My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 194 Bukan Bulan Madu


__ADS_3

Sherin mencium wajah Joa saat pria itu masih tertidur pulas. Rasanya dia ingin suaminya tetap di sini. Di sampingnya selama mereka bulan madu. Namun sayangnya, tadi malam Joa sudah meminta izin kepada Sherin untuk membereskan masalah kecil. Mau tidak mau Sherin harus mengizinkan suaminya pergi.


"Selamat pagi sayang." Joa membuka kedua matanya lalu mengecup bibir Sherin. Sejak menikah, pria itu tidak lagi gengsi untuk mengucapkan kata-kata mesra di depan istrinya. Bahkan dia jauh lebih bucin dari Sherin sekarang.


"Selamat pagi suamiku. Bagaimana tidurnya? Apa kau bermimpi indah?" Sherin membuat lingkaran-lingkaran kecil di dada bidang suaminya.


"Aku tidak sempat bermimpi," jawab Joa. Dia menatap wajah Sherin lalu tersenyum. "Terima kasih."


"Untuk apa?" tanya Sherin bingung.


"Terima kasih karena kau sudah mencintaiku. Terima kasih karena kau mau menjadi istri yang sempurna untukku. Terima kasih karena kau mau mengerti keadaanku," jawab Joa.


"Terima kasih juga karena sudah menjadi lelaki terhebatku," sahut Sherin. Namun dalam sekejap ekspresi wajah wanita itu berubah. "Apa kau harus pergi? Apa tidak bisa lain waktu saja?" Wanita itu berusaha untuk bernegosiasi dengan suaminya.


"Jika tidak segera dibereskan, dia justru akan menghambat bulan madu kita. Sebelum dia mengeluarkan rencana-rencana yang tidak terduga lagi, sebaiknya aku yang menemuinya lebih dulu. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang dia inginkan." Joa duduk lalu memegang kedua tangan Sherin. "Aku tidak akan lama. Jangan pergi kemanapun. Tetap di rumah ini."


"Apa aku tidak boleh ikut? Bukankah kemarin kau boleh ikut?" rengek Sherin.


"Waktu itu aku sudah tahu siapa yang aku serang. Bagaimana keadaan di sana. Karena mereka masih berada di wilayah kekuasaanku. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Aku tidak mau mencelakaimu Sayang." Joa menarik Sherin dan memeluknya. Dia tahu kalau kini istrinya sangat mengkhawatirkannya. Tapi mau bagaimana lagi? Joa juga tidak tega melihat anak kecil bernama Robet itu dijadikan senjata. Dia ingin menyelematkan kehidupan Robet dan adiknya.


"Oh iya, ini sudah jam 8. Mana ponselku?" Sherin tiba-tiba mencari ponselnya yang dia sendiri lupa diletakkan dimana.


Joa juga segera turun dan bantu mencari. "Ada apa? Kenapa dengan jam 8?" tanya Joa bingung.


"Aku harus membaca pesan dari Kak Xander. Jika dia tidak mengirim pesan, itu berarti dia dalam bahaya," sahut Sherin masih dengan posisi mencari ponselnya yang hilang.


Joa diam sejenak. Karena musuh mereka lumayan banyak, saat ini Joa harus menarik orang-orang yang seharusnya berjaga-jaga di dekat markas Aldo. Tapi dia tidak mau memberi tahu Sherin. Dia takut istrinya tidak setuju dan itu akan menimbulkan masalah baru.


"Aku hampir lupa. Tadi aku membawa ponselku ke kamar mandi saat Tante Viana telepon," ucap Sherin. Dia berlari menuju ke kamar mandi.


Joa tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Pria itu memandang langit yang sudah terang. Secepatnya dia harus segera pergi. Semakin cepat semakin baik.


Sherin membuka pesan yang baru saja masuk. Ada seulas senyum di sana ketika dia membaca pesan singkat dari Xander. "Syukurlah Kak Xander baik-baik saja."


"Bagaimana?" tanya Joa yang baru saja masuk. Pria itu menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan sebelum berdiri di bawah shower.


"Aman," sahut Sherin. Pipinya merona merah melihat pria yang ia cintai kini berdiri dihadapannya tanpa sehelai benangpun. "Aku mau keluar."


"Sayang, tolong ambilkan sampo," perintah Joa. Menang kebetulan tadi Sherin yang memakai sampo dan meletakkannya di samping bathtub.


