My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 210 Jagoan Kecil


__ADS_3

Kali ini Luca harus angkat bicara karena istrinya mulai mengatakan kalimat yang membuat anak mereka sakit hati. Pria itu tidak bisa diam saja.


"Mereka berjodoh. Mereka juga sudah menikah. Lihatlah sekarang Quinn telah mengandung anak Dimitri. Untuk apa kau membahas masa lalu lagi. Setiap pernikahan pasti memiliki risiko. Dimitri sudah menjadi suami yang bertanggung jawab. Dia Selalu membahagiakan putri kita. Melindunginya dan tidak pernah menyakitinya," bela Luca. Dia tahu bagaimana kecewanya perasaan Dimitri saat ini ketika mendengar perkataan Tiffany.


"Tapi Quinn tidak mau operasi. Dia lebih mementingkan pertarungannya daripada nyawanya sendiri!" sahut Tiffany. "Bukankah itu juga disebabkan oleh Dimitri?"


"Dimitri tidak salah," jawab Luca lagi untuk membela menantunya. "Semua bisa diselesaikan dengan cara baik-baik."


"Tapi aku tidak mau kehilangan putriku!"


"Tapi tidak seperti ini juga caranya." Luca berusaha tetap sabar menghadapi istrinya. "Di sini tidak ada yang ingin kehilangan Quinn. Kita semua sangat menyayangi Quinn. Kita ingin yang terbaik untuk Quinn termasuk Dimitri. Sebagai suami dia tidak akan siap untuk kehilangan istrinya. Tanpa kita perintah dia juga tidak akan setuju dengan keputusan yang diambil oleh Quinn jika keputusan itu memberikan resiko yang sangat besar."


Tiffany membisu karena dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Sebenarnya dari lubuk yang paling dalam Ia juga merasa bersalah karena sudah mengatakan kalimat sekejam itu di depan Dimitri. Namun tadi dia sangat emosi. Hatinya benar-benar kecewa mendengar jawaban dari putrinya.


"Sekarang ayo kita pulang. Biar Dimitri dan Quinn sendiri yang menyelesaikan masalah ini. Kita sebagai orang tua tidak perlu ikut campur."


"Tidak perlu ikut campur kau bilang? Kita ini orang tuanya. Aku tidak mau sampai kehilangan putriku!" sahut Tiffany yang masih belum bisa tenang.


"Dimitri, Daddy harap kalian bisa menemukan solusi yang terbaik. Malam ini juga Daddy dan Mommy akan pulang."


Setelah berpamitan dengan Dimitri, Luca segera membawa istrinya pergi meninggalkan rumah itu. Tiffany sendiri tidak bisa memberontak. Wanita itu lebih menurut dengan perintah suaminya meskipun hatinya masih sangat kesal melihat keputusan Quinn.


Setelah kamar itu benar-benar sunyi Dimitri memandang Quinn yang kini menunduk sambil menangis. Pria itu menjadi tidak tega meskipun sebenarnya ia ingin marah dan menyalahkan istrinya karena terlalu egois.


Dimitri duduk di samping Quinn lalu menariknya dan memeluknya dengan erat. Dia berusaha untuk menenangkan Quinn terlebih dahulu sebelum mengajak wanita itu untuk bicara.


"Maafkan Aku. Perkataan Mommy tadi pasti sudah menyinggung perasaanmu. Aku juga tidak menyangka kalau Mommy akan mengatakan kalimat sekejam itu di hadapanmu," lirih Quinn dengan sangat pelan.


"Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Mommy. Yang aku pikirkan sekarang adalah kondisimu dan anak kita. Quinn, tolong jangan pikirkan hal lain lagi. Aku tidak mau sampai kehilangan dirimu. Percuma anak ini lahir jika kau tidak ada lagi disisiku."


Dimitri mengangkat wajah Quinn lalu memegang kedua pipi wanita itu. "Untuk apa kau memikirkan sebuah pertarungan? Jika ke depannya kau tidak bisa bertarung lagi denganku, itu tidak akan pernah menjadi masalah di dalam kehidupan kita. Yang penting kita masih tetap bahagia."


