My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 61 Pembelaan


__ADS_3

"Mommy ...."


Suasana yang begitu tegang ketika Xander menghakimi Sherly berubah menjadi tenang. Quinn telah sadar dan kini semua orang berlari untuk melihat keadaan Quinn. Tak terkecuali Dokter Fei. Sherly merasa bisa bernapas lega ketika Xander tidak lagi mencegahnya pergi. Melihat semua orang sibuk kepada Quinn membuat Sherly memilih kabur dari sana.


Tapi sayangnya dia tidak tahu siapa yang dihadapinya saat ini. Dimitri dan Luca saling memandang mengetahui Sherly kabur. Mereka memiliki pemikiran yang sama. Meskipun terlihat tidak peduli, tetapi mereka selalu tahu seperti apa sosok pengkhianat.


Dimitri mengambil ponselnya lalu menekan nomor seseorang. "Di ke bawah. Seorang wanita bernama Sherly!"


Mendengar Dimitri menghubungi seseorang membuat Xander tersenyum. "Aku pikir kau tidak peduli," ucapnya.


"Bagaimana mungkin aku tidak peduli. Untuk melihat apa yang dia lakukan, kita tidak perlu gegabah. Terlalu menuduh hanya akan membuatnya kabur. Dan kau tidak akan mendapatkan apa-apa nantinya," sahut Dimitri.


Luca tersenyum tipis mendengarnya. "Good job Boy! Quin tidak salah memilihnya. Pria seperti ini yang lantas menjadi menantuku," puji Luca yang hanya ada di dalam hati saja.

__ADS_1


"Sayang, kau sudah bangun? Sekarang apa yang kau rasakan?" tanya Tiffany dengan lembut sambil mengusap rambutnya.


"Mommy, aku kesulitan bernapas. Perutku juga sakit," jawab Quinn apa adanya. Dokter Fei segera mengambil posisi untuk memeriksa keadaan Quinn lebih lanjut.


Terdengar suara senjata api di bawah. Kebetulan jendela sengaja di buka saat itu. Dimitri segera berlari ke jendela melihat apa yang terjadi di bawah. Wajahnya langsung serius melihat Joa dan White Snake miliknya sedang bertarung melawan segerombolan orang bersenjata.


"Aku harus pergi!" pamit Dimitri.


Dokter Fei mengangkat kepalanya lalu memandang ke arah Xander. "Jangan bilang ini wanita yang membuatmu kasmaran dan sakit jantung itu," sindirnya.


"Ya. Dia wanita itu. Tapi sayang, aku kalah cepat dari Dimitri," sahut Xander kesal.


"Kalau begitu, mundurlah! Jangan sampai persahabatan kita rusak karena hal ini." Dokter Fei berusaha memperingati sebelum mengeluarkan jarum suntikan. Sedangkan Xander hanya diam tanpa mau menjawab lagi.

__ADS_1


"Mommy, dimana Sherly?"


"Sherly?" Tiffany diam sejenak. Dia tahu kalau kini wanita muda itu sedang di cari karena dia adalah tersangka yang sudah membuat putrinya celaka. Meskipun begitu, Tiffany tidak bisa mengatakan sejujurnya. Quinn tidak akan mungkin langsung percaya. "Dia pulang sebentar. Katanya dia akan kembali lagi nanti," dusta Tiffany dengan senyum yang menyakinkan.


"Lalu, dimana Daddy?" Quinn memandang ke arah Xander. Dia kembali ingat dengan kekasihnya. "Dimana Dimitri?"


"Nona, anda baru saja sadar. Apa anda tahu kalau anda jatuh sakit karena terlalu banyak pikiran? Untuk itu, lebih baik anda tenangkan pikiran anda terlebih dahulu dan jangan memikirkan hal lain lagi," jelas Dokter Fei hingga membuat Quinn kembali diam. meskipun begitu, dia tetap saja penasaran. Sebenarnya kemana perginya kekasihnya itu. Kenapa hanya ada Xander di sana.


"Sayang, mommy mau tanya. Apa selama ini kau suka minum kopi?" tanya Tiffany hati-hati agar putrinya tidak curiga.


"Mom, seperti yang pernah aku katakan. Aku suka kopi sejak aku kenal dengan Sherly. Kopi buatannya sangat enak," puji Quinn dengan senyum ceria.


"Tidak salah lagi. Memang wanita itu dalang semua ini," batin Xander.

__ADS_1


__ADS_2