Sherin meletakkan ponselnya di atas meja wastafel karena takut basah sebelum mengambil sampo. Lantai yang di pihak Sherin sangat licin. Wanita itu tergelincir dan kepalanya terbentur bathtub.


"Sherin!"


Joa yang melihat jelas kejadian itu segera mematikan shower dan mengambil handuk. Dia segera mendekati Sherin untuk memeriksa keadaannya.


"Sayang, apa ada yang sakit?" Joa memeriksa setiap inci tubuh istrinya untuk memastikan tidak ada luka yang serius di sana.


"Aku baik-baik saja. Tapi pinggangku sakit." Sherin memijat pelan pinggangnya sendiri.


"Ayo kita ke kamar." Joa segera menggendong Sherin. Pria itu membawanya ke tempat tidur. Dia meletakkannya dengan hati-hati. "Bajumu basah. Aku akan cari baju ganti." Joa berjalan ke lemari mencari baju ganti untuk Sherin.

__ADS_1


Di atas tempat tidur, Sherin tidak lagi merasakan sakit. Wanita itu justru merasa sangat bahagia karena diperlukan seperti ratu oleh suaminya.


Joa membawa sebuah gaun biru yang sangat indah. Dia memamerkannya di depan Sherin. "Bagaimana kalau ini?"


Sherin mengangguk. "Pakaikan," rengek Sherin. Dia tahu kalau waktu suaminya sangat singkat. Pria itu harus segera menemui White Snake untuk membahas misi mereka. Akan tetapi, Sherin ingin tahu yang mana yang lebih didahulukan oleh suaminya itu.


"Baiklah," jawab Joa tanpa beban sedikitpun. Pria itu meletakkan baju ganti di atas tempat tidur sebelum membimbing Sherin agar berdiri. Secara perlahan dia menurunkan resleting gaun kuning yang kini dikenakan oleh Sherin.


"Sayang, aku bisa melakukan sendiri. Sana pergi mandi." Sherin tiba-tiba berputar dan mengambil gaun biru pilihan suaminya. Dia membuka sendiri gaun basah yang melekat ditubuhnya sebelum menggantinya dengan yang baru.


"Kenapa? Kau tidak mau aku menyentuhmu?" tanya Joa dengan wajah kecewa.


"Bagaimana bisa kau mengatakan kalimat seperti itu? Sementara setiap malam kau tidak membiarkanku tidur dengan nyenyak," ledek Sherin. "Aku hanya tidak mau mempersulit suamiku. Apa kau lupa dengan misi dadakanmu pagi ini?"


Joa kembali ingat. Pria itu menepuk dahinya sebelum lari ke kamar mandi. Sedangkan Sherin hanya tertawa geli melihat ekspresi suaminya.


"Joa Joa. Inilah yang membuatku semakin cinta padamu."


...***...


Xander meletakkan ponselnya setelah mengirim pesan ke Sherin. Pria itu memandang ke depan untuk melihat Audy yang kini sedang berenang. Gerakan wanita itu sangat tenang. Dilihat dari gaya renang Audy, dia seperti sudah sangat profesional.


Xander mengambil segelas jus jeruk yang sudah disajikan pelayan. Meskipun berada di mansion Aldo, tapi Xander bersikap seperti berada di rumah sendiri. Apa lagi semua pelayan di sana sangat patuh dengan perintahnya.


"Xander, ambilkan handuk," teriak Audy. Wanita itu menunjuk handuk yang tadi dia bawa. "Di sana."


Xander mengikuti arah yang ditunjuk oleh Audy sebelum beranjak dari kursi. Pria itu sendiri juga sudah memakai celana renang dan siap terjun ke kolam.


"Yang ini?" tanya Xander. Dia memberikan handuk yang diinginkan oleh Audy. Memang ada banyak handuk di sana. Xander sendiri tidak tahu handuk mana yang diinginkan oleh Audy.


Xander mendengus kesal. Tanpa sengaja dia melihat seseorang yang selama ini memata-matai. Pria itu segera memalingkan pandangannya agar seseorang itu tidak curiga.


"Sudah ku duga. Aldo pasti mengirim mata-mata untuk mengetahui apa yang dilakukan Audy di sini. Sebaiknya aku jaga jarak dengan Audy. Jangan sampai aku terjebak di tempat ini. Audy juga belum mau di ajak kabur," gumam Xander. Dia mengambil handuk lainnya dan membawanya ke tempat Audy.


"Terima kasih," ucap Audy. wanita itu segera naik ke atas untuk menikmati jus jeruk miliknya.