"Tapi aku tidak mau kau meninggalkanku. Aku tidak akan pernah merasa tenang ketika kau pergi bertarung sedangkan aku berada di rumah. Aku ingin selalu mengikutimu sesuai dengan janjimu ketika kita menikah dulu." Quinn lagi-lagi membela diri.


"Semua pasti ada solusinya. Sekarang lebih baik kita pikirkan keselamatan anak kita."


"Sayang, perutku ... Sakit."


Quinn lagi-lagi merasakan sakit di perutnya. Kali ini sakitnya sangat luar biasa hingga Quinn tidak bisa menahannya lagi. "Perutku sakit sekali. Tolong aku," lirih Quinn.


Dimitri melebarkan kedua matanya. Dia melihat ada darah yang kini membasahi gaun sang istri. "Sayang, apa yang terjadi? Ayo kita ke rumah sakit."


Tanpa pikir panjang lagi Dimitri segera menggendong Quinn untuk membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


"SAKIT!" Quinn menjambak rambut Dimitri dengan sangat kuat karena memang sakit yang kini ia rasakan begitu luar biasa. Ada cairan bening juga yang mengalir hingga membuat Dimitri menjadi semakin panik.


"Quinn bertahanlah. Kau wanita yang kuat sayang. Tolong jangan membuatku semakin takut." Dia melangkah sangat cepat menuju ke depan.


Pengawal yang melihat kejadian itu segera membukakan pintu dan menyiapkan mobil. Di depan rumah, Tiffany dan Luca belum pergi. Mereka berdua masih berdebat. Melihat Dimitri keluar sambil menggendong Quinn membuat Tiffany sangat khawatir.


"Ada apa?" tanyanya sembari mengusap rambut putrinya.


"Mom, aku juga nggak tahu. Tiba-tiba saja Quinn kesakitan dan gaunnya basah," jawab Dimitri.


Tiffany memandang gaun putrinya yang kini memang sudah basah. "Quinn, kau akan melahirkan."


Dimitri mematung mendengar pernyataan Tiffany. Bahkan pria itu sampai kebingungan harus bagaimana sekarang karena kini dia hanya berdiri saja di samping mobil.


"Dimitri, kenapa kau diam saja? Cepat bawa Quinn masuk. Biar supir yang membawa mobilnya. Daddy dan Mommy akan mengikuti kalian dari belakang." ucapan Luca memecah lamunan Dimitri hingga akhirnya pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Bersamaan dengan itu Luca menarik tangan Tiffany dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil. Mereka sama-sama meluncur menuju ke rumah sakit yang selama ini menjadi tempat Quinn periksa kandungan.


Setibanya di rumah sakit, Quinn langsung diletakkan di atas berangkar dan dilarikan ke IGD. Dokter harus memastikan bagaimana kondisi anak yang ada di dalam kandungan Quinn sebelum mengambil tindakan.


Lagi-lagi Dimitri dan yang lainnya dihadapkan dengan situasi yang sangat menegangkan. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Lorong itu terasa sangat dingin.


Tiffany duduk di kursi dengan begitu gelisah. Sama halnya dengan Luca dan juga Dimitri. Hanya saja sebagai seorang pria mereka tidak memperlihatkannya.


Tiffany memandang ke arah Dimitri yang kini berjalan mondar-mandir. Dia tahu betapa khawatirnya Dimitri saat ini. Wanita paruh baya itu berdiri lalu berjalan mendekati Dimitri. Luca memandang ke arah istrinya. Dia harus siap siaga untuk mencegah istrinya mengucapkan kalimat yang menyakitkan lagi.


Dimitri memandang wajah Tiffany lalu tersenyum. Sama sekali tidak ada dendam di wajahnya. Pria itu bahkan sudah memaafkan kesalahan mertuanya sebelum mertuanya sendiri mengucapkan kata maaf.


"Mommy, lebih baik sekarang kita fokus saja dengan Quinn. Aku sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Mommy. Aku bisa memaklumi bagaimana kekhawatiran mami terhadap Quinn," bawah Dimitri.


Tiffany tiba-tiba memeluk Dimitri dan itu membuat Dimitri tersentuh. Pria itu kini merasa jauh lebih tenang setelah Tiffany memeluknya. Pelukan seorang ibu yang selama ini sangat dirindukan oleh Dimitri.


