
Sherin tersenyum bahagia membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Xander. Meskipun hanya bertuliskan kata 'Aman' tetapi itu cukup membuat Sherin merasa tenang. Setelah meletakkan ponselnya di atas meja, Sherin memandang suaminya yang kini sedang sibuk melahap sarapan pagi di meja.
Kali ini Sherin meminta koki di dapur untuk membuat sarapan pagi roti bakar dan salad sayur. Sherin ingin mereka memakan makanan yang sehat sebelum melakukan rutinitas yang cukup melelahkan.
"Bagaimana? Apa semua baik-baik saja?" tanya Joa sembari memasukkan roti ke dalam mulutnya. "Aku sudah meminta beberapa pasukan White Snake berjaga-jaga di dekat mansion itu. Sepertinya pemilik mansion itu bukan orang biasa. Bahkan jauh lebih hebat dari Leonzio," jelas Joa lagi.
"Kak Xander bilang aman. Semoga saja besok pagi dia masih mengirim pesan yang sama." Sherin mengaduk salad sayur sebelum memakannya. "Sayang, hari ini kita mau jalan-jalan kemana?"
"Ada banyak tempat indah di sini. Kau bisa menjelajahi semuanya," jawab Joa dengan santai. Pria itu belum menentukan kemana mereka pergi pagi ini. Yang pastinya, kemanapun mereka berkunjung. Akan terasa bahagia jika bersama.
"Aku ingin ke sebuah tempat yang tenang. Tidak terlalu ramai. Namun terasa sejuk. Apa di sini ada tempat seperti itu?" tanya Sherin penuh harap.
Joa diam sejenak sembari mengingat-ingat ada nggak tempat yang sesuai dengan harapan istrinya. "Tidak ada. Kebanyakan di sini pantai," jawab Joa pada akhirnya.
"Aku bosan ke pantai," sahut Sherin. Wajah wanita itu kini terlihat tidak bersemangat. Dia bahkan tidak lagi mau memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Tapi, aku sudah menyiapkan sebuah tempat yang sangat cocok untukmu," ucap Joa lagi.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Sherin kurang yakin. Meskipun begitu, ekspresi wajahnya terlihat jauh lebih bersemangat dari sebelumnya.
"Cepat habiskan sarapanmu. Kita akan ke sana setelah ini."
Sherin hanya menjawab dengan anggukan saja. Wanita itu memasukkan makanannya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan cepat. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk mengunjungi tempat yang sudah di tentukan oleh suaminya.
***
Sherin merasa sangat penasaran ketika kakinya kini tidak lagi menginjak tanah. Dia tahu kalau kini dia ada di atas rumput. Angin berhembus dengan sangat kencang hingga membuat gaun yang dikenakan Sherin bergoyang.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Sherin masih dengan posisi mata ditutup.
Sherin menarik napasnya sebelum membuka kedua matanya secara perlahan. Hamparan Padang rumput yang sangat luas kini tersaji di depan matanya. Di tengah Padang rumput itu ada sebuah pohon yang sepertinya sengaja di tanam untuk tempat berteduh di kala matahari terik.
"Dimana ini? Kenapa kau bisa menemukan tempat seindah ini Joa," puji Sherin. "Aku menyukainya."
Joa tersenyum mendengarnya. Memang jawaban seperti itulah yang ingin dia dengar. "Bukankah ini tempatnya tenang dan banyak angin? Sunyi juga karena tidak semua orang kepikiran untuk datang ke tempat seperti ini. Ayolah, akan aku tunjukkan sesuatu."
__ADS_1
Joa menarik tangan Sherin dan membawanya ke tengah padang rumput. Tinggi rumput itu sampai ke lutut. Meskipun begitu, tetap aman di sana. Lokasinya cukup di rawat.
Joa membawa Sherin menuju ke pohon yang berdiri kokoh di depan sana. Dia melangkah dengan sangat hati-hati meskipun jalanannya rata.
"Joa, apa di sini aman?" tanya Sherin sambil tetap fokus dengan langkah kakinya sendiri.
"Mungkin," jawab Joa hingga membuat Sherin menahan langkah kakinya.
"Mungkin?" tanya wanita itu ragu-ragu. Dia tahu kalau ada ketidakpastian dari jawaban suaminya. "Bagaimana kalau ada musuh yang sedang mengintai kita?"
Jika sudah membahas soal musuh, Joa sendiri tidak tahu harus bagaimana. Karena memang diakui Joa kalau musuhnya ada dimana-mana dan jumlahnya cukup banyak.
"Satu hal yang pasti. Kau akan selalu aman jika ada disisiku," jawab Joa. Dia menyelipkan rambut Sherin yang berterbangan. "Percayalah padaku."
Sherin tersenyum bahagia mendengarnya. "Aku percaya padamu. Dimanapun aku berada, siapapun yang akan aku temui. Aku akan tetap aman karena suamiku pasti akan melindungiku." Dia segera memeluk suaminya. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Joa.
"Aku mencintaimu." Joa mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Sherin. Mereka sama-sama melangkah menuju ke pohon yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi.
__ADS_1
"Bos, awas!" teriak seseorang dari kejauhan hingga membuat Joa dan Sherin menahan langkah kaki mereka.