
Audy dan Xander memutuskan untuk mencari pria itu besok pagi karena memang sekarang sudah sangat larut malam. Sedangkan Joa dan anak buahnya tetap melakukan pencarian malam ini juga. Mereka tidak mau pria sanderaan mereka itu membuat masalah baru lagi.
Akan tetapi sampai jam menunjukkan pukul 2 pagi Joa belum juga berhasil menemukan jejak pria tua itu. Padahal seharusnya dia tidak mampu pergi jauh karena memang lokasi markas White Snake sangat terpencil. Untuk keluar dari sana juga hanya bisa melewati satu jalan saja.
Sherin terus saja menghubungi Joa dan meminta pria itu pulang ke rumahnya. Hingga akhirnya Joa menghentikan pencarian. Pria itu pulang ke rumah Xander dengan wajah kecewa.
Ternyata Xander tidak bisa istirahat dengan tenang sebelum Joa kembali. Pria itu masih menunggu di ruang tv sembari menonton bola. Dia segera memanggil Joa ketika pria itu muncul.
"Duduklah." Xander menunjuk kursi yang kosong. "Bagaimana hasilnya?"
"Aku tidak berhasil menemukannya." Joa mengambil sebotol air mineral yang ada di meja lalu meneguknya. "Apa Sherin sudah tidur?"
"Tadi dia ada di sini. Dia ingin menunggumu. Tetapi aku memaksanya masuk." Xander memandang ke arah Joa sejenak sebelum menonton televisi lagi. "Maafkan Audy. Tadi dia ingin menemuimu tapi kau sudah menghilang."
"Katakan padanya untuk tidak bermain di wilayah ruang bawah tanah. Di situ tempat berkumpulnya para penjahat. Aku tidak jamin jika mereka tidak menyimpan senjata." Joa meletakkan botol minum yang sudah kosong. "Aku ingin istirahat."
Xander mengangguk. Pria itu bersandar lalu mendengus kesal. Lagi-lagi dia bingung dengan hadirnya Audy di sisinya. Apakah tetap melindungi wanita itu atau membiarkannya tertangkap lagi. "Belum ada satu hari saja dia sudah membuat masalah," umpat Xander di dalam hati.
Di markas White Snake, Audy juga masih terjaga. Wanita itu tidak bisa tidur meskipun kini kamar yang ia tempati nyaman dan aman. Entah kenapa pikirannya kini dipenuhi dengan Xander. Audy merasa kalau kini bayang-bayang Xander ada dimana-mana. Tidak bisa dipungkiri kalau kini wanita itu tertarik dengan pria tersebut.
"Sejak pertama kali bertemu dengan Tuan Xander aku sudah tahu kalau dia pria yang baik. Dia juga kago berkelahi. Meskipun tidak sehebat Kak Leo."
Audy langsung mematung membayangkan wajah Kakak kandungnya. Pria bernama Leonzio itu memang ditakuti oleh semua orang yang ada di Kota Venesia. Dia pria yang sangat kejam. Tidak memiliki hati nurani.
"Bagaimana kalau pada akhirnya Tuan Xander jadi bermusuhan dengan Kak Leo? Bagaimana kalau pada akhirnya Tuan Xander celaka karena melindungiku? Apa keputusanku ini sudah benar? Apa aku kembali saja dan menerima perjodohan yang sudah dibuat Kak Leo?"
Audy memeluk bantal lalu memejamkan mata. Tanpa disengaja buliran air mata menetes hingga membasahi pipi. Audy merasa sangat sesak sampai dia tidak sanggup bernapas dengan lega. Dia merasa sangat kecewa dengan takdir hidupnya. Dia benci semua keluarganya.
__ADS_1
Terutama Leonzio yang menjadi satu-satunya keluarga yang kini dia miliki karena memang kedua orang tuanya sudah tewas enam bulan yang lalu karena sebuah perkelahian. Itulah yang membuat pertahanan Leonzio hancur hingga akhirnya dia harus mengorbankan satu-satunya adik yang ia miliki.
"Kak, kenapa kakak tega melakukan semua ini padaku? Kenapa?" Audy terisak-isak di tengah malam yang sunyi. Membayangkan hidupnya yang sekarang membuatnya sedih. Merasa sendiri di dunia ini.
Dari depan kamar, dua anggota White Snake saling memandang. Kamar yang ditempati Audy memang tidak kedap udara. Mereka bisa mendengar dengan jelas tangisan menyedihkan Audy. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun sebenarnya mereka sendiri juga kasihan mendengarnya.
Tidak lagi membenci wanita itu karena baru saja membuat masalah. Bagi mereka, siapapun yang dibawa Joa ke markas adalah keluarga mereka. Keluarga White Snake. Karena Joa maupun Dimitri tidak pernah sembarangan memberi tahu orang lain letak markas White Snake.