"Sekarang kita harus berdoa agar kondisi Quinn baik-baik saja. Anak yang ada di dalam kandungannya juga baik-baik saja."


Luca tersenyum bahagia melihat pemandangan di depannya. Dia bangga dengan Tiffany karena bisa dengan mudah mengakui kesalahannya. Tidak lagi merasa gengsi.


Pintu ruangan terbuka dan dokter kandungan keluar dari sana. Dokter itu didampingi oleh seorang suster di sampingnya. "Nona Quinn akan melahirkan. Berat badan bayi diperkirakan sekitar 3,3 kilo gram. Bayi laki-laki. Akan tetapi Nona Quinn terus memaksa kami untuk melakukan persalinan secara normal. Saat ini kami hanya ingin meminta persetujuan dari suami. Setiap tindakan memiliki risiko. Tolong beri keputusan sekarang juga karena kita tidak memiliki banyak waktu."


Dimitri memandang ke arah Tiffany. Mereka seperti memiliki pemikiran yang sama saat ini. "Saya mau istri saya dioperasi. Saya tidak mau istri saya melakukan persalinan dengan cara normal," jawab Dimitri mantap hingga membuat Tiffany bisa tersenyum dengan lega.


"Baiklah jika memang itu keputusan anda. Kami akan segera membawa pasien ke ruang operasi." Dokter itu kembali masuk untuk mempersiapkan segalanya. Tidak lama kemudian pintu ruangan itu kembali terbuka dan terlihat Quinn yang kini sudah terbaring tidak sadarkan diri. Bibir wanita itu sangat pucat hingga membuat Dimitri menangis melihatnya.


"Sayang, Kau pasti kuat. Semua demi anak kita. Tolong jangan tinggalkan aku," bisik Dimitri. Nafasnya benar-benar terasa sesak. Dia tidak sanggup kehilangan Quinn.


Ketika tubuh Quinn dibawa masuk ke dalam ruang operasi Dimitri hanya bisa berdiri mematung sampai pintu operasi itu kembali tertutup rapat. Tiffany menangis di dalam pelukan Luca. Wanita itu sendiri juga sangat mengkhawatirkan putrinya.

__ADS_1


"Aku yang salah. Seharusnya aku selalu ada disamping Quinn. Bahkan saat ia periksa ke dokter agar masalah seperti ini tidak sampai terjadi. Tuhan Aku mohon selamatkanlah istriku. Selamatkanlah anak kami. Izinkan kami untuk berkumpul di rumah kami. Izinkan kami untuk menjalani hidup bersama-sama," batin Dimitri.


...***...


Di ruang operasi dokter segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungan Quinn. Ketuban sudah pecah dan mereka tidak memiliki banyak waktu lagi.


Quinn sendiri sudah dibius. Namun memang saat ini keadaan Quinn bisa dibilang kritis. Saat masuk ke ruang operasi, wanita itu benar-benar tidak sadarkan diri lagi.


Dokter Fei yang baru saja masuk ke dalam ruang operasi segera berdiri di samping Quinn untuk mengamati keadaan wanita itu. Dia sendiri sangat kaget ketika mendapat kabar dari Dimitri dan secepat kilat ia kembali ke rumah sakit.


"Pasien kritis, Dok," tanya Dokter Fei. Sebagai dokter dia tahu bagaimana kondisi Quinn saat ini.


Dokter kandungan hanya mengangguk sebelum kembali fokus dengan proses operasinya. Secepat mungkin mereka mengangkat bayi dari perut Quinn. Bayi laki-laki itu menangis dengan sangat keras. Kehadirannya membuat lega semua orang karena dia berhasil lahir dengan selamat.


Bahkan di depan ruang operasi Dimitri kembali menangis setelah mendengar suara putranya. Kakinya terasa lemas hingga Ia terduduk di lantai. Berulang kali ia mengucapkan kata syukur karena akhirnya putranya lahir dengan selamat. Meskipun begitu ia belum bisa bernapas lega karena belum mendapat kabar tentang istrinya.


