal, meskipun Dimitri sudah tidak ada lagi dunia ini belum tentu Quinn mau membuka hatinya untuk Xander. Cinta tidak bisa dipaksakan. Xander tidak mau melihat Quinn menderita jika sampai terjadi hal yang buruk terhadap Dimitri. Sebelum Quinn membuka mata, Xander berjanji akan membawa Dimitri ke rumah sakit ini." Xander mengatur napasnya agar tidak semakin emosi. "Permisi Ma, Pa."
Xander segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang kini masih berdiri mematung dengan wajah bingung. Mereka sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Memaksa Xander sama saja membuat pria itu membenci kedua orang tuanya sendiri.
"Apa yang tadi dikatakan Xander tidak perlu kau masukkan ke dalam hati." Tuan Jeremi mengusap punggung istrinya.
"Ya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Mungkin memang kata-kataku tadi sangat keterlaluan. Ayo kita masuk dan temui Tiffany. Dia pasti sudah menunggu kedatanganku."
Nyonya Viana berusaha tetap mengukir senyuman manis di sana. Dia merangkul lengan suaminya. Ketika mereka mau masuk ke dalam lift, tiba-tiba di dalam lift itu sudah ada Nyonya Tiffany. Wanita bersama dengan Nichole. Sejak kejadian penculikan itu, dua anak laki-laki Nyonya Tiffany tidak lagi membiarkannya pergi sendirian. Meskipun hanya sekedar membeli makanan ringan yang ada di lantai bawah.
"Tiffany?" sapa Viana dengan senyum bahagia.
"Tiffany, kau harus sabar. Quinn pasti sembuh." Nyonya Viana mengusap punggung Nyonya Tiffany. Berusaha menguatkan sahabatnya itu.
"Tapi sampai detik ini dia belum mau membuka mata. Entah apa yang dia tunggu." Nyonya Tiffany melepas pelukannya. Dia berusaha tersenyum meskipun kini hatinya menangis. "Bukankah Xander baru saja turun? Apa kalian tidak bertemu?"
"Ya. Tadi kami sempat mengobrol sebentar. Tiffany, kau mau kemana?"
"Sejak kemarin Malvin tidak mau makan. Jadi, aku dan Nichole berinisiatif untuk membeli makanan kesukaan Malvin. Dibandingkan dengan Nichole, dia yang paling rapuh saat kondisi Quinn seperti ini." Nyonya Tiffany menunduk sedih. Dia ingin cobaan ini segera berakhir dan mereka semua bisa berkumpul lagi di rumah mereka yang nyaman dan damai.
"Nichole, kau harus bisa menjaga Mommymu. Mommymu ini orangnya sangat cengeng. Meskipun Quinn anak pertama, tetapi sebagai seorang pria kau memiliki kewajiban untuk melindungi keluargamu," ucap Nyonya Viana.
Nichole mengangguk. "Ya, Tante. Nichole akan selalu menjaga keluarga Nichole."
"Viana, kau bisa naik ke lanta lima. Ruangan Quinn tidak jauh dari lift. Nanti di depan kau bisa melihat Joni. Dia berjaga di depan ruangan Quinn. Aku dan Nichole harus segera pergi. Kami akan segera kembali."
__ADS_1
"Baiklah. Hati-hati ya."
Dua wanita paruh baya itu berpisah. Nyonya Tiffany dan Nichole segera melangkah menuju ke kantin. Mereka tidak lagi takut ada musuh di sana. Luca sudah berani jamin kalau pengawal miliknya akan berjaga di segala sudut rumah sakit.
...***...
PLAKK PLAAKKK
Meskipun kini tubuhnya masih lemah, tidak mengurungkan niat Joa untuk memberi pelajaran kepada bawahannya. Berita kalau anak buah Joa bersekongkol dengan orang bayaran Tuan Nio sudah sampai ke telinganya. Dan itu membuat Joa sangat malu dan kecewa.
Pasalnya sampai detik ini Joa sendiri tidak tahu kemana Dimitri pergi dan ad dimana dia sekarang. Pria tangguh itu hanya meninggalkan secarik surat yang membuat Joa benar-benar merasa sebagai pengawal tidak berguna.
"Ini tidak cukup! Seharusnya aku membunuh kalian!" umpat Joa marah. "Tidak! Mencincang tubuh kalian hidup-hidup dan memberikannya ke ikan yang ada di laut!" sambungnya lagi. Karena sangat emosi, Joa mengambil pedang yang terletak di atas meja dan membawanya mendekati anak buah yang tidak berguna. Emosi pria itu sudah ada di ubun-ubun. Sulit untuk dibujuk agar tenang kembali.
"Bos, maafkan kami." Dua pengkhianat itu berlutut. Ternyata mereka tidak sanggup jika harus mati dengan cara dicincang hidup-hidup.
"Maaf? Bahkan Tuan Dimitri sudah meragukan kesetiaanku lalu dengan mudahnya kalian minta maaf?" sahut Joa. Dia melayangkan pedang itu ke udara dan siap mencabik kulit bawahannya.
"Keluarga kami ada di tangan mereka. Kami tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang mereka perintahkan. Memang semua ini adalah kesalahan yang kami perbuat sendiri. Kalau saja kami bisa menjaga keluarga kami dengan baik dan tidak sampai tertangkap oleh anak buah Nio sialan itu, mungkin kejadian seperti ini tidak pernah terjadi.
Kami rela mengorbankan nyawa kami asalkan nama baik anda tetap dijunjung tinggi. Tapi kali ini kondisinya sangat jauh berbeda Bos. Ada anak dan istri yang harus kami lindungi. Tetapi sekarang mereka sudah baik-baik saja. Saat mendapat kabar kalau Nio itu tewas, kami segera membebaskan keluarga kami dan meletakkannya di tempat yang jauh lebih aman. Jika memang dengan membunuh kami bisa menebus kesalahan kami dan membuat anda memaafkan kami maka kami siap."
Perkataan dua pengawal setia Joa cukup menyentuh hingga akhirnya pria itu tidak tega untuk membunuhnya. Pedang yang sempat digenggam terlepas dan tergeletak begitu saja di lantai.
Joa memalingkan wajahnya. Kini dia tidak tahu harus berbuat apa. Pria itu sangat mengkhawatirkan Dimitri. Dia kembali memandang secarik surat yang ditinggalkan Dimitri di atas nakas dekat tempat tidurnya.
"Bos, anda kemana? Kenapa anda pergi tanpa saya?"
"Joa, aku tahu kau setia padaku. Bukan hanya sekali. Tetapi sudah berulang kali kau mengorbankan nyawamu hanya untuk melindungiku. Kau rela tidak makan dan minum asalkan aku tetap baik-baik saja. Kau bahkan ikhlas dan tetap tersenyum ketika aku mencacimu dengan kalimat yang begitu menyakitkan. Aku percaya padamu.
Tetapi untuk saat ini biarlah aku berjuang sendiri. Bukan karena aku membencimu. Tetapi melihat kondisimu yang seperti itu membuatku tidak tega untuk membawamu kembali bertarung denganku. Aku pasti akan kembali dalam kondisi baik-baik saja. Sebaiknya jangan pikirkan keadaanku. Pulihkan kesehatanmu agar nanti ketika kita kembali bertemu kau bisa menjagaku seperti dulu lagi."
__ADS_1