...***...
Keesokan paginya, Joa ikut sarapan dengan Sherin dan keluarganya. Mereka terlihat sangat harmonis. Semua orang tersenyum bahagia pagi itu. Terutama Sherin. Sambil mengunyah makanannya, dia memandang wajah Joa yang kini duduk di sampingnya.
"Xander, kau tidak iri melihat adikmu? Eh?" ledek Jeremy. Entah kenapa semakin dekat dengan pernikahan Sherin dan Joa. Dia semakin ingin melihat Xander memiliki pasangan.
"Pa, mulai dech!" keluh Xander. Pria itu meneguk jus jeruknya sebelum membersihkan mulutnya.
"Apa yang dikatakan Papamu itu benar, Xander. Cepatlah cari jodoh. Siapa tahu pesta pernikahan kalian bisa sama. Jadi satu hari ada dua pernikahan," ujar Viana.
"Kemana?" Sherin segera berdiri. Dia terlihat tidak setuju jika Joa harus pergi sepagi ini. "Aku ikut ya?"
"Tidak, sayang. Ini urusan pria," sahut Joa. Pria itu memandang Sherin dengan serius hingga membuat Sherin tidak bisa marah.
"Jangan lama-lama," ucap Sherin pada akhirnya.
Joa dan Xander sama-sama tersenyum. Dua pria itu segera pergi meninggalkan rumah. Sherin segera berlari mengambil kunci mobil. Wanita itu mengecup pipi Viana.
"Tante, aku harus pergi," pamitnya.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Viana bingung.
"Aku harus ke rumah Quinn," dusta Sherin sebelum berlari mengejar Joa dan Xander. Karena memang niat wanita itu adalah mengikuti kakak dan calon suaminya.
Joa dan Xander melajukan mobil mereka menuju ke markas White Snake. Mereka membawa mobil masing-masing. Di belakang mobil mereka sudah ada mobil Sherin yang mengikuti mereka namun dengan jarak yang jauh agar tidak ketahuan.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Joa dan Xander tiba di markas White Snake. Karena tidak mau ketahuan akhirnya Sharin menyembuhkan mobilnya di balik pohon. Lalu wanita jalan kaki dan mengamati dari kejauhan.
"Untuk apa Kak Xander dan Joa ke markas White Snake? Apa ada masalah besar yang mereka hadapi? Kenapa Joa tidak cerita padaku?" gumam Sherin.
Kedua matanya melebar melihat Audy muncul. Wanita itu mengenakan pakaian yang sangat pendek. Dia berdiri di samping Joa seperti sedang membicarakan sesuatu. Sedangkan Xander lebih memilih segera masuk ke dalam.
"Siapa wanita itu? Kenapa Joa membawanya ke markas White Snake?" Sherin mengepal kuat tangannya. Wanita itu segera pergi dari sana dengan perasaan cemburu. "Apa ini urusan penting yang kau katakan? Bahkan lebih penting dari persiapan pernikahan kita?"
Sherin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar kesal melihat pemandangan Joa dan Audy. Saat tidak terlalu fokus dengan jalan di depan, justru seorang pria muncul hingga akhirnya membuat Sherin kaget bukan main. Wanita itu segera membanting stir mobilnya hingga mobil putih itu berputar di tengah jalan sebelum akhirnya berhenti sempurna.
"Apa aku menabrak orang?" gumam Sherin. Dia segera turun untuk memeriksa.
Baru juga berdiri seseorang sudah menodongkan senjata api di pelipis kanan Sherin. Wanita itu mematung sebelum memandang ke samping.
"Diam dan masuk ke dalam!" perintah pria tua yang tidak lain adalah sandera yang kini di cari Joa dan anak buahnya.
Sherin mengangguk. Wanita itu segera memutar tubuhnya seolah-olah ingin masuk ke dalam. Tapi sebelum masuk Sherin memegang tangan pria tua itu dan merebut senjata apinya. Tidak lupa Sherin menendang pria tua itu hingga terjungkal.
"Pria tua tidak tahu diri!" umpat Sherin. "Tadinya aku mengkhawatirkan keselamatanmu. Jika saya sejak awal aku tahu kalau kau pria yang merepotkan, mungkin tadi aku sudah menabrakmu hingga tewas?" umpat Sherin kesal.
Kini posisinya sudah terbalik. Sherin yang memegang senjata api sedangkan pria tua di depannya terlihat ketakutan. Namun dalam sekejap ekspresi pria itu berubah. Dia membuka pakaiannya dan memamerkan bom yang ada di sana.
__ADS_1
"Aku tidak mau mati sendiri. Bagaimana kalau kita mati bersama? Aku tahu kau adalah calon istri Joa. Dia pasti akan tersiksa jika calon istrinya tewas!"
Sherin menurunkan senjata apinya. "Apa yang kau inginkan?"