"Cucu kita telah lahir. Cucu pertama kita," ucap Tiffany.


Masih dengan derai air mata yang begitu deras. Luca hanya mengangguk saja sebelum memeluk erat istrinya lagi. Pikiran mereka semua menjadi kacau. Setelah suara bayi itu tidak terdengar lagi dokter juga tidak kunjung keluar untuk memberi kabar terbaru tentang Quinn. Dimitri tahu kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya.


Sudah hampir satu jam mereka menunggu di depan ruang operasi. Namun tidak ada satupun perawat maupun dokter yang keluar untuk memberi kabar. Selama 1 jam itu juga mereka tidak bisa bernapas dengan lega. Rasanya mereka bertiga ingin sekali menerobos masuk untuk melihat kondisi Quinn sekarang.


Kemunculan dokter Fei dari ruang operasi membuat Dimitri segera berdiri. Pria itu menghampiri sahabatnya. "Bagaimana dengan Quinn?" Saat ini orang yang paling sangat dikhawatirkan oleh Dimitri adalah istrinya sendiri. Bahkan ia menomor duakan anaknya yang baru lahir.


"Quinn koma," jawab Dokter Fei. Sebenarnya ia tidak mau menyampaikan informasi ini. Dia tahu Dimitri pasti akan sangat terpukul ketika mendengar kabar buruk tentang istrinya. Akan tetapi dia juga tidak memilih hak untuk merahasiakannya.


Tiffany yang tidak sanggup mendengar kabar itu langsung jatuh pingsan. Suster yang kebetulan muncul segera membantu Luca untuk membawa Tiffany ke ruangan perawatan.


Sedangkan Dimitri hanya berdiri mematung tanpa bicara satu kata pun. Pria itu benar-benar syok mendengar kabar ini. Istri yang selama ini ia cintai kini terbaring di dalam ruang operasi. Dimitri terus saja mengutuk dirinya sendiri.


"Kau harus kuat. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Quinn. Kami akan berjuang keras agar Quinn bisa kembali membuka mata." Dokter Fei berusaha untuk memberi semangat kepada Dimitri. "Kau harus kuat demi anakmu yang baru saja lahir. Apa kau tidak ingin melihatnya? Dia anak laki-laki yang tampan. Dia sangat ingin bertemu dengan orang tuanya."


Dimitri mengepal kuat tangannya. Dia sangat menyayangi anaknya yang baru lahir itu. Seelama ini dia sangat mendambakan kelahiran putranya. Akan tetapi setelah mendengar kabar kalau Quinn koma, dia tidak bersemangat lagi untuk menyambut kehadiran bayinya itu. Dia seolah-olah membenci anak kandungnya sendiri dan menyalahkan bayi yang tidak berdosa itu atas keadaan Quinn saat ini.


"Aku tidak mau bertemu dengannya," jawab Dimitri hingga membuat Dokter Fei kaget bukan main.


"Dimitri, kau tidak bisa bersikap seperti ini. Kau terlalu egois. Sebagai seorang ayah kau tidak boleh mengatakan kalimat sekejam itu." Sebagai sahabat Dokter Fei sama sekali tidak sungkan untuk memarahi Dimitri. Dia segera menarik Dimitri dan memaksanya untuk masuk ke dalam. Pria itu ingin menunjukkan bayi mungil yang baru saja lahir.


Dimitri sama sekali tidak menolak. Pria itu tetap melangkah ketika Dokter Fei menariknya dengan sangat kasar. Dia berdiri di depan box bayi. Di dalamnya ada bayi laki-laki mungil yang sedang tertidur pulas.


Dokter Fei mengangkat bayi itu dan menunjukkannya di hadapan Dimitri. "Lihatlah wajah polosnya. Apa kau tega untuk menyalahkannya? Apa kau tidak mau melihatnya?"


Dimitri memandang wajah putranya untuk yang pertama kalinya. Bayi mungil itu sangat mirip dengan Quinn. Kedua mata Dimitri terasa sangat panas. Pria itu kembali ambruk dan terduduk di lantai. Dia menangis karena tidak tahu harus bagaimana saat ini.

__ADS_1


"Istriku ... Aku ingin istriku ...."


__ADS_2