Bersamaan dengan itu, Xander melompat ke kolam untuk berenang. Melihat Xander berenang membuat Audy kagum. Otot-otot pria itu membuatnya terlihat semakin keren. Audy sampai tidak berkedip melihatnya.


Dari kejauhan seorang pelayan muncul dengan sebuah ponsel di tangannya. Dia berdiri di hadapan Audy dan menunduk hormat. "Nona, Tuan Aldo ingin bicara dengan anda."


"Aldo?" Audy segera menerima teleponnya. Pelayan wanita itupun segera pergi.


"Audy, apa kabar?" tanya Aldo dikejauhan.


"Baik. Bagaimana denganmu Aldo?" Audy melirik ke arah Xander yang masih berenang sebelum beranjak dari kursinya.


"Aku baik-baik saja. Aku juga masih hidup," jawab Aldo dengan santai. "Bagaimana dengan Tuan Xander? Dia masih ada di sana?"


Audy terdiam sejenak. Dia bingung harus jawab apa sekarang. "Aku akan bicara padanya agar dia segera pergi dari sini."


"NO! No!" sahut Aldo cepat. "Jangan sayang. Biarkan Tuan Xander berada di sana selama yang ia inginkan."

__ADS_1


"Tapi, bagaimana denganmu? Kau tidak marah?" tanya Audy untuk kembali memastikan.


"Mansionku besar. Dengan kehadiran Tuan Xander di sana, kau jadi punya teman."


Audy kini bisa bernapas lega karena Aldo tidak curiga sama sekali. "Kapan kau pulang?"


"Mungkin satu bulan lagi."


"Benarkah?" tanya Audy kembali memastikan.


"Audy, bersiaplah menikah denganku. Karena saat aku kembali, secepatnya kita akan menikah."


Kali ini Audy tidak bisa langsung menjawab. Wanita diam beberapa detik.


"Audy, kenapa kau diam? Apa kau sudah berubah pikiran?" tanya Aldo lagi.


"Aku lagi makan. Nanti kita akan bicara masalah ini lagi Aldo." Audy segera memutuskan panggilan telepon itu. Dia memejamkan matanya untuk mengatur napasnya yang terasa sesak.


"Audy."


"Audy terperanjat kaget ketika Xander tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. "Xander, kau mengangetkanku!"


"Kau bicara sama siapa? Apa itu Aldo?" Xander melirik telepon yang digenggam Audy.


"Ya. Ini Aldo." Audy meletakkan telepon itu di atas meja. "Xander, aku mau masuk."


Xander tiba-tiba memegang tangan Sherin dan menariknya. Dia memeluk wanita itu dengan kedua tangannya.


"Xander, apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau anak buah Aldo melihat kita?" protes Audy.


"Ya. Tadinya aku berpikir seperti itu. Akan jadi masalah besar jika Aldo sampai mengetahui apa yang pernah terjadi di antara kita. Tetapi sekarang aku tidak peduli lagi. Audy, ayo kita pergi. Mau sampai kapan kita ada di sini? Jangan bohongi perasaanmu sendiri."


Audy membisu. Dia tidak tahu harus jawab apa.


"Saat berenang tadi, aku tiba-tiba menemukan sebuah ide. Audy, kita bisa kabur dari tempat ini melalui air."


"Air?" Audy memandang ke arah Xander. "Apa maksudmu?"


"Lautan. Aldo tidak akan kepikiran kalau kita akan kabur melalui jalur air," jawab Xander dengan penuh semangat.


"Tapi, kalau tertangkap. Dia bisa membunuhmu!" sahut Audy memperingati.


"Tidak akan. Aku bisa meminta bantuan adik iparku. Sekarang semua ada ditanganmu. Jika kau setuju, aku akan atur semuanya."


Audy masih belum memberi jawaban. Wanita itu hanya menunduk bingung.


"Audy ... pandang aku." Xander menarik dagu Audy dan mengusapnya lembut. "Jangan bohongi perasaanmu. Aku tahu kalau kau juga mencintaiku."


Audy memandang wajah Xander yang kini sangat dekat dengannya. Saat pria itu ingin menciumnya, dia justru memilih pasrah dan memejamkan mata. Sebelum bibir Xander berhasil mendarat di bibir Audy, tiba-tiba mereka mendengar suara tepuk tangan yang cukup keras.


"Luar biasa! Luar biasa Audy!"

__ADS_1


Xander dan Audy sama-sama memandang ke samping. Mereka sama sekali tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat.


"Aldo?"


__ADS_2