
Semua orang tidak bisa memberhentikan air mata yang kini menetes tanpa permisi. Baru saja Nenek Su dimasukkan ke dalam tanah. Wanita tua itu dikebumikan dengan cara yang terhormat. Semua orang menangisi kepergiannya. Semua orang tidak rela jika ia pergi secepat ini.
"Nenek Su orang yang baik. Dia adalah orang tua bagi kami semua. Entah seperti apa hidup kami nanti setelah kepergiannya." Seorang pria berdiri di samping Quinn dan Dimitri. Dia merasakan hal yang sama seperti warga pulau lainnya. Namun dari semua orang yang ada di sana. Hanya pria itu yang lebih tegar karena dia tidak terus-menerus menangis.
"Anda sudah lama kenal Nenek Su?" tanya Quinn.
Pria itu menggeleng. "Hanya beberapa minggu saja. Namun waktu singkat itu sudah menunjukkan kalau Nenek Su orang baik," jawab pria itu apa adanya.
Quinn kembali diam. Wanita itu melirik sejenak ke arah makam Nenek Su sebelum menenggelamkan wajahnya di dada Dimitri.
"Kita semua juga merasa kehilangan. Sayang, kau harus kuat. Nenek Su juga nggak mau kau bersedih seperti ini. Kau bisa sakit," bisik Dimitri memperingati.
"Semua ini seperti mimpi. Sayang, apa benar semua ini hanya mimpi?" lirih Quinn dengan mata terpejam. Dia masih ada di dalam pelukan Dimitri.
"Sayang, kita harus segera pergi. Nenek Su sudah dikebumikan. Mommy dan Daddy pasti sudah menunggu kepulangan kita." Pria itu kembali memperingati Quinn kalau hari ini adalah jadwal mereka pulang. Meskipun mereka semua baru saja mendapatkan musibah. Tapi berlarut-larut dalam kesedihan juga tidak baik.
"Ya. Tapi sebentar lagi ya. Aku masih mau di sini. Menemani Nenek Su," pinta Quinn. Wanita itu berjongkok di depan makam Nenek Su lalu menghapus air mata yang lagi-lagi menetes. "Meskipun kita tidak bisa mengobrol dan bercanda seperti kemarin lagi. Tapi aku akan tetap datang ke pulau ini. Ke tempat ini untuk menjenguk Nenek Su," ucap Quinn.
__ADS_1
Dimitri memandang satu persatu penduduk pulau yang pergi meninggalkan arena pemakaman. Hanya ada makam Nenek Su di sana karena memang sejak pindah ke pulau tersebut belum ada yang meninggal.
"Tuan, langit sudah hampir gelap. Tidak baik ada di tengah laut saat malam hari. Angin kencang sekali. Jika anda tidak pulang sekarang, lebih baik pulang saja besok pagi. Kami tidak mau terjadi hal yang buruk terhadap anda dan Nona Quinn," ucap salah satu penduduk pulau.
Dimitri mengangguk. Pria itu mengambil ponselnya lalu menekan nomor seseorang. Dia memandang ke arah Quinn sejenak sebelum bicara dengan seseorang di dalam telepon.
"Kami tidak jadi pulang hari ini. Ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkan. Kabari semua orang agar mereka tidak khawatir," ucap Dimitri. Pria itu segera memutuskan panggilan teleponnya. Dia kembali memandang ke arah Quinn yang masih berjongkok di depan makam Nenek Su.
Di sisi lain, Sherin dan Joa masih berada di mobil yang sama. Entah kemana mereka ingin pergi kali ini. Sherin yang tiba-tiba saja berubah pikiran mengajak Joa untuk jalan-jalan. Meskipun tidak memiliki tujuan yang pasti, tapi setidaknya mereka berdua terlihat bahagia karena terus bersama.
"Nona Quinn dan Tuan Dimitri tidak jadi pulang hari ini," jawab Joa tanpa memandang.
"Hal penting apa? Apa terjadi sesuatu di sana?" Wajah Sherin langsung berubah panik.
"Salah satu warga pulau ada yang meninggal. Kau tidak mengenalnya. Tetapi Nona Quinn sangat dekat dengannya," jelas Joa secara singkat. Pria itu berharap Sherin tidak bertanya lagi karena itu hanya akan mengganggu konsentrasinya ketika mengemudi.
"Quinn memang hebat. Dia memiliki pergaulan yang begitu luas. Berbeda denganku," ujar Sherin. Wajah wanita itu berubah sedih. Entah apa yang sekarang dia pikirkan lagi hingga membuat Joa tidak berkonsentrasi melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Bisakah kau untuk tidak memasang ekspresi jelek seperti itu?" protes Joa. Sebenarnya dia tidak tega melihat Sherin sedih.
"Bukankah aku ini memang jelek?" sahut Sherin.
Joa tiba-tiba mengerem mobilnya ketika ada sebuah mobil berhenti di depan mobil mereka. Bukan hanya satu. Tapi ternyata dari sisi kanan dan kiri juga ada mobil yang mengepung mereka saat ini.
"Apa yang terjadi?" Sherin mulai khawatir.
"Tetap di sini." Joa segera mengirim alarm bahaya kepada White Snake sebelum turun dari mobil. Tetapi, baru juga buka pintu Sherin sudah memegang tangan Joa dan menariknya. "Ada apa??" protes Joa kesal.
Pria berjaket hitam turun dari mobil. Masing-masing mobil berjumlah tiga orang. Kini ada 9 orang yang berdiri mengelilingi mobil Joa dan siap menghajarnya.
Joa memandang ke depan. Dia sama sekali tidak kenal dengan orang yang kini menghadangnya. Namun pria itu selalu memiliki musuh. Joa berpikir kalau mereka mengincar nyawanya.
"Mereka ingin menangkapku," ucap Sherin.
"Menangkapmu? Untuk apa?" sahut Joa dengan tawa meledek. Pria itu lalu menatap Sherin dengan serius. "Kau kenal dengan mereka?"
__ADS_1