My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 39 Dimitri Huberg


__ADS_3

"QUINN!"


Sherly berteriak hingga membuat semua orang yang ada di depan parkiran memandang ke arahnya. Wanita itu langsung pergi berlari meninggalkan wanita yang sempat mengobrol dengannya. Dia terlihat bahagia bisa melihat Quinn hadir di perusahaan lagi. Sejak kemarin pikirannya sangat tidak tenang. Dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya.


"Sherly, apa kabar?" tanya Quinn dengan senyum mengembang di bibirnya. Sherly langsung memeluk Quinn tanpa mau menjawab pertanyaan wanita itu. Pelukannya sangat erat seperti sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. "Sherly, kau membuatku kesulitan bernapas. Apa kau berniat untuk membunuhku karena aku menghilang tanpa kabar?" protes Quinn sambil berusaha melepas pelukan sahabatnya itu.


"Quinn!" Sherly memukul lengan Quinn pelan. "Kau ke mana saja? Jika memang kau pergi untuk berlibur, kenapa tidak memberitahuku. Bahkan kau tidak membuka pesan yang aku kirim ke emailmu. Ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Apakah kau takut jika aku mengganggu waktu liburanmu hingga akhirnya kau memutuskan untuk tidak memberi kabar padaku? Apakah kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu. Bisakah kau merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Kau benar-benar membuatku marah." Dadanya naik turun. Wanita berusaha menahan amarahnya yang hampir meledak.


Quinn merasa bahagia sekaligus merasa bersalah. Memang Sherly adalah sahabat yang baik. Dia selalu ada di sisi Quinn ketika Quinn dalam masalah. Hal itulah yang membuat Quinn ingin cepat-cepat menemui Sherly ketika ia sudah tiba di rumah.


"Telah terjadi sesuatu. Aku rasa kita tidak bisa cerita di sini. Bagaimana kalau kita ke dalam saja? Bukankah sekarang sudah waktunya untuk bekerja? yang lain juga sudah masuk ke dalam." Quinn segera merangkul lengan Sherly dan memaksa wanita itu untuk masuk ke dalam perusahaan. "Sebagai ungkapan rasa bersalahku, siang ini biar aku saja yang traktir makan. Kau boleh memesan makanan apa saja yang kau suka. Tapi berjanjilah untuk memaafkan kesalahanku," bujuk Quinn sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Quinn, Kau benar-benar menyebalkan. Lihat saja nanti, aku pasti akan memesan menu yang paling mahal agar gajimu habis!" sahut Sherly. Hingga akhirnya membuat Quinn tertawa mendengarnya. Dua wanita itu langsung segera masuk ke dalam gedung perusahaan tempat mereka bekerja.


...***...


"Dimitri? Apa namanya Dimitri Huberg?"


"Siapa Dimitri Huberg?" tanya Quinn bingung. Wanita itu baru saja menceritakan apa yang ia alami selama beberapa minggu ini.


"Astaga Quinn! Selama ini kau ke mana saja? Semua wanita single pasti kenal Dimitri Huberg. Dia itu Pria idaman semua wanita. Terutama wanita yang ada di kota ini. Dia sangat tampan dan kaya raya. Dia memiliki segalanya." Sherly tersenyum manis sambil membayangkan betapa tampannya seorang Dimitri Huberg.


"Apa kau pernah bertemu dengannya?"

__ADS_1


"Quinn, tidak semua orang bisa bertemu dengannya. Dia itu orang penting! Bahkan wajah aslinya saja tidak ada yang pernah melihatnya secara langsung. Jika berada di depan umum biasanya Tuan Dimitri akan dihalangi oleh beberapa pengawalnya hingga wajahnya tidak bisa terlihat jelas di kamera. Tetapi dari postur tubuhnya saja aku bisa menilai kalau dia pria yang tampan dan sangat berkarisma." Sherly mengukir senyuman manis sembari membayangkan sosok Dimitri Hubert.


"Kalau begitu Dimitri yang aku kenal pasti bukan Dimitri Huberg," sahut Quinn sebelum memasukkan makan siangnya ke mulut.


"Tapi kau ada benarnya juga. Tidak mungkin Dimitri yang terkenal itu tiba-tiba datang menghampirimu. Dia pria yang sangat sibuk dan tidak pernah peduli dengan seorang wanita. Kabarnya beberapa Putri konglomerat bahkan patah hati dibuatnya karena cinta mereka ditolak secara mentah-mentah. Dia ini pria yang sangat misterius. Entah wanita seperti apa yang akan berhasil meluluhkan hatinya nanti," jelas Sherly.


"Apa pekerjaannya, sampai-sampai dia bisa terkenal?"


"Dia memiliki perusahaan yang tersebar di berbagai negara. Uangnya sangat banyak Quinn. Tidak akan terhitung lagi oleh kita. Tapi aku pernah mendengar kabar kalau perusahaan kita sempat mengajukan proposal agar bisa bekerja sama dengan salah satu perusahaan yang dimiliki oleh Tuan Dimitri. Semoga saja kerjasama ini bisa terjalin agar kita bisa melihat langsung bagaimana wajah seseorang Dimitri Huberg."


Quinn hanya mengangguk saja sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Membahas soal Dimitri tiba-tiba saja ia teringat akan sosok pria yang sejak kemarin mengganggu pikirannya. "Bagaimana kalau Dimitri yang baru saja diceritakan Sherly adalah Dimitri yang aku temui?"

__ADS_1


__ADS_2